Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

JALUR HIJAU (GREEN BELT) SEBAGAI KONTROL POLUSI UDARA HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS HIDUP DI PERKOTAAN Basri, Iwan Setiawan
SMARTek Vol 7, No 2 (2009)
Publisher : SMARTek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.957 KB)

Abstract

Kawasan perkotaan sebagai tempat hidup manusia mulai menunjukkan penurunan dayadukung lingkungan. Hal ini dapat dilihat dengan tingginya tingkat polusi yang dihasilkan suatudaerah perkotaan. Salah satu solusi alternatif permasalahan ini adalah pengembangan areajalur hijau (green belt area). Green belt adalah pemisah fisik daerah perkotaan dan pedesaanyang berupa zona bebas bangunan atau ruang terbuka hijau yang berada di sekeliling luardaerah perkotaan. Penulisan ini dilakukan pada Juni-Juli 2008 adalah studi literatur yangmembahas mengenai bagaimana area jalur hijau (green belt area) dapat menjadi kontrolpolusi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan, analisa penyebab kurangnyaarea jalur hijau (green belt area) di perkotaan, bagaimana pengembangannya guna menekanpolusi udara sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat perkotaan dari sudutpandang lingkungan
PENCEMARAN UDARA DALAM ANTISIPASI TEKNIS PENGELOLAAN SUMBERDAYA LINGKUNGAN Basri, Iwan Setiawan
SMARTek Vol 8, No 2 (2010)
Publisher : SMARTek

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (637.648 KB)

Abstract

Di dalam lingkungan hidup terdapat manusia dan sumberdaya lingkungan yang merupakan satu kesatuan. Sumberdaya lingkungan sebagai kebutuhan memiliki keterbatasan maka dalam pemanfaatannya perlu dikelola secara berkesinambungan dan tepat sehingga dapat juga dinikmati generasi masa datang. Tulisan ini adalah studi literatur dengan tema pencemaran udara dalam antisipasi teknis pengelolaan sumberdaya lingkungan. Metode yang digunakan adalah diskripsi dengan menguarai secara sistematik dari berbagai sumberBerdasarkan studi ini terdapat lima unsur kimia berbahaya pencemar udara, yaitu : (1) Ozone (O3) , (2) Oksida Karbon (CO dan CO2), (3) Oksida Belerang (SO2 dan SO3), (4) Oksida Nitrogen (NO, NO2, dan N2O), serta (5) Partikel Mokuler (debu, asam, pestisida, dll). Diperlukan pendekatan yang berbeda dalam pengelolaan pencemaran udara, namun yang terpenting selalu dimulai dari perencanaan, pengendalian dan pemantauan serta evaluasi
KAWASAN AGROPOLITAN KABUPATEN DONGGALA DALAM KONTEKS PENGEMBANGAN WILAYAH DAN SEBAGAI PUSAT PERTUMBUHAN WILAYAH BARU Basri, Iwan Setiawan; Arifin, Rosmiaty
MEKTEK Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : MEKTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.422 KB)

Abstract

The development of agropolitan region is a sustainable development based on regional resources. Thedevelopment of agropolitan region is conducted by developing rural areas in terms of promoting the systemand works of a competitive, society based, sustainable, and decentralized agribusiness by utilizing theavailable resources. This work was conducted by developing an agropolitan regional planning in 2003.Three districts; Dolo, Sigi Biromaru, and Palolo has been chosen as the centre of development which wasdesignated as a new area. The three regions were hoped to stimulate and produce double effect fortriggering the development of the hinterland areas by utilizing their potency. The study was conducted in2005 before the three districts incorporated in Sigi regency in 2008. Therefore in this report, the threedistrict were designated as Donggala regency
PERENCANAAN LINGKUNGAN PERMUKIMAN NELAYAN KAMPUNG LERE KOTA PALU Basri, Iwan Setiawan
MEKTEK Vol 11, No 2 (2009)
Publisher : MEKTEK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.177 KB)

Abstract

The growth fisherman settlement is a natural event and this phenomenon is also happened at Kampung Lere so that it taudification as well as inconvenient arrangement. This will potentially decrease environmental quality. The purpose of this research is to assess the possibility of developing a fisherman settlement in kampong Lere without ignoring the environment quality by settlement environmental planning. The research is conducted on August 2002 by survey. The acquired data were then compiled and analyzed by qualitative analysis. The sample included all houses and building in the area. The study area is 31,64 Ha. The result shows that the residence fisherman at Kampong Lere, is to be kept. Settlement environmental planning concept; (1) the sustainability of fresh water, (2) Managing well drainage system, (3) the availability of waste management systems, (4) Conducting Road and pedestrian access system (6) Protection from abrasion by building dam and green program, (7) Proportionally managing border of river and beach, i.e. 30 - 100 m of apex tide sea-water counted from river, and k, and (8 ) Improving physical quality
BAMBU SEBAGAI BAHAN KONSTRUKSI RANGKA DINDING RUMAH TEMBOK SUKU BAJO DI DESA KABALUTAN DALAM UPAYA PERBAIKAN HUNIAN ANDI JIBA RIFAI; IWAN SETIAWAN BASRI
UNITY - Jurnal Arsitektur Vol 1, No 2 (2011)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.372 KB)

Abstract

Suku Bajo adalah salah suku laut yang banyak bermukim di sepanjang perairan pulau Sulawesi, salah satunya yang menetap di desa Kabalutan kepulauan Togian. Desa Kabalutan adalah suatu pemukiman yang bangun di atas pulau-pulau karang sehingga sebahagian besar hunian masyarakat berada di atas permuaan air laut dan beberapa rumah didirikan di atas daratan dari bukit karang yang diratakan. Kawasan ini sangat jauh dari ibu kota Kabupaten Tojo Una-una yaitu Ampana, daerah ini dapat dicapai dengan perjalanan laut sekitar 4 -5 jam, sehingga pengadaan bahan-bahan konstruksi menjadi barang sangat mahal dan langka. Tujuan dari penelitian ini adalah menerapkan ipteks bagi masyarakat Bajo dalam penggunaan bahan lokal utamanya bambu sebagai bahan konstruksi rumah Tinggal. Metode yang digunakan adalah penyuluhan dan praktek langsung yang dilakukan dalam beberapa tahap, dimulai tahap penentuan disain, mengolah bambu sebagai rangka dinding, selanjunya plasteran dinding dan finising. Hasil akhir adalah rumah yang estetik, sehat, ekonomis/murah, ramah lingkungan, struktur kuat dan awet. Kata Kunci: Konstruksi Rangka Dinding Bambu, Rumah Tembok, Suku Bajo
Strategi Manajemen Pengembangan Taman Hutan Raya Kapopo Sebagai Ruang Terbuka Hijau Publik Kabupaten Sigi Noviana Talantan Noviana Talantan; Iwan Setiawan Basri Iwan Setiawan Basri; Ardiansyah Winarta Ardiansyah Winarta; Rosmiaty Arifin Rosmiaty Arifin
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 1 No. 1 (2022): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/jpwkt.v1i1.4

Abstract

Taman Hutan Raya (Tahura) Kapopo Kabupaten Sigi dengan beraneka ragam potensi yang dapat dikembangkan. Tahura Kapopo selain sebagai kawasan konservasi, sebagian kawasannya dimanfaatkan sebagai wisata alam berupa ruang terbuka hijau publik yang dapat diakses masyarakat umum. Keberadaan Tahura Kapopo belum berkembang dengan baik serta banyak diketahui oleh masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana strategi pengelolaan atau manajemen pengembangan Tahura Kapopo sebagai tempat wisata alam ruang terbuka hijau publik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang selanjutnya dianalisis melalui teknik SWOT. Hasil penelitian menghasilkan strategi manajemen; 1) meningkatkan dukungan dan peran pemerintah, 2) pelestarian sumber daya alam dan ekosistem, 3) memanfaatkan kerjasama guna meningkatkan kembali citra Tahura Kapopo, 4) meningkatkan kualitas dan wahana wisata, 5) alokasi dana anggaran yang cukup, 6) meningkatkan aksesibilitas serta ketersediaan angkutan umum, 7) meningkatkan kualitas SDM pengelola dan masyarakat sekitar, 8) menegakkan aturan dan pemberian sanksi bagi yang melanggar, 9) pembagian zonasi fungsi lahan yakni untuk kawasan konservasi hutan flora dan fauna dan areal ruang terbuka hijau publik (area wisata), 10) menyiapkan regulasi sektoral serta dokumen teknis lainnya terkait pengembangan Tahura Kapopo, 11) diperlukan pengawasan baik serta evaluasi secara berkala yang hasil menjadi bahan pertimbangan dalam rangka pengembangan, serta 12) meningkatkan koordinasi dengan aparat keamanan menunjang keamanan kawasan dan sekitarnya
Pengaruh Aksesibilitas Terhadap Harga Lahan di Koridor Jalan I Gusti Ngurah Rai Kota Palu Aditya; Syarifuddin; Khairinrahmat; Iwan Setiawan Basri
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 2 No. 2 (2023): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v2i2.22

Abstract

Aksesibilitas adalah kemudahan mencapai kota atau wilayah lain yang berdekatan atau bisa juga dilihat dari sudut kemudahan mencapai wilayah lain yang berdekatan bagi masyarakat yang tinggal di kota. Selanjutnya dinyatakan dalam bentuk jarak, waktu, atau biaya. Jalan I Gusti Ngurah Rai masuk dalam jalan kolektor primer dan menjadi jalur penghubung antara Kecamatan Tatanga dan Kecamatan Palu Selatan sehingga memiliki nilai strategis seperti dekat dengan pusat kota,permukiman dan perdangangan. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimanan pergaruh aksesibilitas terhadap harga lahan pada koridor Jalan I Gusti Ngurah Rai. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu jenis penelitian kuantitatif. Dengan teknik analisis yang digunakan yaitu analisis korelasi dan analisis regresi berganda. Hasil analisis korekasi kofisien korelasi R 0,802 hal ini menunjukkan bahwa variabel kondisi jalan (X1), sistem jaringan jalan (X2) dan pola pergerakan (X3), harga lahan (Y) memiliki pengaruh sangat kuat.Hasil analisis regresi berganda diperoleh hasil uji nilai signifikan dimiliki kondisi jalan (X1), sistem jaringan jalan (X2) dan pola pergerakan (X3) dengan nilai lebih kecil dari pada 0.05 yaitu 0.005, 0.005 dan 0.014 Sedangkan nilai t hitung lebih besar dari t tabel yakni yaitu kondisi jalan (X1) 2.457, sistem jaringan jalan (X2) 2,673 dan pola pergerakan (X3) 2,210. Kesimpulan dari hasil ini menunjukan bahawa bahwa variable yang memiliki hubungan dan pengaruh yang sangat signifikan adalah kondisi jalan, sistem jaringan jalan, dan pola pergerakan memiliki hubungan sebesar 72% terhadap harga lahan 28% di pengaruhi oleh variable lain yang tidak terdapat pada penelitian ini.
Arahan Kesesuaian Lahan Fungsi Permukiman Di Kabupaten Sigi Ismail Djohan; Iwan Setiawan Basri; Ardiansyah Winarta
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 3 No. 1 (2024): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v3i1.31

Abstract

Pertambahan penduduk yang tidak di imbangi dengan ketersediaan lahan, menyebabkan banyak penduduk yang memanfaatkan lahan untuk permukiman. Bentang alam Kabupaten Sigi yang didominasi oleh perbukitan dan kawasan lindung yang menjadi kontradiksi terhadap perkembangan kawasan permukiman di wilayah tersebut, padahal pertumbuhan penduduk di Kabupaten Sigi adalah yang tertinggi kedua di Sulawesi Tengah. Pemanfaatan lahan yang tak sesuai peruntukannya, menjadikan hal ini tak sejalan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah dan karakteristik lahan permukiman yang dipersyaratkan, sehingga mendorong terjadinya perubahan fungsi lahan. Tujuan dari penelitian kali ini adalah untuk menganalisis tingkat kesesuaian lahan terutama untuk fungsi permukiman di Kabupaten Sigi. Diharapkan dari penelitian ini bisa menjadi pertimbangan dan alternatif arahan dalam pengembangan lokasi permukiman di wilayah Kabupaten Sigi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif menggunakan metodologi skoring, analytic hierarchy process (AHP) serta overlay. Hasil analisis terdapat 5 klasifikasi tingkat kesesuaian lahan fungsi permukiman dan yaitu S1 (Sangat Sesuai) seluas 4.018,88 ha dengan persentase 0,77%, S2 (Cukup Sesuai) seluas 68.380,35 dengan persentase 13,13%, S3 (Sesuai Marginal) seluas 152.535,76 ha dengan persentase 29,30%, N2 (Tidak Sesuai) seluas 17.942,44 ha dengan persentase 3,45%, dan N1 (Tidak Sesuai Permanen) seluas 277,750,81 ha dengan persentase 53,35% dan dapat diketahui bahwa tidak semua wilayah yang ada pada Kabupaten Sigi memiliki lahan yang sesuai untuk di kembangkan sebagai lahan permukiman. Kata Kunci: Kesesuaian Lahan, Permukiman, Analytic Hierarchy Process
Penilaian Geosite Palukoro Di Lembah Palu Jannah, Nur Miftahul; Rizkhi; Amar; Basri, Iwan Setiawan; Novianti, Vivi
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v3i2.38

Abstract

Keberagaman Situs warisan geologi (geosite), baik yang terbentuk pasca 28 September 2018 maupun telah ada sebelumnya dapat dijadikan objek warisan Geologi (geoheritage) dalam suatu tatanan kawasan taman bumi (Geopark) yang memiliki ciri atau khas tertentu yang tidak terpisahkan dari sebuah cerita evolusi pembentukan suatu daerah. Berangkat dari pentingnya Kepariwisataan Berkelanjutan sesuai sasaran pembangunan dalam aspek konservasi, edukasi dan pembangunan perekonomian yang berkaitan erat dengan pengetahuan geodiversity dan geoheritage, yang menjadi alasan penting untuk melestarikan geoheritage diperlukan peran serta masarakat dan pemangku kepentingan terkait, termasuk dari komunitas geosains [6], maka diperlukan penilaian terhadap sumberdaya geologi Palukoro di Lembah Palu sebagai Langkah awal upaya pelestarian dan konservasi dalam mendukung pengembangan dan pemanfaatan geowisata secara berkelanjutan, dengan sasaran Penilaian sumberdaya warisan geologi yang ada di lembah Palu; dan Penilaian kelayakan geosite dalam pengembangkan geowisata di Lembah Palu yang dapat dimanfaatkan disegala aspek, diantaranya memberikan dasar ilmiah sebagai Upaya pelestarian warisan geologi, memudahkan penetapan prioritas konservasi berdasarkan nilai geologis dalam memanfaatkannya secara berkelanjutan yang terintegrasi dengan kegiatan pendidikan dan pengembangan ekonomi masyarakat yang bertumpu pada kegiatan geowisata [6].
KONSEP MAKRO ARSITEKTUR DENGAN PRINSIP ARSITEKTUR HIJAU PADA DESAIN TERMINAL ANGKUTAN DARAT TIPE B KABUPATEN TOJO UNA-UNA Panende, Indri Islamiyati; Arifin, Rosmiaty; Salenda, Hariyadi; Basri, Iwan Setiawan
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 17 No 1 (2023): RUANG : JURNAL ARSITEKTUR
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v17i1 Maret.15

Abstract

Keberadaan terminal sangat penting sebagai salah satu prasarana tranportasi darat. Terminal berfungsi sebagai sebagai tempat pemberhentian sementara kendaraan umum untuk menaikkan dan menurunkan penumpang dan barang hingga sampai ke tujuan akhir suatu perjalanan. Disamping itu sebagai tempat pengendalian, pengawasan, pengaturan dan pengoperasian sistem arus angkutan penumpang dan barang, serta tempat beristirahat sejenak bagi penumpang sebelum melanjutkan perjalanan. Penelitian ini bertujuan mendaptakn konsep makro arsitektur dengan pendekatan prinsip-prinsip arsitektur hijau pada desain terminal angkutan darat tipe B Kabupaten Tojo Una-Una. Hasil yang didapatkan bahwa konsep penataan bangunan dibuat memperhatikan kondisi pemakai, beradaptasi dengan lingkungan, memanfaatkan kondisi alam, iklim dan lingkungan sekitar, tapak pada bangunan mengacu pada interaksi antara bangunan dan tapak