Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENGARUH PANGKALAN PENDARATAN IKAN (PPI) DONGGALA TERHADAP KONDISI EKONOMI MASYARAKAT DI KELURAHAN LABUAN BAJO Ariani; Basri, Iwan Setiawan; Arifin, Rosmiaty
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 16 No 2 (2022): JURNAL RUANG
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v16i2 September.27

Abstract

Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala berdampak terhadap kondisi ekonomi masyarakat di Kelurahan Labuan Bajo yakni adanya meningkatkan pendapatan dan perluasan lapangan pekerjaan. Tujuan dari penelitian adalah mengetahui pengaruh keberadaan PPI Donggala terhadap kondisi ekonomi masyarakat di Kelurahan Labuan Bajo dengan menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuisioner kemudian diolah menggunakan analisis Uji t, uji f dan pengujian koefisien determinan (R). Hasil analisis uji t menunjukan bahwa variabel X1 berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengaruh keberadaan (Y) PPI, sedangkan X2 berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengaruh keberadaan (Y) pada PPI. Sedangkan analisis uji f menunjukan bahwa hipotesa yang di uji dapat diterima karena variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen dilihat dari F.Hitung (11.602) > Nilai F.tabel 3,09, hasil analisis uji R menunjukan bahwa koefisien determinasi sebesar 0,176 atau 17,6%, bahwa variasi perubahan variabel (X1), variabel (X2), mempengaruhi variabel (Y) sebesar 17,6%. Kesimpulan penelitian ini yaitu, PPI Donggala mempengaruhi tingkat ekonomi masyarakat Kelularahan Labuan Bajo baik dalam hal pendapatan masyarakat, serta adanya perluasan atau peluang lapangan pekerjaan
Desain Pengolahan Air Limbah Rumah Sakit Berbasis Tumbuhan Air Hias, Horizontal Sub Surface Flow Constructed Wetland Akhmad, Abdul Gani; Arifin, Rosmiaty; Basri, Iwan Setiawan
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 16 No 1 (2022): JURNAL RUANG
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v16i1 Maret.43

Abstract

Studi ini bertujuan mengevaluasi kinerja Horizontal Subsurface Flow Constructed Wetland (HSSF-CW) skala percontohan yang memanfaatkan tumbuhan air hias Typha angustifolia dan media pasir-kerikil halus dalam menyisihkan total coliform dan TSS dari air limbah rumah sakit. Tiga cell HSSF-CW skala percontohan berukuran 1.00 x 0.45 x 0.35 m3 diisikan media pasir kerikil berdiameter 5 – 8 mm setinggi 35 cm dengan kedalaman media terendam 0.30 m. Terdapat 3 perlakuan yakni cell pertama (CW1) tanpa tanaman, cell kedua (CW2) ditanami dengan kerapatan 12 tanaman Typha angustifolia, dan cell ketiga (CW3) ditanami dengan kerapatan 24 tanaman Typha angustifolia. Ketiga cell HSSF-CW menerima beban air limbah yang sama dengan kandungan total coliform dan TSS masing-masing 91000 MPN/100 mg dan 53 mg/L dengan Laju Pemuatan Hidrolik 3.375 m3 per hari. Air limbah diresirkulasi secara kuntinyu untuk mencapai equivalen kebutuhan luasan ideal HSSF-CW. Hasil eksperimen menunjukkan kinerja CW3 lebih efisien dibanding CW1 dan CW2 dalam penyisihan total coliform dan TSS air limbah rumah sakit. Efisiensi penyisihan polutan pada CW3 mencapai 91.76% untuk total coliform dengan waktu retensi hidrolik 1 hari serta 81.00% untuk TSS dengan waktu retensi hidrolik 2 hari. Kesimpulan penelitian ini adalah sistem HSSF-CW yang menggunakan media pasir-kerikil berdiameter 5 – 8 mm dengan kedalaman media terendam 0.30 m dan ditanami tumbuhan air hias Typha angustifolia dengan jarak tanam lebih rapat terbukti lebih efisien dalam menyisihkan total coliform dan TSS dari air limbah rumah sakit
TERITORI RUANG PENGUMPUL BATU DAN BURUH ANGKUT BATU TOPO DA’A LEKATU DI KOTA PALU SULAWESI TENGAH Masiming, Zulfitriah; Arifin, Rosmiaty; Basri, Iwan Setiawan
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 16 No 1 (2022): JURNAL RUANG
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v16i1 Maret.47

Abstract

Suku Kaili Da’a merupakan salah satu suku terasing yang umumnya bermukim di wilayah pegunungan. Orang lebih mengenal dengan sebutan Topo Da’a. Sebagai salah satu etnik suku Kaili yang merupakan suku terbesar di Sulawesi Tengah. Pada saat tinggal di hutan pegunungan mata pencaharian utama adalah menanam padi ladang. Namun dalam perkembangannya setelah lahan bertani semakin berkurang dan kesuburan tanah berkurang, mereka beralih menjadi petani kebun. Di sela-sela menunggu hasil panen kebun mereka melakukan aktifitas mengumpulkan batu dan menjadi buruh angkut batu. Akibat aktifitas tersebut terbentuk teritori ruang pengumpul batu dan ruang tunggu truk pengangkut batu. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor pembentuk teritori ruang dan bentuk ruang teritori. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenelogi. Pengumpulan data secara naturalistik dan teknik analisis induktif. Hasil penelitian menunjukkan faktor pembentuk teritori ruang adalah kekerabatan, lokasi tempat pengumpulan batu dan pemilik truk pengangkut batu. Bentuk ruang teritori secara fisik berupa bangunan semi permanen. Aspek non fisik (perilaku) dengan memisahkan lokasi ruang tunggu truk dan kelompok buruh angkut batu
Model Penataan Lingkungan Dusun Vatutela Dengan Pendekatan Iklim Dan Morfologi Lahan Andi Jiba Rifai Bassaleng; Iwan Setiawan Basri; Nur Rahmanina Burhany
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 5 No 2 September (2013): RUANG : JURNAL ARSITEKTUR
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v5i2 September.152

Abstract

Dusun Vatutela merupakan permukiman masyarakat asli suku Kaili yang berada di kota Palu, terletak diperbukitan kelurahan Tondo. Topografi Dusun Vatutela berupa daerah lerengan dan hanya memiliki satu jalan yang menjadi akses utama kedalam dusun tersebut. Karakteristik lingkungan tempat bermukim yang khas menuntut pertimbangan disain yang khusus agar tercipta harmonisasi antara hunian dengan lingkungannya dan memenuhi aspek kenyamanan dan kesehatan. Hunian di permukiman ini umumnya dibangun secara mandiri oleh penghuninya sendiri, sehingga dibangun seadanya sesuai dengan kemampuan mereka dan tanpa pertimbangan kesehatan maupun kaidah-kaidah perancangan arsitektur bangunan. Hal tersebut mengakibatkan hunian mereka umumnya memiliki tingkat kesehatan yang rendah dan tidak harmonis dengan lingkungan sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah menemukan solusi yang tepat untuk mengelolah lingkungan permukiman dan menemukan model desain rumah sehat sederhana yang mengunakan konsep harmonisasi dengan karakter lingkungan dan iklim mikro untuk masyarakat kurang mampu di dusun Vatutela dan mempertimbangkan kearifan lingkungan serta merencanakan rumah yang memenuhi standart rumah sehat dari standart penghawaan, dalam hal ini adalah studi efek penghawaan bagi kesehatan fisik dan kenyamanan visual. Diharapkan hasil penelitian ini mampu memberi pengetahuan dan wawasan kepada masyarakat Vatutela agar membangunan hunian, mereka dapat mempertimbangkan standart desain. Menurut standard baku peraturan bangunan Indonesia, luas bukaan sebaiknya dapat mendistribusi udara segar kedalam bangunan sekitar 1 – 5 ACH, hal tersebut ditetapkan mempertimbangkan aspek kesehatan. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan studi lapangan. Studi lapangan dilakukan untuk merekam temperatur, kelembabah udara, curah hujan, kecepatan dan arah angin pada lokasi penelitian. Hasil Studi lapangan memperlihatkan bahwa hasil yang cukup potensial untuk dilakukan modifikasi penataan lingkungan yang dapat menawarkan sebuah desain lingkungan permukiman yang harmonis dengan iklim dan morfologi lahan serta konsep kawasan yang nyaman sehat dan asri.
Thermal Performance Analysis of Affordable House in the Equatorial Coastal Area of the Tropics Fitriaty, Puteri; Setiawan Basri, Iwan; Rifai Bassaleng, Andi Jiba; Rahmanina Burhany, Nur; Butudoka, Zubair
Interdiciplinary Journal and Hummanity (INJURITY) Vol. 3 No. 2 (2024): INJURITY: Journal of Interdisciplinary Studies.
Publisher : Pusat Publikasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58631/injurity.v3i2.178

Abstract

Affordable housing subsidised by the government in Indonesia often poses many problems, including an uncomfortable internal environment that leads to the massive use of mechanical ventilation. Designing an affordable house undoubtedly faces challenges due to the very small building lots, while it should provide many spatial needs and functions for the occupants’ daily activities. Because of limited funding provided by the government, affordable house design is often based only on basic needs, thus scarcely considering thermal comfort for the occupants. This study evaluates the thermal performance of affordable houses built for the 2018 great earthquake, tsunami, and liquefaction victims in Palu’s coastal area. Field measurements were conducted in an affordable housing complex, and a sample house was selected, representing a raised floor house design prototype. External and internal climate conditions were recorded for nine days to establish the hourly thermal trend. Hobo Onset H21 microclimate stations were used to record external climate conditions, whereas Onset Hobo U12-012 T-RH-Light was employed to record internal thermal conditions. The result showed that the thermal condition in the sample house was intolerably hot. The main cause of these conditions is the design of the roof and building envelope. The selected materials with a high U-value also worsen the thermal conditions in the sample house
Ketersediaan dan Kebutuhan RTH Publik sebagai Infrastruktur Evakuasi Bencana di Kawasan Perkotaan: Studi Kasus Kecamatan Palu Timur, Kota Palu Basri, Iwan Setiawan; Arifin, Rosmiaty; Sarifuddin; Pelealu, Regina Excelsia
Jurnal Peweka Tadulako Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal PeWeKa Tadulako
Publisher : Prodi PWK Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/peweka.v4i2.65

Abstract

The demand for space in urban areas is significant due to population and economic growth. As a result, the need for space has increased sharply. The most obvious impact is the expansion of the existence of Green Open Space (GOS). This study aims to assess the availability of public GOS in East Palu District by examining its proportion relative to the total land area and population, its potential role in disaster evacuation, and the identification of land suitable for future development. A descriptive quantitative method is employed, referencing national regulations such as Law No. 26 of 2007 and Ministry of Public Works Regulation No. 5 of 2008. Geographic Information Systems (GIS) were used for land mapping analysis. The findings indicate that in 2023, East Palu has 44.11 hectares of public GOS. With the district covering 970 hectares, the ideal allocation for green spaces is 149.9 hectares (20%). Given a population of 44,491, the required GOS amounts to 889.82 hectares, revealing a significant shortfall of 845.71 hectares. Furthermore, the identification of only 44.85 hectares of land as suitable for further GOS development remains insufficient. GOS is essential not only for aesthetics and recreation but also as crucial infrastructure for enhancing urban resilience during disasters. It is therefore vital for agencies involved in land management, urban planning, and disaster response to collaborate, ensuring that public GOS is prioritized in sustainable city planning.
Integrasi USLE-SIG dan Zonasi Konservasi untuk Mitigasi Bencana: Studi Kasus Desa Poi, Sigi Takwim, Supriadi; Basri, Iwan Setiawan; Ramadhan, Aqib
Jurnal Linears Vol. 8 No. 2 (2025): Jurnal LINEARS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/zfk6vt17

Abstract

ABSTRAK: Potensi erosi yang ada di Sulawesi Tengah sangat bervariasi, dari mulai sangat ringan hingga sampai sangat berat. Desa Poi merupakan salah satu Desa yang berpotensi terjadinya erosi, Penelitian ini bertujuan untuk memetakan Tingkat Bahaya Erosi (TBE) dan mengidentifikasi mitigasi apa yang dapat diterapkan sesuai dengan acuan yang ada, hasil klasifikasi tingkat bahaya erosi dan kondisi fisik Desa Poi. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode USLE (Universal Soill Loss Equation) tujuan dari metode ini untuk mendapatkan nilai erosi (A) dengan mengalikan beberapa faktor yaitu (R) erosivitas hujan, (K) erodibilitas tanah, panjang dan kemiringan lereng (LS), (C) vegetasi dan pengelolaan tanaman, dan (P) konservasi tanah. Berdasarkan hasil penelitian nilai laju erosi tertinggi di Desa Poi pada terdapat pada jenis penggunaan lahan yaitu lahan terbuka sebesar 7.475.53 ton/ha/thn dengan nilai LS sebesar 9,5 berada pada kelerangan sangat curam (45). Jika melihat persebaran luasan tingkat bahaya erosi berdasarkan dusun, Tingkat Bahaya Erosi (TBE) yang berkategori sangat berat paling luas berada di Dusun 1 dengan total luasan 50.21 hektar. Mitigasi bencana yang diterapkan pada lokasi penelitian yaitu bentuk mitigasi structural dan nonstructural berupa teknik konservasi tanah/lahan yaitu metode sipil teknis, vegetatif dan kimiawi. Kemudian arahan konservasi lahan di identifikasi berdasarkan klasifikasi Tingkat Bahaya Erosi Kemudian metode vegetatif dilakukan dengan membagi area prioritas konservasi menjadi empat prioritas yaitu prioritas konservasi I seluas 66.41 Ha, prioritas II seluas 32.66 Ha, prioritas III seluas 327.11 Ha, dan prioritas konservasi IV seluas 228.76 Ha.
Pendekatan Ecoregion Dalam Pengembangan Kawasan Wisata (Studi Kasus Penataan Kawasan Wisata Danau Poso) Asyra Ramadanta; Iwan Setiawan Basri
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 3 No 1 Maret (2011): RUANG : JURNAL ARSITEKTUR
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v3i1 Maret.124

Abstract

Pengembangan obyek wisata suatu kawasan akan terkait dengan pengembangan sentra‐sentra baru kegiatan aktifitas yang akan merupakan simpul baru dalam lingkup wilayah dan lintas regional. Tujuan pengembangan obyek wisata adalah untuk mendukung pengembangan wilayah melalui kegiatan pembangunan di bidang pariwisata. Kegiatan pengembangan terutama yang bersifat fisik harus mempertimbangkan kesesuaian potensi yang dimiliki untuk dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan masyarakat. Pengembangan fisik termasuk penataan kawasan, diharapkan akan mewujudkan ruang‐ruang baru sebagai sarana untuk melakukan aktifitas, sehingga berdampak pada penciptaan sinergi wilayah yang harmonis, efektif dan berkelanjutan melalui penerapan mekanisme perencanaan secara menyeluruh dan terpadu. Pertumbuhan wilayah dalam arti keruangan pada satu sisi telah meningkatkan dan menggairahkan kegiatan perekonomian dan investasi, namun pada sisi lain kondisi tersebut turut menjadi pemicu terjadinya degradasi lingkungan apabila dampak yang ditimbulkan tidak diantisipasi sejak dini. Pengembangan fisik kawasan yang didasari penilaian daya dukung kawasan terhadap intensitas pembangunan fisik melalui proses analisis terhadap karakter intrinsik dan kondisi fisiografi kawasan, diharapkan dapat mencegah kerusakan lingkungan dan memelihara kesimbangan dan keberlanjutan ekosistem kawasan. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mendesain alternatif model penataan kawasan wisata dengan pendekatan ecoregion, dengan wilayah studi meliputi beberapa objek wisata di Kota Tentena dan Pendolo yang terletak pada dataran yang mengitari Danau Poso.
Pola Pemukiman Dan Tipologi Hunian Suku Bajo Di Sulawesi Tengah (Studi Kasus Rumah Suku Bajo di Desa Kabalutan dan Desa Labuan di Ampana) Andi Jiba Rifai B; Iwan Setiawan Basri; Nadjib Massikki
JURNAL RUANG / ISSN : 2085-6962 Vol 4 No 1 Maret (2012): RUANG : JURNAL ARSITEKTUR
Publisher : Jurusan Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 94118 e-mail :Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Tadulako Kampus Bumi Tadulako Tondo Jl. Sukarno-Hatta Km.9, Palu 941

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/ruang.v4i1 Maret.145

Abstract

Suku Bajo banyak tersebar dan bermukin di perairan Indonesia dan sekitarnya, termasuk di beberapa negara tetangga seperti di Thailand dan Malaysia. Sedang penyebaran terbanyak di Indonesia terdapat di pulau Sulawesi Utamanya di Sulawesi Tengah. Sejak ratusan tahun lalu, suku Bajo hidup diatas laut/perairan dimana awalnya mereka hanya menggunakan perahu dan mereka cakap mengarungi lautan, Hingga akhirnya beberapa kelompok masyarakatnya mulai menetap dan membangunan permukiman. Mereka kerap disebut gipsi laut (sea nomads), karena hidup di atas laut secara nomaden, namun kemudian mereka mulai menetap dan membangun permukiman di atas laguna karang dan perairan di sekitar pantai dan pulau-pulau, mereka mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya, serta tetap mempertahankan budaya kebaharian mereka. Suku Bajo awalnya tinggal di atas perahu, namun dengan perubahan zaman saat ini cukup mempengaruhi cara hidup mereka bahkan banyak diantara mereka yang tidak berprofesi sebagai nelayan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemukiman dan tipe hunian/rumah serta tradisi yang tetap mereka pertahankan secara turun temurun dalam kehidupan mereka.
Kesiapan Infrastruktur Agropolitanisasi dan Dualitas Desa–Kota: Studi Kasus Desa Bora, Kabupaten Sigi: Agropolitanisation Infrastructure Readiness and Rural–Urban Duality: A Case Study of Bora Village, Sigi Regency Basri, Iwan Setiawan; Halim, Muhammad Adhim; Tri Wahyuningsih; Rasdiana A; Wafiqh Zalzabilah
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 12: Desember 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i12.9507

Abstract

Penelitian ini menilai kesiapan infrastruktur agropolitanisasi di Desa Bora, Kabupaten Sigi, dan dualisme desa–kota beserta implikasinya terhadap posisi spasial kawasan dalam sistem wilayah dengan kerangka Central Place Theory (CPT) and Urban–Rural Linkages (URL). Pendekatan evaluatif–deskriptif digunakan dengan skoring Likert 1–5 untuk menyusun Indeks Kesiapan Infrastruktur (IKI) per klaster dan indeks gabungan (tak berbobot). Data (2025) dihimpun melalui observasi, wawancara, dan telaah RTRW/RDTR. Hasil menunjukkan ketimpangan: hulu 2,40, on-farm 2,65, hilir 1,40, sosial–ekonomi 3,45, TIK 2,00, Indeks Gabungan 2,38 (“Tidak Siap”). Dalam bingkai penelitian ini, Bora diposisikan sebagai pusat orde menengah (PKL) yang mengonsolidasikan produksi hinterland dan menyalurkannya ke layanan orde lebih tinggi di Palu. Implikasi penataan perlu selaras dengan RTRW/RDTR dan perlindungan LP2B, agenda operasional pra-CBA meliputi penguatan hulu, pengelolaan air dan mekanisasi on-farm, hilirisasi (UPH/packhouse, gudang, cold storage, market center), penguatan kelembagaan, dan digitalisasi koridor produksi. Keterbatasan studi mencakup tanpa verifikasi citra satelit dan tanpa analisis biaya–manfaat. Riset lanjutan disarankan untuk pemantauan IKI periodik dan integrasi data spasial guna mendukung perencanaan presisi. Studi ini memberikan kerangka indeks kesiapan infrastruktur yang dapat diadaptasi untuk evaluasi agropolitanisasi di wilayah peri-urban lain di Indonesia.