Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Analisa Kinerja Lalu Lintas Pada Jalan Cut Nyak Dhien Simpang Ajun Kabupaten Aceh Besar Zulfikar Zulfikar; Heru Pramanda; Bunyamin Bunyamin
Jurnal Teknik Sipil Unaya Vol 8, No 1 (2022): Januari 2022
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/jtsu.v8i1.2222

Abstract

Jalan Cut Nyak dhien, Aceh Besar yang menjadi pusat perbelanjaan berupa pasar tradisional. Pada ruas jalan tersebut terdapat parkir di badan jalan (on-street parking) yang menyebabkan kapasitas jalan menjadi berkurang. Kondisi geometrik ruas jalan dengan adanya pedagang kaki lima (PKL) dipersimpangan menyebabkan terjadinya titik konflik. Simpang ini merupakan jalan alternatif, keluar masuk nya kendaraan, baik untuk berpergian maupun aktifitas lainnya dan kawasan dengan pemukiman yang padat. Cara penelitian yang dilakukan adalah dengan cara melakukan survey dilapangan untuk mendapatkan volume kendaraan, dengan menggunakan metode Manual Kapasitas Jalan Indonesia (MKJI) 1997. Pengujian ini merupakan survey langsung dilapangan, meliputi data sekunder dan data primer. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengkaji kemacetan, kepadatan volume lalu-lintas pada simpang jalan berdasarkan karakteristik dan aktifitas jalan. Hasil yang didapatkan dari hasil survey dan pengolahan data adalah Jumlah volume arus lalu lintas kendaraannya (Qtot) pada jam puncak kendaraan tertinggi terjadi pada hari minggu sebesar 6260 smp/jam. Maka kinerja simpang masih dalam kinerja yang baik sehingga harus dioptimalkan. Serta Nilai derajat kejenuhan pada hari Minggu mewakili volume kendaraan tertinggi didapat DS> 0,85 yaitu sebesar 1,69, sehingga Tingkat Pelayanannya (LOS) dikatagorikan ≥ 1,00 yaitu arus terhambat.
PENGARUH PENGGUNAAN SUBTITUSI FILLER SERBUK KAYU PADA CAMPURAN LAPISAN ASPAL BETON Fatullah Dani Pratama; Bunyamin Bunyamin; Febrina Dian Kurniasari
Jurnal Teknik Sipil Unaya Vol 7, No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Center for Research and Community Service (LPPM) University of Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30601/jtsu.v7i2.1638

Abstract

Lapisan aspal beton (laston) terdiri dari campuran agregat kasar, agregat halus, filler dan aspal. Agregat merupakan komponen yang cukup dominan sebagai bahan penyusun campuran aspal khusunya agregat halus dan semen portland. Material pengisi yang sering digunakan untuk membuat laston adalah semen Portland. Sebagian besar bahan material filler mempunyai harga yang mahal, untuk itu perlu adanya inovasi dengan menggunakan bahan pengganti yang lebih menguntungkan dan efisien pada suatu susunan campuran aspal dan jumlahnya di lapangan masih banyak seperti Abu Serbuk Kayu (ASK) dengan persentase 0%, 5%, 10%, dan 15% terhadap semen pada campuran lapisan Asphalt Concrete – Wearing Course (AC-WC) dengan benda uji seluruhnya yaitu 60 benda uji. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh subtitusi penggunaan  filler ASK pada Agregat Halus Pasir Laut (AHL) dan Agegat Halus Pasir Sungai (AHI) komposisi 25% AHL dan 75% AHI pada kadar aspal 5,00% dengan nilai stabilitas yaitu 1316,37 kg pada campuran lapisan aspal yang masih memenuhi persyaratan Bina Marga. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berpedoman pada syarat-syarat yang ditetapkan oleh Bina Marga 2010 Revisi 4 (2018). Berdasarkan hasil penelitian diperoleh komposisi terbaik untuk variasi filler ASK dengan kombinasi subtitusi terbaik yaitu pada variasi filler ASK 5% dengan nilai stabilitas 1312,42 kg
Pengaruh Sambungan Beton Pracetak Hollow Block terhadap Pola Retak yang Timbul Bunyamin Bunyamin
Jurnal Serambi Engineering Vol 5, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jse.v5i2.1923

Abstract

Hollow block precast concrete which was combined into a beam casting by adding concrete and steel inside and called as “hollow block reinforcement concrete beam”. The aim of this research was to knowing the crack pattern due to the connection of hollow block reinforcement concrete beam. The specification of ACI (American Concrete Institute) 211.3R-02 and ASTM (American Society for Testing of Materials) were used in this research. The object were two normal reinforcement concrete beam and two hollow block reinforcement concrete beam with size 15 cm x 20 cm x 210 cm. The reinforcement concrete beam was tested by using load cell. The result showed the variety of crack pattern which are flexural crack and flexural-shear crack. For normal reinforcement concrete beam, flexural crack formed at 0.95 ton and flexural-shear crack at 2.83 ton with its duration was 5 minutes and 29 seconds. For hollow block reinforcement concrete beam, flexural crack formed at 1.16 ton and flexural-shear crack at 1.98 ton with its durat on was 6 minutes and 8 seconds. The result also showed that hollow block reinforcement concrete beam was more ductile due to crack pattern than normal reinforcement concrete beam.
pemanfaatan getah karet untuk substitusi aspal modifikasi lapisan asphalt concrete wearing course (Ac-wc) dengan metode basah JOTI ASRI; Febrina Dian Kurniasari; bunyamin bunyamin
Jurnal Teknik Sipil dan Teknologi Konstruksi Vol 8, No 1 (2022): Jurnal Teknik Sipil dan Teknologi Konstruksi
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (297.816 KB) | DOI: 10.35308/jts-utu.v8i1.5051

Abstract

AbstractBeton aspal merupakan salah satu jenis perkerasan lentur (flexible pavement) yang material nya terdiri dari agregat kasar, agregat halus, filler dan menggunakan aspal sebagai bahan pengikat. Ketersediaan aspal sebagai bahan pengikat semakin menurun seiring dengan semakin menurunnya ketersediaan aspal dunia. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu di cari alternatif pengganti yaitu dengan mengembangkan aspal modifikasi dengan cara mensubtitusikan sebagian dari jumlah aspal dengan bahan polimer untuk menghemat penggunaan aspal tanpa mengurangi kualitas dari campuran yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja stabilitas. Salah satu bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah getah karet. Maka perlu penambahan bahan lain pada penelitian ini di gunakan getah karet. Untuk bahan campuran aspal getah karet adalah cairan yang berwarna putih yang di dapat dari sadap pohon karet. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini dalah beberapa persen pengaruh pemanfaatan getah karet untuk subtitusi aspal modifikasi lapisan asphalt concrete wearing course (AC-WC) dengan metode basah. Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah limbah plastik dapat digunakan sebagai bahan substitusi campuran Asphalt Concrete – Wearing Course (AC- WC) sebagai salah satu cara untuk mengurangi masalah getah karet  yang terus meningkat setiap harinya oleh aktivitas masyarakat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode basah yang mengacu pada Spesifikasi Bina Marga 2010 Revisi empat (2018). Pengujian karakteristik Marshall dilakukan pada 5 (lima) kadar aspal untuk menentukan kadar aspal optimum (KAO). Selanjutnya pada kondisi KAO direncanakan pembuatan benda uji dengan variasi persentase getah karet  3%, 6%, 9%, 12%, dan 15%. Hasil yang diperoleh untuk substitusi terbaik adalah persentase getah karet 6% dengan kadar aspal 5,50% didapat nilai VIM 3,80, VMA 17,08%, VFA 78,32%, Stabilitas 1220,99 kg, dan Flow 2,67 mm, semua nilai memenuhi spesifikasi yang ditentukan oleh Bina Marga 2010 Revisi 4 (2018).
Pengaruh Nilai FAS Terhadap Mutu Beton Hollow Block Dan Beton Normal Bunyamin
Jurnal Ilmiah Teknik Unida Vol. 1 No. 2 (2020): Des
Publisher : Mitra Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55616/jitu.v1i2.395

Abstract

Beton hollow block dijadikan alternatif untuk pembangunan rumah sederhana pada keadaan darurat seperti bencana gempa dan tsunami yang telah menghancurkan ribuan rumah, sehingga memerlukan suatu metode untuk pembangunan rumah dalam waktu yang singkat. Secara umum, mutu beton untuk rumah sederhana adalah K175. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu beton hollow block dan dibandingkan dengan beton normal. Penelitian dilakukan berdasarkan pada metode ACI 211.1-91 dan ACI 211.3R-02. Objek yang digunakan adalah kubus beton sebanyak 15 buah, yaitu 10 buah untuk beton hollow block (FAS 0,50 dan FAS 0,60) dan 5 buah untuk beton normal (FAS 0,50). Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan mutu beton hollow block sebesar K-192 (FAS 0,50) dan K-169 (FAS 0,60) serta beton normal sebesar K-179 (FAS 0,5). Mutu beton hollow block yang digunakan adalah K-192 (FAS 0,5). Dengan FAS yang sama yaitu 0,5, beton hollow block lebih tinggi mutunya jika dibandingkan dengan beton normal
Utilization of Oyster Shells as a Substitute Part of Cement and Fine Aggregate in the Compressive Strength of Concrete Bunyamin Bunyamin; Amir Mukhlis
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Graduate Program of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (515.214 KB) | DOI: 10.13170/aijst.9.3.17761

Abstract

The compressive strength of concrete depends on the physical characteristics of the concrete forming materials. Oyster shells originating from Krueng Neng, Aceh Besar are very abundant, left unattended by fishermen, causing pollution of the surrounding environment. Oyster shell dust contains CaO, which can be used as a partial substitution of cement. Therefore, it is necessary to study oyster shell ash as cement replacement and fine aggregate in concrete production. This research aims to determine the compressive strength of concrete using shell ash as cement replacement and fine aggregate. The oyster shells were obtained from Krueng Neng, Lamjamee Village, Jaya Baru, Aceh Besar District. The oyster shells were crushed with a Los Angeles Test machine and sieved with sieve size 2.36 mm for fine aggregate and sieve #200 for cement replacement. The water-cement ratios (w/c) were 0.4, 0.5 and 0.6. The results showed that concrete's compressive strength with 5% cement replacement level was higher than the concrete with cement only. Meanwhile, for other replacement levels, the compressive strengths of concrete specimens were lower than control specimens.  
Pengaruh Serat Ban Bekas dan Abu Batu Bara Terhadap Kuat Tarik Beton Bunyamin Bunyamin; Imransyah Idroes; Reska Wahyu Fauzha
Jurnal Teknik Sipil dan Teknologi Konstruksi Vol 9, No 1 (2023): Jurnal Teknik Sipil dan Teknologi Konstruksi
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jts-utu.v9i1.7092

Abstract

In today's modern era, technological developments are needed to increase development in all fields. The manufacture of concrete can use partial cement substitution materials through the use of industrial by-products such as fly ash and fiber waste from used tires. The benefit of this research is to develop knowledge about concrete technology. The method used in this research is the ACI 211.1-91 (American Concrete Institute) and ASTM (American Society for Testing and Materials) methods with variations in the addition of used tire fiber by 0%, 5%, 10%, 15%, and 5% addition of fly ash from the weight of cement in each variation. The test object used is a cylinder with dimensions of 15 cm x 30 cm with a total of 20 test objects, the planned concrete quality is 17.00 MPa. The tensile strength of concrete test was carried out at the age of 28 days. The results of this study are that concrete with a variation of 0% produces a tensile strength of 2.32 MPa; while the tensile strength with variations of 5%, 10% and 15% were 2.71 MPa, 2.50 MPa and 2.41 MPa. The tensile strength of concrete using tire fiber waste and fly ash increases compared to normal concrete.
Analisis Kuat Tekan Beton Menggunakan Bahan Substitusi Serat Roving dan Cangkang Tiram Bunyamin Bunyamin; Munirul Hady; Nesri Hendrifa; Ahmad Syakir
Jurnal Serambi Engineering Vol 8, No 3 (2023): Juli 2023
Publisher : Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jse.v8i3.6073

Abstract

Para peneliti telah melakukan percobaan terhadap bahan-bahan lain yang sifatnya sama seperti semen, seperti limbah cangkang tiram. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa penggantian semen 10% dan FAS (Faktor Air Semen) 0,50 mampu meningkatkan kuat tekan beton. Pada penelitian ini, akan ditambahkan material lain ke dalam semen tersebut yaitu serat roving (serat gypsum), bertujuan mengurangi retak yang terjadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk memanfaatkan limbah cangkang tiram sebesar 10% dan penambahan serat roving sebesar 5%, 10%, dan 15% ke dalam semen terhadap kuat tekan beton. Benda uji berupa silinder (15 cm x 30 cm) berjumlah 20 unit. Limbah cangkang tiram berasal dari Krueng Neng, Aceh Besar. Serat roving didapatkan dari toko bahan bangunan di Banda Aceh. Penelitian ini dilaksanakan berdasarkan metode ACI 211.1-91 (American Concrete Institute) dan ASTM (American Society for Testing and Material). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kuat tekan beton normal sebesar 22,05 MPa. Sedangkan kuat tekan beton dengan substitusi serat roving dan cangkang tiram adalah 25,16 MPa, 30,59 MPa, dan 30,70 MPa. Kuat tekan beton yang dikombinasikan meningkat dibandingkan dengan kuat tekan beton normal.
Limbah Cangkang Telur Sebagai Inovasi Material Pengganti Agregat Halus Beton Bunyamin; Heru Pramanda; Nesri Hendrifa; Afdhal
Jurnal Manajemen Teknologi & Teknik Sipil Vol. 6 No. 1 (2023): JUNE
Publisher : Kadiri University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30737/jurmateks.v6i1.4583

Abstract

Eggshells become a huge waste and cause various environmental problems. One of the efforts that can be made to reduce this waste is to use it as a material in concrete. Cement and fine aggregate raw materials that are continuously used will eventually run out and are difficult to renew. This study aims to determine the slump value and compressive strength using eggshell waste as a substitute for cement and fine aggregate in concrete. Eggshells as a substitute for cement were in the oven at 105°C for 24 hours and then fired and the material that passed the No. sieve was taken. 200 (75 µm) and sieve number 4 for fine aggregate. The percentage of mixed eggshell content used was 0%, 5%, 10%, and 15%. The results showed that the slump and compressive strength decreased with increasing eggshell content in the concrete. This is caused by the size of the eggshell. The use of egg shells with a size of 4.75 mm as a substitute for fine aggregate is not recommended for concrete. The irregular shape of the eggshell is considered less capable of filling cavities and even causing cavities in concrete. The right size for using egg shells is in the range of 0.5 – 1 mm. Referring to these results, this study highlights the importance of choosing eggshell size as a substitute for fine aggregate. So that with proper utilization, egg shells can be utilized as a material substitute and improve the quality of concrete.
Waste motor engine oil – the influence in warm mix asphalt Wan Noor Hin Mior Sani; Ramadhansyah Putra Jaya; Bunyamin Bunyamin; Zaid Hazim Al-Saffar; Yaumal Arbi
Jurnal Pendidikan Teknologi Kejuruan Vol 6 No 4 (2023): Regular Issue
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jptk.v6i4.34623

Abstract

Employing Hot Mix Asphalt (HMA) technology for asphalt pavement construction results in the emission of greenhouse gases and other harmful pollutants, contributing to significant air pollution due to extensive energy consumption. Consequently, the adoption of Warm Mix Asphalt (WMA) is recommended, given its potential for enhanced energy efficiency and reduced emissions due to lower mixing and production temperatures compared to HMA. This research delves into the impact of incorporating waste motor engine oil (WMEO) as a bitumen modifier in warm mix asphalt. The investigation involved adding WMEO at various percentages, specifically 0%, 3%, 4%, and 5% based on the weight of bitumen. The study assessed the performance of the samples in terms of penetration, softening point, stability, flow, and stiffness. The findings revealed that the incorporation of WMEO in warm mix asphalt led to a substantial improvement in penetration and softening point. Moreover, the results indicated that incorporating WMEO as a bitumen modifier could enhance the performance of WMA in terms of stability, flow, and stiffness.