Claim Missing Document
Check
Articles

Identifikasi Fase-Fase Siklus Kekerasan dan Kebermaknaan Hidup pada Perempuan Penyintas KDRT Saraswati, Ni Made Yulia Paramita; Hardika, I Rai; Retnoningtias, Diah Widiawati
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 3 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v3i2.3158

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengalaman penyintas kekerasan melalui fase-fase siklus kekerasan dalam rumah tangga dan makna hidup yang diperoleh pasca pengalaman kekerasan yang dilakukan oleh suami. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan terhadap perempuan korban penyintas KDRT. Penelitian ini berfokus pada fase-fase dalam siklus kekerasan serta sumber-sumber, aspek, dan faktor kebermaknaan hidup. Hasil dari penelitian ini adalah semua korban KDRT mengalami ketiga fase dalam siklus kekerasan. Fase pembentukan ketegangan ditandai dengan awal mula pemicu terjadinya konflik seperti faktor ekonomi, campur tangan mertua atau ipar, munculnya serangan verbal. Fase kekerasan akut adalah puncak terjadinya kekerasan yang ditandai dengan perilaku merusak barang dan melakukan kekerasan fisik. Fase bulan madu ditandai dengan perilaku meminta maaf dari suami terhadap istri dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Makna hidup para korban ditemukan melalui nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap. Faktor internal seperti pemahaman terhadap diri sendiri, kemampuan mengubah sikap menjadi lebih positif, melakukan kegiatan yang terarah, dan memiliki komitmen untuk bertahan menjalani kehidupan dan mencapai tujuannya. Faktor eksternal yaitu adanya dukungan sosial. Terdapat pula aspek-aspek yang menjadi tolak ukur dalam proses penemuan makna hidup para narasumber seperti mengetahui tujuan hidupnya, memiliki kepuasan hidup, kebebasan dalam berkehendak, sikap terhadap kematian, pikiran tentang bunuh diri, dan merasa pantas atas hidup yang dijalaninya. Sebagian besar narasumber menekankan pada kebahagiaan pribadi, fokus menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua yang baik, dan penghargaan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hubungan Antara Citra Diri dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Perempuan di Kabupaten Badung Ni Komang, Pidriyanti; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela
JURNAL PSIKOLOGI MANDALA Vol. 9 No. 2 (2025): JURNAL PSIKOLOGI MANDALA
Publisher : Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jpm.v9i2.4499

Abstract

The purpose of this study was to determine the relationship between self-image and self-confidence in adolescent girls in Badung Regency, Bali. This study applied a quantitative correlational approach with a sample of 386 adolescent girls in Badung Regency, Bali, who were selected through random sampling. The instruments for measuring self-image and self-confidence have undergone validity and reliability tests, resulting in very high reliability coefficients (0.981 for self-image and 0.979 for self- confidence), making them suitable for use in this study. Based on the results of the hypothesis test, the hypothesis was accepted because the p-value was < 0.001, confirming the existence of a relationship between self-image and self-confidence. The correlation value (r = 0.612) indicates a strong positive relationship, where an increase in self-image is directly proportional to an increase in self-confidence among adolescent girls. This study shows a strong positive relationship between self-image and self-confidence among adolescent girls in Badung Regency, indicating that the better the self-image, the higher the self-confidence.
HUBUNGAN STRES INFERTILITAS DENGAN KESEPIAN PADA WANITA INFERTIL DI BALI Teresna Anindhita, I Gusti Agung Istri; Retnoningtias, Diah Widiawati; Ayuningtias, Agnes Utari Hanum
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 23 No. 1: Februari 2021
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/psikologi.v23i1.1411

Abstract

Kesepian merupakan salah satu fenomena kehidupan yang dapat dialami oleh siapa saja dan oleh seluruh kalangan usia. Kesepian dapat muncul ketika seseorang menghakimi dirinya apabila tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau tidak dapat menjadi sosok individu yang diinginkannya. Hal ini dapat memunculkan perasaan kegagalan dalam diri seseorang yang salah satunya diakibatkan karena belum hadirnya seorang anak dalam pernikahan pasangan suami istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres infertilitas dengan kesepian pada wanita infertill di Bali. Partisipan dalam penelitian ini adalah 119 orang wanita yang telah menikah selama (minimal) satu tahun, tidak menggunakan alat kontrasepsi, belum memiliki keturunan, dan bertempat tinggal di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik pengumpulan data menggunakan skala psikologi The Copenhagen Multi-centre Psychosocial Infertility Fertility Problem Stress Scales (COMPI FPSS) dan UCLA Loneliness Scale Version 3 yang masing-masing telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan telah melalui proses uji kesahihan dan keajegan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan statistika non-parametrik dan diperoleh hasil bahwa r hitung > r tabel (0.336 > 0.05) yang juga menunjukkan bahwa semakin tinggi stres infertilitas yang dimiliki wanita infertil, semakin tinggi pula kesepian yang dirasakannya dan begitu pula sebaliknya. Berdasarkan nilai r hitung sebesar 0.366, stres infertilitas dan kesepian telah ditemukan memiliki tingkat hubungan yang lemah karena terdapat faktor-faktor lain diluar stres infertilitas yang dapat menyebabkan munculnya perasaan kesepian. Selain itu, antara  kategori skor stres infertilitas dan kategori skor kesepian dengan kategori usia kronologis dan kategori usia pernikahan partisipan juga ditemukan tidak memiliki hubungan.  
TINGKAT REGULASI EMOSI PADA REMAJA TENGAH Retnoningtias, Diah Widiawati; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5245

Abstract

ABSTRAK Tugas perkembangan menuntut remaja untuk mampu meregulasi emosi, namun pada kenyataannya remaja merupakan kelompok usia paling rentan mengalami kesulitan dalam meregulasi emosi secara efektif. Dua penelitian sebelumnya menyatakan bahwa regulasi emosi remaja tengah berada dalam kategori rendah, sementara tiga penelitian yang lain menyatakan regulasi emosi berada dalam kategori sedang. Perbedaan berbagai studi tersebut menggugah ketertarikan peneliti untuk menguji gambaran regulasi emosi pada remaja tengah yang sesungguhnya. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui gambaran regulasi emosi pada remaja tengah. Regulasi emosi diukur dengan menggunakan Skala Regulasi Emosi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif tipe deskriptif. Populasi penelitian sejumlah 890 remaja tengah, sementara sampel penelitian sejumlah 277 remaja tengah, yang didapat dengan teknik stratified random sampling. Hasil penelitian menyebutkan ada 8 subjek memiliki regulasi emosi sangat rendah (2,9%), 51 subjek memiliki regulasi emosi rendah (18.4%), 34 subjek memiliki regulasi emosi sedang (12,3%), 184 subjek memiliki regulasi emosi tinggi (66,4%), dan 0 subjek memiliki regulasi emosi sangat tinggi (0%). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa remaja tengah cukup mampu meregulasi emosi diri sendiri. Hasil penelitian ini dapat memberikan pemetaan mengenai tingkat regulasi emosi pada remaja tengah dan menjadi landasan untuk pengembangan program intervensi psikologi dengan topik regulasi emosi.
PROFIL KOGNITIF SLOW LEARNER BERDASARKAN TES WECHSLER INTELLIGENCE SCALE FOR CHILDREN (WISC) DI SEKOLAH X BADUNG BALI Dewi, Ni Nyoman Ari Indra; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5255

Abstract

Kemampuan kognitif merupakan aspek fundamental dalam keberhasilan belajar anak. Namun, tidak semua anak menunjukkan perkembangan kognitif yang optimal. Sebagian anak berada pada rentang kemampuan intelektual yang lebih rendah tetapi masih mampu mengikuti pembelajaran reguler, dikenal sebagai slow learners. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kognitif anak slow learner berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi sebanyak 15 anak yang diidentifikasi memiliki kendala dalam proses pembelajaran di kelas melalui informasi dari guru dan konselor sekolah. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Hasil asesmen menunjukkan terdapat tiga anak (J, M, dan K) dengan IQ total berada pada rentang 70–79, yang termasuk kategori slow learner. Skor IQ verbal dan IQ performance pada ketiga subjek relatif seimbang, dengan selisih antara 1–9 poin, menunjukkan tidak adanya ketimpangan signifikan antar domain kognitif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hambatan belajar yang muncul bukan akibat gangguan spesifik pada proses kognitif tertentu, melainkan karena kapasitas intelektual umum yang lebih rendah. Anak slow learner umumnya membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami konsep abstrak dan memerlukan pengulangan dalam pembelajaran. Temuan ini mendapatkan bahwa anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata mampu belajar dengan baik melalui pendekatan konkret, instruksi bertahap, dan dukungan individual. Kesimpulannya, profil kognitif anak slow learner ditandai oleh kemampuan intelektual pada rentang batas bawah normal dengan keseimbangan antara kemampuan verbal dan performansi. Hasil ini memberikan implikasi penting bagi guru dan konselor sekolah untuk merancang strategi pembelajaran adaptif, dengan menekankan penguatan keterampilan dasar, penggunaan media visual, serta pembelajaran berbasis pengulangan.
Profil Kognitif Anak Dengan Kesulitan Belajar Berdasarkan Tes WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) Dewi, Ni Nyoman Ari; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 2.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan memecahkan masalah yang mendukung keberhasilan akademik. Namun, tidak semua anak memiliki perkembangan kognitif yang optimal, sehingga muncul kesulitan belajar (learning difficulties). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil kognitif anak dengan kesulitan belajar berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 14 siswa yang diidentifikasi mengalami kesulitan belajar. Pengambilan data dilakukan secara individual oleh tim psikolog dan observer melalui tes WISC. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kemampuan intelektual pada anak, dengan 13,3% tergolong retardasi mental, 20% slow learners, 20% berada pada kategori rata-rata bawah, 33,3% rata-rata, dan 13,3% rata-rata atas. Ditemukan pula perbedaan signifikan antara IQ Verbal dan IQ Performance pada beberapa anak (selisih ≥15 poin), yang mengindikasikan adanya potensi Specific Learning Disorder (SLD). Anak dengan profil IQ Total normal tetapi memiliki ketidakseimbangan antara kemampuan verbal dan performa cenderung mengalami hambatan belajar spesifik, terutama pada aspek membaca dan menulis. Sementara itu, anak dengan IQ <70 dikategorikan memiliki hambatan intelektual global, dan anak dengan IQ 70–79 tergolong slow learners yang membutuhkan strategi pembelajaran konkret dan berulang. Temuan ini menegaskan pentingnya asesmen kognitif dalam mengidentifikasi pola kekuatan dan kelemahan anak dengan kesulitan belajar agar intervensi pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.
GAMBARAN KECEMASAN DALAM MENJALIN HUBUNGAN PADA PEREMPUAN DEWASA AWAL YANG MENGALAMI FATHERLESS Ni Wayan Intan Windusari; Rai Hardika; Diah Widiawati Retnoningtias
Merpsy Journal Vol. 18 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/merpsy.v18i1.37855

Abstract

This study aims to describe relationship anxiety in young adult women who have been orphaned. The research approach used was a qualitative case study method, involving five informants aged 18–25 years. The results showed that the anxiety experienced by participants was reflected in three main aspects: physical aspects, including heart palpitations, trembling, and difficulty sleeping when facing conflict or communicating. Cognitive aspects include overthinking, resentment towards partners, and negative beliefs about relationships. And behavioral aspects include impulsive reactions, emotional dependence, and dominant or avoidant behavior in relationships. Of these three aspects, the behavioral aspect was found to be the most dominant, seen from consistent behavioral patterns such as the tendency to maintain unhealthy relationships, fear of abandonment, and showing excessive control in relationships. These findings confirm that the experience of orphanhood has a strong impact on the expression of anxious behavior in romantic relationships in young adult women.
Tingkat Resiliensi Pada Remaja Awal Retnoningtias, Diah Widiawati
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 7 (2024): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v7i.3534

Abstract

Reaksi remaja saat mengalami tantangan dan tekanan dalam kehidupan dapat bersifat positif atau negatif. Sebagai antisipasi munculnya reaksi negatif, remaja perlu mengembangkan kemampuan bertahan yang sangat kuat, dikenal dengan istilah resiliensi. Dua studi terdahulu menunjukkan bahwa resiliensi remaja berada dalam kategori sedang, sementara dua studi lainnya menunjukkan resiliensi remaja berada dalam kategori tinggi. Perbedaan berbagai hasil penelitian ini menarik minat peneliti untuk mengkaji bagaimana sesungguhnya tingkat resiliensi di kalangan remaja. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui tingkat resiliensi di kalangan remaja awal. Resiliensi diukur dengan menggunakan The 10-Item Connor–Davidson Resilience Scale. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan tipe deskriptif. Populasi penelitian adalah 414 orang remaja awal di salah satu SMP di Denpasar. Jumlah sampel penelitian adalah 387 orang, yang diperoleh menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian mengenai tingkat resiliensi menunjukkan ada 2 (0,52%) subjek memiliki kategori sangat rendah, 46 (11,89%) subjek memiliki kategori rendah, 174 (44,96%) memiliki kategori sedang, 145 (37,47%) memiliki kategori tinggi, dan 20 (5,17%) memiliki kategori sangat tinggi. Dapat disimpulkan dari hasil penelitian ini bahwa pada dasarnya remaja memiliki kemampuan untuk mengatasi berbagai tantangan dalam kehidupan, namun kemampuan tersebut belum sepenuhnya optimal. Hasil penelitian ini dapat memberi gambaran mengenai tingkat resiliensi di kalangan remaja awal dan menjadi dasar pijakan bagi penelitian selanjutnya mengenai intervensi psikologi dengan topik resiliensi di kalangan remaja awal
TINGKAT REGULASI EMOSI PADA REMAJA TENGAH Retnoningtias, Diah Widiawati; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5245

Abstract

ABSTRAK Tugas perkembangan menuntut remaja untuk mampu meregulasi emosi, namun pada kenyataannya remaja merupakan kelompok usia paling rentan mengalami kesulitan dalam meregulasi emosi secara efektif. Dua penelitian sebelumnya menyatakan bahwa regulasi emosi remaja tengah berada dalam kategori rendah, sementara tiga penelitian yang lain menyatakan regulasi emosi berada dalam kategori sedang. Perbedaan berbagai studi tersebut menggugah ketertarikan peneliti untuk menguji gambaran regulasi emosi pada remaja tengah yang sesungguhnya. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui gambaran regulasi emosi pada remaja tengah. Regulasi emosi diukur dengan menggunakan Skala Regulasi Emosi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif tipe deskriptif. Populasi penelitian sejumlah 890 remaja tengah, sementara sampel penelitian sejumlah 277 remaja tengah, yang didapat dengan teknik stratified random sampling. Hasil penelitian menyebutkan ada 8 subjek memiliki regulasi emosi sangat rendah (2,9%), 51 subjek memiliki regulasi emosi rendah (18.4%), 34 subjek memiliki regulasi emosi sedang (12,3%), 184 subjek memiliki regulasi emosi tinggi (66,4%), dan 0 subjek memiliki regulasi emosi sangat tinggi (0%). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa remaja tengah cukup mampu meregulasi emosi diri sendiri. Hasil penelitian ini dapat memberikan pemetaan mengenai tingkat regulasi emosi pada remaja tengah dan menjadi landasan untuk pengembangan program intervensi psikologi dengan topik regulasi emosi.
PROFIL KOGNITIF SLOW LEARNER BERDASARKAN TES WECHSLER INTELLIGENCE SCALE FOR CHILDREN (WISC) DI SEKOLAH X BADUNG BALI Dewi, Ni Nyoman Ari Indra; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5255

Abstract

Kemampuan kognitif merupakan aspek fundamental dalam keberhasilan belajar anak. Namun, tidak semua anak menunjukkan perkembangan kognitif yang optimal. Sebagian anak berada pada rentang kemampuan intelektual yang lebih rendah tetapi masih mampu mengikuti pembelajaran reguler, dikenal sebagai slow learners. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kognitif anak slow learner berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi sebanyak 15 anak yang diidentifikasi memiliki kendala dalam proses pembelajaran di kelas melalui informasi dari guru dan konselor sekolah. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Hasil asesmen menunjukkan terdapat tiga anak (J, M, dan K) dengan IQ total berada pada rentang 70–79, yang termasuk kategori slow learner. Skor IQ verbal dan IQ performance pada ketiga subjek relatif seimbang, dengan selisih antara 1–9 poin, menunjukkan tidak adanya ketimpangan signifikan antar domain kognitif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hambatan belajar yang muncul bukan akibat gangguan spesifik pada proses kognitif tertentu, melainkan karena kapasitas intelektual umum yang lebih rendah. Anak slow learner umumnya membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami konsep abstrak dan memerlukan pengulangan dalam pembelajaran. Temuan ini mendapatkan bahwa anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata mampu belajar dengan baik melalui pendekatan konkret, instruksi bertahap, dan dukungan individual. Kesimpulannya, profil kognitif anak slow learner ditandai oleh kemampuan intelektual pada rentang batas bawah normal dengan keseimbangan antara kemampuan verbal dan performansi. Hasil ini memberikan implikasi penting bagi guru dan konselor sekolah untuk merancang strategi pembelajaran adaptif, dengan menekankan penguatan keterampilan dasar, penggunaan media visual, serta pembelajaran berbasis pengulangan.