Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Identifikasi Fase-Fase Siklus Kekerasan dan Kebermaknaan Hidup pada Perempuan Penyintas KDRT Saraswati, Ni Made Yulia Paramita; Hardika, I Rai; Retnoningtias, Diah Widiawati
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 3 No. 2 (2024): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/js.v3i2.3158

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengalaman penyintas kekerasan melalui fase-fase siklus kekerasan dalam rumah tangga dan makna hidup yang diperoleh pasca pengalaman kekerasan yang dilakukan oleh suami. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan terhadap perempuan korban penyintas KDRT. Penelitian ini berfokus pada fase-fase dalam siklus kekerasan serta sumber-sumber, aspek, dan faktor kebermaknaan hidup. Hasil dari penelitian ini adalah semua korban KDRT mengalami ketiga fase dalam siklus kekerasan. Fase pembentukan ketegangan ditandai dengan awal mula pemicu terjadinya konflik seperti faktor ekonomi, campur tangan mertua atau ipar, munculnya serangan verbal. Fase kekerasan akut adalah puncak terjadinya kekerasan yang ditandai dengan perilaku merusak barang dan melakukan kekerasan fisik. Fase bulan madu ditandai dengan perilaku meminta maaf dari suami terhadap istri dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Makna hidup para korban ditemukan melalui nilai kreatif, nilai penghayatan, dan nilai sikap. Faktor internal seperti pemahaman terhadap diri sendiri, kemampuan mengubah sikap menjadi lebih positif, melakukan kegiatan yang terarah, dan memiliki komitmen untuk bertahan menjalani kehidupan dan mencapai tujuannya. Faktor eksternal yaitu adanya dukungan sosial. Terdapat pula aspek-aspek yang menjadi tolak ukur dalam proses penemuan makna hidup para narasumber seperti mengetahui tujuan hidupnya, memiliki kepuasan hidup, kebebasan dalam berkehendak, sikap terhadap kematian, pikiran tentang bunuh diri, dan merasa pantas atas hidup yang dijalaninya. Sebagian besar narasumber menekankan pada kebahagiaan pribadi, fokus menjalankan peran dan tanggung jawab sebagai orang tua yang baik, dan penghargaan terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Hubungan Antara Citra Diri dengan Kepercayaan Diri pada Remaja Perempuan di Kabupaten Badung Ni Komang, Pidriyanti; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela
JURNAL PSIKOLOGI MANDALA Vol. 9 No. 2 (2025): JURNAL PSIKOLOGI MANDALA
Publisher : Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/jpm.v9i2.4499

Abstract

The purpose of this study was to determine the relationship between self-image and self-confidence in adolescent girls in Badung Regency, Bali. This study applied a quantitative correlational approach with a sample of 386 adolescent girls in Badung Regency, Bali, who were selected through random sampling. The instruments for measuring self-image and self-confidence have undergone validity and reliability tests, resulting in very high reliability coefficients (0.981 for self-image and 0.979 for self- confidence), making them suitable for use in this study. Based on the results of the hypothesis test, the hypothesis was accepted because the p-value was < 0.001, confirming the existence of a relationship between self-image and self-confidence. The correlation value (r = 0.612) indicates a strong positive relationship, where an increase in self-image is directly proportional to an increase in self-confidence among adolescent girls. This study shows a strong positive relationship between self-image and self-confidence among adolescent girls in Badung Regency, indicating that the better the self-image, the higher the self-confidence.
HUBUNGAN STRES INFERTILITAS DENGAN KESEPIAN PADA WANITA INFERTIL DI BALI Teresna Anindhita, I Gusti Agung Istri; Retnoningtias, Diah Widiawati; Ayuningtias, Agnes Utari Hanum
Insight: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol. 23 No. 1: Februari 2021
Publisher : Universitas Mercu Buana Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26486/psikologi.v23i1.1411

Abstract

Kesepian merupakan salah satu fenomena kehidupan yang dapat dialami oleh siapa saja dan oleh seluruh kalangan usia. Kesepian dapat muncul ketika seseorang menghakimi dirinya apabila tidak mendapatkan apa yang diinginkan atau tidak dapat menjadi sosok individu yang diinginkannya. Hal ini dapat memunculkan perasaan kegagalan dalam diri seseorang yang salah satunya diakibatkan karena belum hadirnya seorang anak dalam pernikahan pasangan suami istri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara stres infertilitas dengan kesepian pada wanita infertill di Bali. Partisipan dalam penelitian ini adalah 119 orang wanita yang telah menikah selama (minimal) satu tahun, tidak menggunakan alat kontrasepsi, belum memiliki keturunan, dan bertempat tinggal di Bali. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional dengan teknik pengumpulan data menggunakan skala psikologi The Copenhagen Multi-centre Psychosocial Infertility Fertility Problem Stress Scales (COMPI FPSS) dan UCLA Loneliness Scale Version 3 yang masing-masing telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia dan telah melalui proses uji kesahihan dan keajegan. Pengujian hipotesis dalam penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan statistika non-parametrik dan diperoleh hasil bahwa r hitung > r tabel (0.336 > 0.05) yang juga menunjukkan bahwa semakin tinggi stres infertilitas yang dimiliki wanita infertil, semakin tinggi pula kesepian yang dirasakannya dan begitu pula sebaliknya. Berdasarkan nilai r hitung sebesar 0.366, stres infertilitas dan kesepian telah ditemukan memiliki tingkat hubungan yang lemah karena terdapat faktor-faktor lain diluar stres infertilitas yang dapat menyebabkan munculnya perasaan kesepian. Selain itu, antara  kategori skor stres infertilitas dan kategori skor kesepian dengan kategori usia kronologis dan kategori usia pernikahan partisipan juga ditemukan tidak memiliki hubungan.  
Pentingnya Perencanaan Karier Terhadap Pengambilan Keputusan Karier Ayu, Maria Ni Komang; Widarnandana, I Gde Dhika; Retnoningtias, Diah Widiawati
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 3 (2022): Psikostudia : Jurnal Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v11i3.7021

Abstract

The results of previous studies have shown that career planning has proven effective in improving career decision-making in vocational, junior high, and age students, but there has been no research that examines the relationship between career planning and career decision making in high school students. This study aims to determine the relationship between career planning and career decision making for high school students. The type of research used is quantitative research. The study population is students of class XII and aged from 17-19 years. The sampling technique used is a sampling quota with a total sample of 170 high school students. Data collection uses online media (google form) because the research was conducted during the Covid-19 pandemic. The career decision-making gauge consists of three aspects and 20 items with reliability is 0.974. The career planning measuring instrument consists of five aspects and 55 items with reliability is 0.938. Data analysis was performed with Pearson Correlation. The results of this study show that there is a strong and positive correlation between career planning and career decision making with the influence of career planning of 43.3%. That is, when students have good career planning, they will be able to make career decisions well. The results of this study can be a reference for the school to equip students with career planning programs, as well as a reference for students to prepare themselves with various information related to career planning. Hasil penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perencanaan karir terbukti efektif meningkatkan pengambilan keputusan karir pada siswa SMK, SMP, dan usia pencari kerja, namun belum ada penelitian yang mengkaji hubungan antara perencanaan karir dan pengambilan keputusan karir pada siswa SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perencanaan karier dengan pengambilan keputusan karir siswa SMA. Tipe penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif. Populasi penelitian adalah siswa kelas XII dan berusia dari 17-19 tahun. Teknik sampling yang digunakan adalah kuota sampling dengan jumlah sampel sebanyak 170 orang siswa SMA. Pengumpulan data menggunakan media online (google form) karena penelitian dilakukan selama masa pandemi Covid-19. Alat ukur pengambilan keputusan karir terdiri dari tiga aspek dan 20 item dengan reliabilitas adalah 0,974. Alat ukur perencanaan karier terdiri dari lima aspek dan 55 item dengan reliabilitas adalah 0,938. Analisa data dilakukan dengan Pearson Correlation. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi yang kuat dan positif antara perencanaan karier dengan pengambilan keputusan karier dengan pengaruh dari perencanaan karier sebesar 43.3%. Artinya, ketika siswa memiliki perencanaan karir yang baik, maka akan dapat mengambil keputusan karir dengan baik. Hasil penelitian ini dapat menjadi rujukan bagi pihak sekolah untuk membekali siswa dengan program perencanaan karir, serta menjadi rujukan bagi siswa untuk mempersiapkan diri nya dengan berbagai informasi yang berkaitan dengan perencanaan karir.
TINGKAT REGULASI EMOSI PADA REMAJA TENGAH Retnoningtias, Diah Widiawati; Dewi, Ni Nyoman Ari Indra
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5245

Abstract

ABSTRAK Tugas perkembangan menuntut remaja untuk mampu meregulasi emosi, namun pada kenyataannya remaja merupakan kelompok usia paling rentan mengalami kesulitan dalam meregulasi emosi secara efektif. Dua penelitian sebelumnya menyatakan bahwa regulasi emosi remaja tengah berada dalam kategori rendah, sementara tiga penelitian yang lain menyatakan regulasi emosi berada dalam kategori sedang. Perbedaan berbagai studi tersebut menggugah ketertarikan peneliti untuk menguji gambaran regulasi emosi pada remaja tengah yang sesungguhnya. Tujuan penelitian ini ingin mengetahui gambaran regulasi emosi pada remaja tengah. Regulasi emosi diukur dengan menggunakan Skala Regulasi Emosi. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif tipe deskriptif. Populasi penelitian sejumlah 890 remaja tengah, sementara sampel penelitian sejumlah 277 remaja tengah, yang didapat dengan teknik stratified random sampling. Hasil penelitian menyebutkan ada 8 subjek memiliki regulasi emosi sangat rendah (2,9%), 51 subjek memiliki regulasi emosi rendah (18.4%), 34 subjek memiliki regulasi emosi sedang (12,3%), 184 subjek memiliki regulasi emosi tinggi (66,4%), dan 0 subjek memiliki regulasi emosi sangat tinggi (0%). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa remaja tengah cukup mampu meregulasi emosi diri sendiri. Hasil penelitian ini dapat memberikan pemetaan mengenai tingkat regulasi emosi pada remaja tengah dan menjadi landasan untuk pengembangan program intervensi psikologi dengan topik regulasi emosi.
PROFIL KOGNITIF SLOW LEARNER BERDASARKAN TES WECHSLER INTELLIGENCE SCALE FOR CHILDREN (WISC) DI SEKOLAH X BADUNG BALI Dewi, Ni Nyoman Ari Indra; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Seminar Ilmiah Nasional Teknologi, Sains, dan Sosial Humaniora (SINTESA) Vol. 8 (2025): PROSIDING SINTESA
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36002/snts.v8i.5255

Abstract

Kemampuan kognitif merupakan aspek fundamental dalam keberhasilan belajar anak. Namun, tidak semua anak menunjukkan perkembangan kognitif yang optimal. Sebagian anak berada pada rentang kemampuan intelektual yang lebih rendah tetapi masih mampu mengikuti pembelajaran reguler, dikenal sebagai slow learners. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan profil kognitif anak slow learner berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan populasi sebanyak 15 anak yang diidentifikasi memiliki kendala dalam proses pembelajaran di kelas melalui informasi dari guru dan konselor sekolah. Teknik pengambilan sampel menggunakan sampling jenuh. Hasil asesmen menunjukkan terdapat tiga anak (J, M, dan K) dengan IQ total berada pada rentang 70–79, yang termasuk kategori slow learner. Skor IQ verbal dan IQ performance pada ketiga subjek relatif seimbang, dengan selisih antara 1–9 poin, menunjukkan tidak adanya ketimpangan signifikan antar domain kognitif. Kondisi ini mengindikasikan bahwa hambatan belajar yang muncul bukan akibat gangguan spesifik pada proses kognitif tertentu, melainkan karena kapasitas intelektual umum yang lebih rendah. Anak slow learner umumnya membutuhkan waktu lebih lama dalam memahami konsep abstrak dan memerlukan pengulangan dalam pembelajaran. Temuan ini mendapatkan bahwa anak dengan kecerdasan di bawah rata-rata mampu belajar dengan baik melalui pendekatan konkret, instruksi bertahap, dan dukungan individual. Kesimpulannya, profil kognitif anak slow learner ditandai oleh kemampuan intelektual pada rentang batas bawah normal dengan keseimbangan antara kemampuan verbal dan performansi. Hasil ini memberikan implikasi penting bagi guru dan konselor sekolah untuk merancang strategi pembelajaran adaptif, dengan menekankan penguatan keterampilan dasar, penggunaan media visual, serta pembelajaran berbasis pengulangan.
Profil Kognitif Anak Dengan Kesulitan Belajar Berdasarkan Tes WISC (Wechsler Intelligence Scale for Children) Dewi, Ni Nyoman Ari; Retnoningtias, Diah Widiawati; Huwae, Gretty Henofela; Hardika, I Rai
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 2.D (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan berpikir, mengingat, memahami, dan memecahkan masalah yang mendukung keberhasilan akademik. Namun, tidak semua anak memiliki perkembangan kognitif yang optimal, sehingga muncul kesulitan belajar (learning difficulties). Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil kognitif anak dengan kesulitan belajar berdasarkan hasil asesmen Wechsler Intelligence Scale for Children (WISC) di Sekolah X Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Subjek penelitian berjumlah 14 siswa yang diidentifikasi mengalami kesulitan belajar. Pengambilan data dilakukan secara individual oleh tim psikolog dan observer melalui tes WISC. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi kemampuan intelektual pada anak, dengan 13,3% tergolong retardasi mental, 20% slow learners, 20% berada pada kategori rata-rata bawah, 33,3% rata-rata, dan 13,3% rata-rata atas. Ditemukan pula perbedaan signifikan antara IQ Verbal dan IQ Performance pada beberapa anak (selisih ≥15 poin), yang mengindikasikan adanya potensi Specific Learning Disorder (SLD). Anak dengan profil IQ Total normal tetapi memiliki ketidakseimbangan antara kemampuan verbal dan performa cenderung mengalami hambatan belajar spesifik, terutama pada aspek membaca dan menulis. Sementara itu, anak dengan IQ <70 dikategorikan memiliki hambatan intelektual global, dan anak dengan IQ 70–79 tergolong slow learners yang membutuhkan strategi pembelajaran konkret dan berulang. Temuan ini menegaskan pentingnya asesmen kognitif dalam mengidentifikasi pola kekuatan dan kelemahan anak dengan kesulitan belajar agar intervensi pendidikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan individu.