Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Studi Biodiversitas Fungi Tanah Pada Lahan Gambut Tidak Terbakar Dan Setelah Kebakaran Di Desa Rasau Jaya Umum Kabupaten Kuburaya Nurdiansyah, Nurdiansyah; Chandra, Tino Orciny; Umran, Ismahan
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 2 No. 3: Desember 2013
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v2i3.3344

Abstract

Untuk mempercepat tersedianya unsur hara dalam budidaya tanaman, masyarakat pada umumnya melakukan sistem tebas bakar. Lahan yang dibakar itu selain areal pertanian, juga berada di kawasan perkebunan, dan sangat berdampak terhadap berbagai gatra kehidupan. Pemulihan tanaman hutan setelah kebakaran akan memakan waktu lama, dan akan sering terhambat bila kebakaran terulang. Kerusakan ekosistem akibat kebakaran berpeluang melenyapkan aneka jenis makro dan mikro organisme tanah, khususnya yang tidak mampu menghadapi perubahan keadaan huniannya serta berbagai jenis organisme tanah yang berpotensi dalam kesuburan tanah. Selain itu mikroorganisme tanah yang banyak berasosiasi dengan tanaman yang hilang akibat kebakaran juga akan ikut hilang, sehingga keanekaragaman dari jenis mikroorganisme juga dapat berpotensi semakin berkurang. Mengingat pentingnya peran mikroorganisme tanah khususnya fungi, dalam proses dekomposisi bahan organik pada tanah gambut dan masih relatif terbatasnya informasi mengenai jenis fungi pada tanah gambut, perlu mempelajari biodiversitas fungi tanah gambut dalam rangka mempercepat proses dekomposisi bahan organik. Tujuan dilaksanakannya penelitian ini adalah Untuk mempelajari biodiversitas fungi yang terdapat pada lahan gambut yang tidak terbakar dan setelah kebakaran, mengetahui fungi pada tingkat kedalaman gambut pada pada lahan gambut yang tidak terbakar dan setelah kebakaran dan mengetahui hubungan antara biodiversitas fungi dengan faktor fisik dan kimia tanah pada lahan gambut yang tidak terbakar dan setelah kebakaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sehabis kebakaran kegiatan dan jumlah mikroorganisme tanah meningkat yang di tunjukkan pada tanah gambut tidak terbakar, fungi yang teridentifikasi sebanyak lima jenis yaitu Aspergillus niger, Penicillium, Phytopthora, Thielaviopsis dan Thrichoderma harzianum sedangkan pada tanah gambut setelah kebakaran fungi yang teridentifikasi sebanyak Sembilan jenis yaitu Acremonium, Aspergillus niger, Candida, Curvularia, Penicillium, Phytium, Phytoptora, Thielaviopsis dan Thrichoderma harzianum. Hal ini tidak lepas dari beberapa faktor lingkungan tanah gambut seperti kedalaman muka air tanah, tingkat kematangan tanah gambut, suhu tanah gambut, kadar air tanah gambut, bobot isi tanah gambut dan pH tanah gambut pada lahan yang tidak terbakar ataupun yang telah mengalami kebakaran.
Studi Sifat Fisika Tanah Sawah Tadah Hujan Tanpa Olah Tanah di Desa Tempurukan Kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang pilhan, pilhan; chandra, tino orciny; junaidi, junaidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 5 No. 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i2.15868

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisika tanah pada tingkatan umur pencetakan sawah tadah hujan di Desa Tempurukan kecamatan Muara Pawan Kabupaten Ketapang. Penelitian dilakukan pada bulan januari hingga maret 2016, Penelitian ini menggunakan metode survei lapangan yaitu dengan melakukan pangamatan dan pengambilan sampel tanah pada lahan tadah hujan dengan vegetasi tanaman Padi pada 3 lokasi yang berbeda umur pengelolaannya, yaitu dengan umur lokasi A (12 tahun), lokasi B (25 tahun), dan lokasi C (37 tahun). Variabel pengamatan meliputi : sifat fisika tanah (tekstur, kemantapan agregat, bobot isi, porositas dan kadar air kapasitas lapangan), kemudian variabel pendukung (pH, C-organik, N-total dan C/N ratio). Hasil penelitian menunjukan tekstur tanah secara umum didominasi oleh fraksi liat dan tergolong kedalam kelas tekstur yaitu liat berdebu, kemantapan agregat berbeda pada kedalaman 0-20 cm, sedangkan kedalaman 20-40 cm nilainya semua 100% agregat, bobot isi cenderung meningkat seiring bertambahnya umur pencetakan sawah, uji ortogonal kontras menunjukan berbeda sangat nyata pada kedalaman 0-20 cm, porositas tergolong semakin menurun terkait dengan nilai bobot isi tanahnya dimana nilai bobot isi tanah semakin meningkat dengan bertambahnya umur pencetakan sawah, nilai kadar air kapasitas lapangan cenderung meningkat karena fraksi liat tinggi sehingga kemampuan tanah untuk meloloskan air juga rendah, pH tanah tergolong rendah yaitu (5,53-6,57 %), C-organik tergolong sangat rendah hingga sedang yaitu (0,23-2,16 %), N-total tergolong sangat rendah hingga sedang yaitu (0,04-0,25 %), C/N ratio tergolong sangat rendah hingga rendah yaitu (4,60-8,71 %). Kata Kunci : Sifat Fisika Tanah, Tanah Sawah, Tanpa Olah Tanah.
PEMBERIAN BIOCHAR TANKOS DAN KOTORAN SAPI TERHADAP KETERSEDIAAN UNSUR HARA N, P, K DAN PERTUMBUHAN TANAMAN TERONG (Solanum molongena L.) DI TANAH ALLUVIAL Andini, Andini; Yulies, Urai Suci; Chandra, Tino Orciny
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i3.75407

Abstract

Tanah Alluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan baru, berlapis-lapis, jumlah bahan organiknya berubah-ubah. Peningkatan produksi tanaman terong dapat dilakukan dengan penambahan biochar tankos dan kotoran sapi. Biochar dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara N, P, K dan pH tanah. Kotoran sapi dapat meningkatkan C-Organik, N-Total, meningkatkan daya tahan terhadap air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan biochar tankos dan kotoran sapi terhadap ketersediaan hara N, P, K dan pertumbuhan tanaman terong di tanah Alluvial, serta mengetahui interaksi biochar tankos dan kotoran sapi terhadap ketersediaan N, P, K dan pertumbuhan tanaman terong pada tanah Alluvial. Penelitian ini menggunakan metode RAL 2 faktorial terdiri dari 4 perlakuan dan 3 ulangan. Hasil penelitian ini menunjukkan tidak terjadinya interaksi antara biochar tankos dan kotoran sapi. Pemberian biochar tankos mampu meningkatkan pH pada perlakuan 40 ton/ha= 6,6, N-Total pada perlakuan 30 ton/ha= 1,2, P-Tersedia pada perlakuan 30 ton/ha = 329,6, K-Tersedia pada perlakuan 30 ton/ha= 10,93, tinggi tanaman pada perlakuan 30 ton/ha= 44,65. Penambahan kotoran sapi mampu meningkatkan CO pada perlakuan 15 ton/ha= 15,83, N-Total pada perlakuan 15 ton/ha= 1,16 dan tinggi tanaman pada perlakuan 30 ton/ha= 43,23, serta terjadi peningkatan ketersediaan unsur hara N-Total 23,46%, P-Tersedia 66,16%, K-Tersedia 55,47%, C-Organik 6,59% dan tinggi tanaman 42,46%.Kata Kunci: Alluvial, Biochar Tankos, Kotoran Sapi, Produksi Terong
IDENTIFIKASI SIFAT KIMIA TANAH PADA AREAL PENAMBANGAN KAOLIN DI DESA PAWANGI KECAMATAN CAPKALA KABUPATEN BENGKAYANG Mahendra, Dimas; Sulakhudin, Sulakhudin; Chandra, Tino Orciny
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 13 No. 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v13i4.69959

Abstract

Kaolin merupakan bahan tambang alam yang termasuk dalam jenis tanah lempung (clay) dimana mineral penyusun utamanya adalah kaolinit. Tanah lempung jenis kaolin berwarna putih atau putih keabu-abuan. Di alam kaolin berasal dari dekomposisi feldspar, sebagai bahan tambang, kaolin bercampur dengan oksida lainnya seperti magnesium oksida, kalsium oksida, kalium oksida dan lain-lain. Kegiatan penambangan tersebut dilakukan oleh perusahaan bersama dengan masyarakat dan menggunakan cara-cara penambangan mekanisasi yaitu eksavator. Penambangan yang dilakukan juga mengakibatkan lingkungan menjadi rusak apabila aktivitas penambangan telah berakhir. Akibatnya lahan-lahan bekas tambang seringkali menjadi kawasan yang gersang lahan menjadi lahan yang tidak produktif lagi dan menjadi miskin vegetasi, sehingga tumbuhan tidak dapat berkembang dengan baik karena rendah nya unsur hara, maka perlu di analisis lebih lanjut untuk mengetahui status kesuburan dan sifat kimia pada lahan pasca tambang kaolin. Penelitian akan dilakukan di Desa Pawangi Kecamatan Capkala Kabupaten Bengkayang Kalimantan Barat, di lokasi tersebut terdapat beberapa lahan bekas pertambangan kaolin yang di biarkan secara terlantar. Setelah penambangan kaolin berakhir, lahan tersebut tidak lagi diperdulikan dan dibiarkan begitu saja, sehingga tanah tersebut menjadi rusak.
ANALISIS STATUS HARA N, P, K TANAH ENTISOL PADA TANAMAN KELAPA SAWIT DI DESA RASAU JAYA TIGA KABUPATEN KUBU RAYA Vera, Vera Ardelia; Indrawati, Urai Suci Yulies Vitri; Chandra, Tino Orciny
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 14 No. 3
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v14i3.92079

Abstract

Kubu Raya merupakan salah satu kecamatan yang menyumbang produksi kelapa sawit di Kalimantan Barat. Lokasi penelitian berada pada jenis tanah Entisol. Kekurangan tanah Entisol yaitu penyerapan unsur hara oleh tanaman tidak optimal. Alternatifnya adalah pemberian pupuk NPK. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis status unsur hara N, P, K serta memberikan rekomendasi pemupukan kelapa sawit berumur 7"“11 tahun. Pengamatan karakteristik tanah dilakukan dengan boring. Parameter yang diamati yaitu horizon, warna, tekstur, struktur, dan kedalaman muka air tanah. Pengambilan sampel tanah utuh dilakukan pada 4 titik pengamatan 4 lahan menggunakan ring sampler untuk analisis bobot isi. Pengambilan tanah terganggu pada kedalaman 0 "“ 30 cm dengan metode diagonal diambil di 4 titik pengamatan menggunakan bor tanah kemudian dimasukkan dalam plastik sampel sebanyak ±1 kg untuk analisis pH, C-Organik, nitrogen total, fosfor tersedia, kalium (K-dd), KTK, dan KBHasil penelitian menunjukkan nitrogen total berkriteria tinggi, fosfor sangat tinggi, kalium rendah, dan pH masam. Rekomendasi pemupukan NPK Phonska berdasarkan hasil analisis adalah A1: 2,66 kg/pohon, A2: 2,69 kg/pohon, A3: 2,43 kg/pohon, dan A4: 2,71 kg/pohon, dilakukan dua kali dalam setahun.
Aplikasi Smart Sprinkler Untuk Pembibitan Anggrek Kebun Raya Sambas di Kabupaten Sambas krisnohadi, ari; Suryadi, Urai Edy; Chandra, Tino Orciny; Nusantara, Rossie Wiedya
Jurnal Pengabdi Vol 8, No 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jplp2km.v8i2.90644

Abstract

Sumber air yang digunakan untuk areal screen house berjarak kurang lebih 1.400 meter dengan kemiringan lereng sekitar 78%, sehingga tidak mungkin dilakukan pengangkutan air secara manual. Sistem irigasi di KRS belum digunakan untuk areal screen house tanaman anggrek, sehingga pengembangan koleksi dan bibit anggrek masih terbatas jumlahnya. Penerapan PKM ini bertujuan untuk   untuk untuk meningkatkan pemahaman masyarakat   terhadap sistem irigasi sprinkler pada pembibitan anggrek Kebun Raya Sambas melalui Internet of Thing (IoT). Metode PKM melalui penyuluhan dan pendampingan standar kualitas air bersih, demonstrasi teknologi irigasi otomatis, peningkatan partisipasi pemuda dalam pemenuhan kebutuhan air tanaman anggrek secara spesifik. Kegiatan PKM   ini berlangsung selama 8 bulan dimulai dari kegiatan persiapan, pelatihan, pendampingan dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan PKM pemuda mampu membuat sistem irigasi, meningkatkan kualitas pertumbuhan bibit tanaman anggrek sehingga dapat menambah koleksi di sekitar Kebun Raya Sambas dalam rangka mendukung penyelenggaraan aktivitas pengunjung di Kebun Raya Sambas.
PENGARUH KOMBINASI LUMPUR MERAH DAN PUPUK KANDANG AYAM TERHADAP KETERSEDIAN HARA N, P, K DAN PERTUMBUHAN TANAMAN JAGUNG PADA TANAH ALUVIAL Sempurna, Bayu; Suswati, Denah; Chandra, Tino Orciny
Agros Journal of Agriculture Science Vol 26, No 2 (2024): Edisi Juli
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Janabadra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37159/jpa.v26i2.4701

Abstract

Hybrid corn (Zea mays.) is the main food commodity cultivated after rice. The use of alluvial soil for planting hybrid corn concerns the physical, chemical and biological properties of the soil, because the soil structure is poor, it is massive, low pH, minimal nutrients and C-Organic is soil that has just undergone development and has a high ground water level. The research aims to determine the effect of a combination of red mud and chicken manure on the availability of N, P, K nutrients and the growth of corn plants in Alluvial Soil. This research used a Completely Randomized Design (CRD) with 9 treatments, namely, A1(100 g red mud + 1 kg chicken manure), A2(100 g red mud + 2 kg chicken manure), A3(100 g red mud + 3 kg chicken manure), A4(200 g red mud + 1 kg chicken manure), A5(200 g red mud + 2 kg chicken manure), A6(200 g red mud + 3 kg chicken manure), A7(300 g red mud + 1 kg chicken manure), A8(300 g red mud + 2 kg chicken manure), A9(300 g red mud + 3 kg chicken manure). The results of this study showed that treatment, A6 (200 g red mud + 3 kg chicken manure) could increase soil pH, organic carbon, total nitrogen, available phosphorus, and exchangeable potassium, plant height and stem diameter by 25.88% - 112, 78%.
STUDI KUALITAS AIR SUNGAI MELAWI UNRUK IRIGASI DI KECAMATAN ELLA HILIR KABUPATEN MELAWI Dastra, Edi; Chandra, Tino Orciny; Riduansyah, Riduansyah
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 5 No. 2 (2016): Agustus 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i2.15758

Abstract

Penelitian dilaksanakan pada bulan Oktober tanggal 05 sampai tanggal 21 Oktober 2015 di Kecamatan Ella Hilir Kabupaten Melawi dan analisis sampel dilakukan di Laboratorium Kualitas dan Kesehatan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Irigasi merupakan pemakaian air untuk pertumbuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air sungai Melawi yang ada di daerah administrasi Kecamatan Ella Hilir Kabupaten Melawi apakah memenuhi standar jika digunakan sebagai sumber air untuk irigasi. Penelitian ini di lakukan pada 2 (dua) lokasi, di wilayah Desa Nanga Nuak pada bagian Hulu dan pada wilayah Desa Popai bagian Hilir, jarak antara Hulu dan Hilir sekitar 3 kilo meter. Metode pengumpulan data kelas lereng, penggunaan lahan, jenis tanah dan curah hujan. Metode analisis kualitas air yang dilakukan yaitu Pengukuran langsung di lapangan dan di laboratorium meliputi debit aliran, profil melintang sungai, Total suspended solid, Kecerahan, Temperatur, pH, Salinitas, Alkalinitas, Ca++, Mg++, Na+, Sodium Absorption Ratio (SAR/sodium Absrobtion Ratio), RSC (residual sodium carbonate), Boron dan Merkuri. Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan, kualitas air pada Sungai Melawi di Kecamatan Ella Hilir dapat digunakan karena memenuhi syarat kriteria air untuk irigasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata debit aliran bagian Hulu 18,300 m3/detik dan pada bagian Hilir 24,452 m3/detik, profil melintang sungai pada bagian Hulu dan Hilir berbentuk segitiga, total suspended solid rata-rata pada bagian Hulu 72,2 mg/liter dan pada bagian Hilir 56,2 mg/liter, kecerahan air rata-rata pada bagian Hulu 30,8 cm dan pada bagian Hilir 29,1 cm, temperatur rata-rata pada bagian Hulu 28,20C dan pada bagian Hilir 290C, derajat keasaman rata-rata pada bagian Hulu 7,14 dan bagian Hilir 6,56, alkalinitas rata-rata pada bagian Hulu 18,8 mg/liter setara CaCO3 dan pada bagian Hilir 20,4 mg/liter setara CaCO3, salinitas rata-rata bagian Hulu 0,0297 dS/m dan bagian Hilir 0,0292 dS/m, Ca++ rata-rata pada bagian Hulu 0,94 mg/liter dan bagian Hilir 0,79 mg/liter, Mg++ rata-rata bagian Hulu 1,12 mg/liter dan bagian Hilir 1,11 mg/liter, Na+ rata-rata pada bagian Hulu 2,84 mg/liter dan bagian Hilir 3,04 mg/liter, sodium Absorption Ratio (SAR / sodium Absrobtion Ratio) rata-rata pada bagian Hulu 0,4691 dan bagian Hilir 0,5177, RSC (residual sodium carbonate) rata-rata pada bagian Hulu 0,1694 meq/liter dan bagian Hilir 0,2039 meq/liter, Boron rata-rata pada bagian Hulu 0,03 mg/liter dan bagian Hilir 0,10 mg/liter, merkuri rata-rata pada bagian Hulu 0,0005 mg/liter dan Hilir 0,0006 mg/liter. Kata Kunci: Sungai Melawi, Kualitas air, Irigasi
STUDI EFISIENSI PENYALURAN DAN APLIKASI AIR DIPETAK TERSIER PADA LAHAN SAWAH BERIRIGASI DIDESA TIRTAKENCANA KECAMATAN BENGKAYANG KABUPATEN BENGKAYANG DESI, DESI; chandra, Tino orciny; junaidi, Junaidi
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 5 No. 3 (2016): Desember 2016
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v5i3.18005

Abstract

Irigasi merupakan pendukung keberhasilan pembangunan pertanian dan merupakan kebijakan Pemerintah yang sangat strategis guna mempertahankan produk siswasembada beras. Diperlukan pengelolaan dan perhatian khusus dalam pengelolaan sumberdaya air karena sangat berpengaruh terhadap pemanfaatan air untuk kebutuhan tanaman, kehilangan air selama proses penyaluran air irigasi (distributionlosses) dan selama proses pemakaian (fieldapplication losses). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efisiensi penyaluran dan aplikasi air di petak tersier pada lahan sawah beririgasi di Desa Tirtakencana Kecamatan Bengkayang. Pengambilan sampel tanah pada satu penggunaan lahan disesuaikan dengan titik pengamatan dengan jumlah 8 sampel, dengan masing-masing kedalaman 0-20 cm, 20-40cm. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pH tanah tergolong masam sampai agak masam dan C/N rasio yang rendah. Profil tanah pada petakan sawah memiliki tiga lapisan tanah (solum) yaitu kedalaman 0-40cm, lapisan 40 cm- 50 cm dan lapisan50- 60 cm. kedalaman 0-20 cm dan 20-40cm menunjukan keretria lempung berpasir. Bobot isi tanah memiliki kriteria sedang tinggi dan sangat tinggi, porositas tanah termasuk kriteria baik, poros sampai kurang baik, permeabilitas tanah menunjukan agak lambat, sementara kadar air kapasitas lapangan Adapun perbedaan nilai rata-rata yaitu pada kedalaman 0-20 cm (58,87%) lebih tinggi sedangkan lapisan tanah kedalaman 20-40 cm (36,43%) lebih rendah. Efisiensi penyaluran air pada keadaan pintu air dibuka semua nilai efisiensi nya sebesar 98,6 % dan pada saat kedaan pintu air di buka satu arah nilai efisiensinya sebesar 96,3 %. Rata-rata nilai efisiensi penyaluran sebesar 94,65 %. Rata-rata nilai efisiensi aplikasi air pada petak sawah sebesar 69,45 %. Efisiensi keseluruhan 67,68%. Katakunci :Efisiensi penyaluran, aplikasi air, lahan sawah, petak tersier.
Studi Sifat Fisika Tanah Pada Dua Tingkatan Umur Budidaya Karet Di Dusun Tiang Aji Desa Lamoanak Kecamatan Menjalin Kabupaten Landak SAFARUDIN, ANDRI; CHANDRA, TINO ORCINY; WIDARSO, BAMBANG
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol. 7 No. 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v7i1.23321

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan sifat fisika tanah pada dua tingkatan umur budidaya tanaman karet di Dusun Tiang Aji, Desa Lamoanak, Kecamatan Menjalin, Kabupaten Landak. Penelitian dilakukan di Desa Lamoanak Dusun Tiang Aji, lahan penelitian merupakan lahan tanaman karet dengan umur 14 tahun dan umur 5 tahun, dengan luas masing-masing 1 ha. Dalam 1 ha diambil 5 titik sampel secara diagonal, dengan 2 kedalaman yaitu 0-30 cm dan 30-60 cm. Sampel tanah diambil dalam bentuk sampel tanah utuh dan sampel tanah terganggu. Analisis data menggunakan analisis statistik uji-t berpasangan.Hasil dari penelitian ini profil tanah pada lahan karet umur 5 tahun dan umur 14 tahun memiliki dua lapisan tanah, warna tanah pada lahan karet umur 5 tahun kedalaman 0-30 titik 1 dan 5 memiliki warna tanah 10 YR 3/4 dan titik 2, 3, 4 memiliki warna tanah 10 YR 5/8, sedangkan kedalaman 30-60 cm titik 1 memiliki warna tanah 10 YR 5/8, dan titik 2, 3, 4, 5 memiliki warna tanah 10 YR 7/6. Warna tanah pada lahan karet umur 14 tahun kedalaman 0-30 titik 1 dan 2 memiliki warna 10 YR 4/2, dan titik 3, 4, 5 memiliki warna tanah 10 YR 5/8 sedangakan kedalaman 30-60 cm titik 1, 3 dan 5 memiliki warna tanah 10 YR 7/6, titik 2 memiliki warna 10 YR 7/8 dan titik 4 memiliki warna tanah 10 YR 8/3. Tekstur tanah pada umur 5 tahun kedalaman 0-30 adalah lempung dan kedalaman 30-60 cm adalah lempung berpasir, sedangkan umur 14 tahun kedalaman 0-30 cm adalah lempung berpasir, dan kedalaman 30-60 adalah lempung. Struktur tanah lahan karet umur 5 tahun dan umur 14 tahun kedalaman 0-30 adalah Granular (butiran), sedangkan kedalaman 30-60 cm umur 5 tahun adalah Gumpal Bersudut, dan kedalaman 30-60 cm umur 14 tahun adalah Gumpal Membulat. Nilai rerata kemantapan agregat tanah pada lahan karet umur 5 tahun lebih tinggi dari pada lahan karet umur 14 tahun. Rerata bobot isi tanah pada lahan karet umur 5 tahun lebih rendah dari pada umur 14 tahun. Nilai rerata porositas tanah pada umur 5 tahun lebih tinggi dari pada umur 14 tahun pada kedalaman 0-30, sedangkan pada kedalaman 30-60 porositas tanah lebih tinggi pada umur 14 tahun dari pada umur 5 tahun. Kadar air kapasitas lapang pada lahan karet umur 5 tahun memiliki rerata lebih tinggi dari pada umur 14 tahun. Rerata permeabilitas tanah pada lahan karet umur 5 tahun lebih tinggi dari pada lahan karet umur 14 tahun. Nilai rerata pH tanah pada umur 5 tahun lebih rendah dari pada umur 14 tahun. Nilai rerata C-organik, N-total, dan C/N ratio pada lahan karet umur 5 tahun lebih tinggi dari pada lahan karet umur 14 tahun.Kata kunci : Sifat Fisika Tanah, Tanaman Karet, Umur Bididaya.