Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Tingkat Kesuburan Tanah Sawah pada Beberapa Tipe Luapan Pasang Surut di Kecamatan Sungai Kakap Kabupaten Kubu Raya Yanni Nurbaini, Urai Suci Yulies Vitri Indrawati Joni Gunawan
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 9, No 3 (2020): Agustus 2020
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bersifat deskriptif eksploratif dilakukan dengan metode survey lapang dengan pengambilan sampel tanah pada enam titik lokasi penelitian. Bertujuan untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah sawah di tipe luapan pasang surut A, B, dan C, yang pada akhirnya untuk saran pemupukan pada tanaman padi. Analisis tanah dilaksanakan di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah dan Laboratorium Fisika dan Konservasi Tanah Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penentuan status kesuburan tanah berdasarkan kriteria kesuburan tanah menurut Pusat Penelitian Tanah (PPT) tahun 1995. Hasil kriteria penilaian kesuburan tanah pada lokasi penelitian didapatkan bahwa pada tipe luapan A dan B memiliki status kesuburan tanah yang rendah dan pada tipe luapan C memiliki status kesuburan yang sangat rendah. Status kesuburan pada lahan sawah tipe luapan A, B, dan C di Kecamatan Sungai Kakap ditentukan oleh nilai kejenuhan basa dan kandungan P-total yang rendah. Kekurangan kebutuhan pupuk urea yang harus diberikan petani di lokasi penelitian pada tipe luapan A (lahan A1 dan A2), B (lahan B1 dan B2), dan C (lahan C1 dan C2), berturut-turut yaitu 231,15 kg.ha-1, 240,38 kg.ha-1, 163,09 kg.ha-1, 218,66 kg.ha-1, 264,65 kg.ha-1, dan 239,77 kg.ha-1 dan kekurangan kebutuhan pupuk NPK (Phonska) yang harus diberikan petani di lokasi penelitian, berturut-turut yaitu 258,13 kg.ha-1, 81,15 kg.ha-1, 84,06 kg.ha-1, 169.86 kg.ha-1, 88,86 kg.ha-1, dan 172,63 kg.ha-1.Kata kunci : status kesuburan tanah, sawah pasang surut, tipe luapan, sungai kakap, saran pemupukan.
DAMPAK BIOCHAR PLUS DAN MASA INKUBASI TERHADAP KANDUNGAN NPK TANAH GAMBUT Alvin Josua Manurung, Sutarman Gafur, Urai Suci Yulies Vitri Indrawati,
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 9, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKBiochar merupakan produk pirolisis yang dihasilkan dari proses pembakaran dari bahan baku tertentu dengan suhu 300 – 600oC dengan suplai oksigen terbatas dan atau tanpa oksigen sama sekali. Inkubasi ditujukan agar reaksi bahan organik dan tanah dapat bejalan dengan baik, oleh karena itu perlakuan inkubasi sangat perlu diperhatikan agar nantinya unsur hara dapat tersedia bagi tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh biochar plus terhadap sifat-sifat kimia tanah gambut pada masa inkubasi yang berbeda dan mencari masa inkubasi terbaik terhadap ketersediaan hara tanah yang diberi perlakuan biochar plus. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Kompos Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan, masing-masing perlakuan diulang 3 kali, dan 3 jenis perlakuan decomposer sehingga jumlah polybag yang digunakan 54. Hasil menunjukkan bahwa N total tanah sebelum perlakuan yaitu 0,46 % (sedang), setelah diberikan perlakuan meningkat berkisar 1,11 (sangat tinggi). P tersedia sebelum perlakuan yaitu 12,02  ppm (rendah), setelah diberikan perlakuan meningkat berkisar 294,77 ppm (sangat tinggi). K tersedia sebelum perlakuan 0,12 (cmol (+) kg-1) (rendah), setelah diberikan perlakuan meningkat berkisar 1,20 (cmol (+) kg-1) (sangat tinggi). Perlakuan biochar plus dan masa inkubasi memberikan pengaruh terhadap sifat-sifat kimia tanah gambut. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata statistik yang terbaik terhadap sifat-sifat kimia tanah gambut terdapat pada perlakuan P1 (Biochar Sekam Padi (750 g) + Dekomposer Beka (13,6 ml.ha-1) + Lumpur Laut (500 g) + Kompos Tankos (500 g) + NPK  (300 kg.ha-1) pada masa inkubasi 4 minggu. Kata kunci : Biochar Plus, Masa Inkubasi, Sifat-Sifat Kimia Tanah, Tanah Gambut.
Pengaruh Biochar Sabut Kelapa (Cocos nucifera) Terhadap Ketersediaan Fosfor Pada Tanah Inceptisols Di Desa Pal IX Kabupaten Kubu Raya. Devi Lopita, Urai Suci Yulies Vitri Indrawati, Rinto Manurung,
Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian Vol 9, No 2 (2020): April 2020
Publisher : Jurnal Sains Mahasiswa Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKTanah Inceptisols termasuk golongan tanah masam yang memiliki kandungan liat cukup tinggi (35–78%) dengan permasalahan yang mendasar seperti pH tanah rendah, kandungan bahan organik rendah, dan kandungan unsur hara rendah terutama unsur fosfor. Konsentrasi Al dan Fe yang tinggi pada tanah Inceptisols menyebabkan terfiksasinya unsur fosfor. Penelitian ini dilaksanakan di lahan sawah Inceptisols Desa Pal IX, Kabupaten Kubu Raya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode eksperimen lapangan pola rancangan acak kelompok  (RAK) dengan perlakuan 5 dosis biochar sabut kelapa dan diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh 20 unit percobaan. Perlakuan yang dimaksud adalah: T0(tanpa biochar sabut kelapa), T1 (250 g.m-2), T2 (500 g.m2), T3 (750 g.m-2), T4 (1000 g.m-2). Parameter analisis tanah meliputi karakteristik kimia tanah (pH, N–total, P–tersedia, C–organik, KTK, Al, Fe dan DHL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian biochar sabut kelapa tidak berpengaruh nyata terhadap ketersediaan fosfor. Namun terdapat peningkatan nilai terhadap P–tersedia bila dibandingkan dengan tanpa perlakuan biochar. Peningkatan nilai P–tersedia dipengaruhi oleh pH tanah, C–organik, Al dan Fe.
Pengelolaan Lahan Gambut Tanpa Bakar melalui Pembuatan Kompos Berbasis Kulit Nenas di Desa Galang, Kabupaten Mempawah Urai Suci Yulies Vitri Indrawati; Rini Hazriani; Rinto Manurung
Al-Khidmah Vol 3, No 1 (2020): AL-KHIDMAH (Agustus)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/al-khidmah.v3i1.2408

Abstract

Program PKM bertujuan untuk mentransfer teknologi kompos berbasis kulit nanas, sebagai solusi bagi petani nanas organik di desa Galang, Kabupaten Mempawah yang mengalami kesulitan dalam pemanfaatan limbah kulit nanas akibatnya Penggunaan buah nanas menjadi berbagai produk. PKM dilakukan selama 6 (enam) bulan mulai dari kegiatan persiapan, sosialisasi ke UKM Harapan Baru dan dilanjutkan dengan implementasi program inti yaitu penyampaian materi dan praktik pembuatan kompos dan diakhiri dengan evaluasi dan pelaporan. Audiens yang dituju utamanya adalah petani nanas. Metode yang digunakan adalah konseling, ceramah, diskusi, tanya jawab dan evaluasi. Pada prinsipnya kegiatan ini mencakup penyuluhan tentang manfaat kompos untuk budidaya nanas di lahan gambut. Pengetahuan dan keterampilan dalam membuat kompos dari kulit nanas adalah kunci agar masyarakat petani bisa menerapkannya dengan hasil yang baik. Kesimpulan yang dapat diambil dari kegiatan ini adalah bahwa masyarakat sangat antusias dengan materi yang disampaikan karena mereka belum mengetahui hal ini sebelumnya. Pasca kegiatan disarankan agar pengembangan kegiatan ini terus dilakukan di bawah naungan PPL dari Kecamatan.
Pengelolaan Lahan Gambut Berbasis Biomassa Lokal di Desa Jangkang Dua, Kabupaten Kubu Raya melalui Kegiatan PHP2D Ria Dhanisa; Muhardi Muhardi; Urai Suci Yulies Vitri Indrawati; Sugianto Sugianto; Nazza Kharisma
Jurnal Buletin Al-Ribaath Vol 19, No 1 (2022): Buletin Al-Ribaath
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/br.v19i1.4271

Abstract

Pengelolaan lahan gambut berbasis biomassa lokal melalui kegiatan Program Holistik Pembinaan dan Pemberdayaan Desa (PHP2D) telah dilaksanakan di Desa Jangkang Dua, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya. Desa Jangkang Dua mempunyai lahan gambut yang telah terbakar dengan luas ±16 ha, namun lahan gambut tersebut dapat dikelola menjadi lahan  budidaya pertanian. Potensi yang dapat mendukung budidaya pertanian tersebut adalah limbah biomassa lokal yang dihasilkan berupa pepohonan dan tumbuh-tumbuhan pakis yang telah terbakar. Limbah biomassa lokal berupa pepohonan dapat diolah menjadi biochar menggunakan tungku Kon-Tiki, sedangkan tumbuh-tumbuhan pakis dapat diolah menjadi bokashi memanfaatkan cendawan Trichoderma. Tujuan program ini adalah untuk memberdayakan masyarakat desa dalam mengelola lahan gambut yang telah terbakar, sehingga dapat dimanfaatkan untuk lahan budidaya pertanian. Program ini dilaksanakan selama satu semester (Juli – Desember 2021) oleh Himpunan Mahasiswa Geofisika (HMG) FMIPA Untan dan Dosen Pendamping, bermitra dengan Pemerintah Desa Jangkang Dua dan Kelompok Tani. Adapun tahapan kegiatan yang dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan dan mencapai tujuan program adalah pengelolaan lahan gambut, pengadaan input pertanian, penerapan teknologi tepat guna, dan edukasi kepada masyarakat tentang lahan gambut. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat yang terlibat langsung telah merasakan manfaat dari program ini, karena dapat menjawab permasalahan di bidang pertanian pasca kebakaran lahan gambut. Selain itu, sebagian besar masyarakat telah memahami cara menggunakan tungku Kon-Tiki dalam mengolah limbah biomassa lokal dan mengetahui manfaat dari biochar.
PEMANFAATAN BIOCHAR SPESIFIK LOKASI UNTUK BUDIDAYA SAYUR DI DESA LIMBUNG, KABUPATEN KUBU RAYA Urai Suci Yulies Vitri Indrawati; Rossie Wiedya Nusantara; Hedi Sugito
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v5i1.1930

Abstract

Desa Limbung, Kabupaten Kubu Raya terletak ± 5,12 km dari kota Pontianak dengan luas wilayah 800 km2. Sebagian besar masyarakatnya hidup sebagai petani sayur. Tanah lahan petani didominasi oleh tanah gambut yang mempunyai sifat kimia kurang menguntungkan untuk budidaya sayur. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini bertujuan untuk   pemberdayaan petani   dalam upaya pembuatan pupuk organik berbasis biochar limbah organik di sekitar lahan pertanian seperti sisa panen jagung, semak-semak, dan ranting pohon, sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah gambut, dan secara langsung dapat meningkatkan produksi pertanian di desa Limbung, kabupaten Kubu Raya. Kegiatan PkM berlangsung selama 4 bulan dimulai dari kegiatan persiapan, pelatihan pembuatan biochar, demplot biochar untuk tanaman hotikultur di lahan gambut dan pada akhir kegiatan, dilakukan evaluasi terhadap program- program yang telah dilakukan oleh tim abdimas. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui hambatan/kesulitan yang dihadapi selama proses kegiatan, dan kemudian didiskusikan untuk diselesaikan. Sebelum kegiatan PkM ini dilakukan, peserta belum begitu memahami bagaimana pembuatan biochar dan kompos. Hasil kegiatan PkM ini, petani sayur mampu membuat biochar dari limbah hasil panen atau bahan organik disekitar lahan pertanian, sehingga membantu menyuburkan tanah gambut.
Analisis Kapasitas Infiltrasi pada Beberapa Tipe Lahan Tegalan di Kelurahan Sasa Kecamatan Ternate Selatan Hartati, Tri Mulya; Teapon, Amiruddin; Wati, Indah; Vitri Indrawati, Urai Suci Yulies; Aji, Krishna
Agrikultura Vol 34, No 3 (2023): Desember, 2023
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v34i3.47021

Abstract

Pengembangan lahan tegalan di Kelurahan Sasa Kecamatan Ternate Selatan melibatkan pengolahan tanah secara intensif sehingga memiliki struktur tanah yang renggang dengan porositas yang tinggi. Demikian juga dengan kondisi alami tanahnya yang bertekstur lempung dan berpasir dapat menyebabkan meningkatnya laju infiltrasi serta turut menentukan ketersediaan air yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kapasitas infiltrasi, infiltrasi kumulatif dan karakteristik tanah yang memengaruhi kapasitas infiltrasi. Penelitian ini menggunakan metode percobaan lapangan dengan menggunakan double ring infiltrometer dalam mengukur laju infiltrasi. Analisis data meliputi laju infiltrasi aktual, kapasitas infiltrasi dan infiltrasi kumulatif. Hasil penelitian menunjukkan lahan tegalan dengan olah tanah minimum (Tg-Otm) memiliki kapasitas infiltrasi lebih rendah dibandingkan dengan lahan tegalan tanpa olah tanah (Tg-Tot) dan lahan tegalan dengan olah tanah intensif (Tg-Oti), demikian juga dengan infiltrasi kumulatifnya. Kondisi tersebut terjadi karena lahan tegalan dengan olah tanah minimum (Tg-Otm) memiliki tekstur tanah agak halus, bahan organik tanah rendah, berat volume tanah lebih tinggi, berat jenis partikel lebih rendah, porositas tanah sedang, kadar air tanah lebih tinggi dan permeabilitas tanah agak lambat.
Kajian Status Hara Tanah Ultisol Pada Tiga Tipe Penggunaan Lahan di Desa Kepayang Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah Asrifin Aspan Urai Suci Yulies Vitri Indrawati Mimi Apriliana
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 4 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i4.42705

Abstract

Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian telah menunjukkan dampak yang sangat besar terutama terhadap kerusakan lingkungan, akan tetapi proses itu terus berlangsung dan telah menunjukkan dampak negatif yang berlangsung dan tidak seorang pun yang tahu sampai kapan proses itu dipastikan dapat dihentikan. Desa Kepayang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah yang memanfaatkan hutan sekunder sebagai lahan perkebunan diantaranya perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui status hara tanah pada tiga tipe penggunaan lahan. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kepayang Kecamatan Anjongan Kabupaten Mempawah untuk pengambilan sampel tanah pada setiap lahan diambil 5 titik pengamatan yang masing-masing titik mewakili luasan ± 1 ha. Setiap lahan dilakukan pengambilan sampel tanah terganggu sebanyak 5 sampel individu menggunakan sistem diagonal pada kedalaman 0-30 cm dan 30-60 cm kemudian dikompositkan. Sehingga jumlah keseluruhan sampel adalah sebanyak 6 sampel tanah terganggu yang kemudian dialalisis di Laboratorium Kimia dan Kesuburan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Tanjungpura. Hasil analisis di Laboratorium menunjukan bahwa reaksi tanah (pH tanah) berkisar 4,33-4,83 dengan kriteria masam hingga sangat masam, C-organik berkisar 1,81-3,47% berkriteria rendah hingga tinggi, Nitrogen total berkisar 0,25-0,47% berkriteria sedang, C/N berkisar 7,24-7,65 berkriteria rendah, Fosfor tersedia berkisar 21,62-52,48 ppm berkriteria sangat tinggi, Kalium tersedia berkisar 0,08-0,24 cmol(+)kg-1) berkriteria rendah hingga sangat rendah, Kalsium berkisar 0,70-1,13 cmol(+)kg-1) berkriteria sangat rendah, Magnesium berkisar 0,38-0,89 cmol(+)kg-1) berkriteria rendah hingga sangat rendah, Kejenuhan basa berkisar 14,31-21,83% berkriteria rendah hingga sangat rendah, Kapasitas tukar kation berkisar 8,58-12,70 cmol(+)kg-1) berkriteria rendah dan status kesuburan tanah yang rendah.
IDENTIFIKASI PERUBAHAN SIFAT FISIKA TANAH INCEPTISOLS AKIBAT PEMBERIAN BIOCHAR SABUT KELAPA DALAM (Cocos nucifera) DI DESA PAL SEMBILAN KABUPATEN KUBU RAYA Urai Edi Suryadi, Urai Suci Yulies Vitri Indrawati, Elva Rolita
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.40056

Abstract

ABSTRAKInceptisols adalah tanah yang dicirikan dengan fraksi liat yang cukup tinggi yakni 35-78 % banyak pori mikro mengakibatkan porositas total  rendah, ketersediaan oksigen dalam tanah menurun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan sifat fsika tanah Inceptisols akibat pemberian biochar sabut kelapa. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya. Metode yang digunakan dalam penelitan ini yaitu metode eksperimen lapangan dengan pola  rancangan acak kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan biochar yakni T0 = 0 g.m-2, T1= 250 g.m-2, T2= 500 g.m-2, T3=750 g.m-2, dan T4= 1000 g.m-2 masing-masing diulang 4 kali dengan pengambilan sampel sebanyak 3 kali yakni sebelum inkubasi, 2 bulan inkubasi 4 bulan inkubasi sehingga total berjumlah 60 sampel. Berdasarkan hasil analisis, bobot isi tanah sebelum perlakuan 0,86 g.cm-3 menurun pada bulan ke 4 0,68 g.cm-3 (rendah) . Berat jenis partikel tertinggi terdapat pada T1 bulan ke 2 (2,39 g.cm-3), berat jenis partikel turun pada T4 bulan ke 2 (1,56 g.cm-3). Porositas tanah mengalami peningkatan setelah 4 bulan inkubasi 66,69 % (poros) . Kadar air kapasitas lapang sebelum inkubasi 54,86 % meningkat pada 4 bulan inkubasi 75,53 %. Permeabilitas tanah sebelum inkubasi 0,60 cm/jam-1 dikategorkan sangat lambat (<0,125 cm/jam-1) dan mengalami peningkatan pada bulan ke 2 (1,29 cm.jam-1) masuk kategori agak lambat (0,50 – 2,00 jam.cm-1). Perlakuan biochar sabut kelapa memberikan pengaruh nyata terhadap kadar air kapasitas lapang, Berdasarkan hasil penelitian rata-rata tertinggi kadar air kapasitas lapang terdapat pada perlakuan T3 (750 g.m-2). Kata kunci : Inceptisols, Fraksi liat, Fisika tanah, Biochar sabut kelapa
DIVERSIFIKASI KREATIF PRODUKTIF DAN KEMANDIRIAN PEREMPUAN PELAKU UMKM PENGRAJIN TENUN SONGKET DI KABUPATEN SAMBAS Urai Suci Yulies Vitri Indrawati; Nuraini Asriati; Fatmawati
Jurnal Abdimas Ilmiah Citra Bakti Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : STKIP Citra Bakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38048/jailcb.v5i2.3518

Abstract

Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilatarbelakangi oleh perkembangan usaha tenun songket tradisional di Kabupaten Sambas yang belum memadukan aspek ekologi dan budaya dalam berbisnis. Usaha tenun songket saat ini masih menggunakan konsep lama yang tidak mempertimbangkan keberlanjutan kewirausahaan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa industri tenun songket dapat punah di masa depan. Urgensi dari program ini adalah memperkenalkan model bisnis baru yang menggabungkan konsep ekonomipreneurship dan sociopreneurship menjadi model sustainopreneurship. Model sustainopreneurship ini perlu diujicobakan sebagai sebuah inovasi baru yang harus diterapkan oleh para pengrajin dalam menjalankan bisnis mereka. Penerapan model sustainopreneurship ditargetkan agar pengrajin memiliki nilai tambah ekonomi, ekologi, dan sosial yang beretika bisnis serta menjaga kelestarian budaya kearifan lokal Kabupaten Sambas. Tujuan PKM ini adalah: a) mengkaji sustainopreneurship dalam diversifikasi kreatif produktif entrepreneur; b) menyusun prototipe sustainopreneurship kreatif produktif. Sasaran kegiatan ini adalah Pengrajin songket UKM Tenun Lunggi Paumiati. Metode yang digunakan berupa sosialisasi dan pendampingan pembuatan kain songket dengan pewarna alami. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebagian besar pengrajin setuju bahwa program yang dilakukan sesuai dengan permasalahan desa di bidang penjualan kain songket. Sebagian besar pengrajin akan tetap melanjutkan Sustainopreneuership  dan menggunakan pewarna alami. Selain itu, sebagian besar masyarakat memahami cara membuat benang dengan pewarna alami. Kain songket yang dibuat dengan pewarna alami akan dibeli oleh konsumen dengan harga yang lebih mahal dibandingkan menggunakan pewarna sintetis.