Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Kajian Fenotip Kambing Senduro sebagai Kekayaan Sumber Daya Genetik Ternak Lokal Indonesia Amam Amam; Rifa'i Rifa'i; Puguh Surjowardojo; Tri Eko Susilorini
Jurnal Agripet Vol 22, No 2 (2022): Volume 22, No. 2, Oktober 2022
Publisher : Agricultural Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v22i2.22125

Abstract

ABSTRACT. Galur kambing Senduro ditetapkan melalui Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1055/Kpts/SR.120/10/2014. Kambing Senduro sebagai kekayaan sumber daya genetik ternak lokal Indonesia memiliki fenotip yang dapat diukur berdasarkan sifat kuantitatifnya. Penelitian pertama bertujuan untuk mengkaji fenotip kambing Senduro betina berdasarkan pada tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, bobot badan, dan panjang telinga. Penelitian kedua bertujuan menghubungkan sifat kuantitatif dengan umur ternak. Penelitian pertama menggunakan metode observasi, sedangkan penelitian kedua menggunakan metode korelasi. Data penelitian ditabulasi dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif dan analisis korelasi dengan menggunakan Microsoft Excel 2010 dan SPSS 26.0. Pengamatan dilakukan pada 102 ekor kambing Senduro betina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kambing Senduro betina memiliki tinggi pundak 70-80 cm (55,88%), panjang badan 70-80 cm (53,92%), lingkar dada 80-90 cm (59,80%), bobot badan 50-60 kg (32,35%), dan panjang telinga 30-40 cm (69,61%). Panjang badan, lingkar dada, dan bobot badan memiliki korelasi positif yang sangat kuat dengan umur ternak. Penelitian ini merekomendasikan bahwa perlu adanya upaya pembaharuan data dan informasi terkait fenotip kambing Senduro yang berkaitan dengan sifat kuantitatif ternak yang mengacu pada Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 1055/Kpts/SR.120/10/2014.(Phenotype study of Senduro goats as wealth of Indonesian local livestock genetic resources)ABSTRAK. The Senduro goat breed was determined through the Decree of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia Number 1055/Kpts/SR.120/10/2014. The Senduro goat as a wealth of genetic resources for local Indonesian livestock has a phenotype that can be measured based on its quantitative characteristics. The first study aimed to examine the phenotype of female Senduro goats based on shoulder height, body length, chest circumference, body weight, and ear length. The second study aimed to evaluate quantitative characteristics with the age of Senduro goat. The first research uses the observation method, while the second research uses the correlation method. Observations were made on 102 female Senduro goats. The results showed that female Senduro goats had a shoulder height of 70-80 cm (55.88%), body length 70-80 cm (53.92%), chest circumference 80-90 cm (59.80%), body weight 50 -60 kg (32.35%), and ear length 30-40 cm (69.61%). Body length, chest circumference, and body weight have a very strong positive correlation with the age of Senduro goat. This study recommends that efforts to update data and information related to the phenotype of the Senduro goat related to the quantitative characteristics of Senduro goat are needed which refers to the Decree of the Minister of Agriculture of the Republic of Indonesia Number 1055/Kpts/SR.120/10/2014.
Rekomendasi Strategi Usaha Peternakan Rakyat Dalam Program Green Wakaf Di Wilayah Tapal Kuda, Provinsi Jawa Timur Nurul Widyawati Islami Rahayu; Babun Suharto; Sholeh Avivi; Dhama Suroyya; Ira Nurmawati; Nasirudin Al Ahsani; Mohammad Nur Khozin; Deki Zulkarnain; Amam Amam
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.25508

Abstract

Green waqf is an innovation in waqf asset management that focuses not only on religious values and social welfare, but also on environmental sustainability and ecological balance. This study aims to provide recommendations for community livestock business strategies within the green waqf program in the Tapal Kuda Region, East Java Province. This observation was conducted in Klungkung Village, Arjasa Sub-District, Jember District. The location was selected considering that Klungkung Village is one of the beneficiary villages of Green Waqf through the MoRA Research Program of The Air Fund. This study uses qualitative and quantitative approaches. The qualitative approach was carried out through observation and Focus Group Discussions (FGDs), while the quantitative approach was carried out by filling out a written survey (questionnaire) involving livestock business (stakeholder). The results of the study on the internal analysis show that the location of the x-axis = -0.5, indicating that the weakness factor is higher than the strength factor, and the results of the external analysis show that the location of the y-axis = -2, indicating that the threat factor is higher than the opportunity factor. The most appropriate strategic focus is a defensive strategy, namely minimizing internal weaknesses and avoiding external threats. Recommended strategic actions for smallholder farms are internal rescue, risk mitigation, and restructuring by changing business focus or postponing business expansion.
Potensi Produk Organik Kabupaten Lumajang: Studi Komoditas Kopi Arabika Amam Amam
Mimbar Agribisnis : Jurnal Pemikiran Masyarakat Ilmiah Berwawasan Agribisnis Vol 12, No 2 (2026): Juli 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/ma.v12i2.23927

Abstract

Pembangunan pertanian memiliki cakupan yang luas, dinamis, dan kompleks salah satunya yakni subsektor perkebunan. Budidaya kopi organik menawarkan berbagai manfaat, baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemetaan potensi, penerapan sistem agribisnis, nilai ekonomi, serta strategi pengembangan produk organik komoditas kopi arabika di Kabupaten Lumajang. Lokasi penelitian dipilih secara purposive di wilayah Kabupaten Lumajang. Metode pengambilan sampel yaitu dengan Purposive Sampling dan Snowball Sampling. Metode Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi observasi, wawancara, dan Focus Group Discussion (FGD). Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan kopi arabika organik sangat sesuai di wilayah Kecamatan Candipuro, Gucialit, Pasrujambe, Pronojiwo, dan Senduro. Penerapan sistem agribisnis dilakukan melalui tumpangsari dengan komoditas lainnya. Kendala yang dialami yaitu: bahan stek dari kebun tidak terjamin kualitasnya, bahan pembuatan pupuk dan pestisida tidak terjamin bebas dari kontaminasi zat kimia, peralatan budidaya, panen, dan pasca panen digunakan juga untuk kegiatan anorganik, serta belum memiliki fasilitas pendukung proses olah basah, keterbatasan tenaga kerja baik dari kuantitas maupun kualitas (skill), akses terhadap sumber permodalan masih terbatas, pasar produk kopi organik terbatas karena belum terjalin kemitraan secara formal dan lemahnya manajemen kelembagaan kelompok tani maupun Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Hasil perhitungan ekonomi produk kopi arabika organik dapat menekan biaya produksi hingga 20%. Pilihan prioritas strategi pengembangan produk kopi arabika organik adalah pentingnya penguatan kelembagaan petani dalam bentuk Badan Usaha Milik Petani (BUMP) agar meningkatkan jiwa entrepreneur /wirausaha, sekaligus memperkuat posisi tawar (bargaining position) dalam mekanisme pasar produk organik yang dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
PERTANIAN INDONESIA DALAM MENGHADAPI PERSAINGAN PASAR BEBAS Amam Amam; Supardi Rusdiana
Jurnal Agriovet Vol. 4 No. 1 (2021): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v4i1.506

Abstract

Sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang menentukan pembangunan nasional, oleh sebab itu dibutuhkan pemberdayaan pada sektor pertanian Indonesia agar produk pertanian yang dihasilkan dapat mengimbangi produk impor dan ekspor. Tujuan tulisan ini ialah untuk mengetahui perbaikan produk pertanian dalam menghadapi persaingan pasar bebas. Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)/ASEAN Economic Community (AEC), berdampak pada persaingan bisnis yang semakin tinggi, sehingga perlu diarahkan untuk peningkatan produktivitas hasil pertanian, perkebunan, serta peternakan karena produk pertanian memiliki daya saing di pasar bebas. Aspek daya tarik dari investor di sektor pertanian, sub sektor peternakan dan perkebunan, aspek keterbukaan perdagangan bebas di ASEAN, menjadi pertimbangan agar ada upaya peningkatan produktivitas. Strategi untuk menguasai pasar bebas, perlu perbaikan kualitas dan kuantitas produk pertanian yang dihasilkan, serta adanya standardisasi hasil komoditas pertanian, sehingga nilai jual produk dapat bersaing. Produk pertanian yang dihasilkan mampu mengimbangi produk impor dan ekspor serta dapat menembus pasar bebas secara berkesinambungan. Pemerintah Indonesia sebagai pembuat kebijakan harus mampu memperhatikan perkembangan produk pertanian dan harga pangan dunia, mengingat pengaruh fluktuasi harga pangan sangat berbengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Kata Kunci : Perbaikan produk pertanian, Pasar bebas, Diversifikasi produk