Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Analysis of Psychological Factors and Strategies for Building Religious Character in Overcoming Deviant Behavior among Sixth Grade Students at SDIT Darunnajah Hanif Faddillah; Widiya Yul
JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan) Vol. 11 No. 1 (2026): JMKSP (Jurnal Manajemen, Kepemimpinan, dan Supervisi Pendidikan)
Publisher : Graduate Program Magister Manajemen Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/jmksp.v11i1.21411

Abstract

This study aims to analyze psychological factors contributing to deviant behavior among sixth-grade elementary students and to examine religious character development strategies implemented by schools to address such behavior, with the goal of identifying effective and sustainable approaches for guiding students toward positive behavioral and character development. The research employed a qualitative case study design using purposive sampling, with data collected through in-depth interviews, direct observations, and documentation studies involving school leaders, teachers, students, and parents, and analyzed using the Miles and Huberman model consisting of data reduction, data display, and conclusion verification procedures. The findings reveal that students’ deviant behaviors are influenced by emotional pressure, family relationship issues, the need for peer recognition, weak emotional regulation, and exposure to digital media, while strategies such as empathetic communication, teacher role modeling, structured worship habituation, personal mentoring, and collaboration between school and parents effectively reduce behavioral problems and improve students’ discipline and self-control. The study results can be applied in elementary education settings, character education programs, counseling services, and school management practices, providing practical guidance for teachers, counselors, administrators, and parents in developing preventive and corrective strategies for student behavioral issues while strengthening character education programs. The originality of this study lies in its integrated analysis combining psychological factors and religious character development strategies, demonstrating how spiritual habituation, empathetic guidance, and parental involvement collectively support behavioral improvement, thereby contributing new practical insights for advancing character education and student behavior management research in elementary school contexts.
Marriage annulment in Bandung Religious Court: justice and legal certainty analysis Putri Nur Yulia; Widiya Yul; Prayudi Rahmatullah
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 3 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Juni 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i3.2106

Abstract

Pembatalan perkawinan tetap menjadi isu yuridis penting yang menyangkut perlindungan hak dan kepastian hukum dalam lembaga perkawinan. Studi-studi sebelumnya sebagian besar meneliti pembatalan perkawinan dari perspektif hukum normatif, dengan perhatian terbatas pada interaksi antara keadilan dan kepastian hukum dalam penalaran yudisial. Studi ini bertujuan untuk menganalisis dasar hukum dan pertimbangan yudisial dari keputusan pembatalan perkawinan di Pengadilan Agama Bandung melalui perspektif keadilan dan kepastian hukum. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan hukum perundang-undangan, kasus, dan teori hukum, dengan analisis kualitatif bahan hukum primer, termasuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Temuan menunjukkan bahwa penyebab utama pembatalan adalah pelanggaran Pasal 9 Undang-Undang Perkawinan, di mana salah satu pihak masih terikat secara hukum dalam perkawinan sebelumnya, ditambah dengan kelalaian administratif Kantor Agama (KUA) dalam memverifikasi status perkawinan. Keputusan tersebut mencerminkan keadilan korektif dan keadilan Rawls sebagai keadilan dengan melindungi pasangan yang dirugikan sekaligus memulihkan ketertiban hukum. Kebaruan terletak pada penyajian pembatalan perkawinan sebagai mekanisme untuk menyeimbangkan keadilan substantif dan kepastian hukum dalam peradilan hukum keluarga di Indonesia.
Integrasi Adat dan Hukum Islam: Studi Kasus Tradisi Ajun Arah dalam Penyembelihan Sapi melalui Perspektif Kaidah Al-'Adah Muhakkamah Al Aziari; Widiya Yul
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 3 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Juni 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i3.2136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi adat dan hukum Islam dalam tradisi ajun arah pada praktik penyembelihan sapi di Desa Paling Serumpun melalui perspektif kaidah al-‘adah muḥakkamah. Tradisi ini menarik dikaji karena memadukan norma adat dengan ketentuan syariat Islam dalam pelaksanaan kurban, akikah, dan hajatan masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap lima informan kunci yang terdiri atas tokoh adat, tokoh agama, dan masyarakat pelaksana tradisi, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ajun arah berfungsi sebagai mekanisme sosial yang mengatur tata tertib penyembelihan, menjaga solidaritas masyarakat, memperkuat musyawarah, serta memelihara keharmonisan sosial. Dari perspektif hukum Islam, tradisi ini tidak bertentangan dengan syariat karena seluruh rukun dan syarat penyembelihan tetap dipenuhi sesuai ketentuan fikih. Tradisi tersebut juga memenuhi prinsip al-‘adah muḥakkamah karena telah berlangsung secara turun-temurun, diterima masyarakat, dan tidak mengandung unsur yang bertentangan dengan ajaran Islam. Selain itu, fleksibilitas pelaksanaannya mencerminkan penerapan kaidah al-masyaqqah tajlibu at-taysir dalam menyesuaikan kondisi sosial-ekonomi masyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa ajun arah merupakan bentuk harmonisasi adat dan syariat yang merepresentasikan karakter Islam Nusantara yang adaptif, religius, dan berorientasi pada kemaslahatan sosial.
Investigating Self-Efficacy in Arabic Vocabulary Learning Through Needs Analysis: Evidence from the ATEM Framework Widiya Yul; Riko Andrian
Ta'lim al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab & Kebahasaaraban Vol. 10 No. 1 (2026): Ta'lim al-'Arabiyyah: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jta.v10i1.55098

Abstract

Self-efficacy plays an important role in vocabulary learning; however, little is known about learners' self-efficacy conditions before instructional interventions in Arabic as a Foreign Language (AFL) contexts. This study aimed to identify students' self-efficacy needs in Arabic vocabulary learning as a basis for developing interventions through the Arabic Teaching Efficacy Model (ATEM). A sequential exploratory mixed-methods design was employed. Qualitative data were collected through interviews, focus group discussions, and classroom observations. In contrast, quantitative data were obtained from an ATEM-based self-efficacy questionnaire administered to 56 undergraduate students and analyzed descriptively. The findings revealed that students experienced low self-efficacy in several internal dimensions, including problem-solving orientation, mastery experiences, and the use of peer models in vocabulary learning. In contrast, students showed a strong reliance on external reinforcement, particularly reward–punishment mechanisms. These results indicate an imbalance between students' internal self-regulation and their dependence on external support in learning Arabic vocabulary. The study suggests that difficulties in vocabulary learning are influenced not only by instructional factors but also by learners' psychological readiness before the intervention. Practically, Arabic vocabulary instruction should provide authentic mastery experiences, meaningful modeling opportunities, and strategies that foster learner autonomy and self-regulation. Overall, the findings highlight the importance of conducting self-efficacy needs analyses before implementing instructional innovations in AFL contexts.
Paradigms of Arabic Language Learning: A Critical Review of Religious Linguistics, Interdisciplinary Perspectives, and Arabic for Specific Purposes (ASP) Widiya Yul; Ahmad Fikri; Riko Andrian
AL-TA'RIB : Jurnal Ilmiah Program Studi Pendidikan Bahasa Arab IAIN Palangka Raya Vol 14 No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23971/altarib.v14i1.11233

Abstract

The increasing diversification of Arabic language education in Islamic higher education has generated competing learning paradigms that often operate in isolation and produce fragmented learner competencies. This study critically examines three dominant paradigms of Arabic language learning at the State Islamic Institute of Kerinci: Religious-Linguistics, the Interdisciplinary Approach, and Arabic for Specific Purposes (ASP). Employing a qualitative critical review design, the study analyzes the epistemological foundations, pedagogical orientations, strengths, and limitations of each paradigm within contemporary Arabic language education. The findings reveal that the Religious-Linguistics paradigm effectively develops classical textual literacy and Islamic scholarship but provides limited support for communicative competence in modern contexts. The Interdisciplinary Approach enhances academic relevance across disciplines, yet its engagement with turāth-based literacy remains insufficient. Meanwhile, ASP strengthens professional and academic communication skills but tends to emphasize technical language functions at the expense of broader epistemological and value-oriented dimensions. The analysis demonstrates that the separation of these paradigms contributes to an imbalance in students’ intellectual, communicative, and professional competencies. In response, this study proposes an Integrative Arabic Learning Paradigm that synthesizes epistemological, dialogical, and pragmatic dimensions into a unified framework. This model offers a conceptual foundation for developing more holistic, context-responsive, and globally competitive Arabic language curricula in Islamic higher education.
EFFECT OF CANVA-ASSISTED DEEP LEARNING MODEL SIZE ON STUDENTS' CRITICAL THINKING SKILLS Tomi Apra Santosa; Wisnarni; Widiya Yul
J-Shelves of Indragiri (JSI) Vol 8 No 1 (2026): J-Shelves of Indragiri (JSI)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61672/jsi.v8i1.3596

Abstract

This study aims to determine the effect of the Canva-assisted deep learning model on students' critical thinking skills in higher education. This study uses a meta-analysis method by calculating the effect size value. This research data comes from 13 national journals indexed by Sinta or Scopus published in 2021-2026. The data search process uses the Springer database, Google Scholar, and ERIC journal. The data analysis technique is quantitative data analysis using the JASP application. The results of this study indicate a positive effect of the Canva-assisted deep learning model on students' critical thinking skills in higher education with an ES value of 0.71 , categorized as moderate effect size. The Canva-assisted deep learning model can encourage student motivation and interest in learning, improving students' critical thinking skills in the 21st century.
Legal Pluralism and Family Resilience: A Social Construction Perspective on Islamic and Customary Law Harmonization Mardi Yuda Prabowo; Faizin Faizin; Widiya Yul; Lutfia Aunie Cahyandari
SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum Vol. 5 No. 4 (2026): SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, Agustus 2026
Publisher : LPPM Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi 45 Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/seikat.v5i4.2533

Abstract

Penelitian ini mengkaji harmonisasi hukum keluarga Islam dan hukum adat Depati VII dalam menjaga ketahanan keluarga di Desa Tebat Ijuk, Kerinci, Jambi. Penelitian ini didasarkan pada realitas pluralisme hukum, di mana dua sistem hukum hidup berdampingan dan dipraktikkan secara bersamaan di tengah masyarakat. Meskipun banyak penelitian telah mengeksplorasi hubungan antara hukum Islam dan hukum adat, penelitian yang berfokus pada pengalaman sosial masyarakat dalam mengelola dualisme hukum ini masih relatif terbatas. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif dan desain studi kasus, penelitian ini berupaya memahami harmonisasi hukum sebagai praktik yang dikonstruksi secara sosial dan melekat dalam kehidupan sehari-hari anggota masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen yang melibatkan anggota masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama yang dipilih melalui teknik *purposive sampling*. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa harmonisasi hukum berlangsung melalui proses negosiasi sosial yang dinamis, di mana anggota masyarakat secara fleksibel memadukan nilai-nilai adat dan agama ke dalam praktik kehidupan keluarga. Tokoh adat dan tokoh agama berperan penting sebagai mediator dalam menjembatani perbedaan normatif, sementara ketahanan keluarga diperkuat melalui kemampuan kolektif untuk mengelola ambiguitas dan membangun pemahaman bersama. Penelitian ini menunjukkan bahwa harmonisasi hukum bukanlah fenomena yang statis ataupun semata-mata bersifat normatif; melainkan sebuah praktik sosial berkelanjutan yang terus dinegosiasikan dalam konteks hukum yang majemuk. Temuan ini memperkuat perspektif konstruksi sosial dalam studi pluralisme hukum serta memberikan implikasi penting bagi pengembangan kebijakan keluarga yang responsif terhadap konteks budaya lokal.
Resilient Future: Family Financial Resilience as a Crime Prevention Strategy in Sungai Penuh, Indonesia Diko Bemiyardi; Jafar Ahmad; Widiya Yul; Repelita Repelita; Waebueraheng Waehayee
USRATY : Journal of Islamic Family Law Vol. 4 No. 1 (2026): USRATY : Journal of Islamic Family Law
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/usraty.v4i1.11584

Abstract

This study examines family financial resilience as a crime prevention strategy from the perspective of Islamic family law, focusing on Koto Baru and Hamparan Rawang Districts in Sungai Penuh, Indonesia. Using a qualitative case-study design, the research integrates Islamic family law, family resilience theory, and criminological perspectives on crime prevention. Data were collected through in-depth interviews with a family head, religious leader, village official, and community police officer (Bhabinkamtibmas), supported by field observations and documentary analysis. The findings show that financial resilience strengthens family stability and the capacity to manage domestic pressures. Economic instability emerged as the most persistent source of family pressure, affecting household organization, decision-making, and conflict management. Families with limited financial capacity were more vulnerable to prolonged conflict and required stronger religious and community support. Religious leaders and community police officers prioritized non-penal interventions through religious guidance, mediation, and family assistance before formal legal measures. The findings indicate that religious commitment alone is insufficient to prevent family conflict without adequate financial and social capacity. The study concludes that family financial resilience can function as a preventive mechanism when reinforced by religious guidance, community mediation, and responsive community policing. The study contributes a transdisciplinary framework linking family financial resilience, Islamic family law, and crime prevention, with implications for family empowerment, religious counseling, and community-based crime prevention.