Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : POLYGLOT

Penerapan Metode Tutor Sebaya dalam Meningkatkan Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XI SMA ABC Yogyakarta pada Topik Sistem Gerak [The Implementation of Peer Tutoring to Increase Cognitive Achievment about the Movement System for Grade XI Students at SMA ABC] Marshelly Christyanna da Lopez; Zein Mario Purba; Siane Indriani
Polyglot Vol 12, No 2 (2016): April
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v12i2.366

Abstract

Based on low student test scores in a grade XI science class at ABC Senior High School in Yogyakarta, the observer found that the students had difficulties understanding the Movement System. This happened because the learning process in the classroom focused on the teacher and was monotone in nature so the instructional objective was not reached as proven by the low test results. Based on this problem, the observer planned and designed a peer tutor learning process to increase the students' cognitive results. The observer used Classroom Action Research which went from October 20, 2015 to October 29, 2015. There were two cycles that involved 22 students. The instruments used were test sheets, student feedback sheets, observation sheets, mentor interviews with the observer, and the observer’s journal reflections. In the process of analyzing the instruments, the observer used simple mathematic calculations and qualitative analysis techniques. The research showed that the students’ cognitive level (knowledge) increased from 77.27% to 86.36% and the cognitive level (understanding) increased from 63.64% to 90.9% which suggests that cognitive learning can be increased through the implementation of peer tutoring learning method. BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Dari hasil tes siswa XI MIPA di SMA ABC Yogyakarta, peneliti menemukan siswa kesulitan dalam mengerjakan tes yang diberikan sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar kognitif siswa. Hal ini dikarenakan kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang berpusat pada guru dan berjalan monoton sehingga tujuan instruksional tidak tercapai yang dibuktikan dengan hasil tes yang rendah. Berdasarkan permasalahan ini, peneliti merencanakan dan merancang metode tutor sebaya dalam pembelajaran. Hal ini ditujukan untuk melihat peningkatan hasil belajar kognitif siswa. Peneliti menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan sejak 15 Oktober 2015 hingga 29 Oktober 2015. Penelitian yang dilaksanakan berlangsung sebanyak dua siklus dengan melibatkan 22 siswa. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar tes, lembar kusioner siswa, lembar observasi dan wawancara mentor dan rekan sejawat serta jurnal refleksi peneliti. Dalam menganalisis instrumen tersebut, peneliti menggunakan penghitungan matematika sederhana dan analisis secara kualitatif deskriptif. Dari hasil penelitian, diperoleh peningkatan kognitif pada level mengetahui dari 77,27% menjadi 86,36% dan peningkatan kognitif dari 63,64% menjadi 90,9% pada level memahami dalam materi Sistem Gerak sehingga dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif dapat ditingkatkan melalui penerapan metode pembelajaran tutor sebaya. 
The Use of a Relay Race Game to Increase Grade V Students’ Motivation in Learning English in an Elementary School in Karawaci Erinca Simarmata; Siane Indriani
Polyglot Vol 12, No 1 (2016): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v12i1.384

Abstract

Through an observation done of fifth graders in an elementary school at Karawaci, Tangerang, it was found that the students did not show much motivation in learning English in the classroom. They did not show interest in doing their tasks and they did not show respect while doing activities with their friends during lesson times. Motivation is important in energizing, directing, and sustaining (good) behavior of students during the learning process in the classroom. Therefore, the researcher decided to use a relay race game to solve the problem. It was expected that through the relay race game, the students’ motivation would be increased and how the steps of the game would increase the students’ motivation in learning English. The method used was Classroom Action Research and data was collected by using several instruments, such as an observation checklist done by the mentor and researcher’s partner, questionnaires done by the students, and reflective journals done by the researcher. After conducting the research, the results showed that the motivation of students learning English increased using a relay race game and the steps of the game must be done consistently to make it effective.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Selama masa pengamatan yang dilakukan di kelas V di sebuah sekolah dasar di Tangerang, ditemukan bahwa siswa tidak menunjukkan ketertarikan terhadap pelajaran dan usaha dalam mengerjakan tugas- tugas di kelas. Siswa tidak menunjukkan motivasi yang besar dalam pembelajaran Bahasa Inggris di kelas. Metode yang diadakan oleh peneliti adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui bagaimana permainan Relay Race dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam belajar Bahasa Inggris dan bagaimana prosedur permainan Relay Race diterapkan di pembelajaran tersebut. Instrumen yang digunakan adalah observasi checklist oleh mentor dan rekan peneliti, kuisioner oleh siswa, dan jurnal refleksi oleh peneliti. Setelah mengadakan penelitian ini, hasil yang diperoleh adalah bahwa motivasi siswa dalam belajar Bahasa Inggris dapat meningkat menggunakan permainan Relay Race.
Penerapan Metode Teams Games Tournament (TGT) untuk Meningkatkan Keaktifan Siswa Kelas VIII pada Pelajaran Biologi di Sekolah Kristen ABC Karawaci [The Implementation of a Teams Games Tournament to Increase Students' Activeness in a Grade VIII Biology Class at a Christian School in Karawaci] Alan Angelina Tonapa; Siane Indriani; Destya Waty Silalahi
Polyglot Vol 12, No 1 (2016): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v12i1.382

Abstract

Based on observing grade VIII students, the researcher found that the students were passive during the learning process when it came to sharing ideas or opinions, asking and answering questions, and solving problems given by the teacher.  The researcher decided to implement the TGT cooperative learning method in order to solve the problem. It was expected that through the implementation of this method, the students' activeness would increase. Observation was also used to discover which steps of the TGT method might increase a student’s activeness. The research was conducted on October 28, 2015 and October 29, 2015, with 22 students as the subjects using the Class Action Research Method. Data was collected and analyzed by using student’s activeness observation sheets, TGT’s implementation observation sheets, the researcher’s reflection journal, student’s questionnaire sheets, and mentor’s feedback. Based on the data analysis from those instruments, it can be concluded that the students' activeness increases by implementing the TGT method.  The steps of the TGT method implemented consisted of class preparation, learning in study groups, games and tournaments, and team recognition and these increased students' activeness in learning Biology.BAHASA INDONESIA ABSTRAK: Berdasarkan observasi di kelas VIII, peneliti menemukan masalah bahwa siswa-siswa pasif selama pembelajaran misalnya dalam mengemukakan ide atau pendapat, bertanya dan menjawab pertanyaan guru, serta mengerjakan soal yang diberikan oleh guru. Maka, peneliti memutuskan untuk menerapkan metode TGT dalam mengatasi permasalahan tersebut. Diharapkan melalui penerapan metode ini, tujuan peneliti dapat tercapai, yaitu meningkatkan keaktifan siswa melalui penerapan metode TGT dan mengetahui langkah-langkah penerapan metode TGT dalam peningkatan keaktifan siswa. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) pada tanggal 28 dan 29 Oktober 2015 dengan subjek 22 siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen lembar observasi keaktifan siswa, lembar observasi penerapan TGT, jurnal refleksi peneliti, lembar angket siswa, dan umpan balik mentor. Berdasarkan analisis data dari berbagai instrumen tersebut, maka keaktifan siswa meningkat dengan diterapkannya metode TGT dan selama penerapansetiap tahapan TGT yang terdiri dari tahap penyajian kelas, tahap belajar dalam kelompok, tahap permainan turnamen, dan tahap penghargaan kelompok dapat meningkatkan keaktifan siswa pada pelajaran Biologi.
POSITIVE TEACHER-STUDENT RELATIONSHIPS FOR EFFECTIVE LEARNING Siburian, Naomi Sonya Fitri; Indriani, Siane
Polyglot Vol 20, No 1 (2024): January
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v20i1.7667

Abstract

The distance between teacher and students can affect students’ performance in the teaching and learning process. On the other hand, a Christian teacher as an agent of reconciliation should build a positive relationship with the students by showing love and caring as God does it first to us. Thus, this paper aims to know the importance and the possible ways of creating a positive teacher-student relationship for effective learning. Through the literature review, the writer found that a positive teacher-student relationship has impacted students’ performance, by which they will be more confident and motivated to participate in the learning process. Hence, the teacher must be flexible and be able to select the most suitable ways to build a positive relationship. It is recommended for the next researcher to find ways to embed the boundaries amid positive relationships. Bahasa Indonesia AbstrakJarak antara guru dengan siswa dapat mempengaruhi prestasi siswa dalam proses belajar mengajar. Di sisi lain, seorang guru Kristen sebagai agen rekonsiliasi harus membangun hubungan guru-siswa yang positif melalui tindakan kasih dan kepedulian seperti yang telah Allah lakukan lebih dahulu. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya dan cara-cara yang memungkinkan untuk menciptakan relasi guru-siswa yang positif. Melalui kajian literatur, penulis menemukan bahwa relasi ini memberikan dampak bagi prestasi siwa, dimana mereka lebih percaya diri dan termotivasi untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Maka, guru Kristen harus mampu untuk menjadi fleksibel dan mampu untuk memilih mana cara yang paling tepat dan cara yang harus dihindari dalam membangun relasi guru-siswa yang positif. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menemukan bagaimana cara menanamkan batasan di tengah-tengah relasi yang positif.
AN ANALYSIS ON LEARNING LOSS AND HOLISTIC EDUCATION Zandroto, Amel Devina; Indriani, Siane
Polyglot Vol 19, No 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v1i19.6346

Abstract

AbstractChristian education views students as an image of God. During the pandemic of COVID-19, students encountered learning loss phenomena which has become a challenge for Christian schools. Thus, this study aims to elaborate the difference between Christian perspective and secular perspective toward the “learning loss’ phenomena; how important a holistic education is to be implemented in the classroom; and to explain the role of the teacher as a facilitator to implement holistic learning in the classroom. The research method used in this study is literature review. The result showed that students as the image of God should be valued as a whole person, not only partially as viewed from secular perspectives. Christian teachers need to be equipped to see and teach their students holistically, such as planning their lessons to be ‘contextual’ and relevant for their students in order to raise awareness for tolerance, empower their talents, and conduct learning processes through loving interaction and applying holistic assessments. A recommendation for further research is to implement holistic education at primary level and elaborate the challenges faced by the teacher. Bahasa Indonesia AbstrakPendidikan Kristen melihat siswa sebagai Image of God. Selama pandemi covid-19 siswa menghadapi satu fenomena, yaitu Learning Loss, di mana terdapat penurunan dalam proses pembelajaran siswa. Oleh karena itu, tujuan dari paper ini adalah untuk menjelaskan perbedaan antara sudut pandang kekristenan dengan sudut pandang sekuler terkait fenomena “learning loss; pentingnya penerapan pendidikan holistis di dalam kelas, dan menjelaskan peran guru sebagai fasilitator dalam mengimplementasikan pendidikan holistis di dalam kelas. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa murid sebagai Image of God seharusnya dididik sebagai manusia yang utuh, dan tidak hanya sebagian seperti halnya dalam pandangan sekuler. Guru Kristen harus diperlengkapi agar dapat melihat dan mengajar secara holistik. Misalnya, merencanakan pembelajaran yang kontekstual dan relevan untuk siswa agar dapat membangkitkan kesadaran mereka akan toleransi dan mengembangkan talenta mereka. Serta mengimplementasikan pendidikan holistik di dalam kelas melalui interaksi yang didasarkan pada kasih serta penerapan penilaian holistik kepada siswa. Sebagai rekomendasi, peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya berfokus pada penerapan pendidikan holistik kepada murid di Sekolah Dasar serta memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Guru. 
TEACHER’S ROLE AS A GUIDE IN SHAPING STUDENTS’ CHARACTER [PERAN GURU SEBAGAI PEMBIMBING DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA] S. Depari, Velina; Indriani, Siane
Polyglot Vol 20, No 2 (2024): JULY 2024
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v20i2.8388

Abstract

Abstract One of the goals of Christian education is to assist students in cultivating godly character. However, the reality indicates that some students display traits inconsistent with godly character, such as bullying, irresponsibility, and disrespect. Therefore, the role of teachers as a guide becomes crucial in encouraging students to grow in faith and exhibit Christlike character in their live. This paper aims to explain the role of Christian teachers as a guide in shaping students’ character using a literature review method. In shaping students’ characters, teachers implement various strategies in the classroom such as creating a positive learning environment, integrating characters’ education into lessons, and fostering reflection and self-awareness among students. The finding of this paper shows that Christian teachers have responsibility to guide the development of students’ Christian characters. To enhance this role, the suggestions for teachers are to provide learning methods that encourage character development and establish partnerships with families and churches to collectively guide the students. Bahasa Indonesia Abstrak Salah satu tujuan pendidikan Kristen adalah untuk membantu siswa mengembangkan karakter yang saleh. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa beberapa siswa menunjukkan sifat-sifat yang tidak sesuai dengan karakter yang saleh, seperti perundungan, tidak bertanggung jawab, dan tidak sopan. Oleh karena itu, peran guru sebagai pembimbing menjadi sangat penting dalam mendorong siswa untuk bertumbuh dalam iman dan menunjukkan karakter Kristus dalam kehidupan mereka. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan peran guru Kristen sebagai pembimbing dalam membentuk karakter siswa dengan menggunakan metode studi literatur. Dalam membentuk karakter siswa, guru menerapkan berbagai strategi di dalam kelas seperti menciptakan lingkungan belajar yang positif, mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pelajaran, dan menumbuhkan refleksi dan kesadaran diri di antara siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru-guru Kristen memiliki tanggung jawab untuk membimbing perkembangan karakter Kristen siswa. Untuk meningkatkan peran ini, saran untuk para guru adalah untuk menyediakan metode pembelajaran yang mendorong pengembangan karakter dan membangun kemitraan dengan keluarga dan gereja untuk secara kolektif membimbing para siswa. 
POSITIVE TEACHER-STUDENT RELATIONSHIPS FOR EFFECTIVE LEARNING Siburian, Naomi Sonya Fitri; Indriani, Siane
Polyglot Vol 20 No 1 (2024): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v20i1.7667

Abstract

The distance between teacher and students can affect students’ performance in the teaching and learning process. On the other hand, a Christian teacher as an agent of reconciliation should build a positive relationship with the students by showing love and caring as God does it first to us. Thus, this paper aims to know the importance and the possible ways of creating a positive teacher-student relationship for effective learning. Through the literature review, the writer found that a positive teacher-student relationship has impacted students’ performance, by which they will be more confident and motivated to participate in the learning process. Hence, the teacher must be flexible and be able to select the most suitable ways to build a positive relationship. It is recommended for the next researcher to find ways to embed the boundaries amid positive relationships. Bahasa Indonesia AbstrakJarak antara guru dengan siswa dapat mempengaruhi prestasi siswa dalam proses belajar mengajar. Di sisi lain, seorang guru Kristen sebagai agen rekonsiliasi harus membangun hubungan guru-siswa yang positif melalui tindakan kasih dan kepedulian seperti yang telah Allah lakukan lebih dahulu. Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya dan cara-cara yang memungkinkan untuk menciptakan relasi guru-siswa yang positif. Melalui kajian literatur, penulis menemukan bahwa relasi ini memberikan dampak bagi prestasi siwa, dimana mereka lebih percaya diri dan termotivasi untuk berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Maka, guru Kristen harus mampu untuk menjadi fleksibel dan mampu untuk memilih mana cara yang paling tepat dan cara yang harus dihindari dalam membangun relasi guru-siswa yang positif. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menemukan bagaimana cara menanamkan batasan di tengah-tengah relasi yang positif.
TEACHER’S ROLE AS A GUIDE IN SHAPING STUDENTS’ CHARACTER [PERAN GURU SEBAGAI PEMBIMBING DALAM MEMBENTUK KARAKTER SISWA] S. Depari, Velina; Indriani, Siane
Polyglot Vol 20 No 2 (2024): JULY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v20i2.8388

Abstract

Abstract One of the goals of Christian education is to assist students in cultivating godly character. However, the reality indicates that some students display traits inconsistent with godly character, such as bullying, irresponsibility, and disrespect. Therefore, the role of teachers as a guide becomes crucial in encouraging students to grow in faith and exhibit Christlike character in their live. This paper aims to explain the role of Christian teachers as a guide in shaping students’ character using a literature review method. In shaping students’ characters, teachers implement various strategies in the classroom such as creating a positive learning environment, integrating characters’ education into lessons, and fostering reflection and self-awareness among students. The finding of this paper shows that Christian teachers have responsibility to guide the development of students’ Christian characters. To enhance this role, the suggestions for teachers are to provide learning methods that encourage character development and establish partnerships with families and churches to collectively guide the students. Bahasa Indonesia Abstrak Salah satu tujuan pendidikan Kristen adalah untuk membantu siswa mengembangkan karakter yang saleh. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa beberapa siswa menunjukkan sifat-sifat yang tidak sesuai dengan karakter yang saleh, seperti perundungan, tidak bertanggung jawab, dan tidak sopan. Oleh karena itu, peran guru sebagai pembimbing menjadi sangat penting dalam mendorong siswa untuk bertumbuh dalam iman dan menunjukkan karakter Kristus dalam kehidupan mereka. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan peran guru Kristen sebagai pembimbing dalam membentuk karakter siswa dengan menggunakan metode studi literatur. Dalam membentuk karakter siswa, guru menerapkan berbagai strategi di dalam kelas seperti menciptakan lingkungan belajar yang positif, mengintegrasikan pendidikan karakter ke dalam pelajaran, dan menumbuhkan refleksi dan kesadaran diri di antara siswa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru-guru Kristen memiliki tanggung jawab untuk membimbing perkembangan karakter Kristen siswa. Untuk meningkatkan peran ini, saran untuk para guru adalah untuk menyediakan metode pembelajaran yang mendorong pengembangan karakter dan membangun kemitraan dengan keluarga dan gereja untuk secara kolektif membimbing para siswa. 
AN ANALYSIS ON LEARNING LOSS AND HOLISTIC EDUCATION Zandroto, Amel Devina; Indriani, Siane
Polyglot Vol 19 No 1 (2023): JANUARY
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/pji.v1i19.6346

Abstract

AbstractChristian education views students as an image of God. During the pandemic of COVID-19, students encountered learning loss phenomena which has become a challenge for Christian schools. Thus, this study aims to elaborate the difference between Christian perspective and secular perspective toward the “learning loss’ phenomena; how important a holistic education is to be implemented in the classroom; and to explain the role of the teacher as a facilitator to implement holistic learning in the classroom. The research method used in this study is literature review. The result showed that students as the image of God should be valued as a whole person, not only partially as viewed from secular perspectives. Christian teachers need to be equipped to see and teach their students holistically, such as planning their lessons to be ”˜contextual’ and relevant for their students in order to raise awareness for tolerance, empower their talents, and conduct learning processes through loving interaction and applying holistic assessments. A recommendation for further research is to implement holistic education at primary level and elaborate the challenges faced by the teacher. Bahasa Indonesia AbstrakPendidikan Kristen melihat siswa sebagai Image of God. Selama pandemi covid-19 siswa menghadapi satu fenomena, yaitu Learning Loss, di mana terdapat penurunan dalam proses pembelajaran siswa. Oleh karena itu, tujuan dari paper ini adalah untuk menjelaskan perbedaan antara sudut pandang kekristenan dengan sudut pandang sekuler terkait fenomena “learning loss; pentingnya penerapan pendidikan holistis di dalam kelas, dan menjelaskan peran guru sebagai fasilitator dalam mengimplementasikan pendidikan holistis di dalam kelas. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode kajian literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa murid sebagai Image of God seharusnya dididik sebagai manusia yang utuh, dan tidak hanya sebagian seperti halnya dalam pandangan sekuler. Guru Kristen harus diperlengkapi agar dapat melihat dan mengajar secara holistik. Misalnya, merencanakan pembelajaran yang kontekstual dan relevan untuk siswa agar dapat membangkitkan kesadaran mereka akan toleransi dan mengembangkan talenta mereka. Serta mengimplementasikan pendidikan holistik di dalam kelas melalui interaksi yang didasarkan pada kasih serta penerapan penilaian holistik kepada siswa. Sebagai rekomendasi, peneliti menyarankan agar penelitian selanjutnya berfokus pada penerapan pendidikan holistik kepada murid di Sekolah Dasar serta memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi oleh Guru.