Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Identifikasi Kandungan Senyawa Kimia dan Uji Aktivitas Penghambatan Polimerisasi Hem dari Fraksi n-Heksana Daun Manuran (Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Heyne) Asal Kotabaru Kalimantan Selatan Arnida Arnida; Sutomo Sutomo; Utsna Uhdatul Khoriah
Journal of Pharmascience Vol. 5 No. 2 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i2.5796

Abstract

Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Heyne merupakan salah satu tumbuhan yang berasal dari Kotabaru, Kalimantan Selatan yang berpotensi sebagai antimalaria. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan senyawa kimia dan aktivitas penghambatan polimerisasi hem dari fraksi n-heksana daun C. tomentosa Valetona ex K. Heyne. Identifikasi kandungan senyawa kimia dilakukan dengan metode uji tabung sedangkan aktivitas penghambatan polimerisasi hem secara in vitro dilakukan dengan metode Basillico yang dimodifikasi. Hasil uji skrining fitokimia dan uji Kromatografi Lapis Tipis pada fraksi n-heksana daun C. tomentosa Valeton ex K. Heyne mengandung senyawa steroid, terpenoid, flavonoid, dan antrakuinon. Persentase penghambatan polimerisasi yang didapatkan dari fraksi n-heksana daun C. tomentosa Valeton ex K. Heyne dengan konsentrasi 20; 10; 5; 2,5; 1,25; 0,625; 0,3125 mg/mL secara beturut-turut yaitu 98,267; 97,530; 96,001; 93,274; 89,036%; 80,965; 50,322%. Rerata IC50 fraksi n-heksana daun C. tomentosa Valeton ex K. Heyne sebesar 0,196 ± 0,009 mg/mL dan klorokuin difosfat sebesar 0,214 ± 0.012 mg/mL. Analisis dengan independent sample t-test menyatakan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara keduanya dengan nilai signifikansi sebesar 0,110. Hal ini menunjukkan bahwa fraksi n-heksana daun C. tomentosa Valeton ex K. memiliki aktivitas penghambatan polimerisasi hem. Kata Kunci : Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Heyne, Polimerisasi hem, fraksi n-heksana, skrining fitokimia, KLT. Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Heyne is one of the native plants Kotabaru, Kalimantan Selatan which has potential as antimalarial. This study aimed to determine the chemical content and heme polymerization inhibition activity of Manuran leaf n-hexane fraction. Identification of these compound contents used tube test while the inhibitory activity of heme polymerization in vitro did by Basillico modified method. The results of phytochemical screening test and Thin Layer Chromatography test on the C. tomentosa Valeton ex K. Heyne leaf n-hexane fraction in this study was positive steroid, terpenoid, flavonoid, and anthraquinone compounds. Percentage polymerization inhibition obtained from the C. tomentosa Valeton ex K. Heyne leaf n-hexane fraction with concentration 20; 10; 5; 2.5; 1.25; 0.625; 0.3125 mg/mL, respectively, i.e. 98.267; 97.530; 96.001; 93.274; 89.036%; 80.965; 50.322%. The average of IC50 on C. tomentosa Valeton ex K. Heyne n-hexane fraction was 0.196 ± 0.009 mg /mL, and chloroquine diphosphate was 0.214 ± 0.012 mg/mL. Analysis with independent sample t-test declare, there is no difference between both of them with a significance value is 0,110. This result showed C. tomentosa Valeton ex K. Heyne leaf n-hexane fraction and chloroquine had heme polymerization inhibitory activity as well. Keywords: Coptosapelta tomentosa Valeton ex K. Heyne, Heme polymerization, n-hexane fraction, phytochemical screening, TLC.
Skrining Fitokimia dan Uji Kualitatif Aktivitas Antioksidan Tumbuhan Asal Daerah Rantau Kabupaten Tapin Kalimantan Selatan Sutomo Sutomo; Arnida Arnida; Muhammad Ikhwan Rizki; Liling Triyasmono; Agung Nugroho; Evi Mintowati; Salamiah Salamiah
Journal of Pharmascience Vol. 3 No. 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5836

Abstract

ABSTRAK  Kalimantan selatan merupakan salah satu kawasan tropis dengan sumber keanekaragaman hayati yang melimpah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan ekstraksi dan skrining fitokimia terhadap beberapa tumbuhan yang secara etnis digunakan sebagai pengobatan. Metode ini sangat penting untuk mendapatkan gambaran terhadap golongan senyawa yang terkandung dalam tumbuhan obat. Tumbuhan yang diteliti  adalah rimpang patiti, kulit batang ambaratan, batang carikang habang, daun puspa, kulit batang balik anngin, daun bilaran tapah, dan daun karamunting. Hasil ekstraksi menggunakan etanol 70% rendemen terbanyak adalah daun puspa (30,76%) diikuti secara berturut-turut kulit batang balik angin (27,05%), daun bilaran tapah (23,53%), daun karamunting (10,88%), rimpang patiti (8,48%), batang carikang habang (3,56%), dan kulit batang ambaratan (2,04%). Skrining fitokimia menunjukkan bahwa rimpang patiti mengandung senyawa golongan flavonoid, fenol, tanin, saponin, dan terpenoid. Kulit batang ambaratan mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, tanin dan antrakinon. Batang carikang habang mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, saponin, steroid, dan antrakuion. Daun puspa mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, saponin, dan terpenoid. Kulit batang balik anngin mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonoid, fenol, tanin, terpenoid, dan antrakuinon. Daun bilaran tapah mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonois, fenol, tanin, saponin, terpenoid, dan antrakuinon. Daun karamunting mengandung senyawa golongan alkaloid, flavonois, fenol, tanin, saponin, dan terpenoid. Hasil uji aktivitas antioksidan dengan menggunakan metode DPPH melalui kromatpgrafi lapis tipis menunjukkan bahwa ketujuh tumbuhan yang diuji mengandung senyawa yang bersifat antioksidan.  Kata kunci : eksplorasi, ekstraksi, skrining fitokimia, antioksidan.    ABSTRACT Kalimantan Selatan is a province in the southern of Borneo island. As one of the tropical areas, this province  has a high biological diversity. The recent study aims to identify the secondary metabollites through screening test and evaluate the antioxidative capacities of several medicinal plants growing in Tapin regency. Seven plants used in this study were: the rhizome of Patiti (RP), the bark of Ambaratan (BA), the stem of Carikang Habang (SC), leaves of Puspa (LP), the bark of Balik Angin (BB), leaves of Bilaran Tapah (LB), and leaves of Karamunting (LK). Arranged from the highest to the lowest, the yield of 70% ethanol extracts were 30.76% (LP), 27.05% (BB), 23.53% (LB), 10.88% (LK), 8.48% (RP), 3.56% (BC), and 2.04% (BA). The phytochemical screening test shown that flavonoid, phenolic, tanin, saponin,  and terpenoid were detected in RP. In BA, alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, and antraquinon were identified. SC possessed alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, saponin, steroid, and antraquinon. LP had alkaloid, flavonoid, phenolic, saponin, and terpenoid. BB contained alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, terpenoid, and antraquinon. LB shown the presence of  alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, saponin, terpenoid, and antraquinon. Meanwhile, LK indicated the presence of alkaloid, flavonoid, phenolic, tanin, saponin, and terpenoid. Antioxidant analyis of the seven extracts using DPPH showed that all the tested plants possessed the active compounds with antioxidative effects. Keywords: exploration, extraction, phytochemical screening, antioxidant.
Pengaruh Pemberian Fraksi Etil Asetat Buah Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.) Terhadap Gambaran Makroskopis-Mikroskopis Organ Hati Tikus Putih Jantan Sutomo Sutomo; Muhammad Rafi; Arnida Arnida
Journal of Pharmascience Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i1.6082

Abstract

ABSTRAK             Kasturi (Mangifera casturi Kosterm) merupakan tumbuhan khas Kalimantan Selatan yang memiliki aktivitas antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan gambaran makroskopis (warna dan volume) organ hati serta perubahan histopatologi sel hati (degenerasi parenkimatosa, degenerasi hidropis, dan nekrosis) pada tikus setelah diberikan fraksi etil asetat buah M. casturi secara peroral. Penelitian ini berupa penelitian eksperimental dengan rancangan post test only control group design. Hewan dibagi menjadi 5 kelompok yaitu kelompok kontrol (Na-CMC 0,5%) dan kelompok perlakuan (5, 50, 300, dan 2000 mg/kgBB). Setiap kelompok terdiri dari 5 tikus putih jantan yang diberikan perlakuan 1 kali selama 14 hari, setelah itu tikus dibedah dan diambil organ hati untuk diamati. Hasil analisis Kruskal Wallis menunjukkan bahwa pemberian fraksi etil asetat buah M. casturi pada gambaran makroskopis (volume) hati tidak berbeda bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan (p > 0,05). Hasil analisis One-Way ANOVA pada gambaran mikroskopis hati menunjukkan bahwa kelompok kontrol dan perlakuan tidak terdapat perbedaan bermakna. Kata kunci : Mangifera casturi, fraksi etil asetat, toksisitas, degenerasi, nekrosis  ABSTRACT Kasturi (Mangifera casturi Kosterm.) is the typical plants of South Kalimantan that contains antioxidant activity. The aim of this study was to determine the macroscopical representative (color and volume) of rats liver and the microscopical representative of hepar cells (parenchymatous degeneration, hydropic degeneration, and necrosis) after oral administration of ethyl acetate fraction of M. casturi fruit. This study was an experimental study with post-test only control group design. Test animals were divided into 5 groups consisted of a control group (CMC Na 0,5%), and treatment groups (5, 50, 300, and 2000 mg/kg bw). Each group consisted of 5 the male white rats which were treated once for 14 days. And then the rats were dissected, the liver were taken out to make preparations of histopathological examination and observation. The results of Kruskal Wallis showed that ethyl acetate fraction of M. casturi fruit had no difference on macroscopical representation of the liver. Keywords : Mangifera casturi, ethyl acetate fraction, toxicity, degeneration, necrosis
Pemanfaatan Tumbuhan Berkhasiat Obat Oleh Masyarakat Desa Ujung Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan Melalui Studi Etnobotani NUR AINA FADHILAH; Sutomo Sutomo; Arnida Arnida
Journal of Pharmascience Vol. 11 No. 2 (2024): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v11i2.20852

Abstract

Kalimantan Selatan memiliki keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk berbagai keperluan. Kajian etnobotani meliputi pengetahuan masyarakat setempat dengan pemanfaatan sumber daya alam berupa tumbuhan di lingkungan sekitarnya, salah satunya sebagai bahan obat. Tujuan penelitian untuk mengetahui secara kuantitatif tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh masyarakat, bagian tumbuhan yang dimanfaatkan, serta mengetahui cara pengolahan dan cara pemanfaatannya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan fenomenologi. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara terbuka terencana dengan pengumpulan data menggunakan kuesioner. Metode penelitian yang digunakan dalam menentukan informan adalah metode Purposive Sampling. Informan dalam penelitian berjumlah 5 orang yang memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh peneliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Masyarakat Desa Ujung Kecamatan Pulau Sebuku Kabupaten Kotabaru Kalimantan Selatan telah memanfaatkan 43 jenis tumbuhan obat. Bagian tumbuhan yang paling banyak dimanfaatkan sebagai obat adalah daun 54,17%; kemudian secara berurutan adalah buah (8,33%), batang (6,25%), getah (6,25%), akar (4,17%), kulit pohon (4,17%), dan umbi(2,08%). Cara pengolahan tanaman obat yang paling banyak adalah dengan merebus sebanyak 42%, kemudian berturut-turut tanpa pengolahan (14%), diremas (10%), ditumbuk dan ditambah bahan lain (10%), dimasak(8%), direbus dan ditambah bahan lain (4%), diseduh dan ditambah bahan lain (4%), ditumbuk (2%), diseduh(2%), direndam (2%). Cara pemanfaatan tanaman obat yang paling banyak adalah dengan meminum sebanyak 55,10%; kemudian berturut-turut ditempel (16,3%), dioles (14,3%), dimakan (12,24%), dan diteteskan (2,04%). Dari 43 jenis tanaman obat, bagian tanaman yang paling banyak dimanfaatkan adalah daunnya, dengan cara pengolahan direbus dan digunakan dengan cara diminum.