Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

KONSTRUKSI LAKI LAKI SUNDA DALAM TARI PENCUG BOJONG KARYA GUGUM GUMBIRA ilam Anugrah; Trianti Nugraheni; Tatang Taryana
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 1, No 2 (2021): Agustus, 2021
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v1i2.35861

Abstract

Tari “Pencug Bojong” merupakan tari yang diciptakan Gugum pada tahun 1986 akhir dan awal tahun 1987 untuk penari laki – laki menggambarkan laki – laki Sunda,  memperlihatkan nilai – nilai estetika kekayaan dan khasanah budaya Sunda. Gerak koreografi pada tari “Pencug Bojong” lebih banyak diadaptasi dari gerak Pencak Silat, yakni 24 rangkaian gerak, termasuk kepada 4 kategori gerak yaitu locomotion, pure movement, gesture dan baton signal. Pendekatan penelitian digunakan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dokumentasi serta studi pustaka dan analisis data menggunakan triangulasi. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa tari “Pencug Bojong” memiliki karakter gagah dan memiliki kesulitan tersendiri baik dalam teknik, ketepatan, keunikan, kecepatan serta dalam penjiwaannya yang memperlihatkan sifat yang teladan tidak mudah menyerah, memperlihat kesederhanaan laki – laki Sunda yang secara tidak langsung mengungkapkan salah satu bentuk konsep laki – laki Sunda yang disampaikan melalui gerak, kostum dan rias pada Tari Pencug Bojong, dibentuk dan diekspresikan karakter Laki-Laki Sunda yang energik dan atraktif dan musik yang digunakan yaitu pola tabuh Tablo Naek Gendu.
TARI NARANTIKA RARANGGANIS mira agniati; Tati Narawati; Tatang Taryana
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 2, No 1 (2022): Februari, 2022
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v2i1.44424

Abstract

Tari Narantika Rarangganis adalah tarian dengan tema heroik dan memiliki ciri khas sendiri yaitu Narantika dibawakan oleh laki-laki, sedangkan Rarangganis dibawakan oleh perempuan, memiliki gerakan yang berbeda tetapi dibawakan dalam satu lagu dalam tarian. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana latar belakang, struktur koreografi, rias dan busana dari Tari Narantika Rarangganis. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Partisipan dalam penelitian ini yaitu pewaris, pelatih dan pencipta Tari Narantika Rarangganis serta Ketua Paguyuban Seni Tari Klasik Sunda Galih Pakuan Kota Bandung. Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat gerak-gerak Tari Narantika yang merupakan perkembangan dari Tari Monggawa pada rumpun Tari Keurseus yang diciptakan oleh Raden Nugraha Soediredja begitupun Rarangganis perkembangan dari Tari Kandagan, yang pada saat itu Raden Nugraha Soediredja dibantu oleh Irawati Durban Ardjo dan Indrawati Lukman.
ARANTIKA RARANGGANIS DANCE mira Agianti; Tati Narawati; Tatang Taryana
Journal of Dance and Dance Education Studies Vol 2, No 1 (2022): March
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1083.914 KB)

Abstract

Narantika Rarangganis dance is a dance with a heroic theme and has its own characteristics, namely Narantika is performed by men, while Rarangganis is performed by women, has different movements but is performed in one song in the dance. The purpose of writing this article is to describe the background, choreographic structure, makeup and clothing of the Narantika Rarangganis Dance. This research uses a descriptive method.The participants in this research areheir,trainer and creator of Narantika Rarangganis Dance and Chairman of the Sunda Galih Pakuan Classical Dance Association, Bandung City. The technique used in data collection is the technique of observation, interviews, documentation. The results of this study are that there are Narantika dance movements which are the development of the Monggawa Dance in the Keurseus Dance family created by Raden Nugraha Soediredja as well as Rarangganis the development of the Kandagan Dance, which at that time Raden Nugraha Soediredja was assisted by Irawati Durban Ardjo and Indrawati Lukman.
PENGELOLAAN SANGGAR TARI DI SANGGAR MELATI AYU KABUPATEN INDRAMAYU Nida Nur Fatimatul Zahra; Agus Budiman; Tatang Taryana
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 2, No 2 (2022): Agustus, 2022
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v2i2.50178

Abstract

Sanggar Melati Ayu sudah berdiri sejak tahun 1990-an dan terus berkembang hingga saat ini. Perkembangan ini didasarkan oleh berjalannya fungsi pengelolaan yang baik. Dalam ilmu manajemen sebuah organisasi yang baik didalamnya terdapat fungsi-fungsi manajemen yang diterapkan, agar mempunyai tujuan yang jelas dan menjadikan organisasi menjadi layak dipertahankan dan dikembangkan. Hal ini mendorong peneliti membahas gambaran pengelolaan Sanggar Tari Melati Ayu Kabupaten Indramayu berdasarkan fungsi-fungsi dalam manajemen yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakkan dan evaluasi. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode deskriptif analisis dengan jenis penelitian yang digunakan adalah studi kasus, yaitu prosedur penelitian yang menggunakan data kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu berupa pedoman observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan Sanggar Melati Ayu sudah tepat sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen yaitu pada perencanaan meliputi rancangan-rancangan yang di dalamnya terdapat tujuan, aturan, kebijakan, program, pengelolaan administrasi keuangan dan pengadaan rapat. Dalam pengorganisasian di dalamnya meliputi susunan pengurus, deskripsi kepengurusan, program kerja, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART). Lalu implementasi dalam penggerakkan, diantaranya kegiatan-kegiatan yang berada di sanggar, perlengkapan dan fasilitas, pengelolaan administrasi keuangan dan pengadaan rapat. Lalu dalam evaluasi, di dalamnya terdapat evaluasi pengelolaan sanggar dan evaluasi kegiatan proses latihan yang bertujuan untuk mengukur sejauh mana kemampuan peserta didik. Dapat disimpulkan bahwa penelitian di Sanggar Melati Ayu dalam mengelola sanggarnya sudah tepat menggunakan fungsi-fungsi manajemen. Adanya penelitian ini diharapkan sanggar-sanggar lain bisa mengelola sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen yang diterapkan di Sanggar Melati Ayu.
TARI COKEK SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN DI SANGGAR NATYA DANCE COMMUNITY Rahma Tiara Lestari; Trianti Nugraheni; Tatang Taryana
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 2, No 3 (2022): Desember, 2022
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v2i3.36860

Abstract

Salah satu kota terbesar di Jawa Barat yaitu Kota Bandung memiliki beragam jenis kesenian yang hingga saat ini masih terjaga dan berkembang, salah satunya yaitu Tari Cokek. Tari Cokek merupakan sebuah tarian yang dimana hasil dari alkulturasi antara bangsa Cina, Banten dan Bandung, adanya alkulturasi budaya tersebut membuat Tari Cokek memiliki keunikannya tersendiri. Sanggar Natya Dance Community saat ini masih melestarikan Tari Cokek tersebut dengan tetep menjaga keunikan dari Tari Cokek tersebut. Tujuan dari penelitian ini untuk dapat mendeskripsikan bagaimana latar belakang Sanggar Natya Dance Community dan mengetahaui bagaimana pembelajaran Tari Cokek yang terjadi di sanggar tersebut serta faktor pendukung dari pembelajaran tersebut agar dapat mencapai tujuan. Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif karena peneliti ingin mendeskripsikan bagaimana pembelajaran Tari Cokek. Pengumpulan data yang diganakan pada penelitian ini dengan teknik observasi, wawancara, dokumentasi serta studi pustaka untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan penelitian ini. Peneliti menggunakan analaisis data yang terbagi menjadi tiga tahap yaitu reduksi data, penyajian data serta penarikan kesimpulan akhir dari keseluruhan data. Hasil penelitian yang diperoleh oleh peneliti yaitu dapat mendeskripsikan mengenai latar beakang Sanggar Natya Dance Community tersebut, lalu dapat mendeskripsikan startegi pembelajaran, media dan evaluasi yang digunakan pada pembelajaran Tari Cokek. Peneliti juga dapat mendeskripsikan apa saja faktor pendukung pada pembelajaran Tari Cokek di Sanggar Natya Dance Community
KESENIAN SISINGAAN PADA GRUP “SADULUR” LEMBANG KABUPATEN BANDUNG BARAT Indah Gina Khaeni; Trianti Nugraheni; Tatang Taryana
Ringkang : Kajian Seni Tari dan Pendidikan Seni Tari Vol 3, No 01 (2023): Februari, 2023
Publisher : Departemen Pendidikan Seni Tari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/ringkang.v3i01.55586

Abstract

Beragamnya keseniaan yang berada di wilayah Jawa Barat membuat setiap daerah memiliki ciri khas serta keunikannya tersendiri. Salah satunya yaitu Kesenian Sisingaan pada grup Sadulur yang berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Kesenian Sisingaan ini terbentuk karena kebiasaan masyarakat sekitar daerh tersebut dilakukan dalam bentuk arak-arakan (helaran). Pada mulanya Kesenian Sisingaan ini berasal dari Kabupaten Subang, namun kini berkembang hingga ke luar daerah Subang seperti Bandung, Purwakarta Sumedang dan daerah yang lainnya, karena hal itu Kesenian Sisingaan ini memiliki ciri khas yang berbeda-beda pada tiap daerahnya. Tujuan dari Penelitian ini untuk mengetahui bagaimana struktur koreografi dan mendeskripsikannya serta bagaimana rias dan busana yang digunakan pada Kesenian Sisingaan yang berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Peneliti juga melakukan pengumpulan data dengan menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi serta studi pustaka. Analisis data yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan Triangulasi Penelitian dari hasil pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan studi pustaka. Hasil yang penelitian yang diperoleh yaitu dapat mendeskripsikan struktur koreografi Kesenian Sisingan yang terdiri dari tiga gerak pokok serta dapat mendeskripsikan bagaimana rias busana yang digunakan pada Kesenian Sisingaan grup Sadulur di Lembang, Kabupaten Bandung Barat
JAIPONGAN CIPTANING FEELING BOJONGAN Agus Dian; Tati Narawati; Tatang Taryana
Journal of Dance and Dance Education Studies Vol 3, No 1 (2023): March
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jddes.v3i1.57061

Abstract

Jaipongan dance is one of the arts which is still developing in West Java. The Jaipongan dance takes several folk-dance elements from the Priangan and Kaleran regions. One of the figures who is still preserving, developing, and continuing the jaipongan dance is the figure of Lalan Ramlan. The jaipongan Ciptaningrasa Bojongan dance by Lalan Ramlan is a dance that has a dynamic, energetic, masculine character and this dance aims to preserve and develop so that pair dances (opposite sex) are kept alive, especially for male dances. The purpose of this research is that the researcher aims to examine and find out some information on the ideas of working on dance construction in the creation of the Jaipong Ciptaningrasa Bojongan Dance by Lalan Ramlan. The research method used is a descriptive qualitative method of analysis with an ethnochoreological approach. This method is used to solve and explain the idea of working on, choreography, make-up, and clothing regarding the Jaipongan Ciptaningrasa Bojongan Dance. Data collection was carried out by researchers through observation, literature studies, interviews, and documentation. The results obtained in this study were able to study and analyze the choreographic form of the Jaipongan Ciptaningrasa Bojongan Dance in an ethnochoreological approach. As for the movement structure uses pure movement, gesture (Gesture movement), locomotion (moving places), and baton signal (expression booster) with the structure of the jaipongan dance (bubuka, nibakeun, pencungan, mincid), it can be concluded that the Jaipongan dance Ciptaningrasa Bojongan is a dance with a new presentation style starting from the form of movement choreography, music choreography and the form of the make-up arrangement without losing the aesthetic value of the previous jaipongan dance.
Increasing Male Students' Interest in Learning Dance with the Peer Tutor Method: An Action Research Redja Hikmat Gumelar; Agus Budiman; Tatang Taryana
Gondang: Jurnal Seni dan Budaya Vol 7, No 1 (2023): GONDANG: JURNAL SENI DAN BUDAYA, JUNI 2023
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gondang.v7i1.44852

Abstract

Dance learning in schools is synonymous with learning movements that have a gentle character. This condition is one of the things that causes men's interest in learning dance to be very weak. Moreover, the tendency of students' interest in learning dance today has been influenced by modern culture such as the existence of modern dance that has developed in society, especially among the younger generation today. When teachers provide traditional dance material, the majority of students consider it too old-fashioned to learn at school. The purpose of this study was to increase male students' interest in learning dance in extracurricular activities by using the peer tutor method. This research uses the Classroom Action Research method with a quantitative approach to find a solution to the problem of weak male students' interest in learning dance in extracurricular dance activities. Data collection techniques were carried out by observation, interviews and questionnaire instruments through google form. Data analysis was carried out by conducting a Paired Sample T Test to see differences in pretest and posttest results. The findings of this study indicate that the peer tutor learning method is able to increase male students' interest through the Lenyepan dance material provided by the teacher in extracurricular dance activities. From the four stages of learning carried out, the results look very significant, the improvement that continues to occur in each phase makes the results of this study show a positive increase. So it can be concluded that the peer tutor learning method is very suitable for attracting male students' interest in dance learning. Judging from the increase in male students' interest in learning dance.
CONSTRUCTION OF SUNDANESE MEN IN THE PENCUG BOJONG DANCE BY GUGUM GUMBIRA ILAM ANUGRAH; TRIANTI NUGRAHENI; TATANG TARYANA
Journal of Dance and Dance Education Studies Vol 4, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jddes.v4i1.35819

Abstract

The "Pencug Bojong" dance is a dance created by Gugum in late 1986 and early 1987 for male dancers to depict Sundanese men, showing the aesthetic values of the richness and treasures of Sundanese culture. The choreographic movements in the "Pencug Bojong" dance are more adapted from Pencak Silat movements, namely 24 series of movements, including 4 movement categories, namely locomotion, pure movement, gesture and baton signal. The research approach used a qualitative approach using descriptive methods. Data collection techniques use interviews, observation, documentation as well as literature study and data analysis using triangulation. The results of this research show that the "Pencug Bojong" dance has a dashing character and has its own difficulties both in technique, accuracy, uniqueness, speed and in its spirit which shows an exemplary character of not giving up easily, showing the simplicity of Sundanese men which indirectly reveals wrongdoing. a form of Sundanese male concept which is conveyed through movements, costumes and make-up in the Pencug Bojong Dance, the energetic and attractive Sundanese male character is formed and expressed and the music used is the Tablo Naek Gendu percussion pattern.
PENGARUH PELATIHAN DAN MOTIVASI TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA TENAGA KEPENDIDIKAN STIT RAKEYAN SANTANG KARAWANG ., Nasem; Arifudin, Opan; ., Cecep; Taryana, Tatang

Publisher :

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.541 KB) | DOI: 10.31955/mea.v2i3.624

Abstract

Di era yang penuh persaingan pada lembaga pendidikan, dibutuhkan produktifitas tenaga kependidikan yang tinggi guna berkontribusi pada mutu lembaga pendidikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak pelatihan dan motivasi terhadap produktifitas tenaga kependidikan STIT Rakeyan Santang Karawang. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitaif adalah suatu penelitian yang pada dasarnya menggunakan pendekatan deduktif-induktif. Pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta, menunjukkan hubungan antar variabel, memberikan deskripsi statistic, menaksir dan meramalkan hasilnya. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa 1) pelatihan berpengaruh positif terhadap Produktivitas Kerja tenaga kependidikan, yang ditunjukkan dari hasil regresi nilai t-hitung 24.201 > t tabel 1.687 dan nilai Sig 0.000 lebih kecil dari 0.05, 2) Motivasi tidak berpengaruh terhadap Produktivitas pada tenaga kependidikan STIT Rakeyan Santang Karawang dengan nilai t-hitung -0.522 < t-tabel -2.026 dan nilai Sig 0.605 lebih besar dari 0.05, dan 3) pelatihan dan motivasi berpengaruh positif terhadap Produktivitas Kerja tenaga kependidikan, yang ditunjukkan dari hasil nilai F hitung 292.892 > F-tabel 3.24 dan nilai Sig 0.000 lebih kecil dari 0,05. Kontribusi pelatihan dan motivasi untuk menjelaskan produktivitas kerja tenaga kependidikan STIT Rakeyan Santang Karawang sebesar 0,941.