Sulistiyawati, Arie
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma Husada, Bandung, Indonesia

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

FAKTOR FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENYEMBUHAN LUKA PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI RS DR HAFIZ CIANJUR Daryaman, Usan; Nur Amalia, Irma; Adly Rachmawati, Rency Divya; Fitri Rejeki, Yunita; Sulistiyawati, Arie
Jurnal Sehat Masada Vol 18 No 2 (2024): Jurnal Sehat Masada
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Dharma husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38037/jsm.v18i2.537

Abstract

Many factors affect the duration of wound healing including age, gender, nutrition, wound degree, blood sugar control, wound care, physical activity. Most people with diabetes mellitus experience wounds that are difficult to heal and some even end up in amputation cases. The purpose of this study was to determine the factors that can inhibit wound healing. This research method uses descriptive quantitative using a non-probability sampling technique research design. The population in this study were all patients in the Gardenia inpatient room who had wounds with a history of diabetes mellitus from January to April as many as 55 patients. Data collection methods using questionnaires and observation sheets that have been prepared by researchers in accordance with the objectives of the study, questionnaires and research observation sheets are prepared based on theoretical reviews. The results illustrate that the relationship between age and wound degree has a p value of 0.027. The relationship between gender and wound degree had a p value of 0.004. The relationship between nutrition and wound degree had a p value of 0.009. The relationship between blood sugar control and wound degree had a p value of 0.000. The relationship between wound care and wound degree had a p value of 0.000. The relationship between physical activity and wound degree had a p value of 0.000. It can be concluded that age, gender nutrition, blood sugar control, wound care management, physical activity with wound degree have a significant relationship in patients with diabetes mellitus.
The EFFECT OF PHYSICAL ACTIVITY ON BLOOD SUGAR LEVELS IN DIABETES MELLITUS PATIENTS IN THE INTERNAL POLYCLINIC OF PINDAD HOSPITAL, BANDUNG Sulistiyawati, Arie
Jurnal Kesehatan & Disiplin Ilmu Vol 1 No 03 (2023): Keperawatan & Multidisiplin
Publisher : LPPM Akper Kebonjati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus occurs due to increased glucose levels in the blood. Physical activity is any body movement produced by skeletal muscles that requires energy. Lack of physical activity is an independent risk factor for chronic disease. This study aims to determine the effect of physical activity on blood sugar levels in diabetes mellitus patients. This type of research is cross sectional, the sampling technique uses purposive sampling as many as 83 respondents. Data collection uses questionnaires and observation sheets. The results of research using the Wilcoxon test show that the p value of 0.000 is smaller than the alpha value (0.05), so it can be stated that Ho is rejected, which means that there is an influence of physical activity on blood sugar levels in diabetes mellitus patients at the internal medicine clinic at RSU Pindad Bandung. It is hoped that the results of this study can be used as a reference for interventions on types of physical activity to overcome blood sugar levels in diabetes mellitus patients.
Analisis Hubungan Tingkat Cognitive Flexibility Perawat terhadap Akurasi Identifikasi Shock Index pada Penanganan Pasien Trauma di RSUD Sumedang Sulistiyawati, Arie; Pratama, Oktarian; Herdian, Fitra; Rahima, Dea Gheriya; Pamella , Diva
Healthcaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2024): Vol : 3 No : 2 (2024 ) : Periode Juli 2024
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/healthcaring.v3i2.7536

Abstract

Cognitive flexibility merujuk pada kapasitas individu untuk beralih di antara skema berpikir, menyesuaikan respons terhadap kondisi yang berubah, serta mengintegrasikan informasi baru secara efisien. Pada konteks kegawatdaruratan, kemampuan ini berperan dalam penalaran klinis, pengenalan pola vital sign yang abnormal, dan respons cepat terhadap perubahan fisiologis pasien trauma. Namun, hubungan langsung antara tingkat cognitive flexibility perawat dan akurasi identifikasi Shock Index masih jarang diteliti di Indonesia, khususnya pada rumah sakit daerah. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara tingkat cognitive flexibility perawat dengan akurasi identifikasi Shock Index dalam penanganan pasien trauma di RSUD Sumedang. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional dengan pengukuran cognitive flexibility melalui instrumen baku dan penilaian akurasi identifikasi SI menggunakan studi kasus terstandar. Hasil penelitian menunjukkan adanya kecenderungan bahwa perawat dengan skor cognitive flexibility lebih tinggi memiliki tingkat akurasi penilaian SI yang lebih baik. Temuan ini mempertegas bahwa kemampuan kognitif adaptif merupakan determinan penting dalam kecepatan dan ketepatan pengambilan keputusan klinis pada situasi trauma. Implikasi penelitian memberikan landasan bagi rumah sakit untuk mempertimbangkan integrasi pelatihan cognitive flexibility dalam program pengembangan kompetensi perawat IGD. Selain itu, hasil penelitian dapat menjadi dasar rekomendasi kebijakan peningkatan mutu pelayanan kegawatdaruratan melalui penguatan kapasitas kognitif tenaga kesehatan. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa kemampuan kognitif perawat bukan hanya atribut individual, tetapi juga faktor yang berkontribusi langsung pada keselamatan pasien, khususnya pada fase emas penanganan trauma
Pengaruh Terapi Komplementer SICRING terhadap Kualitas Tidur pada Pasien dengan Insomnia Ringan hingga Sedang di Wilayah Kerja Puskesmas Arcamanik Sulistiyawati, Arie; Hartiningsih, Siti Sugih; Pratama, Oktarian; Maulana, Fitriyani; Apriliana, Zahra
Healthcaring: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2025): Vol : 4 No : 2 : Periode Juli 2025
Publisher : Information Technology and Science (ITScience)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47709/healthcaring.v4i2.7537

Abstract

Gangguan insomnia merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menurunkan kualitas hidup, meningkatkan kelelahan, dan memengaruhi fungsi kognitif seseorang. Berbagai pendekatan komplementer mulai digunakan dalam pelayanan kesehatan primer untuk membantu meningkatkan kualitas tidur, salah satunya adalah terapi spiritual coherence healing (SICRING) yang mengintegrasikan teknik olah napas, olah tubuh, healing touch, dan penguatan spiritual untuk mencapai relaksasi mendalam serta keseimbangan tubuh–pikiran–jiwa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh terapi komplementer SICRING terhadap kualitas tidur pada pasien dengan insomnia ringan hingga sedang di wilayah kerja Puskesmas Arcamanik. Penelitian menggunakan desain quasi-experiment dengan pendekatan pre–post test with control group. Sampel ditentukan menggunakan teknik purposive sampling, melibatkan responden berusia 18–60 tahun yang mengalami insomnia berdasarkan Insomnia Severity Index (ISI) kategori ringan hingga sedang. Kelompok intervensi mendapatkan terapi SICRING selama 4 sesi dalam 7 hari, yang meliputi latihan olah tubuh, pernapasan koheren, healing touch, dan relaksasi spiritual terpandu, sedangkan kelompok kontrol mendapatkan edukasi sleep hygiene standar. Kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) sebelum dan sesudah perlakuan. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon dan Mann–Whitney, dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan terdapat peningkatan kualitas tidur yang signifikan pada kelompok intervensi setelah diberikan terapi SICRING (p < 0,001), sedangkan kelompok kontrol tidak menunjukkan perubahan yang bermakna (p > 0,05). Perbandingan antarkelompok juga menunjukkan perbedaan signifikan pada skor PSQI post-test (p < 0,001), yang berarti terapi SICRING lebih efektif dibandingkan edukasi sleep hygiene standar dalam meningkatkan kualitas tidur pada pasien dengan insomnia ringan hingga sedang. terapi komplementer SICRING terbukti berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kualitas tidur dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi komplementer dalam pelayanan kesehatan primer, khususnya pada pasien dengan gangguan insomnia ringan hingga sedang. Integrasi terapi ini berpotensi mendukung pendekatan holistik dan promotif di Puskesmas Arcamanik