Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Double burden, ketimpangan gender, dan produktivitas kerja perempuan pemulung di Komunitas Pemulung Pasir Panjang Kota Kupang Medho, Yohana Fransiska; Tan, Petrus; Bidi, Maximianus Ardon; Niron, Eusabius Separera
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18987

Abstract

Scavenging has been the object of scientific and academic research based on various scientific viewpoints worldwide. Still, the issue of the double burden that is experienced by women scavengers and its impact on gender inequality and women's productivity has received less attention. This research aims to explore further the effects of double burden or dual responsibility burdened by women scavengers in Komunitas Pemulung Pasir Panjang Kota Kupang, East Nusa Tenggara (NTT), to gender inequality and the productivity of women scavengers in that community. This research employed a qualitative approach including field observation and in-depth interviews. This research has found that the phenomena of double burden does not liberate women scavengers from the patriarchal chain that binds and restrains them, but instead makes them increasingly dependent on men in the economic and financial dimension of household life. In addition, they are caught in a dilemma between maximizing the option of working outside the home or taking care of their domestic work. As a consequence of the long-standing and strong internalization of a false awareness about women's natural duties, those women scavengers do not think of this as an injustice but rather an obligation that must be carried out properly and consistently.
Upaya Melestarikan Budaya Lokal Lamaholot Tenun Ikat Bagi Kaum Muda Di Desa Pledo Kecamatan Witihama Adonara Timur Kabupaten Flores Timur NTT Martha Veronika Diaz; Urbanus Ola; Eusabius Separera Niron
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 7 No. 2 (2025): Bantenese: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ps2pm.v7i2.11649

Abstract

Kebudayaan lokal merupakan salah satu komponen yang memberikan identitas dari masyarakat sebagai komunitas yang spesial. Budaya lokal setiap pulau memiliki ciri khasnya. Kebudayaan lokal terdiri dari tradisi lisan, adat istiadat, olahraga tradisional, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan ritus. Salah satu dari kebudayaan lokal ialah tenun ikat. Lamaholot adalah salah satu suku bangsa (etnis) dengan budaya khas yang melingkupi wilayah Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Suku Lamaholot mendiami wilayah meliputi Pulai Flores bagian Timur, Pulau Adonara, Pulau Solor dalam wilayah Kabupaten Flores Timur dan Pulau Lembata, Kabupaten Lembata. Lamaholot yang mendiami Pulau Adonara juga memiliki beragam budaya tepatnya di Pulau Adonara Timur, Desa Pledo, Kecamatan Witihama Kabupaten Flores Timur kebudayaan salah satunya adalah tenun ikat. Pada era globalisasi saat ini dan perkembangan zaman yang serba praktis khususnya untuk anak muda sebagai penerus budaya tenun ikat sudah kurang memahami maupun tidak tahu akan cara tenun-menenun. Karena berbagai faktor yaitu kurangnya minat kaum milenial dalam menenun, kurangnya sosialisasi dari orang tua maupun lembaga-lembaga, seperti sekolah juga karena perubahan teknologi yang semakin canggih yang membuat kaum milenial ini tidak mau dan malas untuk bergabung menenun. Beranjak dari permasalahan tersebut, dilaksanakanlah kegiatan sosialisasi dan pelatihan teknik pembuatan tenun ikat bagi kaum muda di Desa Pledo. Metode yang digunakan dalam kegiatan pengabdian ini diawali dengan tahap observasi pada tingkat pemahaman tenun ikat Lamaholot-Nulu Nuda dan wawancara pada anak muda untuk mengetahui tingkat pemahaman mereka tentang tenun ikat Lamaholot. Tahap berikut adalah melakukan sosialisasi bertempat di Kelompok tenun ikat Nulu-Nuda. Tahap terakhir adalah pelatihan pembuatan secara langsung. Dari kegiatan pengabdian ini hasilnya berupa sudah terlaksanya pengetahuan dan melatih keterampilan anak-anak muda Desa Pledo agar mampu mempelajari budaya lokal tenun ikat sehingga terus dilestarikan.