Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Monitoring Penggunaan Tools Dalam Mengimplementasikan Pembelajaran Daring: Apakah Biayanya Mahal Bagi Mahasiswa? Muhammad Syazali; Muhammad Erfan; Hasnawati Hasnawati; Lalu Wira Zain Amrullah
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 7 No. 4 (2022): Desember
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v7i4.906

Abstract

Pemanfaatan berbagai aplikasi seabgai tools untuk mendukung pembelajaran daring merupakan faktor kunci pada aspek pengajaran di perguruan tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mendeskripsikan tools yang digunakan untuk mengimplementasikan pembelajaran daring, dan (2) biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa. Jenis penelitian ini adalah penelitian survey yang dilakukan pada mahasiswa PGSD Universitas Mataram. Untuk mendapatkan data, angket diisi oleh respondent secara online melalui aplikasi google form. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dengan menganalisis angket survey dari 112 mahasiswa PGSD Universitas Mataram, tools yang digunakan selama penerapan pembelajaran daring adalah e-learning milik Universitas Mataram, Google Classroom, Whatsapp dan Telegram. Di luar penggunaan e-learning Universitas, tools yang paling banyak digunakan adalah Google Meet untuk pembelajaran tatap muka melalui video converence dan Whatsap. Biaya yang dikeluarkan oleh mahasiswa untuk mengikuti pembelajaran daring bervariasi tiap bulannya. Sebanyak 10.7% mahasiswa mengeluarkan biaya kurang dari Rp 50.000, sebanyak 49.1% di antaranya menghabiskan biaya sebesar Rp 50.000 - < Rp 100.000, sebanyak 28.6% mahasiswa mengeluarkan biaya sebesar Rp 100.000 - < Rp 200.000, sebanyak 3.6% mahasiswa mengeluarkan biaya sebesar Rp 200.000 - Rp 300.000 dan sisanya sebanyak 8% mahasiswa mengeluarkan biaya sebasar Rp 300.000. Kemudian ketika ditanya apakah biaya tersebut mahal atau tidak, 90.2% mahasiswa menjawab mahal.
WORKSHOP PENGGUNAAN CLOUD STORAGE DAN KOLABORASI PENULISAN TUGAS AKHIR SKRIPSI MAHASISWA PRODI PGSD FKIP UNIVERSITAS MATARAM Muhammad Erfan; Nurul Kemala Dewi; Siti Istiningsih; Fitri Puji Astria; Hasnawati Hasnawati
Jurnal Warta Desa (JWD) Vol. 5 No. 1 (2023): Jurnal Warta Desa (JWD)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jwd.v5i1.221

Abstract

Tugas Akhir Skripsi merupakan tugas akhir yang wajib tempuh setiap mahasiswa FKIP Universitas Mataram yang ingin menyelesaikan jenjang pendidikan sarjana. Dalam proses pengerjaan skripsi di Prodi PGSD FKIP Universitas Mataram, mahasiswa banyak menemui kendala salah satunya adalah kendala hilangnya file yang berisi data-data yang dibutuhkan pada tugas akhir skripsi. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melatih mahasiswa dalam menggunakan berbagai penyimpanan awan yang dapat digunakan untuk menunjang proses percepatan penyelesaian tugas akhir skripsi bagi mahasiswa program studi PGSD Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Mataram. Kegiatan pengabdian dilakukan dalam bentuk workshop, sosialisasi dan tutorial mengenai pembuatan akun, penggunaan akun, dan manajemen file yang disimpan pada platform penyimpanan awan. Kegiatan workshop dilakukan secara luring atau offline pada hari Ahad 21 Agustus 2022. Berdasarkan hasil survei pelaksanaan kegiatan workshop penggunaan cloud storage dan kolaborasi penulisan tugas akhir skripsi mahasiswa Prodi PGSD FKIP Universitas Mataram yang telah dilaksanakan mendapat respons positif dari para peserta.
Muatan Nilai Pendidikan Karakter pada Buku Tematik Tema 4 Kewajiban dan Hakku Subtema 1 Kelas III SD Yuyun Hartita; Muhammad Tahir; Hasnawati Hasnawati
Jurnal Educatio FKIP UNMA Vol. 9 No. 2 (2023): April-June
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/educatio.v9i2.4933

Abstract

Sekolah sebagai penyelenggara pendidikan bertujuan bukan hanya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak didik saja, namun juga menjadi wadah untuk membentuk karakter anak didik. Pendidikan karakter harus dilakukan dalam dunia pendidikan agar peserta didik dapat membentuk karakter dan mengolah diri dari hal-hal negatif. Oleh karenanya setiap perangkat pembelajaran yang digunakan harus mampu menanamkan karakter pada anak didik, termasuk juga buku pelajaran. Penelitian ini berusaha menganalisis muatan nilai-nilai pendidikan karakter pada buku tematik terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri pada Tema 4 Kewajiban dan Hakku, Subtema 1 Kelas III SD/MI Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis muatan nilai-nilai pendidikan karakter pada buku tematik terbitan Tiga Serangkai Pustaka Mandiri tema 4 kewajiban dan hakku, subtema 1 kelas III SD/MI edisi revisi tahun 2019. Dalam penelitian ini menggunakan metode dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis dokumen terdiri atas tiga proses yaitu pereduksian data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Data nilai-nilai karakter yang ditemukan pada subtema 1 yaitu nilai religius, nilai nasionalisme, nilai integritas, nilai mandiri dan nilai gotong royong. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan ditemukan sebanyak 132 data nilai karakter pada subtema 1. Adapun rincian setiap data nilai karakter tersebut yaitu: (1) religius 26; (2) nasionalisme 23; (3) integritas 38; (4) mandiri  23; (5) gotong royong 22. Berdasarkan hasil analisis pada buku tematik terbitan tiga serangkai pustaka mandiri tema 4 kewajiban dan hakku, subtema 1 kelas III SD/MI edisi revisi tahun 2019 memuat 5 nilai karakter sesuai Permendikbud No 20 tahun 2018.
Perbedaan Tingkat Pemahaman Konsep Sains Mahasiswa Calon Guru SD Ditinjau Dari Background Jurusan Sekolah Asal Hasnawati Hasnawati; Muhammad Syazali; Arif Widodo
Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Pendidikan dan Konseling
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jpdk.v5i2.12888

Abstract

Understanding of science concepts is part of the professional competencies that must be mastered by prospective elementary school teachers. This study aims to compare whether there are differences in the understanding of science concepts for elementary school teacher candidates who majored in science and non-science at senior high school. It is hoped that the research results can be used as evaluation material for lecturers in designing learning in science concept courses in tertiary institutions. This research uses a quantitative survey type method. The subjects in this study were elementary school teacher candidates. The number of samples in this study were 110 students with details of 68 coming from science majors and 42 coming from non-science majors. Data collection uses a scientific concept understanding test. Data were analyzed using the Mann-Whitney test. The results showed that the understanding of science concepts for students from science majors scored a mean rank of 62.67, while the mean rank of non-science majors was 43.89. Based on the results of the Mann-Whitney test, a value was obtained. Sig. (2-tailed), namely 0.003 <0.05, which means that there is a difference in the ability to understand science concepts between groups of students who have backgrounds in science and non-science majors. Based on the results of this study, it is recommended that lecturers conduct matriculation or introduce science concepts before learning and adapt learning to students with non-science majors backgrounds so that they have an understanding of science concepts that are on par with students with science majors backgrounds.
WORKSHOP PENGEMBANGAN KEGIATAN PEMBELAJARAN IPA BERBASIS ETNOSAINS PADA CALON GURU SEKOLAH DASAR Ketut Sri Kusuma Wardani; Fitri Puji Astria; Nurwahidah Nurwahidah; Hasnawati Hasnawati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 7, No 3 (2023): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v7i3.17239

Abstract

ABSTRAKKegiatan pembelajaran yang mengaitkan materi dengan budaya masyarakat setempat masih rendah. Kemampuan calon guru yang masih rendah dalam mengaitkan materi dengan etnosains menjadi acuan Dosen PGSD Universitas Mataram yang telah memiliki ilmu untuk turut serta aktif mengadakan pengabdian kepada masyarakat dalam bentuk workshop pengembangan kegiatan pembelajaran IPA berbasis etnosains pada calon guru sekolah dasar. Kegiatan workshop terbagi menjadi empat tahapan. Adapun tahapan secara detail yang akan dilaksanakan pada kegiatan ini yaitu persiapan, menyediakan materi pengabdian, pelaksanaan dan evaluasi. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilaksanakan, pelaksanaan kegiatan workshop ini berjalan dengan lancar dan jadwal pelaksanaan kegiatan sesuai dengan agenda yang telah direncanakan. Rangkaian kegiatan mulai dari tahap persiapan, menyediakan materi pengabdian, pelaksanaan workshop dan evaluasi berjalan dengan lancar. Untuk mengukur keberhasilan kegiatan, tim pengabdian memberikan angket respon terkait pelaksanaan pelaksanaan workshop pengembangan kegiatan pembelajaran berbasis etnosains yang dilaksanakan untuk calon guru sekolah dasar sudah terlaksana dengan sangat baik. Kata kunci: etnosains; IPA; kegiatan pembelajaran; workshop ABSTRACTLearning activities that connect material to local community culture are still scarce. Prospective elementary school teachers' ability to link material with ethnoscience is a reference for PGSD Lecturers at the University of Mataram who already have the knowledge to actively participate in community service in the form of workshops developing ethnoscience-based science learning activities. The activities of the workshop are separated into four stages. Preparation, provision of service materials, implementation, and assessment are the detailed processes that will be carried out in this activity. Based on the outcomes of the activities, the implementation of the workshop activities went successfully, and the implementation timetable was in compliance with the anticipated agenda. The preparation stage, delivering community service materials, holding workshops, and evaluating went down without a hitch. To assess the activity's success, the service team distributed a response questionnaire relating to the implementation of the ethnoscience-based learning activity development workshop for prospective primary school teachers, which was executed flawlessly. Keywords: ethnoscience; science; learning activities; workshop.
Analisis Kesulitan Guru Menyusun Soal Berbasis Higher Order Thingking Skills (HOTS) pada Muatan Materi IPS di SDN 03 Jembatan Gantung Yeni Wardatul Insani; Muhammad Tahir; Hasnawati Hasnawati
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 8 No. 3 (2023): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v8i3.1561

Abstract

Soal evaluasi berbasis HOTS sangat penting untuk diterapkan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi peserta didik seperti kemampuan berpikir kritis, berpikir kreatif, serta memecahkan masalah.  Tujuan penelitian ini mendeskripsikan kesulitan guru dalam menyusun soal evaluasi berbasis Higher Order Thingking Skills (HOTS) materi IPS kelas VI di SDN 03 Jembatan Gantung. Penelitian ini berupa deskriptif kualitatif dengan Subjek adalah Guru kelas VI SDN 03 Jembatan Gantung. Data dikumpulkan dengan wawancara dan studi dokumentasi. Instrumen wawancara yang diajukan sebanyak 15 butir soal pertanyaan mengenai kesulitan guru dalam menyusun dan mengembangkan soal berbasis HOTS. Data dianalisis mengunakan analisis Milles dan Huberman. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa ada beberapa bentuk serta faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan guru dalam menyusun soal evaluasi berbasis HOTS yang diperoleh dari hasil wawancara serta analisis soal UAS. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa bentuk bentuk kesulitan yang dialami guru yaitu Kesulitan menganalisis Kompetensi(KD) dan menyusun indikator soal, menyusun kisi-kisi soal, menyusun butir soal sesuai dengan kisi-kisi, serta membuat acuan penskoran penilaian dan kunci jawaban. Kesulitan guru tersebut dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: Keterbatasan waktu untuk menyusun soal berbasis HOTS sesuai dengan tahapan yang benar, keberagaman kemampuan peserta didik, dan kurangnya pelatihan dan pendampingan penyusunan soal HOTS.
Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Mahasiswa Pasca Pembelajaran Daring Hasnawati Hasnawati; Arif Widodo
Journal on Education Vol 6 No 1 (2023): Journal On Education: Volume 6 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v6i1.4616

Abstract

Critical thinking skills are an important element that students must have in elementary science learning. Therefore, it is necessary to reveal students' critical thinking abilities in elementary school science learning. Moreover, looking at post-pandemic conditions or online learning in the last few semesters, this research aims to analyze the profile of critical thinking abilities of PGSD students after online learning. According to Peter A, Facione, critical thinking indicators used as a reference in this research include: interpretation, analysis, explanation, inference, evaluation and self-regulation. The research carried out is a type of quantitative research with a descriptive approach. The research subjects were 118 randomly selected students in the second semester of PGSD FKIP Unram who were programming elementary school science education courses. Students' critical thinking ability categories are categorized into 3, namely high, medium and low. The analysis results showed that 19 people or 16.10% of the sample measured had high critical thinking abilities, 82 people or 69.49% of people had moderate critical thinking abilities and the remaining 17 people or 14.41% were still in the low category. So it is necessary to improve the quality of lectures in order to improve students' critical thinking skills, especially prospective elementary school teachers