Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Elkawnie

Sintesis Silika Dari Abu Sekam Padi Dan Pengaruhnya Terhadap Karakteristik Bata Ringan Meliyana Meliyana; Cut Rahmawati; Lia Handayani
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 5, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v5i2.5533

Abstract

Pemanfaatan limbah pertanian yaitu abu sekam padi menjadi silika merupakan upaya untuk mengurangi dampak lingkungan. Abu sekam padi mengandung banyak silika sehingga sangat layak untuk dimanfaatkan. Bata ringan sebagai material dinding memiliki kekurangan terutama pada kuat tekan dan daya serap air, hal ini disebabkan karena penggunaan foaming agent menyebabkan pori-pori membesar dan kuat tekan menurun. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh silika yang disintesis dari abu sekam padi terhadap karakteristik bata ringan. Kinerja bata ringan ditinjau terhadap kuat tekan, daya serap air, dan kuat tekan setelah terjadi peningkatan suhu. Sintesis silika dengan metode sol-gel menggunakan NaOH 2,5 N dan HCl 1 N. Dari pengamatan XRF dan FTIR menunjukkan silika yang dihasilkan dari abu sekam padi cukup baik dengan kandungan silika 89,17%.  Silika yang dihasilkan dicampurkan ke dalam campuran bata ringan berdasarkan berat semen sebesar 0,5, 10 dan 15%. Massa jenis bata ringan dikontrol pada 800 kg/cm2. Hasil penelitian menunjukkan bata ringan mengalami peningkatan kuat tekan hingga 3,11 MPa, namun pengaruh silika terhadap daya serap air tidak menunjukkan ada pengaruh yang signifikan. Pada pengujian terhadap pembakaran pada suhu 200 – 400°C selama 25 menit menunjukkan ada penurunan kuat tekan, namun bata ringan pada penambahan silika 5% sudah terlihat rapuh. Penambahan silika pada bata ringan dapat diaplikasikan.
Aplikasi Program HEC-RAS 5.0.3 Pada Studi Penanganan Banjir Ichsan Syahputra; Cut Rahmawati
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 4, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v4i2.3509

Abstract

Sungai Krueng Tukah memiliki DAS 59,51 Km2 dan panjang 25 Km serta bermuara di Selat Malaka. Sungai Krueng Tukah mengalami perubahan  kondisi sungai, tataguna lahan dan pertumbuhan penduduk sehingga sungai tidak lagi berfungsi secara optimal. Banjir pada Sungai Krueng Tukah menimbulkan kerusakan bangunan, lahan pertanian, dan lingkungan hidup. Hal ini terjadi di Kabupaten Pidie, khususnya di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Tukah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kemampuan volume tampang sungai Krueng Tukah dalam menampung debit periode ulang Q2, Q5, Q10, Q25 sampai Q50 tahun dengan menggunakan Program HEC-RAS 5.0.3 dan memberikan solusi persoalan banjir yang ada di sepanjang sungai. Metode yang digunakan adalah studi kasus. Lokasi penelitian adalah Sungai Krueng Tukah, Kota Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh Data primer diperoleh dengan melakukan survei topografi dan pengamatan langsung kondisi sungai dan wawancara. Data sekunder berupa data curah hujan dari stasiun Keumala, Kota Bakti dan Padang Tiji. Hasil penelitian menunjukkan Curah hujan R2 sebesar 94,85 mm, R5=125,56 mm, R10= 48.65 mm, R25=181,21 mm dan R50=211,82 mm. Debit banjir diperoleh sebesar Q2=59,28 m3/det, Q5=96,05 m3/det, Q10=123,71 m3/det, Q25=155,52 m3/det dan Q50=201,47 m3/det. Dari hasil perhitungan terlihat Sungai Krueng Tukah tidak mampu menampung banjir lebih dari Q25 tahun. Penanganan normalisasi sungai dan kolam retensi adalah upaya penanganan banjir sungai Krueng Tukah yang harus dilakukan.Krueng Tukah River with a catchment area 59.51 Km2 and length is 25 km and downstream into the Malacca Strait. The Krueng Tukah River experienced changes in river conditions, land use, and population growth so that the river no longer functioned optimally. Floods on the Krueng Tukah River caused damage to buildings, agricultural land, and the environment. This happened in Pidie District, especially in the Krueng Tukah catchment area. This study aims to analyze the bankfull capacity of the Krueng Tukah river to accommodate return period Q2, Q5, Q10, Q25 to Q50 years with the HEC-RAS 5.0.3 Program and provide solutions to flood problems the river. The method used is a case study. The research locations were the Krueng Tukah River, Sigli City, Pidie District, Aceh. Primary data was obtained by topographic surveys and field observation of river conditions and interviews. Secondary data in the form of rainfall data from Keumala Station, Bakti City, and Padang Tiji. The results showed that R2 rainfall was 94.85 mm, R5 = 125.56 mm, R10 = 48.65 mm, R25 = 181.21 mm and R50 = 211.82 mm. Flow discharge was obtained at Q2 = 59.28 m3 / sec, Q5 = 96.05 m3 / sec, Q10 = 123.71 m3 / sec, Q25 = 155.52 m3 / sec and Q50 = 201.47 m3 / sec. The calculation results, it was that the Krueng Tukah River was unable to accommodate floods for more than Q25 years. Handling the normalization of rivers and retention ponds is an effort to handle the floods of the Krueng Tukah river that must be done.
The Characterization of Oyster Shell (Crassostrea gigas) as Adsorbent in The Removal of Cr(VI) Ions. A Study of NaOH and H2SO4 Activation Effect Lia Handayani; Cut Rahmawati; Nurhayati Nurhayati; Yayuk Astuti; Adi Darmawan
Elkawnie: Journal of Islamic Science and Technology Vol 6, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v6i1.5543

Abstract

Abstract : Oyster shell as one of the highest bio-waste in Alue Naga Aceh Besar District, Indonesia, was used as an adsorbent to remove a heavy metal Cr (VI) ion. The study was started by calcinating oyster shells at a high temperature of 800 ºC for 3 hours. The effect of various acid (H2SO4) and base (NaOH) activator was studied using characterization and adsorption experiments. The characterization obtained the sample activated by 10% NaOH (Na10-ACT) and 10% H2SO4 (H10-ACT) had the highest surface area which had 14.23 m2/g, 10.77 m2/g, respectively. Furthermore, the adsorption experiments confirmed the highest surface area by showing the highest Cr (IV) ion removal of 57.66%, 70.7%, respectively. The further investigation using X-ray fluorescence (XRF) determined that the Na10-ACT adsorbent has a better composition compared to the H10-ACT due to its high purities.Abstrak : Cangkang tiram sebagai salah satu bio-limbah padat di Desa Alue Naga Kabupaten Aceh Besar, digunakan sebagai adsorben untuk menghilangkan ion logam berat Cr (IV). Penelitian ini diawali dengan mengkalsinasi cangkang tiram pada temperatur tinggi 800ºC selama tiga jam. Pengaruh penambahan aktivator asam (H2SO4) dan basa (NaOH) juga dipelajari melalui karakterisasi dan pengujian adsorpsi. Hasil karakterisasi menunjukkan sampel yang diaktivasi dengan 10% NaOH (Na10-ACT) dan 10% H2SO4 (H10-ACT) memiliki luas permukaan tertinggi yaitu 14,23 m2/g, 10,77 m2/g, masing-masing. Lebih lanjut, pengujian adsorpsi juga mendukung luas permukaan yang tinggi dengan menghilangkan ion Cr (IV) sebesar 57,66%, 70,7%, masing-masing. Investigasi melalui analisa XRF menyimpulkan bahwa Na10-ACT memiliki komposisi yang lebih baik dibanding H10-ACT karena memiliki kemurnian yang tinggi.