Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Evaluation of the Impact of the Asthma Management Module on the Physical and Psychological Health of Patients Hamarno, Rudi; Hanan, Abdul; Hidayah, Nurul
Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia (JIKI) Vol. 9 No. 3 (2023): Vol 9 No 3 (2023) Special Issue: Jurnal Informasi Kesehatan Indonesia
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31290/jiki.v9i3.5245

Abstract

Modul manajemen asma dikembangkan sebagai strategi edukasi untuk meningkatkan pemahaman dan kepatuhan pasien terhadap terapi, namun efektivitasnya dalam meningkatkan aspek fisik dan psikologis pasien masih perlu dievaluasi. Penelitian ini bertujuan untuk menilai efektivitas modul dalam meningkatkan tingkat pengetahuan, perubahan perilaku pengelolaan asma, serta dampaknya terhadap kesehatan fisik dan psikologis pasien. Menggunakan desain quasi-eksperimental dengan pendekatan pretest-posttest tanpa kelompok kontrol, penelitian ini melibatkan 50 pasien asma di Puskesmas Pandanwangi, Kota Malang. Modul diberikan dalam tiga sesi edukasi selama tiga bulan, mencakup pemahaman asma, teknik penggunaan inhaler, strategi penghindaran pemicu, serta teknik relaksasi untuk mengurangi stres. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner pretest dan posttest, observasi perilaku, serta pengukuran skor Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21) dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan pasien (48% menjadi 87%, p < 0,01), kepatuhan penggunaan inhaler (55% menjadi 90%), dan perilaku penghindaran pemicu (40% menjadi 92%). Dari aspek fisik, frekuensi eksaserbasi menurun dari 3 kali menjadi 1 kali per bulan, sementara gangguan tidur akibat gejala malam hari berkurang dari 72% menjadi 30%. Dari aspek psikologis, skor kecemasan pada DASS-21 menurun dari kategori sedang (16) menjadi ringan (8, p < 0,01). Dengan demikian, modul manajemen asma terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, mengubah perilaku pengelolaan, serta memperbaiki kondisi fisik dan psikologis pasien. Integrasi modul ini dalam layanan kesehatan primer direkomendasikan untuk meningkatkan efektivitas manajemen penyakit kronis secara sistematis.
Pengaruh Meremas Squishy Terhadap Tingkat Kecemasan Pada Pasien Pre Operasi Dengan General Anestesi Di Instalasi Bedah Rumah Sakit Wava Husada Maharani, Karmelia Dwi; Hamarno, Rudi; Subekti, Imam; Astuti, Erlina Suci
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.382

Abstract

Kecemasan pra operasi merupakan masalah psikologis yang umum dialami pasien, khususnya pada tindakan dengan general anestesi, yang dapat berdampak negatif terhadap kondisi fisiologis pasien selama operasi. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang sederhana untuk mengurangi kecemasan adalah teknik relaksasi meremas squishy yang memberikan efek menenangkan melalui stimulasi sensorik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intervensi meremas squishy terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan general anestesi di Instalasi Bedah RS Wava Husada. Penelitian menggunakan desain quasi-eksperimen dengan pendekatan Non-Equivalent Group Pre-test dan Post-test pada 36 responden yang mengalami kecemasan sedang hingga berat. Kelompok perlakuan diberikan intervensi meremas squishy selama 2–5 menit pada 30–60 menit sebelum operasi, sedangkan tingkat kecemasan diukur menggunakan kuesioner Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS). Hasil analisis Mann-Whitney menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara skor kecemasan pre-test dan post-test dengan nilai p = 0,000 (<0,05). Hasil ini membuktikan bahwa teknik meremas squishy efektif dalam menurunkan kecemasan pra operasi. Intervensi ini dapat direkomendasikan sebagai alternatif sederhana dalam asuhan keperawatan untuk meningkatkan kenyamanan pasien sebelum tindakan pembedahan.
Manfaat Peer Teaching Untuk Meningkatkan Pengetahuan Siswa SMK Tentang Pertolongan Pertama Pada Kasus Perdarahan dan Fraktur Terbuka Arif, Taufan; Solikhah, Fitriana Kurniasari; Hamarno, Rudi; Rahma Faradisa, Ahda Fina; Mawadati, Vida; Alfarizi, Aulia Fahmi; Habibi, Yumarsanni; Andrea, Kanesya Putri; Salva Salsa Billa, Adinda Dwi; Mabruroh, Ulum; Siswati, Siswati
Jurnal Abdi Medika Vol 4 No 2 (2024): Jurnal Abdi Medika Desember 2024
Publisher : INSTITUT TEKNOLOGI SAINS DAN KESEHATAN INSAN CENDEKIA MEDIKA JOMBANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35874/jam.v4i2.1411

Abstract

Kejadian kecelakaan dapat terjadi dimana saja dan pada waktu kapan saja. Salah satu garda terdepan dalam memberikan pertolongan korban kecelakaan adalah masyarakat umum. Salah satu masyarakat umum atau sering disebut masyarakat awam adalah siswa sekolah. Kesalahan penatalaksaan pada kasus fraktur akan membuat kondisi korban menjadi semakin parah. Tujuan Pengabdian Masyarakat ini adalah peserta dapat melakukan pertolongan pertama pada kasus fraktur terbuka yang disertai perdarahan. SMK Al-rifa’ie memiliki Palang Merah Remaja yang baru terbentuk sehingga masih banyak yang belum mengetahui tindakan yang diperlukan jika ada korban mengalami kegawatdaruratan. Target dan luaran kegiatan ini adalah menanamkan jiwa kegawatdaruratan tentang pertolongan pertama pada kasus perdarahan dan fraktur terbuka. Metode serta cara pelaksanaan Pengabdian Masyarakat terdiri dari tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Lokasi kegiatan di SMK Modern Al – Rifa’ie Malang dengan jumlah peserta 72 orang dan dibagi 3 kelompok. Kegiatan dilaksanakan tanggal 12-27 Oktober 2024. Tingkat pengetahuan sebelum diberikan sosialisasi mayoritas termasuk dalam kategori tingkat pengetahuan kurang (61%), sedangkan setelah diberikan sosialisasi mayoritas termasuk memiliki tingkat pengetahuan baik (76%). Terdapat peningkatan pengetahuan siswa tentang pertolongan pertama pada kasus perdarahan dan fraktur terbuka di SMK Modern Al-Rifa’ie Malang. Diharapkan materi ini dalam dimasukkan kedalam kurikulum pendidikan SMK Modern Al-Rifa’ie Malang agar mendukung sistem penanggulangan gawat darurat terpadu.
Manfaat Teknik Relaksasi Napas Dalam Untuk Menurunkan Kecemasan Pasien Pre Operasi General Anastesi Hamarno, Rudi; Arif, Taufan; Oktavia, Devi Ayu; Supono
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 9 No 3 (2024): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v9i3.22772

Abstract

Introduction: Preoperative patients with anxiety will cause an increase in breathing frequency and heart rate, potentially resulting in the cancellation of surgery. Anxious patients will be intervened through deep breath relaxation techniques that are proven to reduce anxiety levels. Method: The research design is "quasi-experimental" with a " Non-Equivalent Group Design Pre and Post Test" approach. The sampling method used was purposive sampling with a total of 20 respondents divided into two groups. Determination of respondents based on the inclusion criteria of general anesthesia patients, compositional awareness with moderate-severe APAIS anxiety levels who have scheduled surgery at Karsa Husada Batu Hospital. The independent variable is deep breath relaxation, and the dependent variable is anxiety level. Univariate analysis to determine the characteristics of respondents. Bivariate analysis using paired t-test and independent t-test to determine the difference between the two groups. Results: The paired t-test in the pre-post control group resulted in a p-value of 0.823, indicating an average increase of 0.80. Conversely, in the pre-post treatment group, the p-value was 0.000, signifying a mean decrease of 4.00. In the independent t-test between the control and treatment groups in the post-test, the p-value was 0.002. Discussion: Deep breath relaxation improves lung ventilation and blood oxygenation, involving the medulla oblongata which controls the cardiovascular and HPA which regulates the neuendocrine system. Activation of ACTH and CRH increases cortisol secretion, which is associated with anxiety.
Hubungan Status Fisik Pra Anestesi Dengan Waktu Pulih Sadar Pasien Post Operasi Dengan General Anesthesia Hamarno, Rudi; Arif, Taufan; Arifaen, Aditya Mauludin Afkar Nur Arij; Ciptaningtyas, Maria diah
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 9 No 4 (2024): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/jkm.v9i4.23184

Abstract

Introduction: The duration of recovery of consciousness in postoperative patients with general anesthesia is a common problem after the patient is transferred to the recovery room. The recovery period of patients after surgery and general anesthesia is influenced by several factors, one of which is the physical condition before anesthesia based on ASA status. The purpose of this study was to determine the relationship between ASA status and the recovery time of patients after surgery with general anesthesia in the recovery room. Method: The study design used a "cross-sectional" approach. The average population per month was 139 postoperative patients using general anesthesia aged 26-65 years. The sampling method used purposive sampling with 59 respondents. Determination of respondents was based on the inclusion criteria of patients undergoing elective surgery aged 26-65 years, patients who received ASA status 1 and 2. Data analysis tests used descriptive statistical tests to determine the characteristics of respondents. Results: Bivariate analysis used the Spearman rank test to determine the relationship between pre-anesthesia physical status and the recovery time of patients after surgery with general anesthesia. The results of the bivariate test of ASA physical status with a p-value of 0.000. Discussion: Pre-anesthesia physical status is related to the recovery time of patients after surgery with general anesthesia. Physical status conditions with accompanying illnesses can interfere with the anesthesia process and post-anesthesia recovery.
Sosialisasi Status Fisik Berbasis ASA terhadap Saturasi Oksigen pada Pasien Post Operasi dengan General Anestesi Miftakhul Jannah, Arinda; Hamarno, Rudi; Budiono, Budiono; Supono, Supono
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/9vvqk133

Abstract

Sistem ASA (American Society of Anesthesiologists) merupakan metode evaluasi praoperasi untuk menentukan status fisik pasien. Pasien dengan status ASA lebih tinggi berisiko mengalami gangguan kardiovaskular yang dapat menurunkan aliran darah dan transportasi oksigen ke jaringan, terutama setelah menjalani anestesi umum yang dapat menyebabkan hipoventilasi dan penurunan saturasi oksigen. Kegiatan ini menggunakan desain analitik korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel diambil secara purposive sampling sebanyak 71 pasien post operasi dengan general anestesi di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Data status fisik berbasis ASA dan saturasi oksigen dikumpulkan melalui observasi dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman Rank. Mayoritas responden memiliki status fisik ASA II (60,6%). Hampir setengah dari responden mengalami saturasi oksigen <95% (49,3%). Hasil uji Spearman Rank menunjukkan nilai signifikansi dengan koefisien korelasi -0,582, menandakan terdapat hubungan negatif sedang antara status fisik berbasis ASA dan saturasi oksigen pada pasien post operasi dengan general anestesi. Terdapat hubungan yang signifikan antara status fisik berbasis ASA dan saturasi oksigen pada pasien post operasi dengan general anestesi di RSUD dr. Iskak Tulungagung. Semakin tinggi status ASA, semakin besar risiko penurunan saturasi oksigen pada pasien tersebut.  
Head-up Position did not Correlated with the Recovery Time of Lower Extremity Motor Function in Spinal Anesthesia Patiens Taufan Arif; Rudi Hamarno; Bisma Surya Bharata; Arief Bachtiar
Journal of Ners and Midwifery Vol 12 No 2 (2025)
Publisher : STIKes Patria Husada Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26699/jnk.v12i2.ART.p115-123

Abstract

Patients who are delayed in recovery after spinal anesthesia will be transferred to the post anesthesia care unit (PACU) which can lead to increased service costs and patient dissatisfaction. Lower extremity motor function recovery time after spinal anesthesia is the time it takes for patients to be able to move from the recovery room to the patient's original room. The purpose of this study was to determine the correlation of Head-up position to the recovery time of lower extremity motor function in spinal anesthesia patients in the recovery room. The design of the study was correlation with a “cross-sectional” approach. The population was post-spinal anesthesia patients in the recovery room who meet the criteria. The study used "purposive sampling" with 96 post-spinal anesthesia patients. The independent variable was the head-up position, while the dependent variable was the recovery time of lower extremity motor function. The analysis test used the Pearson correlation test. The results of the correlation test showed no correlation between head-up position and recovery time of lower extremity motor function in spinal anesthesia patients with p-value = 0.099 (>0.05). This was due to the longer the duration of surgery, the faster the effect of spinal anesthesia drugs will run out. It is recommended to apply the results of this study as a review of SOPs related to the intervention of giving a head-up position to post-spinal anesthesia patients in the recovery room.
Edukasi Massage Dengan Relaksasi Napas Dalam Terhadap Skala Nyeri pada Tindakan Injeksi IV Line Nisfullaila, Aidatun; Hamarno, Rudi; Pujiastuti, Nurul; Martiningsih, Wiwin
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/f20w6d45

Abstract

Beberapa pasien mengalami nyeri hebat setelah menjalani prosedur operasi. Nyeri yang dirasakan pasien terutama setelah prosedur bedah seringkali sangat parah serta dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan meningkatkan kecemasan pasien. Namun, beberapa tindakan medis untuk penanganan nyeri juga dapat menyebabkan efek nyeri. Seperti tindakan injeksi obat anti nyeri melalui intravena yang sering menimbulkan rasa nyeri dan tidak nyaman saat diberikan kepada pasien. Untuk mengetahui efektifitas massage dan relaksasi napas dalam terhadap skala nyeri pada tindakan injeksi obat iv line pasien post operasi. Desain yang digunakan dalam kegiatan ini adalah quasy experiment tanpa menggunakan kelompok kontrol acak, peneliti melakukan kegiatan dari efek massage dan relaksasi napas dalam terhadap nyeri pada tindakan injeksi iv line pasien post operasi. Skala nyeri dari kedua kelompok perlakuan dapat dibandingkan sesudah intervensi untuk melakukan kegiatan ini. Menunjukkan hasil uji independent sample t-test setelah diberikan perlakuan massage dan relaksasi napas dalam ada perbedaan rata-rata hasil antara kedua kelompok perlakuan. Berdasarkan hasil kegiatan yang telah dilakukan didapatkan hasil adanya perbedaan efektifitas massage dan relaksasi napas dalam terhadap skala nyeri pada tindakan injeksi IVline pasien post operasi.