Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Studi Etnografi Virtual Kehidupan di Balik Akun Twitter K-Popers Dalam Perspektif Dramaturgi Imma Latifa; Sugeng Harianto
Communication Vol 14, No 1 (2023): Communication
Publisher : Fakultas Komunikasi & Desain Kreatif - Universitas Budi Luhur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36080/comm.v14i1.2133

Abstract

Perbedaan idola, genre musik, hingga perbedaan sikap dan perilaku anggota grup terkadang membuat antarpenggemar bentrok di media sosial. Mereka saling beradu argumen, hingga melemparkan cacian dan makian ke penggemar lain yang dinilai tidak mempunyai kesamaan opini dengan mereka. Hal tersebut juga membuat penggemar K-Pop dianggap menakutkan oleh pengguna media sosial lainnya, karena tidak dapat menerima perbedaan opini. Namun di dunia nyata, pengguna media sosial cenderung berperilaku berbeda dengan ketika berada di dunia virtual atau media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan sikap, perilaku, serta image yang dibentuk para penggemar K-Pop di akun media sosial twitter dan perbedaannya dengan di dunia nyata. Metode kualitatif serta pendekatan etnografi virtual digunakan dalam penelitian ini. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah observasi terhadap akun twitter kedua informan dan wawancara mendalam. Data kemudian akan dianalisis berdasarkan perspektif teori dramaturgi. Hasil penelitian menujukkan bahwa setiap orang selalu memiliki lebih dari satu sisi yang ingin dirinya perlihatkan. Namun, sebelum memperlihatkan sisi lainnya tersebut, ia akan mempertimbangkan terlebih dahulu apa saja yang perlu disiapkan untuk menunjukkan sisi lain dirinya. Kedua informan sama-sama menyiapkan pengetahuannya terkait dunia penggemar, grup idola, dan budaya fangirling agar bisa masuk dan menjadi bagian dari komunitas tersebut. Reaksi ekspresif terhadap idolanya dan penggunaan bahasa yang sepenuhnya berbeda dengan kehidupan sehari-hari menunjukkan bahwa kedua informan ingin memperlihatkan image layaknya K-Popers mayoritas di Indonesia. Kedua informan lebih memilih menggunakan bahasa gaul yang biasa digunakan anak muda di perkotaan daripada bahasa jawa selama melakukan fangirling. Namun, sikap dan perilaku tidak mengikuti war antarpenggemar maupun ikut serta meramaikan hashtag juga menunjukkan bahwa kedua informan tidak selalu ingin terlihat seperti mayoritas perilaku K-Popers lainnya.
Kajian Literatur: Kebudayaan dan Kearifan Lokal Suku Badui dalam Menghadapi Pandemi Covid-19 Anisatul Khanifah; Sugeng Harianto
Journal Social and Humaniora Vol 23 No 1 (2023)
Publisher : Udayana University Press bekerjasama dengan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/PJIIB.2023.v23.i01.p04

Abstract

Eksistensi virus covid-19 memberikan dampak negatif yang merugikan, korban jiwa akibat virus covid-19 di indonesia menunjukkan bahwa virus covid-19 sangat berbahaya, beberapa kebijakan telah dilakukan oleh pemerintah demi menekan penyebaran covid-19. Tetapi sampai saat ini masih ada kawasan dengan 11.800 penduduk dimana hanya ada dua orang yang terpapar covid-19 yaitu Suku Badui. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana suku badui dengan kebudayaan dan kearifan lokalnya mampu menghadapi pandemi covid-19. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode studi Literatur. Kajian literatur dijadikan sebagai dasar dalam membangun konsep bahasan. Data yang digunakan berasal dari data sekunder seperti jurnal, artikel, laporan penelitian, buku dan situs-situs internet terpacaya yang relevan terhadap topik bahasan. Penelitian ini menunjukkan bahwa (1) Masyarakat adat badui memilki dua sisem pemerintahan yakni nasional dan adat (2) Masyarakat adat badui menyebut tetua adat suku badui dengan sebutan Pu’un, pu’un memiliki kekuasaan dan kewenangan yang sangat tinggi (3) Pu’un memberikan arahan untuk taat terhadap protokol kesehatan. Sehingga Masyarakat adat badui sangat patuh terhadap anjuran Pu’un untuk mematuhi protokol kesehatan sebagai salah satu faktor berhasilnya suku badui menghadapi covid-19
Survival Strategies of Madurese Ethnic Street Vendors in Surabaya City During the Covid-19 Pandemic Fitria Dayanti; Sugeng Harianto
TEMALI : Jurnal Pembangunan Sosial Vol 6, No 1 (2023): TEMALI Vol. 6 No. 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jt.v6i1.15413

Abstract

Since the emergence of Covid-19, the lives of informal workers have changed, and street vendors are no exception. This happened because government policies limited the space for people to move, impacting informal workers' income. There is a demand to survive amid declining income during the Covid-19 pandemic, requiring strategies so that informal workers can survive. This article explores the problems experienced by overseas street vendors during the Covid-19 Pandemic. It analyzes the survival strategies by conducting a case study of ethnic Madurese street vendors in Surabaya, Indonesia. This study uses a descriptive qualitative method with a knife of theoretical analysis survival mechanism of James C Scott. This research was conducted in 2021 in the city of Surabaya. Data collection was carried out utilizing observation and in-depth interviews. The results show that several survival strategies are used by overseas street vendors, especially ethnic Madurese as urban people, namely reducing employee salaries, spending management and making priority scales, doing side jobs, and relying on social relations.
Pola Pengasuhan Anak Stunting di Kabupaten Bangkalan Anggi Sintya Dewi; Sugeng Harianto
Jurnal Community Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : Prodi Sosiologi FISIP Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jcpds.v9i1.6755

Abstract

The global prevalence of stunting in the world, including in Indonesia, is still high. Parenting patterns of feeding in the First 1000 Days of Life affect nutritional intake which has a direct impact on the incidence of stunting. Support for good nutritional intake requires the ability of mothers to provide care for children. The highest stunting rate in East Java is in Bangkalan Regency. This study aims to find out how the pattern of parenting children in Bangkalan Regency results in high cases of stunting there. This study uses qualitative methods with an ethnomethodological approach to patterns of action. The data collection technique in this article uses in-depth interview techniques with a number of families whose children are stunted. The research sample was taken by purposive sampling. Data on stunting families was taken from the Family Planning Office for Women's Empowerment and Child Protection in Bangkalan Regency. The results of this study indicate that stunting in children is caused by bad parenting. Bad parenting of children due to lack of knowledge of the mother. Suggestions to educational institutions, health centers, and mothers who have toddlers should synergize with each other to improve the nutritional status of toddlers starting from adding insight or knowledge of the importance of good parenting to reduce the risk of stunting.
Meluasnya Anggapan “Lumrah” Terhadap Sex Bebas Di kalangan Remaja Wilayah Perkotaan Shofi Rizq Najmah Shabrina; Pambudi Handoyo Handoyo; Sugeng Harianto
BANTENESE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol. 5 No. 1 (2023): Bantenese : Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Pusat Studi Sosial dan Pengabdian Masyarakat Fisipkum Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/ps2pm.v5i1.6647

Abstract

Permasalahan terkait sex bebas menjadi fenomena yang bukan lagi menjadi sebuah rahasia publik, hal ini dikarenakan sudah banyak terjadi perilaku sex bebas di wilayah perkotaan yang menganggap bahwa hal tersebut ialah hal yang “lumrah”. Pemikiran orang-orang tersebut sangat bertolak belakang dengan wilatyah Indonesia. Budaya di Indonesia sangat melarang keras hal tersebut dilakukan oleh orang yang tidak bersuami istri dan bahkan para remaja-remaja yang notabenya tidak memiliki cukup ilmu terkait masalah dan akibat yang ditimbulkan setelah melakukan sex bebas. Munculnya perilaku sex bebas ini diawali dari adanya rasa ketertarikan antar lawan jenis, yang selanjutnya mereka menjalin hubungan dengan begitu dekat yang biasanya di kenal dengan istilah “pacaran”. Tujuan penelitian ini ialah memberikan gambaran fenomena di wilayah perkotaan yang menganggap normal perilaku Sex bebas dan mampu menjadi kontrol bagi para remaja atau masyarakat lainnya tanpa memandang usia, sehingga fenomena ini dapat segera mereda dan diminimalisir kembali. Metode penelitian yang digunakan yakni metode kualitatif dengan melalui pendekatan secara fenomenologi dan studi pustaka. Hasil penelitian yang diperoleh yakni diketahui bahwa anggapan “lumrah” memang sudah mendominasi masyarakat perkotaan. Hal ini dikarenakan kehidupan sekarang yang terbilang bebas sehingga masyarakat sudah tidak lagi terkejut akan perilaku-perilaku anak zaman sekarang.
Dynamics of Female Teacher Mover in the Learning Community Ervina Halit; Sarmini Sarmini; M. Jacky; Sugeng Harianto; Agus Suprijono
Jurnal Syntax Transformation Vol 5 No 9 (2024): Jurnal Syntax Transformation
Publisher : CV. Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jst.v5i9.975

Abstract

The role of women in education is increasingly important, especially in the context of career development and leadership. This study aims to look at the dynamics of women in the Teacher Mover program in learning communities, including the challenges faced, the seniority dilemma, and their role in curriculum implementation. The research approach used is qualitative with a phenomenological design. The research subjects consisted of female teachers who have graduated and have a Teacher Mover certificate. Data collection techniques were conducted through interviews and documentation, followed by data analysis through data reduction, presentation, and verification. The results show that (1) women's struggles in the Teacher Mover program include a rigorous selection process and six months of training; (2) the dilemma faced relates to the perception of seniority in the school that often doubts their abilities; and (3) the presence of women as Teacher Mover proves significant in leading learning and contributing to seminars related to the independent curriculum. This research highlights the importance of environmental support for women's career development in education, as well as the need for policies that strengthen women's position in learning communities. The findings are expected to provide insights for the development of more inclusive education policies.
Modul Ajar Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila Berbasis Tema Kearifan Lokal untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi Budaya di SMA Negeri 1 Babat, Lamongan Anindita Surya Mahanani; Agus Suprijono; Sugeng Harianto
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 4 No. 1 (2023): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v4i1.273

Abstract

The independent curriculum is a new color in learning activities and also as a means of improving the quality of education after the Covid-19 pandemic. The implementation is based on Permendikbudristek number 56 of 2022. The characteristic of the independent curriculum is the cultivation of character values of the Pancasila Student Profile Strengthening Project whose actualization is packaged in Project-based learning. The learning is a Project for Strengthening the Profile of Pancasila Students in which there are several themes, one of which is the theme of local literacy. This study aims to see how the implementation of the Teaching Module of the Pancasila Student Profile Strengthening Project on the Theme of Local Wisdom in improving students' cultural literacy skills at SMA Negeri 1 Babat, Lamongan which has the status of an independent school has changed. As a result, the implementation showed that the teaching module of the Pancasila student profile strengthening project with the theme of local wisdom was able to improve cultural literacy skills by looking at the average score gain, namely before treatment of 77 and after treatment of 88.3. Then the percentage of implementation that has been carried out well and the positive response of students to these learning activities.
Peningkatan Partisipasi Politik Melalui Edukasi Pemilih: Upaya Pengabdian Masyarakat di Desa Tlatah, Bojonegoro Rahma Nur Mayasari; Sugeng Harianto; Ahmad Ridwan; Farid Pribadi
Madaniya Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Studi Bahasa dan Publikasi Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53696/27214834.1107

Abstract

Peningkatan partisipasi politik masyarakat desa menjadi langkah penting untuk mendukung demokrasi yang sehat. Artikel ini membahas program penyuluhan masyarakat di Desa Tlatah, Bojonegoro, yang bertujuan meningkatkan partisipasi pemilih dalam Pemilu 2024 dan menekan angka golput. Kegiatan ini melibatkan mahasiswa dari berbagai universitas di Jawa Timur di bawah bimbingan Algoritma Research and Consulting, dengan pendekatan fenomenologi dan metode penyuluhan interaktif. Program ini dirancang melalui pelatihan, koordinasi dengan pengurus desa, dan penyampaian materi edukasi politik berbasis diskusi serta simulasi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan kesadaran politik masyarakat, berkurangnya angka golput, dan antusiasme lebih besar terhadap partisipasi dalam pemilu. Dengan pendekatan yang terstruktur dan relevan, kegiatan ini memberikan kontribusi nyata dalam memberdayakan masyarakat desa untuk mendukung proses demokrasi secara aktif.
Study of Corporal Punishment in Schools in Indonesia, 1966-2014 Nasution Nasution; Sugeng Harianto; Esa Putra Bayu Gusti Gineung Patridina; Izzatul Fajriyah; FX Sri Sadewo; Wasino; Arifeen Yama
Paramita: Historical Studies Journal Vol. 35 No. 1 (2025): History of Education
Publisher : istory Department, Faculty of Social Sciences, Universitas Negeri Semarang in collaboration with Masyarakat Sejarawan Indonesia (Indonesian Historical Society)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/paramita.v35i1.16118

Abstract

Abstract: This study investigates the practice of corporal punishment in Indonesian schools across three major political periods—Sukarno, the New Order, and the Reform era—before implementing the Child-Friendly School Policy in 2014. Employing a historical method within a case study framework, this research draws on in-depth interviews with six purposively selected individuals who experienced corporal punishment during their school years. Findings reveal that corporal punishment was normalized in earlier eras to instill obedience and maintain classroom order. During the Sukarno and New Order periods, such punishment—ranging from beatings with rattan sticks and rulers to forced labor and public humiliation—was harsh and widespread. In contrast, the Reform era marked a gradual shift toward less severe and more symbolic punitive practices, reflecting the growing influence of child rights discourses. The introduction of the Child-Friendly School Policy in 2014 served as a pivotal policy intervention, significantly reducing the prevalence and severity of corporal punishment. Nonetheless, residual practices persist, indicating a gap between regulatory frameworks and actual implementation at the school level. This study highlights the urgent need for comprehensive pedagogical reform and targeted teacher training to eradicate corporal punishment and foster child-centered, non-violent educational environments. Abstrak: Penelitian ini mengkaji praktik hukuman fisik di sekolah-sekolah Indonesia pada tiga era politik yang berbeda—Era Sukarno, Orde Baru, dan Reformasi—sebelum diterapkannya Kebijakan Sekolah Ramah Anak pada tahun 2014. Penelitian ini menggunakan metode sejarah dengan desain studi kasus, serta melibatkan enam informan yang secara purposif dipilih karena memiliki pengalaman menerima hukuman fisik selama masa sekolah. Temuan menunjukkan bahwa hukuman fisik diterima secara luas dan dianggap normal pada era sebelumnya sebagai upaya pendisiplinan untuk menanamkan kepatuhan dan ketertiban. Pada masa Sukarno dan Orde Baru, praktik hukuman fisik seperti pukulan dengan rotan atau penggaris, kerja fisik paksa, dan penghukuman yang bersifat mempermalukan sangat lazim dan cenderung keras. Sebaliknya, pada era Reformasi terjadi pergeseran menuju bentuk hukuman yang lebih simbolik dan tidak terlalu berat, seiring dengan meningkatnya pengaruh wacana hak anak. Penerapan Kebijakan Sekolah Ramah Anak menjadi titik balik penting dalam mengurangi frekuensi dan intensitas praktik ini. Namun demikian, beberapa bentuk hukuman fisik tetap bertahan, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara kebijakan dan praktik di lapangan. Studi ini menekankan perlunya reformasi pedagogis yang menyeluruh serta pelatihan guru untuk menghapuskan hukuman fisik dan mendorong terciptanya lingkungan pendidikan yang berpusat pada anak dan bebas dari kekerasan.