Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Tinjauan Kejadian Misfiled di Rak Penyimpanan Rekam Medis RSUD Dr. Adjidarmo Kab. Lebak Tahun 2022 Nabila Raihani; Wiwik Viatiningsih; Noor Yulia; Deasy Rosmala Dewi
Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda Vol. 8 No. 1 (2023): Jurnal Ilmiah Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda Edisi Februari
Publisher : Akademi Perekam dan Informasi Kesehatan Imelda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jipiki.v8i1.1123

Abstract

Misfiled is an error in the storage of medical records, or the non-discovery of medical records on the storage shelf. This study aims to determine the description of misfiled events in the medical record storage shelf of RSUD Dr. Adjidarmo Kab. Lebak in 2022. This study uses a descriptive analysis method with a quantitative approach by conducting observations and interviews. The results of the study with 99 samples found that 9 (9.1%) of the misfiled and the non-misfiled were 90 (90,9%). Most of the medical records that occurred were misfiled because it did not fit on the proper shelf or medical record documents located on another shelf. The storage system used is a centralized system and its alignment system uses a digit filing terminal. The first factor causing the misfiled in the hospital is that the medical record officer is not careful in storing medical records, because there are still often errors when reading the numbers written. Another factor is in the facilities and infrastructure of the storage room, because there is no tracer as a substitute for medical records that come out of the shelves. The advice is always to use tracers to replace medical records that come out, so as not to misfiled the alignment of medical records.
Tinjauan Penyebab Dispute Klaim pada Pasien Covid-19 di RSUP Dr. Sitanala Periode Mei 2020 - Februari 2021 Hana Muta’allima; Nanda Aula Rumana; Puteri Fanya; Wiwik Viatiningsih
INSOLOGI: Jurnal Sains dan Teknologi Vol. 2 No. 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/insologi.v2i1.1124

Abstract

Dispute claims are disagreements between facilities of health and BPJS. it can take effect on delays in services to be provided to patients. The purpose of this study was to find out the factors causing disputes over the claims of Covid-19 patients at Dr. Sitanala for the period May 2020 – February 2021. The research method used in this research is descriptive with a quantitative approach. Data collection techniques by means of interviews and observation. Percentage of claim disputes at RSUP Dr. Sitanala: in stage 1 of 63.63%. Stage 2 of 100%. Stage 3 of 12.5%. Stage 4 of 15.38%. Stage 5 of 27.27%. The total percentage of claims disputed by Covid-19 patients from stage 1 to stage 5 is 27.19%. Based on the results of the study the factors causing claim disputes, it was that patients are treated the most even though the SWAB results have been declared negative, namely 35.48%, confirmation limit is over by19.35%, patients have no significant Covid symptoms at 16.12%, accommodation billing billed inappropriately by 9.67%, evidence of intubation was not attached by 6.45%, laboratory results and other support was not attached by 6.45%, comorbid therapy was not carried out in Covid-19 patients who had comorbid diseases by 3 .22%, patient's rapid test and PCR were not attached as supporting evidence that the patient had confirmed to Covid-19 at 3.22%. SOP for the bpjs verification flow for Covid-19 patients needs to be made. Casemix staff is added so that it avoid an errors when inputting claims.
Gambaran Prosedur Klaim Peserta Rawat Inap Bpjs Kesehatan Di Rspad Gatot Subroto Tahun 2022 Isnaini Amalia; Puteri Fannya; Wiwik Viatiningsih; Nanda Aula Rumana
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 3 No. 4 (2023): Cerdika : Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.377 KB) | DOI: 10.59141/cerdika.v3i4.578

Abstract

Jaminan kesehatan yang dilaksanakan memiliki prosedur dan kebijakan. Prosedur dan kebijakan tersebut merupakan penjelasan fasilitas kesehatan diharuskan mengajukan klaim secara rutin yaitu maksimal tanggal 10 bulan berikutnya. Dalam prosedur dan kebijakan tersebut BPJS Kesehatan memiliki sebuah sistem yang digunakan untuk mengajukan klaim dengan pola pembayaran Indonesian Case Base Groups (INA-CBG’s) pada tarif pelayanan kesehatan tingkat lanjut. Sebelum mengajukan klaim, pihak rumah sakit melakukan verifikasi administrasi dengan dokumen yang dibutuhkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian analisis deskriptif dengan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara. SPO dalam pengajuan klaim sejak dibuat tahun 2016 belum memiliki perubahan. Isi dari SPO itu tetap sama dengan memiliki 16 poin yang menjadi pedoman dalam pengajuan klaim. Pengajuan klaim memiliki 4 tahapan yaitu verfikasi JKN, grouper JKN, verifikasi BPJS Kesehatan dan pembayaran. Pada pelaksanaannya masih terdapat kendala dalam proses pengajuan klaim yaitu masih terdapatnya kode yang salah, tidak lengkapnya berkas yang dibutuhkan, serta sistem yang terkadang bermasalah. Maka dari itu petugas diharapkan agar memperhatikan kembali SPO yang ada apakah SPO tersebut memerlukan perubahan atau tidak. Dan petugas agar lebih teliti lagi dalam proses koding dan mengumpulkan berkas yang diperlukan.
GAMBARAN KEJADIAN DUPLIKASI PENOMORAN REKAM MEDIS DI RUMAH SAKIT : LITERATURE REVIEW Chresia Ericha; Nanda Aula Rumana; Wiwik Viatiningsih; Puteri Fannya
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 4 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v4i2.14992

Abstract

Sistem penomoran dalam pelayanan rekam medis yaitu tata cara penulisan nomor yang diberikan kepada pasien yang datang berobat sebagai bagian dari identitas pribadi pasien yang bersangkutan. Bagian Tempat Pendaftaran Pasien (TPP) bertanggung jawab atas sistem penomoran yang terpadu untuk menilai bahwa pasien tidak menerima 2 kali nomor rekam medis agar tidak terjadi duplikasi nomor rekam medis pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui SPO pendaftaran di rumah sakit, persentase kejadian duplikasi penomoran rekam medis di rumah sakit, faktor apa saja yang menyebabkan duplikasi penomoran rekam medis di rumah sakit. Penelitian ini merupakan studi literature review dengan menggunakan 10 jurnal. Berdasarkan tinjauan terhadap 10 jurnal, pada hasil SPO pendaftaran terdapat 6 (60%) jurnal telah tersedianya SPO dan didapatkan 4 (40%) jurnal yang belum tersedianya SPO dan ditemukan 5 jurnal dengan angka duplikasi diatas 10%, adapun faktor yang menyebabkan terjadinya duplikasi yaitu man, money, method. dari man pasien lupa membawa kartu identitas pasien, pasien yang pernah berobat mengatakan belum pernah berobat, padahal pasien tersebut pasien lama, petugas kurang teliti dan kurang professional, petugas kurang disiplin menjalankan kebijakan SPO. Method Masih menggunakan penomoran manual, sehingga membuat petugas harus mengecek satu persatu, dan ada petugas yang tidak mencatat identitas pasien ke buku register. Machine terjadinya mati listrik sehingga mengakibatkan komputer error dan kesalahan dalam memberikan nomor rekam medis pasien. Dampak dari kesalahan pada pemberian pelayanan menjadi terhambat dan tidak berkesinambungannya isi berkas rekam medis pasien.
Tinjauan Kelengkapan Pengisian Formulir Ringkasan Pasien Pulang Rawat Inap Pada Kasus Covid-19 di Rsud Tarakan Jakarta Tahun 2022 Izmi Novianita; Wiwik Viatiningsih; Nanda Aula Rumana; Puteri Fannya
Student Scientific Creativity Journal Vol. 1 No. 4 (2023): Juli : Student Scientific Creativity Journal
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/sscj-amik.v1i4.1547

Abstract

Medical records are an important part of reporting and recording as well as assisting the implementation of service delivery to patients, one of which is a summary form for discharge patients, which includes all services that have been provided to patients. It was found that there were still medical records that were not 100% complete according to service quality standards at the Tarakan Hospital, Jakarta. Researchers analyzed the medical records of inpatients for COVID-19 cases, especially the summary form for discharge patients. This study uses a descriptive method with a quantitative analysis approach. The purpose of this study was to determine standard operating procedures and calculate the percentage of completeness of inpatient medical records on the summary form of inpatient discharge patients in the case of covid-19 in March 2022, and to find out the obstacles in filling out the summary form of inpatient discharge in cases of covid-19 . Based on the results of a study of 152 medical records of hospitalized patients with COVID-19 cases, the average completeness rate was 92% complete and 8% incomplete. The need to resocialize standard operating procedures for filling out medical records and the need for hospital director decisions regarding the discipline of filling out medical records should be able to be carried out properly and on time .
Peralihan Rekam Medis Manual ke Rekam Medis Elektronik di Rumah Sakit P Fatimatuzzahra, Joevancha Livancha; Viatiningsih, Wiwik; Sonia, Dina; Yulia, Noor
Journal of Comprehensive Science Vol. 4 No. 8 (2025): Journal of Comprehensive Science
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jcs.v4i8.3486

Abstract

Peralihan dari rekam medis manual ke rekam medis elektronik (RME) merupakan bagian dari transformasi digital pelayanan kesehatan sesuai Permenkes No. 24 Tahun 2022. Rumah Sakit P Jakarta Selatan mulai menerapkan RME sejak akhir 2021, namun masih menghadapi tantangan teknis dan sumber daya manusia. Penelitian ini bertujuan meninjau pelaksanaan peralihan tersebut dengan fokus pada tahapan pelaksanaan, kesiapan infrastruktur, SDM, serta kendala yang dihadapi. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus melalui wawancara, observasi, dan telaah dokumen. Pelaksanaan peralihan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi. Infrastruktur dasar sudah tersedia, tetapi distribusi perangkat belum merata. Pelatihan dan sosialisasi belum mencakup semua tenaga kesehatan. Evaluasi sistem belum rutin dan terdokumentasi. Kendala utama meliputi SDM yang belum sepenuhnya terampil, perangkat terbatas, implementasi SOP yang belum optimal, fitur sistem belum lengkap, serta keterbatasan anggaran. Secara umum, peralihan ke RME telah berjalan, tetapi belum optimal. Peningkatan kompetensi SDM, perbaikan infrastruktur, penyempurnaan sistem, dan dukungan anggaran diperlukan agar implementasi RME dapat efektif dan berkelanjutan.
Analisis Kelengkapan Pengisian Formulir InformConsent Pasien rawat Inap Kasus Urologi di RS X Tahun 2025 Viatiningsih, Wiwik
Journal of Hospital Management Vol 8, No 02 (2025): Journal of Hospital Management
Publisher : Lembaga Penerbitan Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/johm.v8i02.9672

Abstract

Pencatatan rekam medis begitu penting dikarenakan rekam medis digunakan sebagai informasi mengenai perkembangan kondisi pasien, selain itu rekam medis juga digunakan sebagai bukti hukum mengenai tindakan petugas medis ataupun sebagai alat bukti dasar bagi pasien untuk melakukan gugatan hukum, Tujuan Umum penelitian mengidentifikasi dan menghitung kelengkapan pengisian formulir informed consent pada pasien kasus Urologi di rumah sakit X Tahun 2025. Formulir Informed Consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien kepada dokter untuk melakukan tindakan kedokteran tertentu setelah mendapatkan penjelasan dari dokter yang bersangkutan, Salah satu tindakan medis yang memerlukan formulir informed consent adalah tindakan/ prosedur operasi kasus urologi. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode desain penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif retrospektif. Populasi yang akan diteliti adalah berkas rekam medis formulir informed consent pada pasien rawat inap kasus urologi pada periode 3 bulan yaitu pada bulan januari sampai bulan maret 2025, sebanyak 86 rekam medis, besaran sample menggunakan sample jenuh. Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini ialah melakukan perhitungan audit pendokumentasian pada rekam medis menggunakan anailis  kuantitatif, data di kumpulkan di olah dan di sajikan dalam bentuk narasi dan tabel. Hasil penelitian rekapitulasi kelengkapan pengisian dari komponen kelengkapan pengisian yang dinilai komponen identitas, laporan /informasi yang penting, autentifikasi penulis, catatan yang penting di dapatkan hasil kelengkapan pengisian pada formulir infomconsent yang lengkap terisi sebanyak 86 berkas rekam medis (100%) dan yang tidak lengkap sebanyak 0 berkas rekam medis (0%). Pembahasan dapat disimpulkan bahwa kelengkapan pengisian formulir informed consent  di RS X sudah terisi lengkap 100 %,  sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM) menurut peraturan menteri kesehatan nomor 129 tahun 2008. Saran Melakukan evaluasi pencatatan kelengkapan formulir informed consent secara berkala dan berkesinambungan.
Tinjauan Faktor Penyebab Dikembalikannya Berkas Klaim BPJS Pasien Rawat Inap di RSUD Raden Mattaher Jambi Putri, Dwi Tania; Viatiningsih, Wiwik; Dewi, Deasy Rosmala; Yulia, Noor
Jurnal Rekam Medic Vol 5, No 2 (2022): Edisi Agustus
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jrm.v5i2.5182

Abstract

Pendahuluan: Jaminan kesehatan nasional (JKN) dalam pemeliharaan kesehatan masyarakat menunjuk BPJS kesehatan sebagai penyelenggara pembayaran program jaminan kesehatan. Dalam pelaksanaannya BPJS menggunakan metode pembayaran sistem pembiayaan prospektif INA-CBGs, rumah sakit mengajukan klaim atas layanan kesehatan yang telah diberikan kepada peserta JKN nantinya biaya pelayanan tersebut akan dibayar oleh BPJS Kesehatan. Proses pengajuan klaim BPJS Kesehatan melalui tahapan verifikasi yaitu verifikasi administrasi kepesertaan, verifikasi administrasi pelayanan dan verifikasi pelayanan kesehatan. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah agar mengetahui faktor penyebab dikembalikannya berkas klaim BPJS pasien rawat ianp di RSUD Raden Mattaher Jambi.  Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif. Sampel adalah 110 berkas klaim. Pengumpulan data menggunakan observasi dan wawancara dengan instrumen daftar tilik dan pedoman wawancara. Hasil: Hasil penelitian menemukan RS belum memiliki SPO yang mengatur pelaksanaan klaim BPJS, faktor yang menyebabkan pengembalian klaim yaitu ketidaksesuaian SEP dengan data yang di upload 3,6% (4 klaim), ketidaklengkapan softfile yang di upload dengan persyaratan 3,6% (4 klaim), kesalahan penulisan tanggal masuk 2,7% (3 klaim), kesalahan nama tindakan di lembar laporan tindakan 1,9% (2 klaim), ketidaksesuaian kode diagnosa utama prosedur 30% (33 klaim), ketidaksesuaian kode diagnosa sekunder 18,2% (20 klaim), ketidaksesuaian kelas perawatan 12,7% (14 klaim), tidak ada hasil penunjang 20,9% (23 klaim), tidak tertulis riwayat penyakit 6,4% (7 klaim). Kesimpulan: RSUD Raden Mattaher Jambi belum memiliki SPO yang mengatur proses pelaksanaan klaim BPJS. Namun dalam pelaksanaan pengklaiman sudah menggunakan Petunjuk Teknis Verifikasi Klaim yang dikeluarkan oleh BPJS.
Tinjauan Kebutuhan Rak Penyimpanan Rekam Medis di RSAU Dr. M. Hassan Toto Bogor untuk 5 tahun kedepan Angelina, Noviana Dian; Yulia, Noor; Viatiningsih, Wiwik; Dewi, Deasy Rosmala
Jurnal Rekam Medic Vol 5, No 1 (2022): Edisi Februari
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jrm.v5i1.5170

Abstract

Pendahuluan: Manajemen pelayanan rekam medis dan informasi kesehatan adalah kegiatan menjaga, memelihara dan melayani rekam medis baik secara manual maupun elektronik sampai menyajikan informasi kesehatan di rumah sakit, praktik dokter klinik, asuransi kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan dan lainnya yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan dan menjaga rekaman. Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kebutuhan rak penyimpanan rekam medis menggunakan. Metode: Metode deskriptif kuantitatif dengan menghitung rak penyimpanan dengan rekam medis yang ada, menghitung luas ruangan untuk memperkirakan kebutuhan 5 tahun kedepan. Yang bertujuan untuk mengidentifikasi Standar Prosedur Operasional (SPO) penyimpanan berkas rekam medis di rumah sakit, menghitung kebutuhan rak penyimpanan rekam medis 5 tahun yang akan datang, menghitung kebutuhan luas ruang penyimpanan rekam medis 5 tahun kedepan, dan mengidentifikasi faktor – faktor masalah yang ada pada ruang penyimpanan rekam medis. Hasil: Dari hasil penelitian didapatkan bahwa pada tahun 2025 perlu ditambahkan rak penyimpanan rekam medis sebanyak 17 rak statis dengan ukuran 300 cm. Kesimpulan: Faktor masalah yang ada di ruang penyimpanan yaitu kurangnya rak penyimpanan rekam medis, tinggi rak yang tidak terjangkau oleh petugas rekam medis, tidak adanya tracer, retensi yang tidak rutin dilakukan, perlu penambahan petugas rekam medis dengan lulusan D3 Rekam Medis dan Informasi Kesehatan dan rak penyimpanan dapat diganti dengan rak roll o’ pack
Tinjauan Penulisan Nama Pasien pada Map Rekam Medis di Rumah Sakit Mekar Sari Bekasi Dianty, Gebbrien Anggia; Viatiningsih, Wiwik; Dewi, Deasy Rosmala; Yulia, Noor
Jurnal Rekam Medic Vol 5, No 2 (2022): Edisi Agustus
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jrm.v5i2.5181

Abstract

Pendahuluan: Sistem penamaan pasien adalah suatu tata cara penulisan nama pasien yang bertujuan untuk membedakan pasien yang satu dengan yang lainnya agar pemberian pelayanan kesehatan kepada pasien dapat berjalan dengan mudah dan lancar. Ada dua cara penulisan nama pasien: penulisan dengan sistem penamaan langsung dan sistem penamaan dengan nama keluarga (Family Name). Dalam praktiknya, nama pasien ditulis secara lengkap sesuai dengan Kartu Tanda Penduduk pasien. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pelaksanaan penamaan pasien di rekam medis oleh petugas rekam medis di RS Mekar Sari Bekasi. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 96 berkas rekam medis pasien rawat jalan baru pada bulan April – Juni 2021. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 96 berkas rekam medis yang diteliti, 100% rekam medis menggunakan sistem penamaan langsung. Jumlah nama pasien terdiri dari 1 kata adalah 27 0,08%, terdiri dari 2 kata 50%, dan lebih dari 2 kata 22,92%. Terdapat 26 rekam medis (27,08%) yang nama pasien disingkat, 25 rekam medis (22,04%) yang namanya tidak ditulis sesuai kartu identitas, 8 rekam medis (8,33%) yang tidak ditulis nama pasiennya dalam huruf kapital, 100% penulisan nama pada rekam medis tidak menambah status dan gelar, dan 100% penulisan nama pada rekam medis dapat terbaca. Kesimpulan: Pasien yang memiliki nama 1 kata ada 27,08%, pasien yang memiliki nama 2 kata ada 50%, pasien yang memiliki nama 2 kata ada 22,92%. Map rekam medis dengan penulisan nama pasien yang disingkat adalah sebesar 27,08%.Penulisan nama pada map rekam medis yang sesuai dengan kartu identitas pasien adalah sebesar 73,96%.