Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

TINDAK TUTUR ILOKUSI DALAM PIDATO RIDWAN KAMIL PADA ACARA BUKATALKS: SUATU KAJIAN PRAGMATIK Ilham Munandar; Nani Darmayanti
Metabasa: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajaran Vol 3, No 1 (2021)
Publisher : METABASA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Penelitian ini membahas tentang tindak tutur ilokusi yang digunakan oleh Ridwan Kamil dalam pidato pada acara BukaTalks. Tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan bentuk tindak tutur ilokusi yang digunakan oleh Ridwan Kamil dalam pidatonya pada acara BukaTalks. Sumber data diperoleh dari pidato Ridwan Kamil pada acara Bukatalks dengan tema “Ayo Pemudi Pemuda, Bangun Bangsa” di kanal YouTube Bukalapak. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teori tindak tutur ilokusi yang dikembangkan oleh Searle digunakan sebagai acuan untuk menganalisis data. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan tiga jenis tindak tutur ilokusi yang digunakan Ridwan Kamil dalam pidatonya pada acara BukaTalks, di antaranya 1) tindak tutur asertif dengan fungsi tuturan menunjukkan, melaporkan, menyatakan, dan mengakui; 2) tuturan direktif dengan fungsi tuturan mendoakan, melarang, meminta, memerintah, menyuruh, dan mengajak; dan 3) tuturan ekspresif dengan fungsi tuturan mendoakan, mengeluh, memuji, berterima kasih, dan mengucapkan salam. Kata kunci: tindak tutur ilokusi, pidato, Ridwan Kamil ABSTRACTThis research discusses about illocutionary acts used in Ridwan Kamil’s speech at BukaTalks’ event. This research aim to describe the type of illocutionary acts used in Ridwan Kamil’s speech at BukaTalks’ event. The data source is collected from Ridwan Kamil’s speech in BukaTalks’ event with “Ayo Pemudi Pemuda, Bangun Bangsa” theme at Bukalapak’s youtube channel. The research method is using descriptive qualitative. The theory of illocutionary act developed by Searle is used as reference to analyze the data. Based on the result, there are three types of illocutionary acts used in Ridwan Kamil’s speech at BukaTalks event, 1) assertives with show, report, assert, and admit speech function;2) directives with pray, forbid, ask, command, order, and invite speech function; and 3) expressive with pray, beef, praise, thank, and welcome. Keywords: illocutinary acts, speech, Ridwan Kamil
SIKAP BERBAHASA DAN PERAN GENERASI MILENIAL TERHADAP PEMERTAHANAN BAHASA SUNDA DI KABUPATEN CIAMIS, PROVINSI JAWA BARAT Wagiati Wagiati; Nani Darmayanti; Duddy Zein
Metahumaniora Vol 12, No 3 (2022): METAHUMANIORA, DESEMBER 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v12i3.38650

Abstract

Generasi milenial dan kondisi kebahasaan merupakan dua hal yang berkelindan yang penting untuk dikaji. Sebagai bagian integral masyarakat tutur Sunda, generasi milenal di Kabupaten Ciamis memiliki peranan penting dalam upaya pemertahanan bahasa Sunda. Penelitian ini mengkaji sikap bahasa dan peranan generasi milenial dalam upaya pemertahanan bahasa Sunda di Kabupaten Ciamis. Dalam penelitian ini, digunakan metode campuran kualitatif-deskriptif dan kuantitatif. Data dikumpulkan menggunakan metode cakap dengan teknik cakap terarah, pertanyaan langsung, pertanyaan taklangsung, pemancingan jawaban, dan pertanyaan untuk mendapatkan jawaban berganda. Dari hasil penelitian, ditunjukkan bahwa dalam praktik berbahasa di Kabupaten Ciamis, generasi milenial masih tetap menempatkan bahasa Sunda sebagai alat komunikasi di setiap ranahnya dengan intensitas yang bervariasi. Sikap pemertahanan bahasa Sunda oleh kalangan milenial di Kabupaten Ciamis, ProvinsiJawa Barat sejauh ini dapat dikategorikan baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahasa Sunda di kalangan milenial di Kabupaten Ciamis, masih menunjukkan eksistensinya, khususnya pada ranah kekeluargaan, kekariban, dan ketetanggaan.
Budaya Jepang pada Tuturan Implikatur Percakapan Pembelajar BIPA Jepang Tingkat Dasar: Kajian Pragmatik Lintas Budaya Afina Naufalia; Nani Darmayanti; Nani Sunarni
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 9 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v9i2.2810

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian Pragmatik yang fokus pada kajian Pragmatik Lintas Budaya, yakni mengkaji komunikasi yang dilakukan oleh budaya yang berbeda pada lingkungan yang berbeda. Adapun yang dikaji adalah implikatur percakapan yang dituturkan oleh pembelajar BIPA asal Jepang tingkat dasar ketika berbicara bahasa Indonesia saat proses pembelajaran berlangsung. Melalui implikatur percakapan yang dituturkan pembelajar Jepang, akan tampak ciri khas budaya Jepang ketika pembelajar menyampaikan maksud yang ingin mereka sampaikan secara tersirat, sehingga akan muncul keunikan budaya dalam peristiwa tutur. Itulah keunikan dan keterbaruan penelitian ini. Berdasarkan latar belakang tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan wujud implikatur percakapan yang dituturkan oleh pembelajar BIPA asal Jepang tingkat dasar di Universitas Padjadjaran. Peneliti menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah pembelajar BIPA asal Jepang berjumlah dua orang yang tergabung dalam program pembelajaran BIPA di Pusat Bahasa Unpad, Dipatiukur. Data dikumpulkan dengan teknik rekam, simak, catat, kemudian ditranskripsi. Selanjutnya, data dianalisis dengan menganalisis tuturan yang mengabaikan prinsip kerja sama pada dialog. Dari hasil analisis terhadap implikatur, kemudian dijelaskan budaya yang terkandung dalam implikatur tersebut. Secara singkat, hasil analisis mendeskripsikan bahwa pembelajar Jepang melakukan implikatur sebanyak lima kali, di antaranya implikatur memberikan informasi, menyindir, menolak, dan mengakui. Dari implikatur yang dituturkan oleh pembelajar Jepang, dapat disimpulkan bahwa budaya Jepang adalah memiliki budaya yang bebas, taat aturan, suka berbasa-basi, dan sangat sopan (menjaga privasi). Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi pembelajaran BIPA, khususnya bagi pengajar untuk menyiapkan strategi pembelajaran yang disesuaikan dengan latar belakang budaya pembelajar BIPA.
Estetika Postmodernisme dalam Hijab style Linda Handayani; Gungun Gunardi; Nani Darmayanti
PANGGUNG Vol 24 No 1 (2014): Fenomena dan Estetika Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v24i1.104

Abstract

ABSTRACT Hijab style is a new term in the fashion Muslim hijab that marked novelty shapes. Since the ap- pearance of Hijabers Community in 2010 , there were many changes in the form of veil that accom- panied the change of name became Hijab style hijab. Hijab is initially mandatory Muslim clothing to cover nakedness . Novelty Hijab style made it not only a practice of God command but also become part of fashion . Updates on the form that is often referred to as modernization pull analyzed in terms of aesthetics. Hijab which used by designers founder Hijabers Community becomes the object of this study. The method used in this study is a qualitative approach to the study of cultural and semiotic theory models Baudrillard. The signs were there in style hijab as an aesthetic representation of post- modernism will be described. As cultural products that spread through the mass media, Hijab style became popular and developed following the postmodern aesthetic principled form follows fun. Keywords: Hijab style, aestetics, postmodernism, consumerism, fashion  ABSTRAK Hijab style merupakan istilah baru dalam fashion muslimah yang menandai kebaruan bentuk jilbab. Sejak kemunculan Hijabers Community tahun 2010, terjadi banyak perubahan bentuk pada jilbab yang diiringi perubahan nama dari jilbab menjadi Hijab style. Jilbab pada awalnya adalah pakaian wajib muslimah untuk menutup aurat. Kebaruan Hijab style mem- buatnya tidak hanya menjadi praktik menutup aurat tapi juga menjadi bagian dari fashion. Pembaruan pada bentuk yang kerap disebut sebagai modernisasi menarik dianalisis dari sisi estetika. Hijab yang digunakan oleh desainer-desainer pendiri Hijabers Community menjadi objek penelitian ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan kajian budaya dan teori semiotik model Baudrillard. Tanda-tanda yang ter- dapat dalam Hijab style sebagai representasi dari estetika postmodernisme akan diuraikan. Sebagai produk budaya yang menyebar melalui media massa, Hijab style menjadi popular dan berkembang mengikuti estetika postmodernisme yang berprinsip form follows fun. Kata kunci: Hijab style, estetika, postmodernisme, konsumerisme, fashion 
A Multimodal Discourse Analysis on Street Graffities about Indonesian Police Rifpan Putra Afriansyah; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Nani Darmayanti
SALEE: Study of Applied Linguistics and English Education Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : STAIN Sultan Abdurrahman Kepulauan Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35961/salee.v6i1.1702

Abstract

The purpose of this writing is to uncover how graffiti can multimodally represent Indonesian police and create ideology through the use of its textual and visual element. This writing is descriptive qualitative research with multimodal discourse analysis approach. The data of this research are collected through the internet, as the real graffities have been erased from the real-life locations. The data of this research consist of virtual images and sentences of the graffiti that have been documented. The data are analysed through the use of Gunther Kress and Theo van Leeuwen’s multimodal discourse analysis theory of the representational meta-functions, and Michael Halliday’s ideational meta-functions. The analysis is divided into textual and visual analysis. The result of the analysis shows that the graffities represented ideologies that Indonesian police is easily corrupt, enemy of the people, and does not accept critique from the public by the use of specific visuals and words. The graffities that are used as the data of this research are forms of the creators’ ideologies toward Indonesian police.