Ni Putu Ekawati
Departemen Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana, RSUP Sanglah, Denpasar, Bali, Indonesia

Published : 36 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Hubungan antara ekspresi Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) dengan karakteristik klinikopatologi osteosarkoma di RSUP Sanglah Denpasar, Bali Johanes Prasetyo Harjanto; I Wayan Juli Sumadi; I Made Gotra; Ni Putu Ekawati
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 1 (2021): (Available online : 1 April 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.663 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i1.887

Abstract

Background: Osteosarcoma is the most common malignant primary bone tumor. Although osteosarcoma cases are relatively rare compare to carcinoma, the mortality rate is quite high. Osteosarcoma prognosis can be seen from conventional pathology and biological markers, such as Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). In various studies, the presence of VEGF expression has been associated with the worsening prognosis of osteosarcoma. This study aims to determine the relationship between VEGF expression and osteosarcoma's clinicopathological characteristics at Sanglah General Hospital, Denpasar, 2015-2019.Method: This research is a cross-sectional analytic study. The sampling technique used all affordable populations that were included in the inclusion criteria, with a total sample of 30 samples. The research data used secondary data obtained from the archive of histopathological examination reports at the Anatomical Pathology Laboratory at Sanglah General Hospital and paraffin blocks from all available samples for immunohistochemical examination. Data were analyzed using SPSS version 22 for Windows.Results: The clinicopathological characteristics of the osteosarcoma studied were age, tumor location, histological type, and grading. Patients with osteosarcoma in this study were predominantly found in the age group <20 years (66.67%), femur locations (60.00%), mixed type osteosarcoma (53.33%), and high grade (100.00%). A total of 26 samples (86.67%) had high VEGF expression and 4 samples had low VEGF expression (13.30%). There was no significant relationship between age (p=0.241), location of the tumor (p=0.739), and histological type (p=1.000) to the VEGF expression.Conclusion: The relation between each osteosarcoma clinicopathological characteristic associated with VEGF expression showed insignificant results in age, location, and histological type. Further research is needed with a more significant number of samples to get better results. Latar Belakang: Osteosarkoma adalah tumor tulang primer ganas yang paling umum. Meskipun kasus osteosarkoma relatif jarang dibandingkan dengan karsinoma, angka kematiannya cukup tinggi. Prognosis osteosarkoma dapat dilihat dari patologi konvensional dan penanda biologis, salah satunya adalah Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF). Dalam berbagai penelitian, kehadiran ekspresi VEGF telah dikaitkan dengan prognosis yang memburuk dari osteosarcoma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan ekspresi VEGF dengan karakteristik klinikopatologi osteosarkoma di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015-2019.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik potong lintang. Teknik pengambilan sampel menggunakan semua populasi terjangkau yang termasuk dalam kriteria inklusi, dengan jumlah sampel sebanyak 30 sampel. Data penelitian menggunakan data sekunder yang diperoleh dari arsip laporan pemeriksaan histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah dan blok parafin dari semua sampel yang tersedia untuk pemeriksaan imunohistokimia. Data dianalisis dengan SPSS versi 22 untuk Windows.Hasil: Karakteristik klinikopatologi dari osteosarkoma yang diteliti adalah usia, lokasi tumor, tipe histologis, dan grading. Penderita osteosarkoma pada penelitian ini paling banyak ditemukan pada kelompok usia <20 tahun (66,67%), lokasi femur (60%), tipe campuran osteosarkoma (53,33%) dan High-Grade (100.00%). Sebanyak 26 sampel (86,67%) memiliki ekspresi VEGF tinggi dan 4 sampel memiliki ekspresi VEGF rendah (13,30%). Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara usia (p=0,241), lokasi (p=0,739), dan tipe histologis (p=1,000).Kesimpulan: Hubungan antara masing-masing karakteristik klinikopatologi osteosarkoma yang terkait dengan ekspresi VEGF menunjukkan hasil yang tidak bermakna pada usia, lokasi, dan tipe histologis. Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih banyak untuk mendapatkan hasil yang lebih baik.
Hubungan antara ekspresi c-MET dengan derajat diferensiasi histologi dan tingkat kedalaman invasi pada infiltrating urothelial carcinoma kandung kemih di RSUP Sanglah, Bali, Indonesia Kadek Agus Suhardinatha Putra; I Gusti Ayu Sri Mahendra Dewi; Herman Saputra; Ni Wayan Winarti; Anak Agung Ayu Ngurah Susraini; Ni Putu Ekawati; I Made Muliarta
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 2 (2021): (Available Online: 1 August 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.298 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i2.1022

Abstract

Background: c-MET is a tyrosine kinase receptor that binds specifically to its ligand, namely hepatocyte growth factor (HGF). c-MET signaling deviations play a role in the progressivity of a wide variety of malignancies including bladder cancer. This study aims to determine the relationship between c-MET expression with the histological differentiation and depth of invasion in infiltrating urothelial carcinoma of bladder.Methods: This study was a cross-sectional analytical study with 42 sample sizes. The samples were taken from a paraffin block of patients with infiltrating urothelial carcinoma of the bladder, that has performed resection and histopathological examination who were examined at the Anatomical Pathology Laboratory of Sanglah Hospital Denpasar from 2015-2020. The c-MET expression was examined by immunohistochemical staining of c-MET and evaluated using the H-score method. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: Fisher's Exact test showed a statistically significant association between c-MET expression and the histological differentiation grade (p = 0.000). There was also a significant association between c-MET expression and depth of invasion with the Chi-Square test (p = 0.016), the Prevalence Ratio (PR) was 2.0 (95% CI = 1.2-3.6).Conclusion: In conclusion, there is an association between c-MET expression with the histological differentiation grade and depth of invasion in the infiltrating urothelial carcinoma of bladder. High c-MET expression had twice the risk of developing advanced invasion. Latar Belakang: c-MET merupakan reseptor tirosin kinase yang berikatan secara spesifik dengan ligannya, yaitu faktor pertumbuhan hepatosit (HGF). Penyimpangan c-MET signaling diketahui berperan dalam agresivitas berbagai macam keganasan termasuk kanker kandung kemih. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ekspresi c-MET dengan derajat diferensiasi histologi dan tingkat kedalaman invasi pada infiltrating urothelial carcinoma kandung kemih.Metode: Penelitian ini merupakan studi analitik potong lintang dengan besar sampel adalah 42, yang berasal dari blok parafin penderita infiltrating urothelial carcinoma kandung kemih yang diperiksa histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar dari 2015-2020. Ekspresi c-MET diperiksa dengan pengecatan imunohistokimia c-MET dan dievaluasi menggunakan metode H-score. Data dianalisis dengan SPSS versi 20 untuk Windows.Hasil: Uji Fisher’s Exact menunjukkan hubungan yang bermakna secara statistik antara ekspresi c-MET dengan derajat diferensiasi histologi (p=0,000). Didapatkan juga hubungan yang bermakna antara ekspresi c-MET dengan tingkat kedalaman invasi dengan uji Chi-Square (p=0,016), prevalence ratio 2,0 (IK 95%=1,2-3,6).Kesimpulan: Sebagai simpulan terdapat hubungan antara ekspresi c-MET dengan derajat diferensiasi histologi dan tingkat kedalaman invasi pada infiltrating urothelial carcinoma kandung kemih. Ekspresi c-MET tinggi memiliki risiko dua kali lebih besar mengalami invasi lanjut. c-MET diharapkan dapat menjadi faktor prognostik yang bermanfaat dalam penatalaksanaan infiltrating urothelial carcinoma kandung kemih.
Karakteristik pasien kanker kulit non-melanoma di RSUP Sanglah pada periode tahun 2014 - 2018 I Gusti Agung Ivan Yogiswara; Herman Saputra; Ni Putu Ekawati
Intisari Sains Medis Vol. 12 No. 2 (2021): (Available Online: 1 August 2021)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.312 KB) | DOI: 10.15562/ism.v12i2.1080

Abstract

Background: Skin cancer is a disease caused by changes in the properties of the constituent skin cells from normal to malignant. There are 3 most common types of skin cancer: Basal Cell Carcinoma (BCC), Squamous Cell Carcinoma (SCC), and malignant melanoma. This study aims to determine the clinicopathological characteristics of non-melanoma skin cancer patients, especially BCC and SCC, at Sanglah General Hospital, Denpasar, in 2014 – 2018.Methods: This study is a retrospective descriptive study. Clinicopathological data of non-melanoma skin cancer patients were obtained from the histopathological examination archive at the Anatomical Pathology Laboratory of Sanglah General Hospital from 2014 – 2018. Data were analyzed using SPSS version 20 for Windows.Results: During 2014 – 2018, there were 100 patients with non-melanoma skin cancer at Sanglah Hospital. Based on histopathological type, there were 39 cases (39.0%) of BCC and 61 cases (61.0%) of SCC. BCC was predominant in the age group above 70 years (33.33%) and the highest type of SCC in the age group 50-59 years (32.79%). Based on gender, BCC is more frequent in women by 53.85% and SCC is more frequent in men by 54.10%.Conclusion: The highest non-melanoma skin cancer cases were SCC with age more than 50 years and were more commonly found in men. Latar Belakang: Kanker kulit adalah salah satu penyakit yang diakibatkan oleh berubahnya sifat-sifat penyusun sel kulit yang awalnya normal menjadi ganas. Terdapat 3 jenis kanker kulit yang tersering, yaitu Karsinoma Sel Basal (KSB), Karsinoma Sel Skuamosa (KSS), dan melanoma maligna. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi pasien kanker kulit non-melanoma khususnya karsinoma sel basal dan karsinoma sel skuamosa di RSUP Sanglah Denpasar pada periode tahun 2014 – 2018.Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif. Data klinikopatologi pasien kanker kulit non-melanoma diperoleh dari arsip pemeriksaan histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar tahun 2014 – 2018. Data dianalisis dengan SPSS versi 20 untuk Windows.Hasil: Selama periode tahun 2014 – 2018 terdapat 100 pasien kanker kulit non-melanoma. Berdasarkan tipe histopatologi, terdapat 39 kasus (39,00%) KSB dan 61 kasus (61,00%) KSS. KSB ditemukan terbanyak pada kelompok usia diatas 70 tahun (33,33%) dan tipe KSS terbanyak pada kelompok usia 50-59 tahun (32,79%). Berdasarkan jenis kelamin, KSB lebih banyak pada perempuan sebesar 53,85% dan KSS lebih banyak pada laki – laki sebesar 54,10%.Kesimpulan: Kasus kanker kulit non-melanoma tertinggi adalah KSS dengan usia lebih dari 50 tahun dan lebih banyak ditemukan pada laki – laki. 
CLINICOPATHOLOGIC CHARACTERISTICS OF OSTEOSARCOMA POST NEOADJUVANT CHEMOTHERAPY IN SANGLAH CENTRAL GENERAL HOSPITAL, DENPASAR, 2015-2019 Pranata, I Putu Yogi; Sumadi, I Wayan Juli; Saputra, Herman; Ekawati, Ni Putu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i02.P14

Abstract

ABSTRAK Kemoterapi neoadjuvan merupakan salah satu terapi untuk osteosarcoma yang dapat menyebabkan nekrosis pada tumor dan berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2015-2019 berdasarkan usia, jenis kelamin, lokasi tumor, tipe histologik, dan jumlah mitosis. Penelitian ini bersifat deskriptif cross sectional dengan menggunakan data sekunder pasien osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan yang tercatat dalam pemeriksaan histopatologi di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar. Teknik pengambilan data yaitu total sampling, didapatkan 11 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian menunjukkan pasien osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan lebih banyak dengan respon kemoterapi buruk (54,5%). Berdasarkan usia, respon baik dan buruk umumnya terjadi pada kelompok usia 0-20 tahun (80,0% dan 50,0%). Berdasarkan jenis kelamin, respon buruk lebih banyak pada laki-laki (83,3%) sedangkan respon baik lebih banyak pada perempuan (60,0%). Berdasarkan lokasi tumor, respon buruk lebih banyak pada tibia (50,0%) sedangkan respon baik lebih banyak pada femur (60,0%). Berdasarkan tipe histologik, respon baik dan buruk umumnya terjadi pada tipe conventional (100,0% dan 83,3%). Berdasarkan jumlah mitosis, respon buruk lebih banyak pada low (60,0%) sedangkan respon baik lebih banyak pada high (100,0%). Kesimpulan penelitian ini adalah pasien osteosarcoma pasca kemoterapi neoadjuvan lebih banyak memiliki respon buruk. Pasien dengan respon buruk lebih banyak pada usia 0-20 tahun, laki-laki, tumor di bagian tibia, tipe conventional, dan jumlah mitosis low. Sementara itu, pasien respon baik lebih banyak pada usia 0-20 tahun, perempuan, tumor di bagian femur, tipe conventional, dan jumlah mitosis high. Kata kunci : Osteosarcoma Pasca Kemoterapi Neoadjuvan, Karakteristik Klinikopatologi, Respon Kemoterapi
CLINICOPATHOLOGICAL CHARACTERISTICS OF CHRONIC GASTRITIS WITH INTESTINAL METAPLASIA AT SANGLAH GENERAL HOSPITAL DENPASAR PERIOD 2016-2020 Arimbawa, I Wayan Gede Bandem; Saputra, Herman; Ekawati, Ni Putu; Sumadi, I Wayan Juli
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i8.P10

Abstract

ABSTRAK Gastritis kronis relatif umum terjadi di negara berkembang. Gastritis yang berlangsung lama dapat mengakibatkan terjadinya atrofi dan intestinal metaplasia pada mukosa lambung. Ahli patologi mengemukakan terdapat hubungan antara metaplasia intestinal dengan kanker lambung adenocarcinoma tipe intestinal. Sehingga perlu untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi gastirits kronis dengan metaplasia intestinal sebagai prekursor terjadinya kanker lambung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik klinikopatologi pasien gastritis kronis dengan metaplasia intestinal di RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode potong lintang (cross-sectional), menggunakan data sekunder pasien gastritis kronis dengan metaplasia intestinal di RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak SPSS untuk memperoleh karakteristik klinikopatologi pasien meliputi: usia, jenis kelamin, status H. pylori, dan temuan endoskopi. Penelitian ini memperoleh 25 sampel gastritis kronis dengan metaplasia intestinal. Sampel terbanyak pada kelompok usia >60 tahun (52%), berjenis kelamin laki-laki (80%), tanpa infeksi H. pylori (95,5%) dengan 3 sampel tidak memiliki data status H. pylori, dan temuan endoskopi terbanyak berupa gastritis eritematosa (60%). Pasien gastritis kronis dengan metaplasia intestinal di RSUP Sanglah Denpasar periode 2016-2020 memiliki karakteristik klinikopatologi terbanyak usia >60 tahun, laki-laki, Non-H. pylori, dan gastritis eritematosa. Kata kunci : Gastritis, kronis, intestinal, metaplasia, karakteristik, klinikopatologi.
PROFIL KLINIKOPATOLOGI PASIEN KARSINOMA SERVIKS DI RSUP SANGLAH DENPASAR TAHUN 2016 – 2018 Herman, Juan Paul Christian; Ekawati, Ni Putu; Maker, Luh Putu Iin Indrayani
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i8.P06

Abstract

Karsinoma serviks adalah penyakit keganasan yang menyerang sel epitel serviks. Karsinoma serviks merupakan jenis karsinoma yang ditemukan terbanyak kedua di dunia yang penderitanya adalah perempuan setelah kanker payudara, tetapi merupakan penyebab kematian perempuan pertama yang disebabkan oleh karsinoma. Penelitian ini merupakan studi deskriptif potong lintang yang dilakukan untuk mengetahui profil klinikopatologi pasien karsinoma serviks pada periode waktu 1 Januari 2016 – 31 Desember 2018 di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi RSUP Sanglah Denpasar dengan teknik total sampling. Dari hasil penelitian ini didapatkan 70 pasien yang terdiagnosis karsinoma serviks serta memenuhi kriteria inklusi. Prevalensi ditemukan tertinggi di kelompok usia 41 – 50 tahun yaitu 48,6%, tipe histopatologi yang paling sering adalah Squamous cell carcinoma sebanyak 54,3%, stadium ukuran tumor (T) terbanyak adalah T1 yaitu 65,7% dan stadium status kelenjar getah bening (N) terbanyak adalah N0 yaitu 78,6%. Kata Kunci: karsinoma serviks, klinikopatologi, RSUP Sanglah
PROFIL KLINIKOPATOLOGI PASIEN LESI PRAKANKER SERVIKS YANG MENJALANI LOOP ELECTROSURGICAL EXCISION PROCEDURE (LEEP) DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016 – 2020 Jayakusuma, I Putu Prabawa; Ekawati, Ni Putu; Sumadi, I Wayan Juli; Saputra, Herman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2022.V11.i7.P12

Abstract

Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) adalah tindakan pemotongan sel abnormal pada serviks menggunakan wire loop yang dialiri aliran listrik. LEEP merupakan salah satu penatalaksanaan pasien lesi prakanker serviks. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil klinikopatologi pasien lesi prakanker serviks yang menjalani Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) di RSUP Sanglah tahun 2016 – 2020. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif cross-sectional. Sampel dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data diolah menggunakan software SPSS ver. 26 untuk mendapatkan karakteristik profil pasien lesi prakanker yang menjalani prosedur Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) yang terdiri dari usia, diagnosis klinis, dan diagnosis histopatologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien lesi prakanker yang menjalani prosedur Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) di RSUP Sanglah Denpsar Bali pada tahun 2016-2020 sebanyak 37% dari kelompok umur 31-40 tahun. Diantara pasien lesi prakanker yang menjalani prosedur Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP) 37% diagnosis klinis adalah ASCUS. Hasil diagnosis histopatologis terbanyak adalah HSIL (33,3%) dan non lesi prakanker (33,3%).
POLIMORFISME GEN COX-2 (rs20417) AND CHI3L1 (rs4950928) PADA PASIEN KANKER KOLOREKTAL DI BALI NI NYOMAN, AYU DEWI; Ekawati, Ni Putu; Mulyawan, I Made; Putra, I Wayan Ardyan Sudharta
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i12.P12

Abstract

Kondisi pro-inflamasi memiliki peran penting dalam perkembangan, invasi, dan metastasis kanker kolorektal (KKR). Beberapa penelitian mengungkapkan berbagai gen pro-inflamasi dalam karsinogenesis KKR, termasuk cyclooxygenase-2 (COX2) dan Chitinase-3-like protein 1 (CHI3L1). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi polimorfisme gen COX-2 dan CHI3L1 pada pasien KKR di Bali. Data berasal dari 39 sampel pasien KKR, termasuk usia, jenis kelamin, diagnosis patologi, grade, dan lokasi tumor. DNA diekstraksi dari sampel FFPE. Genotipe SNP COX-2 (rs20417) dan CHI3L1 (rs4950928) diidentifikasi menggunakan real time quantitative PCR menggunakan primer spesifik (rhAmpTM SNP Genotyping System kit, IDT Technologies). Semua data dianalisis dengan SPSS versi 21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usia rata-rata adalah 59,82±11,35 tahun, lebih tinggi pada kelompok usia di atas 50 tahun sebanyak 31 sampel (79,5%). Sebagian besar sampel berjenis kelamin laki-laki sebanyak 24 sampel (61,5%) serta adenokarsinoma sebagai diagnosis patologis terbanyak sebanyak 32 sampel (82,1%). Selain itu, sebagian besar sampel menunjukkan low grade sebanyak 33 sampel (74,4%) dan lokasi tumor pada sisi kiri sebanyak 24 sampel (61,5%). Analisis hubungan SNP COX-2 (rs 20417) serta SNP CHI3L1 (rs4950928) dengan diagnosis patologi, grade dan lokasi menunjukkan nilai p>0,05. Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa kasus CRC lebih tinggi pada usia di atas 50 tahun, jenis kelamin laki-laki, low grade dan tumor sisi kiri. Dalam penelitian ini tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara genotipe COX-2 dan CHI3L1 dengan diagnosis patologi, grade, dan lokasi tumor.
KARAKTERISTIK KLINIKOPATOLOGI KANKER LAMBUNG Erawan, I Putu Putra; Ekawati, Ni Putu; Sumadi, I Wayan Juli; Saputra, Herman
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i08.P14

Abstract

ABSTRACT Gastric cancer is a malignant neoplasm of the stomach and can invade and spread to other organs. Cases of gastric cancer are still common throughout the world and tend to be potentially deadly, especially among older men. Based on data obtained through GLOBOCAN in 2018, gastric cancer is a neoplasm with the 5th most common occurrence in the world and the 3rd deadliest cancer in the world, with an estimated 783,000 deaths in 2018. The purpose of this study is to determine the profile of gastric cancer patients at Sanglah Hospital from 2010 to 2020. This research is classified as a descriptive study using a cross-sectional method. The sample used was selected based on inclusion and exclusion criteria. The subjects of the study were 21 gastric cancer patients at Sanglah Hospital in 2010-2020. Data retrieval from medical records was then analyzed with SPSS version 22 software. The results of the study showed that the profile of gastric cancer patients at Sanglah Hospital in 2010-2020 varied greatly, with the most occurring in the age group above 50 years. By gender, the majority of cases are women. For clinical diagnosis, the most frequently found is dyspepsia. Keywords: Characteristics, Gastric Cancer, Sanglah General Hospital
KARAKTERISTIK KLINIKOPATOLOGI TUMOR-TUMOR TULANG RAWAN DI RSUP SANGLAH TAHUN 2016-2020 Suryaningmara, I Wayan Bagus; Sumadi, I Wayan Juli; Saputra, Herman; Ekawati, Ni Putu
E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/MU.2023.V12.i01.P05

Abstract

Tumor tulang adalah pertumbuhan sel abnormal pada tulang. Saat tumor tumbuh, jaringan abnormal dapat menggantikan jaringan sehat. Adapun jenis tumor pada tulang rawan yang umum terjadi yaitu Osteochondroma, Chondrosarcoma, dan Enchondroma. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan metode penelitian (cross-sectional) untuk mengetahui gambaran karakteristik klinikopatologi tumor tulang rawan di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 – 2020. Pengumpulan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling. Pasien dengan tumor tulang rawan di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 – 2020 terbanyak terjadi pada rentang usia >40 tahun yaitu 13 (36,1%) orang. Lokasi tumor tulang rawan di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 – 2020 paling banyak ditemukan pada pelvis dengan jumlah 9 (25%) kasus. Tipe histologi pada pasien dengan tumor tulang rawan di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 – 2020 yang paling banyak ditemukan yaitu Conventional Chondrosarcoma dengan jumlah 19 (52,8%) kasus. Tumor tulang rawan pada pasien di RSUP Sanglah Denpasar tahun 2016 – 2020 tersering yaitu tumor ganas dengan jumlah 20 (55,6%) kasus sedangkan tumor jinak dengan jumlah 16 (44,4%) kasus. Apabila dijumpai pasien berusia tua > 40 tahun dengan tumor tulang di pelvis maka perlu dipikirkan tumor tulang rawan sebagai salah satu diferensial diagnosis. Kata kunci : Tumor Tulang Rawan, Karakteristik, Chondrosarcoma