Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

INVENTARISASI ANGGREK (Orchidaceae) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG BUKIT BETUNG KENEPAI SINTANG KALIMANTAN BARAT Antonius, Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.922

Abstract

Kawasan Hutan Lindung Bukit Betung Kenepai merupakan kawasan hutan dengan tutupan hutan masih asli, sehingga masih kaya akan flora dan fauna endemik kawasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis anggrek (Orchidaceae) epifit dan teresterial. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2023, menggunakan metode eksplorasi sepanjang jalur pendakian. Hasil penelitian ditemukan 16 jenis anggrek, yang terdiri dari 10 jenis anggrek epifit (Apendicula sp, Bulbophyllum auratum, Coelogyne sp, Cymbidium  finlaysonianum, Cymbidium sp, Dendrobium crumenatum, Dendrobium secundum, Dendrobium Smithianum, Dendrobium sp dan Grammotophylum speciosum) dan 6 jenis anggrek teresterial (Arundina graminifolia Ascocentrum miniatum, Bromheadia finlaysoniana, Vanda sp, Vanda tricolor dan sp.).
STUDI TUMBUHAN RAMIN (Gonystylus bancanus) DI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT TAMAN WISATA ALAM BANING KABUPATEN SINTANG Antonius, Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 20 No 1 (2024): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v20i1.1117

Abstract

Habitat tumbuhan Ramin (Gonystylus bancanus) di hutan rawa gambut yang selalu tergenang air. Penelitian tentang tumbuhan Gonystylus bancanus dilakukan pada bulan Janurai – Februari 2024. Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jalur berpetak, satuan contoh berupa jalur pengamatan dengan lebar jalur 20 m, panjang jalur 500 m dan dibuat 3 jalur pengamatan dengan jarak antar jalur pengamatan sejauh 200 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis yang mendominasi adalah Gluta aptera, Shorea pachyphylla, Dyera polyphylla, Combretocarpus rotun, Dryobalanops rappa, Dactylocladus stenostachys dan Dialium sp. Jenis dengan Tingkat asosiasi terkuat ditemukan pada jenis Rengas ungan (Gluta aptera), Mabang (Shorea pachyphylla) dan Jelutung (Dyera polyphylla). Sedangkan jenis dengan tingkat asosiasi terendah terdapat pada jenis Soka Hutan (Ixora sp), Ki Hujan (Engelhardtia serrata) dan jenis Sigam (Ficus grossularioides).
Strategi Pengembangan Desa di Daerah Perbatasan Berdasarkan Potensi Pertanian Lokal: Studi Kasus di Desa Nanga Bayan, Kabupaten Sintang Sebagai Daerah Perbatasan Indonesia-Malaysia Antonius, Antonius; Nikodimus, Nikodimus; Redin, Redin; Salim, Kartika Agus; Kaja, Kaja; Mangardi, Mangardi; Paulus, Paulus; Marjun, Agustinus; Kurnianto, Alexander Andi; Setiawan, Hendra
Ganaya : Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 7 No 2 (2024)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/ganaya.v7i2.3180

Abstract

The border area is the front porch for a country that represents the development of the country. This study aims to identify the potential of local village agriculture that supports family economic strengthening, analyze the economic value of local village potential, formulate a strategy development of Nanga Bayan village. This research was conducted in Nanga Bayan Village, Ketungau Hulu District, Sintang Regency, West Kalimantan Province, in April-September 2023. This research used triangulation method and data are collected through semi-structured interviews, FGDs, and observations. The data were analyzed using descriptive qualitative analysis. SWOT analysis used to formulate the development strategy of Indonesia-Malaysia’s border area. The results showed that the local potential in Nanga Bayan Village as a border area are local agricultural products based on traditional fields, local fruit; traditional weaving and clean water sources. The economic commodities of the people in Nanga Bayan Village are attracting Malaysian. However, transactions that occur are not through official cross-border. The development strategy of the Indonesia-Malaysia Border Village is to develop commodities that are attract Malaysian market. In addition, it is hoped that the plan to build cross-border posts in this area can increase the official buying and selling of goods at the border.
ECOTHERAPY HEALING FOREST SEBAGAI EKOWISATA MINAT KHUSUS DI WILAYAH KONSERVASI TAMAN WISATA ALAM GUNUNG KELAM SINTANG KALIMANTAN BARAT Vincencia Septaviani Issera Sulistya Putri; Antonius Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 22 No 1 (2026): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v22i1.1720

Abstract

Ecotherapy healing forest (EHF) merupakan ekowisata minat khusus untuk program intervensi nonfarmakologis dan memperbaiki kesehatan mental (depresi, kecemasan, stres) menggunakan atraksi lingkungan alami sebagai penunjang terapi. Manfaatnya untuk menurunkan tingkat kejenuhan, depresi/kecemasan/stress, sehingga meningkatkan produktivitas dan kesehatan melalui panca indera, sehingga lingkungan terjaga, kesehatan dan kesejahteraan masyarakat meningkat, selaras dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Penelitian ini dilakukan di Kawasan TWA Gunung Kelam, Kabupaten Sintang. Waktu pengambilan data bulan Agustus 2023 – Januari 2024. Lokasi ditentukan secara purposive dengan mempertimbangkan (1) ± sekitar 20 Km dari kota Sintang; (2) Tempat terjangkau; (3) waktu tempuh ± 30 menit dengan menggunakan kendaraan pribadi; (4) memiliki obyek wisata alam yang eksotis. Metode yang digunakan adalah identifikasi tapak pada jalur yang telah tersedia dan terbagi menjadi 6 titik pengukuran dengan panjang keseluruhan jarak tracking ± 3,9 km dan luasan lahan ± 8 Ha, meliputi pengukuran: (1) pengukuran vegetasi (2) mikroklimat (3) tingkat kebisingan (4) kecepatan angin (5) kandungan ion negatif; dan rekomendasi desain untuk site of ecotherapy healing forest. Berdasarkan hasil analisis identifikasi tapak, persepsi dan preferensi masyarakat, daya dukung tapak, kenyamanan termal dan rekomendasi desain site, maka wilayah konservasi Taman Wisata Alam Gunung Kelam Sintang, sangat representatif untuk menjadi site of ecotherapy healing forest.