Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search
Journal : PIPER

Studi Keanekaragaman Jenis Serangga Daerah Bekas Kebakaran Pada Kawasan Hutan Lindung Bukit Luwit Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang Antonius Anton
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 28 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i28.284

Abstract

Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui untuk mendapatkan informasi tentang keanekaragaman jenis serangga yang terdapat di hutan Lindung Bukit Luwit Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei melalui inventarisasi langsung di lapangan. Metode inventarisasi yang dilakukan dengan membuat plot transek pengamatan berukuran 20 x 20 m, 10 x 10 m, dan 5 x 5 m. Penelitian dilakukan pada waktu pukul 08.00-12.00 WIB, dilanjutkan pukul 13.00-15.00 WIB. Pengambilan pada waktu tersebut berdasarkan pertimbangan waktu serangga aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Indeks keanekaragaman jenis tertinggi terdapat spesies Leptocorisa sp dengan nilai ID 0,225, selanjutnya Anopheles sp dengan nilai ID 0,155; Acherontia sp dengan nilai ID 0,042 ; Tenodora sp dengan nilai ID 0,029; Tenodora sp dengan nilai ID 0,024; Glossina sp dengan nilai ID 0,018; dan terendah adalah Aesha sp dengan nilai ID 0,012. Dominansi jenis tertinggi terdapat pada jenis spesies Leptocorisa sp dengan nilai 0,538 dan terendah spesies Aesha sp dengan nilai 0,005. Nilai densitas tertinggi yaitu spesies Leptocorisa sp dengan nilai Densitas 60,56; spesies Anopheles sp dengan nilai Densitas 30,85 dan spesies Acherontia sp dengan nilai Densitas 5,17. Nilai densitas terendah yaitu 1,82 pada spesies Aesha sp.; 2,49 pada spesies Glossina sp; 3,08 pada spesies Leptocarisa sp dan Tenodora sp; dan nilai Densitas sedang adalah spesies Tenodora sp dengan nilai 3,64. Nilai densitas digolongkan tinggi bila nilai densitas > 5. Untuk nilai densitas dikategorikan sedang bila berada pada kisaran 3,5 – 5. Sedangkan tergolong rendah bila nilai densitas kurang dari 3,5.
UPAYA KONSERVASI EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT Antonius Anton
Publikasi Informasi Pertanian Vol 12, No 23 (2016): Jurnal PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v12i23.31

Abstract

Menurut Puslittanak (1981) luas lahan gambut di Indonesia adalah 26,5 dan luas tersebut terus mengalami penurunan akibat alih fungsi lahan, illegal logging, kebakaran dan pemukiman baru. Lahan gambut merupakan suatu ekosistem yang unik, dan rapuh (fragile), habitatnya terdiri dari gambut dengan kedalaman yang bervariasi mulai dari 25 cm hingga lebih dari 15 m, mempunyai kekayaan flora dan fauna yang khas yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Lahan gambut mempunyai peran yang penting dalam menjaga dan memelihara keseimbangan lingkungan kehidupan, baik sebagai reservoir air, rosot dan carbon storage, perubahan iklim serta keanekaragaman hayati yang saat ini eksistensinya semakin terancam. Sehingga, pegelolaan secara bijaksana harus dilakukan dengan mempertimbangkan aspek sosial, ekonomi dan budaya maupun fungsi ekologi sehingga kelestarian hutan rawa gambut dapat terjamin. Lahan gambut mempunyai karakteristik yang spesifik seperti adanya subsidensi, sifat irreversible drying, hara mineral yang sangat miskin serta sifat keasaman yang tinggi dan mudah terbakar apabila dalam keadaan kering, sehingga peran hidrologi/tata air di lahan gambut sangatlah penting. Ada beberapa tipologi di lahan rawa gambut yang perlu diketahui, sehingga dalam melakukan rehabilitasi hutan rawa gambut terdegradasi dapat lebih berhasil. Pelestarian hutan rawa gambut dengan segala nilai kekayaan biodiversity harus segera ditindaklanjuti dengan nyata, dengan merehabilitasi lahan gambut yang terdegradasi, baik hidrologi maupun revegetasi. Pemilihan jenis yang tepat, teknologi dan kelembagaan rehabilitasi perlu dikaji dan diketahui sehingga kegagalan dalam melakukan rehabilitasi dapat dihindari. Lahan sulfat masam aktual merupakan salah satu lahan konservasi yang memerlukan jenis yang spesifik untuk dapat hidup di situ, karena adanya senyawa pirit yang bersifat racun. Jenis yang dapat tumbuh antara lain : gelam (Melaleuca sp.), tanah-tanah (Combretocarpus rotundatus) dan lain-lain.
Studi Inventarisasi Serangan Hama Pada Karet Alam (Hevea brasilliensis) Di Desa Baras Kecamatan Dedai Kabupaten Sintang Antonius -
Publikasi Informasi Pertanian Vol 15, No 29 (2019): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v15i29.333

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis hama yang mengganggu atau merusak tanaman karet alam dan untuk mengetahui bagian-bagian tanaman karet alam yang diserang oleh hama di wilayah Desa Baras Kecamatan Dedai. Metode yang digunakan adalah metode inventarisasi dan identifikasi hama yang menyerang tanaman karet alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Jenis Hama pada tanaman karet alam yang sering terjadi adalah hama Rayap (Microternes inspiratus), Tikus (Rattus sp), Tupai (Callosciurus notatus), Babi (Sus venrrucosus), Kijang (Muntiacus muntjak) dan Rusa (Rusa timorensis). Serangan hama Rayap (Microternes inspiratus) pada akar hingga pucuk tanaman, Tikus (Rattus sp) menyerang kulit batang dan daun muda, Tupai (Callosciurus notatus) menyerang kulit batang, dahan dan daun serta buah, Babi (Sus venrrucosus) menyerang kulit batang dan daun serta membongkar tanah disekeliling tanaman karet, Kijang (Muntiacus muntjak) menyerang kulit batang dan daun dan Rusa (Rusa timorensis) menyerang kulit batang dan daun.
KEANEKARAGAMAN TUMBUHAN BERNILAI WISATA DI KAWASAN EKOBUDAYA PENAM SENGKUANG LEBUK DESA EMPAKA KEBIAU RAYA SINTANG Antonius -; Vincencia Septaviani Issera Sulistya Putri
Publikasi Informasi Pertanian Vol 17, No 2 (2021): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v17i2.541

Abstract

Kawasan Ekobudaya Penam Sengkuang Lebuk merupakan areal penggunaan lain berhutanyang dijaga oleh masyarakat, yang disebabkan oleh ketergantungannya pada berbagai potensisumberdaya alam yang terdapat di dalam kawasan. Konsekuensi dari keadaan tersebut adalah terjadinyaeksploitasi pada jenis-jenis bernilai wisata, ekonomi dan budaya. Terutama pemanfaatan tumbuhanpenghasil zat pewarna alam, antara lain jenis Rotan Jernang berbatang tunggal. Bila pemanfaatannyatidak terkendali, maka dikhawatirkan terjadinya degradasi berbagai potensi sumberdaya alam hayatibernilai wisata, endemik, dilindungi dan langka. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh informasitentang kondisi keanekaragaman hayati tumbuhan bernilai wisata di kawasan Ekobudaya PenamSengkuang Lebuk. Pengumpulan data vegetasi menggunakan metode eksplorasi. Hasil penelitianmemperlihatkan ditemuinya beberapa jenis tumbuhan bernilai wisata. Cukup tingginya kepedulianmasyarakat terhadap kelestarian sumberdaya alam dengan menetapkan areal penggunaan lain berhutanyang masih memiliki tutupan hutan menjadi kawasan Ekobudaya, telah menyelamatkan berbagai jenistumbuhan bernilai wisata di kawasan Ekobudaya Penam Sengkuang Lebuk.
Keragaman Jenis Anggrek Epifit Sebagai Objek Wisata Alam Di Kawasan TWA Gunung Kelam Kabupaten Sintang Antonius Anton
Publikasi Informasi Pertanian Vol 16, No 30 (2020): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v16i30.372

Abstract

Gunung Kelam sebagai salah satu destinasi wisata alam yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan diantara berbagai objek wisata yang ada di Kabupaten Sintang. Ciri khas Gunung Kelam yang terbentuk dari batu tunggal serta keanekaragaman flora yang tinggi merupakan daya Tarik wisata. Penelitian ini dilakukan untuk mengeksplorasi dan menginventarisasi anggrek di kawasan Taman Wisata Alam Gunung Kelam, serta mengetahui keanekaragaman jenis anggrek. Metode penelitian adalah eksplorasi seluruh kawasan. Hasil penelitian ditemukan 16 (empat belas) jenis anggrek, antara lain adalah : Apendicula sp, Arundina graminifolia (Anggrek bambu), Anggrek kebutan (Ascocentrum miniatum), Bulbophyllum auratum (Lindl) Rchb. F, Anggrek Joget (Bromheadia finlaysoniana (Lindl) Rchb. F.), Coelogyne sp, Cymbidium finlaysonianum (Anggrek Lidah Ular), Cymbidium sp, Dendrobium crumenatum Swartz (Anggrek Merpati), Dendrobium secundum (Anggrek sikat), Dendrobium Smithianum Schltr, Dendrobium sp, Grammotophylum speciosum (Anggrek tebu), Vanda sp, Vanda tricolor dan satu jenis yang belum diketahui namanya.
KONSERVASI HABITAT ROTAN JERNANG EKOSISTEM HUTAN RAWA GAMBUT PADA KAWASAN EKOBUDAYA PENAM SENGKUANG LEBUK Antonius -; Vincencia Septaviani Issera Sulistya Putri
Publikasi Informasi Pertanian Vol 18, No 2 (2022): JURNAL PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v18i2.676

Abstract

Rotan penghasil resin/getah jernang merupakan sumber daya hayati yang bernilai ekonomitinggi dan berperan dalam konservasi habitatnya. Keberadaan rotan Jernang penghasil resin semakinlangka seiring dengan semakin pesatnya konversi lahan hutan untuk berbagai aktivitas pembangunan.Beberapa populasi rotan jernang masih ditemukan tumbuh di Desa Empaka Kebiau Raya. Sebelumnyatidak pernah dilakukan penelitian mengenai tindakan konservasi dan habitat rotan Jernang di KabupatenSintang. Penelitian ini bertujuan untuk tindakan konservasi, morfologi, habitat Rotan jernang khas ekosistemhutan rawa gambut. Metode penelitian menggunakan metode survey, untuk pengambilan sampel melaluipengukuran parameter morfologi langsung dilakukan di lapangan. Jenis yang digunakan adalah Rotanjernang (Calamus sp) dan karakteristik lingkungan. Metode purposive random sampling digunakanuntuk pengambilan sampel, dengan tiga petak yang berukuran 50 x 50 m. Berdasarkan hasil penelitianditemukan 22 jenis pohon di sekitar Rotan jernang (Calamus sp), yang didominasi 5 jenis berturutturutdari yang tertinggi adalah Shorea pachyphylla, Copaifera palustris, Swintonia glauca Engl,Dryobalanops rappa Becc, dan Macaranga gigantea.Ciri-ciri Rotan jernang (Calamus sp) berbatangtunggal dan tumbuh di tanah gambut dangkal. Kondisi lingkungan di lokasi tempat tumbuh memilikielevasi 31-33 m.dpl, suhu udara berkisar antara 30 – 310C; intensitas cahaya 193-447 Lux; dankelembaban 68-76,5 %.Tindakan konservasi Rotan jernang (Calamus sp) dilakukan melalui konservasiin-situ.
PENGARUH SUMBER MEDIA SEMAI TERHADAP PERTUMBUHAN SEMAI Shorea parvifolia Dyer DI PERSEMAIAN Antonius antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19, No 1 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas Sintang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i1.786

Abstract

Dua tantangan besar di hadapi kehutanan Indonesia pada abad ke-21, yaitu pasar bebasdan ekolabel sehingga perlu membangun hutan tanaman yang produktif, efisien, kompetitif, sehat danlestari melalui penerapan silvikultur intensif. Keberhasilan program pemuliaan tersebut sangat tergantungdari materi (benih) yang digunakan dalam pembangunan hutan, dan ini dapat dilihat melalui pertumbuhantanaman dari tingkat semai hingga penanaman di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuipertumbuhan S. parvifolia Dyer. di persemaian, yang terdiri dari pertumbuhan diameter dan pertumbuhantinggi tanaman. Metode yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan perlakuanberupa tanah di bawah naungan pohon dan tanah dibawah tumbuhan alang-alang. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang sangat nyata yang ditunjukkan dengan nilai F. Hitunguntuk karakter sebesar 22,06 pada taraf kepercayaan 5% dan 1%. Untuk pertumbuhan diameterbatang menunjukkan perbedaan yang santa nyata pada taraf uji 0,01 atau 1%.
INVENTARISASI ANGGREK (Orchidaceae) DI KAWASAN HUTAN LINDUNG BUKIT BETUNG KENEPAI SINTANG KALIMANTAN BARAT Antonius, Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 19 No 2 (2023): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v19i2.922

Abstract

Kawasan Hutan Lindung Bukit Betung Kenepai merupakan kawasan hutan dengan tutupan hutan masih asli, sehingga masih kaya akan flora dan fauna endemik kawasan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui jenis-jenis anggrek (Orchidaceae) epifit dan teresterial. Penelitian dilaksanakan pada Bulan Mei 2023, menggunakan metode eksplorasi sepanjang jalur pendakian. Hasil penelitian ditemukan 16 jenis anggrek, yang terdiri dari 10 jenis anggrek epifit (Apendicula sp, Bulbophyllum auratum, Coelogyne sp, Cymbidium  finlaysonianum, Cymbidium sp, Dendrobium crumenatum, Dendrobium secundum, Dendrobium Smithianum, Dendrobium sp dan Grammotophylum speciosum) dan 6 jenis anggrek teresterial (Arundina graminifolia Ascocentrum miniatum, Bromheadia finlaysoniana, Vanda sp, Vanda tricolor dan sp.).
STUDI TUMBUHAN RAMIN (Gonystylus bancanus) DI KAWASAN HUTAN RAWA GAMBUT TAMAN WISATA ALAM BANING KABUPATEN SINTANG Antonius, Antonius
Publikasi Informasi Pertanian Vol 20 No 1 (2024): PIPER
Publisher : Universitas Kapuas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51826/piper.v20i1.1117

Abstract

Habitat tumbuhan Ramin (Gonystylus bancanus) di hutan rawa gambut yang selalu tergenang air. Penelitian tentang tumbuhan Gonystylus bancanus dilakukan pada bulan Janurai – Februari 2024. Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan teknik sampling jalur berpetak, satuan contoh berupa jalur pengamatan dengan lebar jalur 20 m, panjang jalur 500 m dan dibuat 3 jalur pengamatan dengan jarak antar jalur pengamatan sejauh 200 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis yang mendominasi adalah Gluta aptera, Shorea pachyphylla, Dyera polyphylla, Combretocarpus rotun, Dryobalanops rappa, Dactylocladus stenostachys dan Dialium sp. Jenis dengan Tingkat asosiasi terkuat ditemukan pada jenis Rengas ungan (Gluta aptera), Mabang (Shorea pachyphylla) dan Jelutung (Dyera polyphylla). Sedangkan jenis dengan tingkat asosiasi terendah terdapat pada jenis Soka Hutan (Ixora sp), Ki Hujan (Engelhardtia serrata) dan jenis Sigam (Ficus grossularioides).