Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI DEPRESI PADA NARAPIDANA DI LAPAS Misbah Ayu Nafarizka; Iman Santoso
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 8, No 5 (2021): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v8i5.2021.1220-1232

Abstract

Narapidana merupakan seorang terpidana yang akibat dari perbuatannya melakukan tindak pidana mengakibatkan dirinya harus diberikan pembinaan didalam Lembaga Pemasyarakatan dan dirampas hak kebebasan bergeraknya dalam kurun waktu yang berbeda-beda sesuai dengan keputusan pengadilan yang telah ditetapkan. Dalam implementasinya, tidak semua narapidana dapat melakukan pembinaan dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang dianjurkan, terdapat beberapa narapidana didalam Lapas yang malah menentang dan tidak mau diberikan pembinaan. Salah satu faktor mereka menolak untuk diberikan pembinaan karena mereka merasa tertekan dan mengalami depresi. Penelitian yang dilakukan bersifat kajian narrative, penulis mengumpulkan beberapa artikel terkait lalu mengidentifikasi artikel tersebut. Hasil penelitian mengatakan ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi depresi pada narapidana yaitu hubungan keluarga dan narapidana yang tidak harmonis, narapidana yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungan dan merasa bahwa dirinya tidak pantas berada didalam penjara, narapidana yang tidak siap kembali kedalam lingkungan masyarakat akibat merasa dirinya kotor dan tidak pantas, tidak terpenuhnya kebutuhan biologis seorang narapidana, bahkan narapidana khususnya hukuman berat seperti hukuman mati dan seumur hidup yang merasa tertekan akan hukuman yang diberikan kepada mereka. Untuk mengatasi terjadinya depresi yang dirasakan oleh narapidana alangkah baiknya untuk para tenaga kesehatan lapas lebih memperhatikan kesehatan mental mereka dan tentunya petugas memberikan kegiatan yang lebih bermanfaat sebagai bentuk mengisi waktu luang mereka, dan tidak kalah penting adanya dukungan dari keluarga kepada narapidana sebagai bentuk peduli kepada para narapidana didalam Lapas.
Perbandingan Personality Traits, Rasa Bersalah dan Rasa Malu Pengedar Narkoba: Nonresidivis Versus Residivis Imaduddin Hamzah; Iman Santoso
Jurnal Psikologi Teori dan Terapan Vol. 11 No. 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (570.885 KB) | DOI: 10.26740/jptt.v11n2.p141-157

Abstract

Various researches on drug abuse crimes have focused more on drug users or addicts. Meanwhile, investigations into drug dealers and producers have received very little attention. The majority of drug convicts in prisons are drug traffickers, which has resulted in a significant increase in drug trafficking cases in Indonesia. This study aimed to identify differences in personality traits, guilt, and shame of non-recidivists and drug dealers. The research was conducted on one hundred and fifty-five prisoners at the Cibinong Penitentiary, West Java, Indonesia. The measurement uses a scale of the big five personality traits which has been adapted into Indonesian, and the Guilt and Shame Proneness Scale (GASP) was developed by Cohen, Wolf, Panter, and Insko. This study found that there were differences in personality traits in terms of agreeableness and neuroticism between non-recidivists and recidivists. The difference test concluded that guilt and shame did not show any differences between the two groups of prisoners. This conclusion can provide a basis for consideration of developing a program to develop drug trafficking convicts to prevent the re-offense of crimes after being released.Keywords : Personality traits, guilt, shame, non-recidivists, recidivists Abstrak. Berbagai penelitian kejahatan penyalahgunaan narkoba selama ini lebih memfokuskan pada pengguna atau pecandu narkoba. Sedangkan penyelidikan terhadap para pengedar dan produsen  narkoba masih sangat kurang mendapatkan perhatian. Mayoritas  narapidana kejahatan narkoba di lembaga pemasyarakatan adalah para pengedar narkoba yang mengakibatkan peningkatan yang signifikan dalam kasus peredaran obat terlarang di Indonesia. Studi ini bertujuan mengidentifikasi perbedaan dalam sifat kepribadian, rasa bersalah, dan rasa malu nonresidivis dan residivis pengedar  narkoba.  Penelitian dilakukan pada seratus lima puluh lima narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Cibinong, Jawa Barat, Indonesia, Pengukuran menggunakan skala the big five personality traits yang telah diadaptasi ke dalam bahasa Indonesia dan Guilt and Shame Proneness Scale (GASP) dikembangkan oleh Cohen, Wolf, Panter dan Insko. Studi ini menemukan ada perbedaan personality traits dalam aspek pada agreeableness dan neuroticism non-residivis dengan residivis. Uji perbedaan  menyimpulkan rasa bersalah dan rasa malu tidak menunjukkan perbedaan antara kedua kelompok narapidana. Kesimpulan ini dapat memberikan dasar pertimbangan pembuatan program pembinaan narapidana pengedar narkoba untuk mencegah pengulangan kejahatan setelah bebas.
Penanganan Coping Strees Pada Warga Binaan Pemasyarakatan Di Lapas dan Rutan Iqbal rafi’ athallah; Iman Santoso
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.185 KB) | DOI: 10.31004/innovative.v2i1.152

Abstract

Stress adalah suatu kondisi atau situasi yang dianggap menegangkan apabila seseorang berada pada suatu masalah ataupun tantangan serta seseorang belum mendapatkan atau menemukan jalan keluar dari permasalahan tersebut itu adalah suatu kondisi yang dinamakan stres. Kondisi stres juga bisa dirasakan oleh setiap orang baik di luar atau tempat umum atau di dalam penjara seperti lapas dan rutan. Hal ini menjadi suatu topik atau permasalahan bagaimana penanganan para warga binaan pemasyarakatan untuk menangani stres tersebut didalam lembaga pemasyarakatan serta rumah tahanan negara dengan cara melakukan suatu tindakan yang dinamakan coping stres. Coping stress sendiri adalah suatu tindakan yang dimiliki setiap individu dengan tujuan untuk menghilangkan atau mengurangi serta menggantikan keadaan yang penuh dengan tekanan serta masalah untuk beradaptasi dengan situasi lingkungan yang baru sehingga stres yang dialami atau masalah yang dialami menjadi hilang. Kegiatan coping stres yang dilaksanakan oleh para warga binaan pemasyarakatan di lembaga pemasyarakatan atau rumah tahanan negara adalah dengan melakukan kegiatan sehari-hari yang dianggap mereka dapat memberikan ketenangan baik jiwa maupun jasmani bagi mereka serta melaksanakan pembinaan pembinaan yang berada di dalam lapas atau rutan.
Analisa Penyimpangan Seksual Di Lembaga Pemasyarakatan Indah Noo r Ramadhani; Iman Santoso
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 2 No. 1 (2022): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.618 KB) | DOI: 10.31004/innovative.v2i1.153

Abstract

Narapidana atau yang bisa dikenaI dengan warga binaan pemasyarakatan(WBP) ditempatkan di Iapas, tentunya haI ini memiIiki maksud dan tujuan yakni guna narapidana menjadi orang yang Iebih baik dan taat terhadap hukum. Akan tetapi faktanya banyak narapidana yang meIakukan penyimpangan seksuaI, tidak terkecuaIi Iapas yang memiIiki peIuang terjadinya haI ini. PeriIaku seksuaI menyimpang iaIah segaIa tingkah Iaku yang didorong oIeh hasrat dengan Iawan jenis maupun dengan sesama jenis. SeksuaI adaIah kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi. Kondisi ini disebabkan oIeh perIakuan berupa pembatasan kebebasan gerak yang diaIami oIeh narapidana untuk memenuhi tuntutan kebutuhan biIogis (seksuaI). Tujuan dari peneIitian ini adaIah untuk mengetahui apakah faktor yang menyebabkan terjadinya penyimpangan seksuaI narapidana di daIam Iapas, dan bagaimana upaya yang diIakukan oIeh pihak Iapas untuk mengantisipasi perbuatan penyimpangan seksuaI tersebut. PerIakuan yang tepat yang dapat diIakukan untuk menangani kasus ini iaIah memberikan informasi peIayanan dan sosiaIisasi akibat LGBT serta dampaknya yang memiIiki pengaruh ke kesehatan fisik dan psikis, memberikan Iayanan bimbingan dan konseIing individu dan keIompok, agama Iayanan bimbingan dan konseIing serta ceramah agama yang diberikan oIeh para ahIi.
ANALISIS PENGARUH KUALITAS PELAYANAN KESEHATAN TERHADAP KEPUASAN NARAPIDANA DAN TAHANAN DI LAPAS KELAS I CIPINANG Yourike Yasmine Layt; Ade Cici Rohayati; Markus Marselinus Soge; Iman Santoso
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 10, No 2 (2023): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v10i2.2023.655-665

Abstract

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu hak narapidana dan tahanan sebagaimana tertuang dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022 Tentang Pemasyarakatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan kesehatan terhadap kepuasan narapidana dan tahanan, kendala dan cara meningkatkan pelayanan kesehatan di Lapas Kelas I Cipinang. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode campuran dengan sequential explanatory design, yaitu penyebaran kuesioner terhadap 66 responden, wawancara, dan observasi terhadap narapidana, tahanan, dan pengelola Lapas. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh antara kualitas pelayanan kesehatan dengan kepuasan narapidana dan tahanan di Lapas Kelas I Cipinang dengan nilai R Square sebesar 80,1% dan 10,9% disebabkan oleh faktor lainnya. Kendala dalam pelayanan kesehatan yaitu tidak adanya ruang rawat inap, penggunaan ruang karantina digabungkan antara penyakit menular dan penyakit berat, ketersediaan obat sewaktu-waktu kurang, fasilitas ruang IGD kurang memadai, kurang meratanya edukasi kesehatan yang diberikan, tenaga medis terbatas, belum terpenuhinya secara keseluruhan tenaga medis yang sesuai spesifikasi keilmuan, narapidana kurang mendapatkan perhatian. Cara untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yaitu berkoordinasi dengan instansi lain seperti Dinas Kesehatan, Puskesmas, maupun Rumah Sakit,  pemenuhan jumlah tenaga medis seperti apoteker, ahli gizi, psikolog, sanitarian yang disertai dengan pendidikan dan pelatihan, disediakan dan pisahkan ruangan untuk penyakit menular dan penyakit berat.
Analisis Psikologi Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Adaptasi Narapidana di Lapas Kelas I Cipinang Tegar Aria Taba; Iman Santoso
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 7, No 3 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v7i3.2023.833-837

Abstract

Penelitian ini menganalisis faktor-faktor psikologis yang memengaruhi adaptasi narapidana di Lapas Kelas I Cipinang, Indonesia. Adaptasi narapidana di lembaga pemasyarakatan adalah kunci untuk mengurangi risiko kriminalitas pasca-pembebasan. Faktor-faktor psikologis, seperti motivasi untuk perubahan, kemandirian, self-esteem, kemampuan beradaptasi dengan stres, dan dukungan psikologis, memainkan peran penting dalam proses adaptasi ini.Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi narapidana untuk mengubah perilaku kriminal muncul setelah merasakan dampak negatif tindakan mereka. Kemandirian dan kekuatan mental narapidana memengaruhi adaptasi, sedangkan self-esteem yang rendah dan isolasi sosial menghambatnya.Program rehabilitasi efektif dan dukungan psikologis membantu narapidana mengatasi faktor-faktor psikologis ini. Penelitian ini memberikan wawasan tentang peran faktor-faktor psikologis dalam adaptasi narapidana dan pentingnya persiapan pembebasan yang memadai. Dengan perhatian lebih terhadap faktor-faktor ini, adaptasi narapidana dapat ditingkatkan, memberikan peluang perubahan positif dalam kehidupan mereka, dan mengurangi risiko kriminalitas pasca-pembebasan. Kata Kunci: Psikologis Narapidina, Kesehatan Mental Narapidana, Lapas Cipinang
Adaptation of a Sexual Violence Measuring Tool to Classify the Risk of Convicts Who Perpetrate Sexual Violence Rachmayanthy .; Maki Zaenudin S; Iman Santoso; Ali Muhammad; Imaduddin Hamzah
卷 6 编号 1 (2023): Journal of Correctional Issues (JCI)
Publisher : Polteknik Ilmu Pemasyarakatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52472/jci.v6i1.366

Abstract

This study aims to develop a risk assessment tool for sexual violence recidivism in incarcerated individuals in Indonesia, considering both static and dynamic factors. Data analysis showed a strong positive correlation between recidivism and "Prior Sexual Offenses" (0.554) and the total static factor score (0.251). The frequency of sexual violence also moderately correlated with recidivism (0.232). Certain static factors had better predictive capabilities for identifying recidivism, while others showed lower predictive power. Regarding dynamic factors, the study found strong positive correlations with deviant sexual lifestyle (0.741) and sexual compulsivity (0.676), and weaker correlations with Interpersonal Aggression (0.505) and attitude towards criminal behavior (0.286). The total static and dynamic factor scores had a significantly positive and strong correlation (0.872), highlighting their importance in predicting recidivism. The AUC analysis indicated good predictive capabilities for recidivism in certain dynamic factors like interpersonal aggression and emotional self-control, while others had lower predictive abilities. Overall, the combined total score of static and dynamic factors yielded higher predictive capabilities (AUC=0.783). This research contributes to the development of an accurate risk assessment tool for sexual violence recidivism, aiding in identifying high-risk offenders and designing effective rehabilitation programs to prevent future recidivism.