Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

BEBERAPA ASPEK BIOLOGI IKAN SEMBILANG (Plotosus canius) DI PERAIRAN LANGSA Nur Fazillah; Agus Putra AS; Muhammad Fauzan Isma
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol 6, No 1 (2022): JFMR VOL 6 NO.1
Publisher : JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2022.006.01.8

Abstract

Abstrak: Ikan sembilang (Plotosus canius) adalah ikan konsumsi yang banyak  digemari oleh masyarakat pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis beberapa aspek biologi ikan sembilang di perairan estuaria langsa. Jumlah ikan yang diamati sebanyak 100 ekor ikan (78 ekor ikan jantan dan 22 ekor ikan betina). Pengamatan dilakukan pada hubungan panjang berat, faktor kondisi, tingkat kematangan gonad dan kebiasaan makan ikan. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan  bahwa ikan sembilang jantan berada pada kisaran 26 – 39 cm dan berat 95 – 280 gr. Sedangkan ikan betina berada pada kisaran panjang 28 – 36,3 dan berat 117 – 214 g. Hubungan panjang berat memiliki pola pertumbuhan alometrik negatif dimana nilai b= 2.582 untuk jantan dan b= 1.526 untuk betina dengan korelasi mendekati 1 mengindikasikan pola petumbuhan panjang selalu di ikuti dengan pertambahan beratnya (r =0,88) untuk jantan dan (r=0,71) untuk betina. Nilai rata-rata faktor kondisi jantan dan betina 1.1048 dan 1.0102 menunjukkan kondisi jantan lebih baik dari betina. Ditemukan tingkat kematangan gonad sembilang I dan II pada ukuran tubuh yang berbeda. Organisme yang ditemukan dalam saluran pencernaan terdiri atas lima jenis yakni udang, cacing, potongan ikan, kepiting dan tercerna. IP>40% pada jenis makanan udang 42% yang berarti sebagai makanan utama
Development of a Gymnastics Movement through Exploration of the Cultural Values of the Aceh Rampoe Dance in Langsa City Yoki Afriandy Rangkuti; Rizkei Kurniawan; Dedi Andriansyah; Muhammad Fauzan Isma
Kinestetik : Jurnal Ilmiah Pendidikan Jasmani Vol 5 No 2 (2021): JUNI (ACCREDITED SINTA 3)
Publisher : UNIB Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33369/jk.v5i2.13154

Abstract

This study is a study that explores cultural values and develops a gymnastic movement that originates from the Aceh Rampoe dance in Langsa City. The research method used is a combination of qualitative research and development (Research & Development) from Brog and Gall. In the part of exploring the cultural values of the Rampoe Aceh dance, qualitative research methods are used with a holistic approach through in-depth interviews and direct observation at dance studios. Historical analysis of this dance is not a traditional Aceh dance that has existed for a long time. accordance with the terminology of the naming "Rampoe" which in Indonesian translation means "mixture", then this is the essence of the Aceh Rampoe dance. This dance is created and developed by combining or a mixture of several types of traditional Acehnese dances, such as the Likok dance, the Saman dance, and the Seudati dance. At each movement and the translation of the meanings contained in the Rampoe dance, it shows a variety of life messages related to the orientation of cultural values, namely first, the connection between the essence of a life of the Acehnese people (MH), and secondly related to the nature of the relationship between the Acehnese people and others. human (MM). A cultural value orientation that leads to the essence of life in oneself which is a creature that is created and has the creator, as well as relationships with other creatures (humans). So it requires a way to remind oneself to build a relationship between the creator and the creator (Allah SWT), which is accommodated by the element of religiosity that is felt in the lyrics of the Rampoe dance which are full of recitations of shahada and Shalawat. The Rampoe dance movement consists of Nyap (bending), moving steps, Rheng (horizontal movement), Asek which is a movement of turning the head from right to left, Ketrip Jaroe which is a movement in the form of snapping fingers, Nyet which is the body resting on the feet, then Dhet namely the movement of shrugging while the hand is slapped to the rhythm of the song, Gudam Kaki, and Puta Taloe, which is moving alternately between dancers.
Utilization of the Potential of Microorganism Biotechnology to Increase Fisheries Productivity Among the Community Muhammad Fauzan Isma
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (128.403 KB)

Abstract

Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, yang memiliki panjang garis pantai 81.000 km dan luas laut sekitar 3,1 juta km2. peningkatan produksi perikanan nasional yang diprogramkan Menteri Kelautan dan Perikanan hingga 350% menuntut semua pihak yang terkait berpikir maksimal guna mengoptimalkan segala potensi. Tingkat keberhasilan dalam budidaya perikanan sangat dipengaruhi oleh kemampuan membentuk ekosistem yang mampu mendukung kehidupan ikan yang dipelihara dan penyediaan pakan berkualitas dengan harga yang cukup terjangkau. Pada ekosistem perairan, khususnya lingkungan budidaya ikan, mikroorganisme memiliki peran sangat kompleks dan vital. Seiring meningkatnya taraf pengetahuan masyarakat dan kesadaran budidaya yang berkelanjutan, pola pikir pembudidaya mulai bergeser ke arah optimalisasi peran mikroorganisme sebagai sahabat, dan bukan semata sebagai jasad penyebab masalah yang harus dimusnahkan dari ekosistem budidaya. Hal ini tentunya dapat tercapai apabila pembudidaya mampu mengelola jasad renik tersebut secara benar. Kemampuan mikroorganisme menghasilkan enzim pencernaan dan mengkonversi limbah pertanian menjadi protein juga sangat potensial untuk dimanfaatkan dalam menyediakan bahan baku pakan alternatif dengan harga yang cukup terjangkau. Pemanfaatan bioteknologi berbasis mikroorganisme secara intensif dalam mengatasi permasalahan limbah budidaya, agen biokontrol, pakan alami, dan agen fermentasi pakan diharapkan mampu mendongkrak produktivitas budidaya perikanan di kalangan masyarakat luas.
Bioeconomic Analysis of Pelagic Fishing Gear Resources in the Meranti Archipelago, Riau Province Muhammad Fauzan Isma
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 1 No 1 (2017): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.13 KB)

Abstract

Berbagai jenis pemanfaatan telah dilakukan dan hasilnya mendatangkan keuntungan dengan nilai ekonomi yang besar. Beberapa negara bahkan sangat diuntungkan oleh sumberdaya perikanan yang mereka miliki, Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan 75% dari perikanan laut dunia sudah tereksploitasi penuh, mengalami tangkap lebih (overfishing) atau stok yang tersisa bahkan sudah terkuras hanya 25% dari sumberdaya yang masih berada pada kondisi tangkap kurang (DPK Riau, 2013). Untuk memperoleh keuntungan dengan memperhatikan kelestarian sumberdaya ikan di kabupaten Kepulauan Meranti perlu dilakukan suatu usaha pendekatan yang memperhatikan aspek biologis dan ekonomis, sehingga nelayan dalam melakukan aktifitasnya dapat memperoleh keuntungan secara maksimal tetapi sumberdaya ikan tetap lestari. Untuk itu maka digunakan pendekatan bioekonomi untuk mengestimasi aspek biologi, ekonomi dan sosial dalam melakukan usaha penangkapan ikan. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu kajian pemanfaatan sumberdaya perikanan tangkap dengan pendekatan bioekonomi. Hasil penelitian perikanan tangkap di kabupaten Kepulauan Meranti saat ini menghasilkan produksi (catch) sebesar 509,25 ton/tahun pada saat upaya penangkapan (effort) sebesar 7.773,17 trip/tahun, kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan perikanan tangkap mencapai 98,21 % dari potensi maksimum lestarinya CMSY sebesar 518,52 ton/tahun yang telah melebihi jumlah tangkapan yang diperbolehkan/Total Allowabel Catch (TAC) yaitu 80 %, begitu juga dengan tingkat upaya penangkapan mencapai 90,70 % dari upaya penangkapan lestarinya EMSY sebesar 8.570,62 trip/tahun, maka dapat dinyatakan perikanan tangkap di kabupaten kepulauan meranti telah menuju puncak overfishing dan perlu mendapatkan perhatian yang mutlak terhadap kelestariannya.
Kemunculan Kerang Pharella Acutidens Dikaitkan Dengan Salinitas Perairan Hutan Mangrove Di Perairan Dumai, Provinsi Riau Muhammad Fauzan Isma
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 1 No 2 (2017): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (655.23 KB)

Abstract

Estuari merupakan zona transisi atau ekoton antara habitat air tawar dan laut dengan sifat fisik dan biologinya yang unik (Odum, 1998). Salah satu keunikan tersebut adalah tingginya bahan organik yang terkandung didalamnya sehingga estuaria menjadi perairan yang sangat produktif sebagai wadah penimbunan bahan organik berupa substrat yang terbawa oleh arus sungai dan laut. Tingginya kandungan bahan organik tersebut menjadikan perairan estuaria sebagai habitat bagi berbagai macam organisme. Dewasa ini hutan mangrove ditetapkan sebagai jalur hijau di daerah pantai dan tepi sungai yang berfungsi mempertahankan tanah pantai dan kelangsungan hidup biota laut seperti ikan, udang, kepiting lakon, siput dan biota lainnya. Salah satu sumberdaya hayati yang terdapat di hutan mangrove adalah Kerang Pharella acutidens. Kerang ini di Dumai dikenal dengan nama Sipetang dan merupakan salah satu sumber protein bagi penduduk setempat. Kerang ini diberi nama Sipetang oleh penduduk setempat karena sering muncul ke permukaan sedimen pada petang hari, mempunyai daging yang relatif tebal dan enak. Salinitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi keberadaan kerang Sipetang P. acutidens, tinggi rendahnya salinitas dapat menjadi indikator keberadaan kerang Sipetang P. acutidens di suatu perairan yang dipengaruhi pasang surut. Maka perlu dilakukan suatu penelitian tentang kemunculan kerang Pharella acutidens yang dikaitkan dengan salinitas akibat pasut pada pagi hari dan sore hari diperairan Dumai Provinsi Riau. Hasil penelitian menunjukkan ada kecendrungan semakin tinggi salinitas perairan maka semakin rendah kemunculan kerang di permukaan dasar perairan dengan rata-rata salinitas 18,92 adalah salinitas yang nyaman untuk muncul akan tetapi bila ditinjau dari determinasi salinitas terhadap kemunculan kerang Pharella acutidens hanya sebesar 4%, maka ada kontribusi sebesar 96% yang berasal dari faktor ekologi lain.
PENGARUH PERBEDAAN SHELTER TERHADAP TINGKAT KELANGSUNGAN HIDUP DAN PERTUMBUHAN LOBSTER AIR TAWAR (Cherax quadricarinatus) Fadhlan; Muhammad Fauzan Isma; Muhammad Syahril
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jisa.v5i1.3547

Abstract

Freshwater crayfish (Cerax quadricarinatus) is a type of shrimp that is widely cultivated in Indonesia and other countries such as Australia, America and England. The high selling price of freshwater crayfish itself is still not comparable to the length of maintenance that takes 6-12 months for lobsters of 50-150 grams / head, and a high mortality rate of up to 30%. The aim of this research is to determine the survival and growth in freshwater crayfish through different shelter treatments. The method used in this study was the CRD method (completely randomized design) with 4 lecturers and 3 replications. In treatment 1 with Paralon pipe shelter, treatment 2 with coconut leaf shelter, treatment 3 with rooster rock shelter and treatment 4 with synthetic grass shelter. The results of the treatment had no significant effect on survival, moulting percentage, absolute weight growth and absolute length growth. There are 3 treatments with a percentage value of 100%, namely the S1, S2, S3 treatment and the lowest in the S4 treatment with a value of 95.83%, the highest moulting percentage is in the S1 treatment which is 0.38% and the lowest is in the S3 treatment which is 0.17 %. The highest absolute weight growth was found in S1 treatment, namely 3.11 gr and the lowest growth in S3 treatment, namely 1.19 gr. The absolute length growth shows the highest result is obtained at S1, namely 0.14 cm, while the lowest absolute length growth is found in S3, namely 0.06 cm.
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN MAS KOI (Cyprinus carpio) Eka Kristina Simamora; Cut Mulyani; Muhammad Fauzan Isma
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jisa.v5i1.3548

Abstract

Koi fish (Cyprinus carpio) is a cultivated commodity that is in great demand by ornamental fish consumen. The research was conducted to determine the effect of different feeding options on the growth and survival of koi fish (Cyprinus carpio). The method used was a completely randomized design with 4 treatments and 3 replications. In P1 namely the use of pellet feed, P2 of artemia feed, P3 of Daphnia sp. feed, and P4 of silk worms. The parameters observed during the study were absolute length growth (PBM), absolute length growth (PPM) , survival rate (SR), and feed conversion ratio (FCR). The result of these observations had a very significant effect on the absolute length growth with the best treatment found at P4 of 2,34 cm, the growth in absolute weight had a very significant effect with the best treatment found at P4 of 3,41 g, and the feed convertion ratio has a very significant effect with the highest treatment found in P3 of 3,11. But it had no significant effect on the survival rate of koi fish (Cyprinus carpio).
Kinerja Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Depik (Rasbora tawarensis) yang diberi Daphnia sp. dengan Pemberian Pakan yang Berbeda Cut Nur Delima; Cut Mulyani; Muhammad Fauzan Isma
Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika Vol 5 No 1 (2021): Jurnal Ilmiah Samudra Akuatika
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33059/jisa.v5i1.3551

Abstract

: Depik fish (Rasbora tawarensis) is a type of freshwater fish that lives in Laut Tawar Lake, Central Aceh Regency. Depic fish is a pelagic endemic fish. This study aims to determine the best feed for (Daphnia sp.) on the growth and survival of depic fish (Rasbora tawarensis) seed. The method used was a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 3 replications, namely P1 (Daphnia sp. Given powder pellets). P2 (Daphnia sp. Given yeast feed). P3 (Daphnia sp. Given Spirulina) and P4 (Daphnia sp. Given Green water). Each treatment uses seeds measuring 2-3 cm. The parameters observed during the study were water quality, survival rate (SR), absolute weight growth (PBM), absolute length growth (PPM), and specific growth rate (SGR.The results of observations based on analysis of variance showed that Daphnia sp. Has significant effect (P <0.05) on absolute weight growth, absolute length growth but has no significant effect on specific growth rates and survival. The best treatment for different feeding in this study was P2 (yeast feeding) and P3 (spirulina feeding) treatment.
PEMANFAATAN HASIL TANGKAP UDANG GALAH SEBAGAI BUDIDAYA UDANG GALAH DENGAN SISTEM BIOFLOKS DI DESA BAYEUN KECAMATAN BIREM BAYEUN KABUPATEN ACEH TIMUR Andika Putriningtias; Muhammad Fauzan Isma; Thursina Mahyuddin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 6, No 4 (2022): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v6i4.10924

Abstract

ABSTRAKUdang galah (Macrobrachium rosenbergii) merupakan salah satu biota perikanan air tawar yang sangat berpotensi untuk dibudidayakan secara komersial. Desa Bayeun merupakan salah satu wilayah yang cocok bagi pertumbuhan Udang galah karena memiliki topografi dataran rendah yang dilalui oleh Sungai Alur Itam dengan kondisi air sungai yang berarus sedang dan terdapat perairan tawar. Hasil tangkapan udang galah rata-rata 10 kg per hari dengan berbagai tipe ukuran, yaitu buah 1,2, dan 3. Hasil tangkapan tersebut langsung didistribusikan ke agen dan konsumen dengan variasi harga yang berbeda berdasarkan ukuran, harga tertinggi udang galah tipe buah 1 (Rp. 140.000,-) dan terendah tipe buah 3 (Rp. 65.000,-), namun banyak hasil tangkapan nelayan yang ukurannya di bawah tipe buah 3 yang menyebabkan tidak sesuainya permintaan pasar terhadap udang galah tersebut. Tujuan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat ini adalah memberi solusi kepada nelayan setempat dengan melakukan pemilahan ukuran udang yang masih kecil untuk dibudidayakan kembali dengan sistem bioflok agar nantinya udang galah dapat layak di pasarkan sesuai tipe untuk mendapatkan harga jual yang sesuai dan menambah penghasilan bagi nelayan. Metode pengabdian yang digunakan yaitu survei pendahuluan mengenai masalah mitra, sosialisasi, pembuatan bioflok, pelatihan dan pendampingan pada mitra KUB KATEUKA JAYA yang anggotanya berjumlah 15 orang. Hasil dari PKM ini adalah adanya peningkatan hardskill mitra dalam mengelola udang galah hasil tangkapan yang ukurannya kecil dan nilai jual udang galah yang berhasil dibesarkan dan dibudidayakan pada kolam bioflok meningkatkan pendapatan mitra. Kata kunci: bayeun; bioflok; budidaya; nilai tambah; udang galah ABSTRACTGiant prawns (Macrobrachium rosenbergii) is one of the freshwater fisheries biota that has the potential to be cultivated commercially. Bayeun Village is a suitable area for the growth of giant prawns because it has a lowland topography that is traversed by the Alur Itam River with moderate river water conditions and fresh water. The catch of giant prawns is an average of 10 kg per day with various types of sizes, namely fruit 1, 2 and 3. The catch is directly distributed to agents and consumers with different price variations based on size, the highest price for giant prawns is fruit type 1 (Rp. 140,000,-) and the lowest is fruit type 3 (Rp. 65,000,-), but many fishermen's catches are below fruit type 3 which causes the market demand for these giant prawns to be inappropriate. The purpose of this Community Service activity is to provide a solution to local fishermen by sorting the size of the shrimp that are still small to be re-cultivated with the biofloc system so that later the giant prawns can be marketed according to the type to get the right selling price and increase income for fishermen. The service method used is a preliminary survey regarding partner issues, socialization, biofloc making, training and mentoring for KATEUKA JAYA KUB partners whose members total 15 people. The result of this PKM is an increase in partners' hard skills in managing giant prawns caught which are small in size and the selling value of giant prawns that are successfully raised and cultivated in biofloc ponds increases partner income. Keywords: bayeun; biofloc; cultivation; value added; giant shrimp
Gastropoda Mangrove Terebralia palustris (Linnaeus 1767) di Pantai Payum Kabupaten Merauke Papua Dandi Saleky; Rika Anggraini; Sendy L. Merly; Arina Ruzanna; Muhammad Fauzan Isma; Jemmy Manan; Agus Putra Abdul Samad; Riri Ezraneti; Syahrial Syahrial
Buletin Oseanografi Marina Vol 12, No 1 (2023): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v12i1.46376

Abstract

Gastropoda banyak ditemukan di ekosistem mangrove dan sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan maupun kerapatan hutan mangrove. Salah satu gastropoda yang ditemukan adalah Terebralia palustris yang sering dijadikan sebagai bioindikator kesehatan mangrove. Kajian T. palustris (Linnaeus 1767) dilakukan pada bulan September 2020 di hutan mangrove Pantai Payum Merauke Papua dengan 3 stasiun pengamatan. Kajian ini bertujuan untuk mengetahui kepadatan, hubungan panjang berat tubuh, kualitas dan penciri lingkungannya serta faktor penentu distribusi dan kepadatan T. palustris di Pantai Payum. T. palustris maupun mangrove dikumpulkan dengan membuat transek garis sepanjang 50 m tegak lurus garis pantai dan dibuat petak-petak contoh berukuran 10 x 10 m untuk mangrove serta 1 x 1 m (di dalam plot 10 x 10 m) untuk T. palustris. Hasil kajian memperlihatkan bahwa kepadatan T. palustris bervariasi di setiap stasiun pengamatan dengan kepadatan tertinggi berada pada Stasiun 2 (54,20 ind/m2) dan terendahnya pada Stasiun 3 (19,67 ind/m2). Pola pertumbuhan T. palustris bersifat allometrik negatif. Untuk kualitas lingkungan secara keseluruhan, hasil penghitungan memperlihatkan bahwa kerapatan mangrovenya tergolong tinggi (> 1000 ind/ha) dengan parameter kualitas perairan untuk suhunya berkisar antara 28,33 – 31,67°C, DO 5,60 – 7,67 mg/L, pH 6,83 – 7,53 dan salinitas 29,33 – 30,00‰. Analisis PCA memperlihatkan bahwa penyebaran stasiun pengamatan dan karakteristik lingkungan membentuk 2 kelompok dengan kelompok pertama Stasiun 3 dipengaruhi oleh salinitas, suhu, DO dan kerapatan mangrove yang tinggi, sedangkan kelompok kedua Stasiun 1 dan 2 dipengaruhi oleh pH yang tinggi serta diameter batang mangrove yang besar. Berdasarkan hasil analisis PCA, faktor penentu distribusi dan kepadatan T. palustris adalah suhu, DO dan kerapatan mangrove.   Many mangrove habitats contain gastropods, which are greatly influenced by environmental conditions and the density of mangrove trees. One of the gastropods discovered was Terebralia palustris, which is frequently employed as a bioindicator of mangrove health. A research of T. palustris (Linnaeus, 1767) was done in September 2020 at three observation sites in the mangrove forest of Payum Beach, Merauke Papua. This study aims to evaluate the density, the relationship between body length and weight, the quality and characteristics of the environment, and the distribution and density determinants of T. palustris in Payum Beach. T. palustris and mangroves were gathered by constructing a 50 m perpendicular to the seashore line transect and creating 10 x 10 m plots for mangroves and 1 x 1 m plots (within a 10 x 10 m plot) for T. palustris. The study revealed that the density of T. palustris fluctuated at each observation station, with the highest density occurring at Station 2 (54.20 ind/m2) and the lowest density occurring at Station 3 (19.67 ind/m2). The T. palustris growth pattern is negative allometric. The calculation findings indicate that the mangrove density is high (> 1000 ind/ha) and that the water quality parameters range from 28.33 to 31.67°C, DO 5.60 to 7.67 mg/L, pH 6.83 to 7.53, and salinity 29.33 to 30.00‰. PCA analysis revealed that the distribution of observation stations and environmental parameters formed two groups, with Station 3 influenced by salinity, temperature, DO, and a high mangrove density, and Stations 1 and 2 influenced by a high pH and a big mangrove trunk diameter. According to the results of PCA analysis, the distribution and density of T. palustris are determined by temperature, DO, and mangrove density.