Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

The Meaning of Jesus' Identity and Mission in Mark 8:31-38: A Reflection for God's People Marthin Steven Lumingkewas; Bobby Kurnia Putrawan; Susanti Embong Bulan
Millah: Journal of Religious Studies Vol. 21, No. 1, August 2021
Publisher : Program Studi Ilmu Agama Islam Program Magister, Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/millah.vol21.iss1.art9

Abstract

This article aims to find the meaning of Jesus' identity and mission in Mark 8:31-38 which is reflected in the lives of God's people today. The method used is through the reading of Mark's narrative theology. According to Mark, the kingdom of God is the only kingdom where peace and justice are abundantly available to all, because the identity and work of Jesus is the true Son of God, and not Caesar. Becoming a part of this kingdom requires imposing what is the identity and mission of Jesus into the readers of Mark's text. Thus, it is reflected and applied to God's people today. The results of this study show that the identity and mission of Jesus is the duty and responsibility of God's people as the son of man to dare to suffer, be rejected, and be killed, for doing the work of the Father, and be resurrected after death.
Menelusuri Konsep Pelayanan Sosial John Calvin Dan Implikasinya Bagi Peran Gereja Dalam Pelayanan Sosial Timotius; Marthin S. Lumingkewas; Agus Santoso
Mitra Sriwijaya: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 3 No. 1 (2022): Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46974/ms.v3i1.55

Abstract

Abstract: The study aims to straighten out the accusation that John Calvin does not have the theological concept of social service. Those scholars who accused Calvin lack of having concept of social service; that Calvin has not concerned with social service for those in distress. In fact, Calvin’s theology might help the church recover a more faithful gospel witness in the area of social justice. Calvin maintained that the kingdom of God must take social and material expression in the church.  Literature research method become the main tools to analyzed and describing the problems raises. The final result of this research, the writer will show that Calvin has major support  about the importance of social service where he considers one form the love of God  through helping those in need and he is also actively involved in serving the poor. Abstrak: Penelitian ini bertujuan meluruskan tuduhan bahwa John Calvin tidak memiliki konsep pelayanan sosial. Ada sarjana menuduh Calvin tidak memiliki konsep pelayanan Sosial, sehingga mereka menganggap Calvin tidak mementingkan pelayanan sosial untuk mereka yang mengalami kesusahan. Dalam penelitian ini, penulis memakai metode penelitian literatur sebagai acuan dalam mendeskripsikan masalah yang  dikaji.  Hasil akhir dari penelitian ini, penulis akan menunjukkan bahwa Calvin memiliki pandangan-pandangan tentang pentingnya pelayanan sosial di mana ia menganggap salah satu wujud kasih kepada Allah adalah melalui membantu mereka yang membutuhkan dan ia juga terlibat aktif melayani orang miskin.
Implikasi Kepemimpinan Kristen Berdasarkan Kitab Hakim-Hakim 19:1-30 Selatieli Sihura; Agus Santoso; Marthin Steven Lumingkewas
EPIGRAPHE (Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani) Vol 6, No 2: November 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/epigraphe.v6i2.395

Abstract

Leadership in the Bible is essential, and the election seems based on character and morals. This is also a fundamental problem in Judges 19:1-30 where there is a problem with the character and immorality of the Israelite leader. This article aims to explain Judges 19:1-30 and provide implications for Christian leadership. The method used is a historical criticism of the study of biblical theology analysis. The results of this study are a Christian leader who serves with a heart, recognizes the need for service, is spiritually sound, oriented to the congregation, has education for servants, and education for the congregation.AbstrakKepemimpinan dalam Alkitab sangat penting dan agaknya pemilihan itu didasarkan kepada karakter dan moral. Hal ini juga menjadi permasalahan tersirat di Hakim-Hakim 19:1-30 dimana muncul permasalahan karakter dan amoral dari pemimpin Israel. Artikel ini bertujuan menjelaskan Hakim-Hakim 19:1-30 dan memberikan implikasi pada kepemimpinan Kristen. Metode yang digunakan adalah historis kritis pada kajian analisis teologi biblika. Hasil penelitian ini adalah seorang pemimpin Kristen memiliki melayani dengan hati, mengenali kebutuhan pelayanan, spiritual yang baik, berorientasi pada jemaat, pendidikan bagi para pelayan, dan pendidikan bagi jemaat.
Indonesian Gender Justice In School Education Marthin Steven Lumingkewas; Antonius Missa; Magdalena Indriani Suparlim
RERUM: Journal of Biblical Practice Vol. 1 No. 1 (2021): RERUM: The Journal of Biblical Practice
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.377 KB) | DOI: 10.55076/rerum.v1i1.12

Abstract

Equality in obtaining education for children, especially girls in rural areas of Indonesia often encounter cultural, religious and ideological barriers from the community.  Educational opportunities are more open to boys than girls for a variety of reasons such as consideration of higher tuition fees, lack of educational facilities and cultural understanding that sees girls as second-grade individuals who can be sacrificed their rights. This subordination of girls is even recorded in a series of education policies that place women as the owners of domestic authority and men to be priests or the backbone of the family. Therefore, in this research using a feminist-sociology approach is expected to provide the results of paradigm changes and perspectives from the government and all elements of society in reviewing the educational curriculum that has so as not to maintain the model gender biased and unfriendly education towards girls' rights in obtaining an education equivalent to that of boys.
Eskatologis Matius Dalam Perspektif Nubuatan Hosea Timotius Timotius; Marthin Steven Lumingkewas
CHARISTHEO: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 2 (2023): Maret 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Anugrah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54592/jct.v2i2.77

Abstract

This study aims to straighten out the accusation that Matthew as the author of the Gospel of Matthew has misinterpreted Hosea 11:1 which is quoted by him in Matthew 2:15. There are scholars accusing Matthew of misinterpreting Hosea 11:1 when saying Matthew 2:15 is the fulfillment of what was prophesied by the prophet Hosea, because Hosea 11:1 is actually a historical reflection not prophecy. On the other hand, other scholars say that Matthew did not misinterpret Hosea 11:1, because this is the way the New Testament writers used the Old Testament. Where they can direct to Christ. In this study, the author uses the literature research method as a reference in describing the problems studied. The final result of this study, the author will show that Matthew did not misinterpret Hosea 11:1, because Matthew wrote this Gospel under the inspiration of the Holy Spirit, the Exodus is indeed Messianic Eschatology, and Matthew uses the Correspondence Analogy method when interpreting Hosea 11:1 so that Matthew 2:5 is a fulfillment of the prophecy of the prophet Hosea. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan meluruskan tuduhan bahwa Matius sebagai penulis Injil Matius telah salah menafsirkan Hosea 11:1 yang dikutip olehnya dalam Matius 2:15. Ada sarjana menuduh Matius telah salah menafsirkan Hosea 11:1 pada saat mengatakan Matius 2:15 merupakan penggenapan dari apa yang dinubuatkan oleh nabi Hosea, karena sebenarnya Hosea 11:1 merupakan sebuah refleksi sejarah bukan nubuatan. Sebaliknya sarjana lain mengatakan bahwa Matius tidak salah menafsirkan Hosea 11:1, karena ini merupakan cara penulis Perjanjian Baru dalam menggunakan Perjanjian Lama. Di  mana mereka bisa langsung mengarahkan kepada Kristus. Dalam penelitian ini, penulis memakai metode penelitian literatur sebagai acuan dalam mendeskripsikan masalah yang  dikaji.  Hasil akhir dari penelitian ini, penulis menunjukkan bahwa Matius tidak salah menafsirkan Hosea 11:1, dikarenakan Matius menulis Injil ini dibawah inspirasi dari Roh Kudus. Peristiwa Keluaran memang bersifat Eskatologi Mesianik, dan Matius memakai metode Analogi korespondensi pada saat menafsirkan Hosea 11:1, sehingga Matius 2:5 merupakan penggenapan dari nubuat nabi Hosea. Kata Kunci: Matius; Hosea; Penggenapan; Penafsiran; Yesus. 
Power Relations in the Story of “Nommensen Bertemu Raja Panggalamei” by Patar Pasaribu Marudut Bernadtua Simanjuntak; Aceng Rahmat; Samsi Setiadi; Muchlas Suseno; Romdani Romdani; Marthin Steven Lumingkewas
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (243.039 KB)

Abstract

Relasi kekuasaan tergambar dalam Biografi Nommensen, khususnya dalam cerita “Nommensen Bertemu Raja Panggalamei”. Cerita tersebut merupakan bagian dari Buku biografi Nommensen tahun 2004 karya Patar Pasaribu dalam Bab 21, yang ditulis dengan menggabungkan puisi dan cerita naratif yang menggambarkan hubungan antara seorang misionaris bernama Nommensen dan Raja Panggalamei. Cerita ini mengungkapkan beberapa gagasan yang berfokus pada dominasi relasi kekuasaan, perjumpaan pengaruh atau hegemoni kekuasaan, dan juga kesejajaran komunikasi. Dominasi kekuasaan yang seharusnya dimiliki sepenuhnya oleh Raja Panggalamei, baik dari segi kekuasaan maupun pengaruh, justru mengalami ketakutan karena beberapa faktor terhadap Nommensen. Kajian ini merupakan penelitian kesusastraan khusus pada masa penjajahan Belanda yang secara khusus membahas tentang pengaruh Nommensen terhadap eksistensi dan keadaban orang Batak.
The Urgency of Applying Enculturation to the Existence of Batak and Christianity in Indonesia Marudut Bernadtua Simanjuntak; Sutrisno Sutrisno; Marthin Steven Lumingkewas; Amos Neolaka; Agus Santoso
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.944

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami pentingnya menjaga dan menghargai budaya Batak dan kekristenan di era globalisasi yang berdampak pada homogenisasi budaya. Dalam konteks globalisasi, budaya Batak dan Kristen dihadapkan pada tantangan yang cukup signifikan. Pengaruh globalisasi seperti arus informasi, perubahan sosial ekonomi, dan masuknya budaya asing dapat mengancam eksistensi budaya dan agama lokal. Oleh karena itu, enkulturasi menjadi penting untuk diterapkan sebagai strategi dalam menjaga keutuhan budaya Batak dan kekristenan. Enkulturasi adalah upaya mengintegrasikan nilai-nilai budaya Batak dan Kristiani ke dalam kehidupan masyarakat sehari-hari, termasuk pendidikan, religi, seni, dan kehidupan sosial. Hal ini tidak hanya berfungsi untuk mempertahankan identitas budaya dan agama, tetapi juga mempromosikan pemahaman yang lebih baik antara generasi muda Batak dan masyarakat global yang semakin terhubung. Dalam publikasi ini, kami menggunakan metode penelitian kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan observasi partisipatif untuk mendapatkan data yang akurat dan holistik. Analisis data dilakukan melalui pendekatan interpretatif untuk menggali pemahaman mendalam tentang urgensi implementasi enkulturasi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penerapan enkulturasi sangat penting untuk mempertahankan eksistensi budaya Batak dan kekristenan di tengah arus globalisasi. Melalui enkulturasi, masyarakat Batak dapat memperkuat identitas budaya dan agamanya, serta membangun jembatan kesepahaman dengan masyarakat global. Selain itu, enkulturasi juga dapat meningkatkan toleransi, rasa hormat, dan kerjasama antar budaya. Kesimpulannya, publikasi ini menekankan urgensi penerapan enkulturasi sebagai jawaban atas tantangan globalisasi terhadap budaya Batak dan Kristen. Di era yang semakin terkoneksi ini, penerapan enkulturasi bukan hanya sekedar pilihan, melainkan sebuah keharusan dalam menjaga keragaman budaya dan agama di Indonesia. Diharapkan hasil penelitian ini dapat berkontribusi pada upaya pelestarian budaya Batak dan kekristenan, serta menginspirasi upaya serupa di komunitas lain yang menghadapi tantangan serupa.
The Importance of Applying Enculturation in Early Childhood (The Study of Intercultural and Language Learning) Marudut Bernadtua Simanjuntak; Marthin Steven Lumingkewas; Sutrisno Sutrisno; Christiani Hutabarat
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 2 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i2.945

Abstract

Penerapan enkulturasi pada anak usia dini sangat penting dalam membentuk identitas anak dan membantu mereka memahami perannya dalam masyarakat dan keluarga. Pendidikan antarbudaya dan bahasa juga perlu diterapkan pada pendidikan anak usia dini untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan di dunia yang semakin multikultural. Dalam mempelajari budaya dan bahasa yang berbeda, anak perlu diajarkan untuk menghargai perbedaan tersebut dan membangun sikap yang terbuka terhadap keragaman budaya. Pendidik dan orang tua juga perlu memahami pentingnya penggunaan bahasa dan budaya yang tepat dan familiar di lingkungan anak untuk membantu mereka memahami konsep keluarga dan masyarakat. Studi tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengidentifikasi pentingnya enkulturasi pada anak usia dini dan pembelajaran antar budaya dan bahasa dalam pendidikan anak usia dini. Studi literature review ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan analisis data melalui pendekatan tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan enkulturasi pada anak usia dini sangat penting untuk membentuk identitas mereka dan membantu mereka memahami konsep keluarga dan masyarakat. Mengajarkan nilai-nilai yang berbeda dalam budaya yang berbeda juga dapat membuka pikiran anak-anak dan mempersiapkan mereka untuk hidup di dunia yang semakin multikultural. Oleh karena itu, penting bagi pendidik dan orang tua untuk memahami pentingnya penggunaan bahasa dan budaya yang tepat dan akrab di lingkungan anak serta mendukung pengajaran nilai-nilai yang berbeda di berbagai budaya. Kajian kajian pustaka ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan anak usia dini dan memperluas pemahaman tentang pentingnya enkulturasi pada anak usia dini.
INTERNET AND RELIGION: Digital Deities and Technoshamanism Changing Our Understanding of Spirituality Tjerlang Munir; Sutrisno Sutrisno; Marthin Steven Lumingkewas
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 4 No. 2 (2023): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.4, No.2, June 2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v4i2.136

Abstract

The internet has grown in importance as a platform for religious speech and practice, with some considering it a suitable medium for magical experimentation and rituals. Sects and religious meetings have also found a new home in digital networks. Some religious societies have opted to shift their activities online, resulting in digital religion and hyper-mediated religious experiences. The use of digital technology has also fueled religious imagination, notably in the context of animism. The use of digital technology for spiritual reasons, known as technoshamanism, is becoming increasingly popular among neopagans, occultists, and New Agers. As a result, the internet has become a haven for digital deities and technoshamanism, opening new avenues for religious expression and practice. With this context in mind, the research focuses on digital religion, with researchers discussing how digital deities and technoshamanism are changing our understanding of spirituality. The purpose of this research explores how the internet and religion are transformed in the move from offline to online contexts into digital deities and technoshamanism. The rise of digital deities and technoshamanism is altering our perception of spirituality. As a result, the influence of digital deities and technoshamanism on the nature of spirituality is still being explored and researched, with consequences for both conventional religious organizations and the larger cultural environment. The research method of this study is library research, to gather information from books, journals, and online libraries.
Interpretasi Perceraian dan Pernikahan Kembali dalam Matius 5:32 Rick Gamelia; Arif Wicaksono; Marthin Steven Lumingkewas
SANCTUM DOMINE: JURNAL TEOLOGI Vol 13 No 1 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Theologia Nazarene Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46495/sdjt.v13i1.214

Abstract

Divorce and remarriage are common things in today's post-modern society. Both of these practices are also commonly found in the lives of Christians. This is due to a lack of proper understanding of the Christian view of divorce and remarriage to those who have been divorced. In order to understand this, the author tries to build an understanding of Christian teachings through the text of Matthew 5:32. The method used to reveal the essence of true teaching is a grammatical-contextual exegesis approach. The grammatical-contextual method pays attention to the original grammatical rules and the context of the text to be studied. The results show that Jesus taught that both divorce and marriage to a divorced person are serious matters. Divorce as a result of adultery or marriage to someone who has been divorced is mentioned as sexual immorality in Matthew 5:32. This behavior causes a person to place the burden of sin on divorced husbands, divorced wives and even husbands who take divorced wives to bear the same sin of adultery and live in adultery.