Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Pengaruh Waktu Penyimpanan terhadap Angka Lempeng Total pada Beberapa Jenis Tahu Widyanti, Pramita Rosela Eka; Harlita, Tiara Dini; Lamri, Lamri
Sinteza Vol. 3 No. 1 (2023): February
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.859 KB) | DOI: 10.29408/sinteza.v3i1.7917

Abstract

Tahu merupakan sumber protein nabati yang terbuat dari ekstrak kedelai yang digumpalkan dengan asam, ion kalsium atau bahan penggumpal lainnya. Sebagai salah satu bahan makanan yang memiliki kandungan protein yang tinggi, tahu rentan ditumbuhi mikroorganisme. Sumber pencemaran tahu dapat berasal dari bahan baku kedelai atau air yang digunakan selama proses pembuatan tahu. Banyak konsumen tidak langsung mengolah atau membersihkan tahu setelah pembelian menjadi permasalahan yang ditemukan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui angka lempeng total bakteri pada tahu berdasarkan waktu penyimpanan yang dijual di Kota Samarinda. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan melakukan pemeriksaan Angka Lempeng Total. Sampel pada penelitian ini adalah 9 jenis tahu yang berbeda yang dijual di Kota Samarinda dengan metode pengambilan total sampling. Masing-masing tahu diberi perlakuan 2 jenis percobaan yaitu segera dan penundaan 24 jam. Adapun jumlah perlakuan sebanyak 18 kali percobaan yang masing-masing dilakukan dengan 4 kali pengenceran dan 2 pengulangan, maka total perlakuan sebanyak 144 unit percobaan. Kemudian data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT). Berdasarkan hasil pemeriksaan angka lempeng total pada tahu dari 9 sampel diketahui sebagian besar (6 sampel) memenuhi syarat dan (3 sampel) tidak memenuhi syarat, sesuai SNI 3142 tahun 1992 dengan persyaratan Angka Lempeng Total pada tahu maks. 1,0 x 106. Angka lempeng total tertinggi terdapat pada sampel W2T7 (24 jam) yaitu 4,3 x 106 koloni/g dan terendah pada sampel W1T1 (segera) yaitu 9 x 101 koloni/g. Simpulan dari pemeriksaan angka lempeng total pada tahu berdasarkan waktu penyimpanan yang dijual di Kota Samarinda adalah memenuhi syarat pada perlakuan segera dan tidak memenuhi syarat pada penundaan 24 jam. Dengan hasil tersebut diharapkan bagi konsumen agar lebih memperhatikan proses penyimpanan tahu dan lebih baik tahu yang dibeli segera diolah.
Efektivitas Antibakteri Kombinasi Ekstrak Daun Binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan Keji Beling (Strobilanthes crispus Blume) terhadap Escherichia coli pada Ulkus Diabetikum Dwi Pramesti, Deva Amelia; Harlita, Tiara Dini; Aina, Ganea Qorry
JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan) Vol. 8 No. 1 (2024): JI-KES (Jurnal Ilmu Kesehatan)
Publisher : LPPM Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33006/jikes.v8i1.790

Abstract

Abstrak Ulkus diabetikum merupakan komplikasi kronik diabetes melitus tipe 2. Salah satu bakteri penyerta yang menginvasif ulkus diabetikum adalah Escherichia coli. Daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) dan daun keji beling (Strobilanthes crispus Blume.) berpotensi sebagai antibakteri alami karena kandungan senyawa bioaktifnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antibakteri kombinasi ekstrak daun binahong dan keji beling terhadap Escherichia coli. Jenis penelitian yang digunakan adalah true experimental menggunakan kombinasi ekstrak perbandingan 1:1 dengan variasi konsentrasi 25%, 50%, 75%, dan 100%. Setiap konsentrasi diuji efektivitasnya terhadap Escherichia coli menggunakan metode difusi Kirby Bauer dengan kontrol positif Ciprofloxacin 5 µg dan kontrol negatif aquadest steril. Analisis data yang digunakan adalah uji One Way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kombinasi ekstrak terhadap penghambatan pertumbuhan Escherichia coli. Konsentrasi yang paling efektif dari kombinasi ekstrak adalah 100% sebesar 10,50 mm dan efektivitasnya sebesar 36,84% dengan kontrol positif Ciprofloxacin 5 µg sebesar 28,50 mm. Dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak daun binahong dan daun keji beling memiliki potensi sebagai antibakteri alami terhadap Escherichia coli, namun potensinya masih di bawah Ciprofloxacin 5 µg. Kata kunci: efektivitas antibakteri, Escherichia coli, ulkus diabetikum   Abstract Diabetic ulcer is a chronic complication of type 2 diabetes mellitus. One of the accompanying bacteria invading diabetic ulcers is Escherichia coli. Binahong leaf (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) and keji beling leaf (Strobilanthes crispus BIume) have potential as natural antibacterials. This study aims to determine the antibacterial effectiveness of combination binahong and keji beling leaf extracts against Escherichia coli. The type of research used is true experimental using a combination of extracts in a 1:1 ratio with concentration variations of 25%, 50%, 75%, and 100%. Each concentration was tested for effectiveness against Escherichia coli using the Kirby Bauer diffusion method with positive control Ciprofloxacin 5 µg and negative control sterile aquadest. Data analysis used was One Way ANOVA Test and continued with Duncan's Multiple Range Test (DMRT). The results showed that there was an effect of combination extracts to inhibit the growth of Escherichia coli. The most effective concentration is 100% at 10.50 mm, and its effectiveness is 36.84% with positive control Ciprofloxacin 5 µg at 28.50 mm. It can be concluded that the combination of binahong and keji beling extracts has potential as a natural antibacterial against Escherichia coli, but its potential is still below Ciprofloxacin 5 µg. Keywords: antibacterial effectiveness, Escherichia coli, diabetic ulcer
Deteksi Cemaran Bakteri dan Logam Berat pada Liquid Foundation Harlita, Tiara Dini; Aina, Ganea Qorry; Azahra, Sresta
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12426

Abstract

Penggunaan dan penyimpanan kosmetik yang kurang tepat dapat menyebabkan kosmetik rentan terkontaminasi bakteri. Proses pengolahan kosmetik juga dapat menyebabkan terjadinya cemaran logam berat. Paparan logam berat dapat mengganggu kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi cemaran bakteri dan logam berat pada liquid foundation. Jenis penelitian ini adalah deskriptif. Sampel diambil secara purposive samping, berupa 10 merk liquid foundation yang telah digunakan selama 3 bulan. Pengujian cemaran bakteri menggunakan metode Angka Lempeng Total (ALT) dan cemaran logam berat timbal dan kadmium dianalisis menggunakan spektrofotometri serapan atom. Hasil uji ALT menunjukkan bahwa sembilan sampel memenuhi standar <103 koloni/gr dan satu sampel (F2) melebihi standar, yaitu 2,96x104 koloni/gr, dan terdapat cemaran Pseudomonas aeruginosa. Hasil uji cemaran logam berat menunjukkan kandungan timbal pada sembilan sampel dalam batas aman < 20 mg/kg dan satu sampel (F2) melebihi standar, yaitu 31,37 mg/kg. Kandungan kadmium pada seluruh sampel masih dalam batas aman, yaitu <5 mg/kg. Dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa 9 dari 10 sampel diketahui memenuhi standar BPOM No. 12 Tahun 2019 sehingga layak digunakan.
Uji Cemaran dan Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus pada Bumbu Giling di Pasar Tradisional Kota Samarinda Aisyah Mutia Iskandar; Supri Hartini; Sresta Azahra; Tiara Dini Harlita
SEHATMAS: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol. 5 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/sehatmas.v5i3.8720

Abstract

Ground spice paste is a widely consumed food product sold in traditional markets with varying environmental conditions. Differences between wet and dry stalls may affect environmental sanitation and the microbiological safety of the product, including contamination by Staphylococcus aureus. This study aimed to determine the Total Plate Count (TPC) and identify S. aureus in cooked ground spice pastes sold in traditional markets in Samarinda City. A descriptive observational study was conducted using 12 samples consisting of rendang, soup, and rawon spice pastes collected from wet and dry stalls. TPC was determined using the pour plate method on Plate Count Agar (PCA), while S. aureus was identified using Mannitol Salt Agar (MSA) followed by biochemical tests. Environmental sanitation conditions were assessed through direct observation, and the data were analyzed descriptively. The results showed that all samples met acceptable organoleptic criteria; however, several samples exceeded the maximum TPC limit established by SNI 7388:2009 and were contaminated with S. aureus. Samples exceeding the maximum TPC limit were more frequent in wet stalls (83.3%) than in dry stalls (66.7%), with the highest count found in rendang spice paste. Meanwhile, S. aureus was detected more frequently in wet stalls (50.0%) than in dry stalls (33.3%). The higher descriptive proportions of microbiological contamination in wet stalls coincided with poorer sanitation conditions, including standing water, high humidity, and open storage. These findings indicate that cooked ground spice pastes sold in traditional markets are susceptible to microbiological contamination, particularly in stalls with inadequate sanitation.
Hubungan Lama Menderita Diabetes Mellitus Tipe 2 terhadap Pertumbuhan Mikroba sebagai Faktor Predisposisi Infeksi Rongga Mulut Sresta Azahra; Tiara Dini Harlita; Deanita Rabiatul Zhadiah Puspitasari; Hutami Putri Pase
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 4 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i4.1090

Abstract

Pendahuluan: Diabetes mellitus (DM) adalah penyakit metabolik. Kadar glukosa saliva pada penderita DM yang meningkat dapat menjadi faktor predisposisi terhadap pertumbuhan mikroba (bakteri dan jamur) yang dapat menyebabkan infeksi rongga mulut. Tujuan: Mengetahui hubungan lama menderita DM tipe 2 terhadap pertumbuhan mikroba sebagai faktor predisposisi infeksi rongga mulut. Metode: Metode penelitian yaitu observasional analitik dan desain cross sectional. Populasi berjumlah 57 penderita DM tipe 2 Puskesmas Harapan Baru, Samarinda dan 33 saliva yang diambil dengan teknik purposive sampling. Identifikasi bakteri dengan media Blood Agar Plate (BAP), pewarnaan Gram, serta uji biokimia. Identifikasi jamur dilakukan menggunakan media Sabouraud Dextrose Agar (SDA), chromagar, pewarnaan LPCB, dan uji germ tube. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Penelitian ini didapatkan hasil pertumbuhan positif jamur Candida sp. pada 29 responden (87,8 %) dan pertumbuhan positif bakteri Gram positif pada 30 responden (90,9%). Hasil positif pertumbuhan mikroba pada pasien DM  yang menderita ≥3 tahun sebanyak 24 responden (72,7%). Hasil uji statistik didapatkan hasil nilai p= 0,036 (<0,05), artinya terdapat hubungan bermakna signifikan lama menderita DM dengan pertumbuhan mikroba. Simpulan: Terdapat hubungan bermakna signifikan lama menderita DM tipe 2 dengan pertumbuhan mikroba sebagai faktor predisposisi infeksi rongga mulut.
Studi In Vivo Kombinasi Herbal Keji Beling, Binahong, dan Madu Kelulut terhadap Penyembuhan Luka Diabetik Hewan Model Ganea Qorry Aina; Nursalinda Kusumawati; Tiara Dini Harlita; Wirid Triana Dawam
Sains Medisina Vol 4 No 2 (2025): Sains Medisina
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/snsmed.v4i2.847

Abstract

Diabetes melitus adalah gangguan metabolik yang ditandai dengan tingginya kadar gula dalam darah (hiperglikemia) akibat penurunan sekresi insulin oleh pankreas, berkurangnya sensitifitas insulin, atau keduanya. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah gangrene/ulkus, yaitu terjadi kerusakan integritas pada kulit yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi perifer sehingga jaringan sekitar luka akan mati atau nekrotik dan mengalami pembusukan. Penggunaan bahan herbal sebagai obat luka terus dikembangkan dalam penelitian maupun pemanfaatannya, diantaranya adalah daun binahong (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis), keji beling (Strobilanthes crispus Bl.), dan madu kelulut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektifitas pemberian ekstrak daun binahong, daun keji beling, dan madu kelulut terhadap penyembuhan luka diabetik menggunakan hewan uji yaitu mencit putih jantan. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen murni. Setelah mencit diberi perlakuan, pengukuran diameter luka dimulai pada hari ke-0, 5, 10 dan 15. Hasil penelitian ini kemudian dianalisis menggunakan SPSS versi 25. Hasil uji statistik dengan uji One Way Anovamenunjukan nilai p <0,05 yaitu 0,000 yang berarti pemberian kombinasi herbal memiliki pengaruh terhadap penyembuhan luka diabetes. Selanjutnya dilanjutkan uji lanjutan yaitu Uji Duncan’s Multiple Range Test dengan hasil perlakuan yang paling efektif yaitu pemberian kombinasi ekstrak daun binahong dan daun keji beling.