Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh Terapi Relaksasi Otot Progresif Terhadap Insomnia Pada Lansia Posbindu Desa Patikraja Nurita Rizkiana; Wasis Eko Kurniawan; Surtiningsih Surtiningsih
Protein : Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan.  Vol. 2 No. 1 (2024): Januari : Protein: Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Kesehatan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/protein.v2i1.154

Abstract

Insomnia is one of the main disorders in initiating and maintaining sleep among the elderly. Insomnia is defined as a complaint about a lack of quality sleep caused by one of the reasons why it is difficult to get into sleep, frequent awakenings at night and then difficulty getting back to sleep, waking up too early, and not sleeping well. The poor quality of sleep in the elderly is caused by increased sleep latency, reduced sleep efficiency and early awakening due to the aging process. The purpose of this study was to determine the effect of progressive muscle relaxation therapy on insomnia in the elderly in posbindu, patikraja village. This type of research is one group pretest-posttest with pre-experimental. The sample size used in this study was 19 respondents. The sampling technique used is purposive sampling. Methods of data collection using a questionnaire. The statistical test used in this study was the Wilcoxon Sign Rank Test with 0.05. The results of this study note that there are differences before and after being given progressive muscle relaxation therapy. The results of the analysis of the Wilcoxon Sign Rank Test obtained a p value of 0.000 <0.05, meaning that there is an effect of progressive muscle relaxation therapy on changes in insomnia in the elderly in Posbindu, Patikraja Village.
Penerapan Pemberian Jus Timun Dan Senam Hipertensi Terhadap Penurunan Tekanan Darah Tinggi Pada Lansia Di Desa Prigi Umi Sarah Fauziah Ali; Wasis Eko Kurniawan
Bunda Edu-Midwifery Journal (BEMJ) Vol. 8 No. 2 (2025): September 2025
Publisher : Akademi Kebidanan Bunga Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54100/bemj.v8i2.482

Abstract

Hipertensi adalah salah satu penyakit degeneratif yang prevalensinya tinggi pada lansia, serta menjadi kontributor utama morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Penanganan non-farmakologis seperti pemberian jus timun dan senam hipertensi telah terbukti efektif dalam menurunkan tekanan darah lansia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian jus timun dan senam hipertensi terhadap penurunan tekanan darah tinggi pada lansia di Desa Prigi. Metode yang digunakan adalah studi kasus dengan pendekatan deskriptif. Subjek penelitian adalah Ny. S, seorang lansia berusia 65 tahun yang mengalami hipertensi. Intervensi yang diberikan berupa pemberian jus timun sebanyak 250 ml per hari dan senam hipertensi selama 30 menit setiap hari selama 3 hari. Hasilnya menunjukkan penurunan tekanan darah signifikan dari 184/110 mmHg menjadi 159/88 mmHg. Ini membuktikan bahwa kombinasi jus timun dan senam hipertensi efektif menurunkan tekanan darah pada lansia, dan diharapkan dapat menjadi alternatif penanganan non-farmakologis.
Gambaran Kualitas Kehidupan Kerja Perawat Di Ruang Rawat Inap RSUD Ajibarang Safik Setya Purnomo; Tri Sumarni; Wasis Eko Kurniawan
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 4 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tenaga kesehatan terbanyak di rumah sakit adalah perawat yang memiliki tanggung jawab penting dalam memberikan pelayanan kesehatan. Perawat selain jumlahnya yang dominan (50%- 60% dari seluruh tenaga kerja), perawat memberikan pelayanan 24 jam sehari, selama 7 hari serta mempunyai kontak dengan pasien. Selain itu, perawat juga adalah manusia yang tidak luput dari beban kerja baik di instansi tempat bekerja maupun di keluarga atau di masyarakat, yang secara tidak langsung membutuhkan kontrol dan kesesuaian dalam kehidupan dirinya. Kualitas kehidupan kerja perawat merupakan persepsi atau penilaian perawat mengenai seluruh dimensi yang mempengaruhi kualitas kehidupan kerjanya dan berhubungan dengan pengalamannya dalam bekerja serta demi mencapai tujuan. Desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 67 responden menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data dengan analisis univariat. Hasil penelitian didapatkan mayoritas responden berusia 26-35 tahun dengan kualitas kehidupan kerja yang baik sebanyak 30 responden (44,8%), pada karakteristik jenis kelamin mayoritas responden berjenis kelamin perempuan dengan kualitas kehidupan kerja yang baik sebanyak 36 responden (53,7%), pada karakteristik pendidikan mayoritas responden D3 dengan kualitas kehidupan kerja yang baik sebanyak 29 responden (43,3%), pada karakteristik masa kerja mayoritas responden dengan masa kerja ≥ 5 tahun dengan kualitas kehidupan kerja yang baik sebanyak 33 responden (49,3%).
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Sikap tentang Strategi Komunikasi Situation, Background, Assesment, Recommendation (SBAR) pada Mahasiswa Anestesi: Overview of Knowledge and Attitudes Regarding the Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) Communication Strategy among Anesthesia Students Fringgandini, Mena; Magenda Bisma Yudha; Wasis Eko Kurniawan
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 7 No 2 (2025): EDISI AGUSTUS
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v7i2.199

Abstract

Pendahuluan: Komunikasi SBAR terdiri dari empat komponen, yaitu Situation, Background, Assesment, dan Recommendation. Setiap bagian dalam komunikasi SBAR memiliki peran yang berbeda-beda untuk memastikan informasi yang disampaikan menjadi lebih terstruktur, terorganisir, dan jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan sikap mahasiswa D IV Keperawatan Anestesi tentang komunikasi SBAR. Metode: Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dengan menerapkan metode pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini yaitu berjumlah 167 responden yang diambil dengan teknik random sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa tentang komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) sejumlah 123 responden (73.7%) memiliki tingkat pengetahuan dalam kategori baik. Sikap mahasiswa tentang komunikasi Situation, Background, Assessment, Recommendation (SBAR) sejumlah 167 responden (100%) dalam kategori baik.Kesimpulan: Pengetahuan dan sikap mahasiswa tentang strategi komunikasi SBAR dalam kategori baik.
Asuhan Keperawatan Lansia Pada Tn. S Dengan Masalah Utama Nyeri Akut Di Wisma 3 PPSLU Panti Dewanata Cilacap Lutfiyatul Mutawadingah; Wasis Eko Kurniawan
Jurnal Keperawatan Mandira Cendikia Vol. 1 No. 1 (2022)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70570/jkmc.v1i1.13

Abstract

Nyeri akut merupakan salah satu masalah pada penderita hipertensi yang dapat menyebabkan gangguan rasa nyaman. Tindakan terapi non konvensional bertujuan untuk mengurangi rasa nyeri yaitu dengan bekam, akupuntur, tanaman tradisional, akupresur, dan pijat (massage). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan dan intervensi yang tepat pada pasien hipertensi yang mengalami nyeri. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan asuhan keperawatan yang mencakup pengkajian, penentuan diagnosa, penentuan intervensi keperawatan, implementasi hingga evaluasi. Keluhan yang paling dirasakan dan mengganggu pasien adalah sakit kepala, pusing, leher cengeng, kaki sakit, nyeri pada skala 6, seperti ditusuk-tusuk, hilang dengan minum obat dan istirahat, badan terasa pegal-pegal dan pinggang sakit, sulit tidur apabila tekanan darahnya tinggi, dan nyeri saat berdiri ataupun jalan. Pemberian terapi relaksasi foot massage (pijat kaki) yang dilakukan dalam jangka 3 hari belum mampu untuk mengatasi masalah nyeri, sehingga perlu diteruskan untuk melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana intervensi. Rekomendasi dari peneliti ini adalah perawat mampu memberikan alternatif penggunaan teknik nonfarmakologi lainnya dalam mengurangi nyeri yang dapat dikombinasikan dengan relaksasi foot massage (pijat kaki). Perawat juga perlu mengkolaborasikan pemberian analgetik beserta teknik non farmakologi.
Education on Making Bay Leaf Tea for Gout Therapy Arthritis in Cadres in Klapagading Kulon Village, Wangon District, Banyumas Regency Adhelia Clarysha; Wasis Eko Kurniawan; Madyo Maryoto
Jurnal Multidisiplin Sahombu Vol. 5 No. 08 (2025): Jurnal Multidisiplin Sahombu, December (2025)
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The community service program, titled "Bay Leaf Tea Education for Gout Arthritis Therapy for Cadres in Klapagading Kulon Village, Wangon District, Banyumas Regency," addresses the significant health problem of gouty arthritis, particularly among the elderly. Gouty arthritis, characterized by severe joint pain, swelling, and redness, is often caused by high uric acid levels due to excessive purine consumption and a lack of public knowledge regarding its management. This problem is prevalent in Klapagading Kulon Village, where 52 elderly people suffer from gouty arthritis, and local cadres lack sufficient knowledge to effectively address it. The choice of this topic is crucial because bay leaves (Syzygium Polyanthum Wight) have known diuretic and analgesic properties, capable of lowering uric acid levels by increasing urine production. They also contain antioxidants and various beneficial compounds such as tannins and flavonoids. The program aims to increase cadres' knowledge about preparing bay leaf tea for gouty arthritis therapy and their interest in disseminating this information to the elderly. The methodology involved pre-testing, health education through lectures, discussions, and live demonstrations of bay leaf tea preparation, followed by post-testing. The results showed a substantial increase in cadre knowledge, with the average post-test score increasing to 95.5 from a baseline of 68.8, and all nine participating cadres achieving the 'good' category. This demonstrates the effectiveness of the educational methods used and the high enthusiasm of the cadres. The program successfully improved cadres' understanding and practical skills, highlighting the importance of utilizing local herbal remedies for non-pharmacological gout management. This enhanced knowledge empowered cadres to provide valuable health information to the elderly in their communities.
Terapi Slow Deep Breathing Pada Lansia Penderita Hipertensi Pancoro Wahyu Wibisono; Indri Heri Susanti; Wasis Eko Kurniawan
Borneo Community Health Service Journal VOLUME 5 NOMOR 2 TAHUN 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Borneo Tarakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35334/neotyce.v5i2.5768

Abstract

Hipertensi atau tekanan darah tinggi suatu keadaan dimana tekanan darah sistolik 140 mmHg dan tekanan darah diastolik 90 mmHg yang dapat mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas). Tekanan darah tinggi dapat diturunkan dengan tindakan non farmakologi berupa slow deep breathing. Tujuan pengabdian ini untuk mengetahui nilai tekanan darah sebelum dan sesudah terapi, mengetahui kemampuan dalam melakukan terapi. Kegiatan pengabdian meliputi tahap pra survei, pelaksanaan, evaluasi, yang diakukan dengan ceramah dengan media leaflet, power point, video. Pengabdian dilaksanakan 2 kali pertemuan 21 Maret dan 28 Maret 2024, kepada 30 lansia di Posyandu Mawar Karangsari Purwokerto. Hasil kegiatan sebelum terapi pertemuan pertama 80% lansia dengan rata-rata 152,7/97,66 mmHg, pertemua kedua 73,33% lansia dengan rata-rata 152,6/98,2 mmHg. Sesudah terapi pertemuan pertama 63,3% lansia dengan rata-rata 143,86/86,73 mmHg, pertemuan kedua 56,67% lansia dengan rata-rata 139,06/89,93 mmHg. Kegiatan slow deep breathing yang dilakukan oleh lansia menunjukan 76,17% lansia dapat mengerjakan tindakan dengan sempurna. Hal ini menunjukan bahwa edukasi terapi relaksasi slow deep breathing yang dilakukan dengan media Power Point, Video dan Leaflet terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan lansia terhadap tindakan non-farmakologi untuk menurunkan tekanan darah.