p-Index From 2021 - 2026
4.117
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Komunikasi MediaTor: Jurnal Komunikasi Jurnal KOMUNIKA Jurnal Ilmu Komunikasi Journal of Urban Society´s Arts Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Channel : Jurnal Komunikasi Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Jurnal Sosioteknologi Jurnal Kesehatan Jurnal Kajian Komunikasi Jurnal The Messenger Nomosleca ProTVF KOMUNIKA Panggung Jurnal Studi Komunikasi Jurnal Berkala Kesehatan Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Nyimak: Journal of Communication Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat MetaCommunication; Journal Of Communication Studies Lontar : Jurnal Ilmu Komunikasi Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Semiotika: Jurnal Komunikasi Jurnal Profetik Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi) Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Trias Politika Atrat: Jurnal Seni Rupa Jurnal Mutakallimin : Jurnal Ilmu Komunikasi ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Jurnal Signal Mamangan Social Science Journal Journal of Socio Economics on Tropical Agriculture (Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Tropis) (JOSETA) Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi West Science Social and Humanities Studies Comdent: Communication Student Journal Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH) Kabuyutan: Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal Panggung
Claim Missing Document
Check
Articles

Communication Challenges of AEC English Teachers in Australia (A case study of the culture shock experienced by AEC teachers in Australia) Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
West Science Social and Humanities Studies Vol. 1 No. 04 (2023): West Science Social and Humanities Studies
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/wsshs.v1i04.161

Abstract

AEC teachers are those who have taught English in a school called Armidale English College. They also have been exposed enough with English language and its culture. AEC has a program of sending its teachers to Australia with a mission to improve their English skills and to gain cultural studies for three months. These English teachers were expected to have a high ability to communicate well in English, they were also expected to be prepared in cultural differences, in fact, what they experienced was far from the expectations for most people. They actually experienced culture shock in Australia. The purpose of this study is to acknowledge the communication challanges and how they experienced the culture shock in Australia. This study was conducted through a qualitative research using case study approach. Data collection techniques consisted of in-depth interviews and documentation studies. The results of the research on the communication challenges by AEC teachers mostly came from themselves and the language which consisted of 1) the accent 2) slang words, 3) vocabularies, and 4) conversation topics. The culture shock they experienced consisted of 1) different mindset 2) openness 3) use of profanity words and 4) life habits. The results also emphasized that overcoming cultural shock does not only focus on having language skills, but also having cultural competence and intelligence.
PERKEMBANGAN ARKETIPE DISNEY VILLAIN DALAM TIGA ERA FILM ANIMASI DISNEY PRINCESS Ikhtiary, Fadilla Audiya; Indriani, Sri Seti; Rosfiantika, Evi
Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol. 9 No. 1 (2024): EDISI JANUARI
Publisher : Laboratorium Ilmu Komunikasi Fisip UHO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52423/jikuho.v9i1.133

Abstract

Perkembangan zaman dan perubahan kebutuhan pasar mendorong Disney untuk melakukan perubahan unsur intrinsik dalam cerita agar lebih sesuai dengan khalayak, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penggambaran tokoh Disney Villain dalam film animasi Disney Princess yang dibagi ke tiga era: era klasik, era renaisans, dan era modern. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan analisis isi, penelitian ini mengkaji adegan pada situasi awal, transformasi, situasi akhir yang menunjukkan tokoh Ratu Jahat dalam film Snow White and the Seven Dwarfs dari era klasik, Ursula dalam film The Little Mermaid dari era renaisans, dan Pangeran Hans dalam film Frozen dari era modern. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran penggambaran tokoh Disney Villain dari era ke era. Film di era klasik cenderung menggunakan metode langsung untuk karakterisasi tokoh, memegang fungsi jenis karakter yang sama sepanjang film, dan mengalami perkembangan tokoh statis. Sedangkan, film di era renaisans menggunakan metode langsung dan tidak langsung secara seimbang untuk karakterisasi tokoh, memegang fungsi jenis karakter yang berbeda di situasi awal namun kemudian berubah ke fungsi final dan memegang jenis karakter yang sama hingga situasi akhir, dan mengalami perkembangan tokoh dinamis. Untuk film di era modern mayoritas menggunakan metode tidak langsung untuk karakterisasi tokoh, memegang fungsi jenis karakter yang selalu berubah di tiap tahap film, dan mengalami perkembangan tokoh dinamis.
STRATEGI PERSONAL BRANDING PENARI LENGGER LANANG MELALUI MEDIA INSTRAGRAM PADA AKUN INSTRAGRAM @RIANTO_RDS Widyaningrum, Septiana Yustika; Sjuchro, Dian Wardiana; Indriani, Sri Seti
PANGGUNG Vol 33, No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreati
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i3.2758

Abstract

Penari lintas gender merupakan profesi yang masih dianggap tabu. Hal ini menjadikan kelompok penari lintas gender menjadi termarjinalkan. Eksistensinya dianggap minor, sehingga membuat mereka tidak memiliki akses yang sama dalam menampilkan personal branding-nya. Namun, bagi Rianto, penari Lengger Lanang, keberadaan Instagram menjadi jalan alternatif untuk memfasilitasi dirinya menampilkan personal branding dirinya sebagai penari lintas gender, baik secara profesional maupun personal. Penelitian ini membahas tentang bagaimana strategi personal branding Rianto, seorang penari Lengger Lanang Banyumas yang memiliki misi budaya untuk melestarikan kesenian tersebut melalui personal branding di media Instagram. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan indikator yang terdiri atas sebelas karakteristik authentic personal branding menurut Rampersad. Hasil penelitian menyebutkan bahwa strategi personal branding Rianto adalah memiliki nilai, karakter, kode perilaku, dan moral, yang berfokus pada bidang kesenian, konsisten, memiliki relevansi, visibilitas, mendapatkan pengakuan, menerapkan hal positif, menjadi diri sendiri, menjaga eksistensinya, dan memelihara hubungan baik pada pengikut di akunnya. Kata kunci: Personal branding, Penari Lintas Gender, Media Sosial, Strategi
Pengalaman menonton ulang: Studi fenomenologi terhadap mahasiswa Universitas Padjadjaran dan Universitas Gadjah Mada Rahmania, Nadia Alifa; Indriani, Sri Seti; Prasanti, Ditha
Comdent: Communication Student Journal Vol 1, No 1 (2023): Mei 2023 - Oktober 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v1i1.45710

Abstract

Latar Belakang: Menonton ulang film atau serial yang sudah pernah ditonton sebelumnya ternyata merupakan hal yang biasa dilakukan oleh sebagian orang. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tema-tema dalam proses menonton ulang film atau serial yang dilakukan oleh mahasiswa dan mengetahui motif mahasiswa menonton ulang film atau film serial. Metode: Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi. Peneliti melakukan wawancara mendalam terhadap enam mahasiswa yang berasal dari dua universitas yang berbeda, yaitu Universitas Padjadjaran (UNPAD) dan Universitas Gadjah Mada (UGM). Pemilihan informan ini didasari dengan teknik purposive sampling dengan menggunakan model analisis data kualitatif dari Cresswell. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman menonton ulang film atau serial tidak sepenuhnya bersifat repetitif. Film yang di tonton tidak hanya film favorit tetapi juga film yang sedang hype dan juga film serial dengan spesifikasi tertentu. Sementara itu, motif penyebab menonton ulang film atau serial favorit adalah: (1) Perasaan diri sendiri saat sebelum kegiatan dilakukan; (2) Berkaitan dengan aspek yang ada di objek (film/serial); dan (3) Faktor eksternal. Sementara itu, motif tujuan menonton ulang film atau serial favorit adalah: (1) Untuk mencapai perasaan tertentu pada diri sendiri; (2) Untuk mencapai sesuatu yang berasal dari objek (film/serial); dan (3) Untuk menghindari perasaan kecewa jika menonton film/serial baru.
PELATIHAN LITERASI DIGITAL UNTUK REMAJA DI KABUPATEN BANDUNG Sjafirah, Nuryah Asri; Yanto, Andri; Indriani, Sri Seti
Dharmakarya Vol 12, No 3 (2023): September, 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v12i3.43326

Abstract

Kecamatan Soreang adalah salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat yang menjadi lokasi pelaksanaan kegiatan Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa (KKNM) yang terintegrasi dengan kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat Dosen (PPMD) Universitas Padjadjaran. Minimnya pengetahuan pada remaja pedesaan di bidang digital, hal ini diperkuat dengan pernah terjadi beberapa kasus penipuan online serta masih ada siswa yang tidak memahami bagaimana etika dan budaya penggunaaan platform-platform digital. Adapun tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada remaja mengenai literasi digital khususnya materi digital safety dan digital ethics. Metode yang digunakan adalah metode kombinasi dengan menerapkan metode penyuluhan yang diselingi oleh studi kasus, workshop, dan juga kuis interaktif.Kegiatan PPM Pelatihan literasi digital merupakan salah satu alternatif dalam rangka mendorong percepatan pembangunan di desa dan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui teknologi digital. Literasi digital ini diharapkan bukan hanya berkontribusi untuk memperkuat masyarakat dan pemerintah desa dalam peningkatan pengetahuan dan pemahaman bagi masyarakat desa, tetapi juga diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru di desa sebagai salah satu bentuk dampak positif dari penggunaan teknologi digital. Peserta pelatihan merupakan 50 orang remaja rentang usia 13 – 19 tahun yang berada di Armidale English College (AEC), yang merupakan sarana pelatihan/pendidikan informal, khususnya untuk melatih kemampuan berbahasa inggris. AEC berlokasi Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Adapun pertimbangan memilih lokasi tersebut dikarenakan AEC memiliki fasilitas yang memadai untuk mengadakan kegiatan pelatihan serta banyaknya siswa remaja yang beraktivitas disana sehingga dianggap dapat merepresentasikan mayoritas populasi remaja di wilayah Kecamatan Soreang. Kegiatan pelatihan literasi digital ini berjalan baik ditunjukan dari respon serta antusiasme peserta serta stakeholder terkait yang sangat responsif dan sangat membantu terselenggaranya kegiatan ini. Mengingat sangat penting dan bermanfaatnya literasi digital saat ini, diharapkan kegiatan pemberdayaan masyarakat khususnya remaja terhadap ruang digital tetap dilanjutkan dan ditingkatkan
STRATEGI PERSONAL BRANDING PENARI LENGGER LANANG MELALUI MEDIA INSTRAGRAM PADA AKUN INSTRAGRAM @RIANTO_RDS Septiana Yustika Widyaningrum; Dian Wardiana Sjuchro; Sri Seti Indriani
PANGGUNG Vol 33 No 3 (2023): Resiliensi Budaya sebagai Ketahanan dalam Menjaga Tradisi hingga Ekonomi Kreatif
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v33i3.2758

Abstract

Penari lintas gender merupakan profesi yang masih dianggap tabu. Hal ini menjadikan kelompok penari lintas gender menjadi termarjinalkan. Eksistensinya dianggap minor, sehingga membuat mereka tidak memiliki akses yang sama dalam menampilkan personal branding-nya. Namun, bagi Rianto, penari Lengger Lanang, keberadaan Instagram menjadi jalan alternatif untuk memfasilitasi dirinya menampilkan personal branding dirinya sebagai penari lintas gender, baik secara profesional maupun personal. Penelitian ini membahas tentang bagaimana strategi personal branding Rianto, seorang penari Lengger Lanang Banyumas yang memiliki misi budaya untuk melestarikan kesenian tersebut melalui personal branding di media Instagram. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan indikator yang terdiri atas sebelas karakteristik authentic personal branding menurut Rampersad. Hasil penelitian menyebutkan bahwa strategi personal branding Rianto adalah memiliki nilai, karakter, kode perilaku, dan moral, yang berfokus pada bidang kesenian, konsisten, memiliki relevansi, visibilitas, mendapatkan pengakuan, menerapkan hal positif, menjadi diri sendiri, menjaga eksistensinya, dan memelihara hubungan baik pada pengikut di akunnya. Kata kunci: Personal branding, Penari Lintas Gender, Media Sosial, Strategi
Strategi Media Alternatif Proyek Multatuli dalam Menjaga Keberlangsungannya Pradana, Muhammad Afriski Nanda; Maryani, Eni; Indriani, Sri Seti
Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi) Vol 9 No 1 (2025): JANUARI-MARET 2025
Publisher : Lembaga Otonom Lembaga Informasi dan Riset Indonesia (KITA INFO dan RISET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35870/jtik.v9i1.2963

Abstract

This research aims to provide an in-depth analysis of Project Multatuli as an alternative media outlet, focusing on both organizational and editorial perspectives. It also explores the challenges faced by such alternative media organizations. The findings reveal that Project Multatuli, at a fundamental level, can be regarded as critical alternative media that meets the criteria outlined by Sandoval and Fuchs. As an alternative media outlet, Project Multatuli relies on funding from donors, grants, and initiatives from "Kawan M" to cover its operating costs. Its news cycle adheres to the principles of "painstaking journalism," with coverage that typically spans two to three months. Project Multatuli holds transparency in high regard, consistently disclosing its funding sources, whether they support specific reports or provide the initial inspiration for news coverage. Distinct from mainstream media, Project Multatuli operates similarly to a Non-Governmental Organization (NGO).
Komunikasi Antarbudaya dan Transformasi Etnik Anggota Pujakesuma di Medan Sumatera Utara Yudhawirawan, Radhi Abimanyu; Mulyana, Deddy; Indriani, Sri Seti
Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan Vol. 18, No. 6 : Al Qalam (November 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Amuntai Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35931/aq.v18i6.4208

Abstract

Eksistensi masyarakat suku Jawa di Medan, Sumatra Utara, salah satunya disebabkan oleh program transmigrasi dari Jawa ke Sumatra pada era Hindia Belanda. Banyak dari mereka memilih untuk menetap dan membangun keluarga baru di Sumatra Utara. Provinsi Sumatra Utara merupakan salah satu provinsi yang penduduknya multikultural di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji komunikasi antarbudaya anggota Pujakesuma di Medan, Sumatra Utara, serta identitas etnik mereka. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola komunikasi antarbudaya seluruh informan mencerminkan kefasihan dalam berbahasa Jawa. Beberapa informan juga fasih menggunakan bahasa daerah lain seperti Batak, Karo, Cina, dan Melayu saat berkomunikasi dengan masyarakat dari suku lain. Seluruh informan mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa, dan beberapa di antaranya juga mengidentifikasi diri sebagai anggota Pujakesuma ketika berinteraksi dengan orang yang tak mereka kenal. Hal ini mencerminkan adanya transformasi budaya yang terjadi seiring perkembangan zaman.
Narrative analysis of character Po’s identity crisis in Kung Fu Panda 3 Setiadi, Raymond Victor; Indriani, Sri Seti; Puspitasari, Lilis
ProTVF Vol 9, No 1 (2025): March 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v9i1.54837

Abstract

Background: Kung Fu Panda 3 is an animated film from the United States that collaborated with a Chinese company. The film tells the story of Po's journey in handling his identity crisis as the main antagonist threatens the village's peace. Addressing social issues such as identity crisis, this animated film, a combination of action and comedy genres, is considered interesting to research as the presence of identity crisis issues is relatively unnoticed among people of different ages. Purpose: This research aims to provide the process of Po's character in handling their identity crisis throughout the story of Kung Fu Panda 3. Methods: This research uses a qualitative research method using narrative analysis by Tzvetan Todorov, which is supported by the approach of Lacey and Gillespie. Results: This research’s findings depict the process of Po's character in resolving its identity crisis whilst overcoming the menace from the villain, which is analyzed according to the five stages of narrative structure in Tzvetan Todorov's narrative analysis method with the approach of Lacey and Gillespie. Scenes are classified into five stages: equilibrium, disruption, recognition of disruption, attempt to repair disruption, and reinstatement of equilibrium. Conclusion: This research concludes with an overall representation of how the character Po can overcome their identity crisis through the five stages and suggests a utilitarian application of a thorough narrative analysis from a communication perspective. Implications: This research can theoretically serve as to how identity crises arise and are resolved in people with the role of other individuals around them in communications. Directors and scriptwriters, especially those producing animated films, can use this research to communicate issues on mental health in a way that people can perceive easily and have fun.
Analisis resepsi dampak negatif media sosial dalam film The Social Dilemma Yogayama, Alwi Johan; Indriani, Sri Seti; Syuderajat, Fajar
Comdent: Communication Student Journal Vol 2, No 2 (2024): November 2024 - April 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/comdent.v2i2.46325

Abstract

Latar Belakang: Selain mempermudah pekerjaan manusia, media sosial juga memiliki dampak negatif apabila digunakan secara berlebihan, seperti menimbulkan perasaan cemas, takut, hingga depresi. Salah satu film yang membahas mengenai dampak negatif media sosial adalah film dokumenter berjudul The Social Dilemma yang disutradarai oleh Jeff Orlowski. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui resepsi khalayak terkait dampak negatif media sosial terkait kesehatan mental pada remaja dalam film The Social Dilemma. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teori analisis resepsi Encoding-Decoding Stuart Hall. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam terhadap tujuh informan yang merupakan siswa SMA Negeri 1 Jatinangor. Informan dipilih berdasar tingkat adiksi media sosial. Hasil: Melalui proses analisis wawancara produsen, tercipta makna dalam adegan yang dipilih bahwa: media sosial didesain untuk membuat penggunanya ketagihan; media sosial menjauhkan kita dari keluarga; seorang akan bosan tanpa media sosial; semakin dilarang menggunakan media sosial, rasa ingin menggunakannya juga semakin tinggi, dan Media sosial menghilangkan identitas dan jati diri remaja. Hasil juga menunjukkan pembacaan yang bervariasi, terdapat 19 pembacaan posisi dominan, 5 pembacaan oposisi, dan 11 pembacaan negosisasi. Beberapa dari mereka yang memilih posisi negosiasi atau oposisi berpendapat sama seperti Mansell bahwa meski sulit, individu memiliki kekuatan untuk tidak terpengaruh media sosial. Sesuai dengan asumsi teori Encoding-Decoding Stuart Hall, perbedaan penerimaan pesan disebabkan oleh latar belakang dan pengalaman individu yang juga berbeda-beda.