Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Penentuan Kondisi Operasi Optimum Ekstraksi Pewarna Alami Dari Limbah Serbuk Kayu Ulin (Eusideroxylon zwageri) Menggunakan Response Surface Method Putribarafike, Apriliantina; Rahayuningsih, Edia; Faridah, Eny
Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan" 2023: PROSIDING SNTKK 2023
Publisher : Seminar Nasional Teknik Kimia "Kejuangan"

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of natural dyes is an alternative to replace synthetic dyes. One of the natural resources in Indonesia that can be used as a natural dye is wood sawdust of Ulin wood. Phytochemical analysis results showed that the extract of Ulin wood sawdust contains tannin compound, as the chemical of these sawdust is potential as a source of natural dyes. This research is to find the optimum condition of natural dye extraction from Ulin wood sawdust.  Variables observed in this research are temperature, the weight ratio of sawdust to the solvent volume, and mixer rotation speed. The extraction process with a third necked flask with a stirrer, condenser, heat mantle, and with water as solvents. Natural dye content on the extract was analyzed by gravimetry. The optimization of operating variables extraction using Response Surface Method (RSM) with Box-Behnken model. The results that the optimum temperature was 90oC, the weight ratio of Ulin wood sawdust to the solvent volume was 0,25 g/mL, and the optimum mixer rotation speed was 250 rpm. In this optimum condition, the natural dye content in the extracts was 1,2054%
Dinamika Pertumbuhan dan Akumulasi Serasah Tanaman Pionir Pada Lahan Bekas Tambang Batubara: Kajian Kondisi Fisik Tanah Pasca Penanaman: Dynamics of Growth and Litter Accumulation of Pioneer Vegetation on Former Coal Mining Land: A Study of Soil Physical Conditions Post Planting Nisya, Dian; Nurjanto, Handojo Hadi; Faridah, Eny
Jurnal Silva Tropika Vol. 9 No. 2 (2025): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v9i2.51799

Abstract

ABSTRACT Sengon (Falcataria moluccana), Mahoni (Swietenia macrophylla), and Jabon (Anthocephalus cadamba) are pioneer vegetation species commonly found in post-coal mining areas in Jambi, Indonesia. Each species exerts a distinct influence on soil development acceleration, linked to the accumulation of organic matter derived from overlying vegetation, including litter and root exudates. Therefore, long-term evaluation of the growth of these pioneer plants is essential to understand their effectiveness in post-mining land conditions. This study aims to integrate the analysis of plant growth, litter accumulation, and soil physical conditions within a holistic framework, which can serve as a reference for the impacts of revegetation following coal mining in tropical regions. The research was conducted from April to September 2022. Field observations, including plant growth measurements, litter and understory vegetation sampling, and soil sampling, were performed in the coal mining concession area of PT Nan Riang, while soil physical property tests were carried out in the Soil Fertility Laboratory, Faculty of Agriculture, Universitas Jambi. Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA) at a 5% significance level and the Least Significant Difference (LSD) test. Results indicate that five-year-old Sengon, Mahoni, and Jabon plants in the post-coal mining area in Jambi have average heights of 18.3 m, 9.9 m, and 11.17 m; stem diameters of 15.6 cm, 4.3 cm, and 9.8 cm; and canopy diameters of 2.2 m, 0.47 m, and 1.2 m. Litter accumulation from the three pioneer species at the study site ranged from 4 to 18 tons per hectare, with Jabon producing the highest litter accumulation, followed by Sengon and Mahoni. Furthermore, planting pioneer species in post-coal mining areas has been shown to improve soil physical properties compared to control sites, attributed to the organic matter content derived from understory and pioneer plant litter.   Key words: litter accumulation, pioneer vegetation, soil physical properties   ABSTRAK Sengon (Falcataria moluccana), mahoni (Swietenia macrophylla) dan jabon (Anthocephalus cadamba), merupakan vegetasi pionir yang dapat dijumpai pada areal bekas tambang batubara di Jambi. Tiap jenis vegetasi, tentu akan memberikan pengaruh yang berbeda terhadap percepatan perkembangan tanah. Hal ini berhubungan dengan akumulasi bahan organik yang berasal dari vegetasi yang ada di atasnya, berupa serasah dan eksudasi akar. Sehingga, evaluasi jangka panjang terhadap pertumbuhan tanaman pionir ini diperlukan untuk memahami efektivitasnya dalam kondisi lahan pasca tambang. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan analisis pertumbuhan tanaman, akumulasi serasah, dan kondisi fisik tanah dalam satu kerangka holistik, yang dapat dijadikan sebagai acuan dampak revegetasi pasca penambangan batubara di daerah tropika. Penelitian dilaksanakan pada April - September 2022. Penelitian lapangan berupa pengamatan pertumbuhan tanaman, pengambilan sampel serasah dan tumbuhan bawah, hingga pengambilan sampel tanah dilaksanakan pada wilayah izin usaha pertambangan batubara PT Nan Riang, sedangkan Pengujian sifat fisik tanah dilakukan di Laboratorium Kesuburan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Data pengamatan dianalisis menggunakan Analysis of Variance (ANOVA) pada taraf 5% dan uji Least Significance Different (LSD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanaman sengon, mahoni dan jabon umur lima tahun yang ditanam pada areal bekas tambang batubara di Jambi memiliki tinggi rata-rata (18;3,9;11,17m), diameter batang (15,6;4,3;9,8cm) serta diameter tajuk (2,2;0,47;1,2m). Akumulasi serasah tiga jenis tanaman pionir pada lokasi penelitian mencapai 4 sampai 18 ton/Ha, dengan jenis jabon sebagai penghasil serasah terbanyak pada lokasi penelitian, diikuti oleh sengon dan mahoni. Selain itu, penanaman jenis pionir pada areal bekas tambang batubara terbukti dapat memperbaiki kondisi sifat fisik tanah, jika dibandingkan dengan lokasi kontrol. Hal ini disebabkan karena pada lokasi yang ditanami jenis pionir memiliki kandungan bahan organik yang berasal dari serasah tumbuhan bawah dan tanaman pionir itu sendiri.   Kata kunci: akumulasi serasah, sifat fisik tanah, tanaman pionir
Kuantitas Bakteri Amonifikasi Sebagai Indikator Perbaikan Kualitas Tanah BekasTambang Batubara di Jambi Pasca Revegetasi dengan Tiga Jenis Tumbuhan Pionir: Quantity of Ammonification Bacteria as an Indicator of Soil Quality Improvement at Post Coal Mining Area in Jambi after Revegetation with Three Types of Pioneer Plants Nisya, Dian; Nurjanto, Handojo Hadi; Faridah, Eny
Jurnal Silva Tropika Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Silva Tropika
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jurnalsilvatropika.v10i1.57959

Abstract

ABSTRACT Open-pit coal mining in Jambi causes massive degradation of physical, chemical, and biological qualities of soil. Revegetation using pioneer plants serves as a primary strategy to restore the ecological functions of the land. This study aims to quantify the population of ammonifying bacteria, analyze soil chemical properties, and examine the causal relationships among these variables in a five-year-old revegetation site. Soil sampling was conducted systematically at depths of 0–5 cm and 5–10 cm beneath three pioneer stands and an unvegetated plot. The Most Probable Number method was employed to enumerate the bacterial population, while chemical analyses included the electrometric method (pH), Furnace method (organic C), and Kjeldahl method (total N). The results indicated that soil depth and plant species had a highly significant effect on the ammonifying bacteria population. The highest population of ammonifying bacteria was found under Jabon at 8.1 Log cells/g of soil, followed by Sengon at 7.8 Log cells/g of soil, and Mahogany at 5.5 Log cells/g of soil, with population sizes decreasing as soil depth increased, while the lowest population was observed in the control site. Soil chemical properties including N-total, C-organic and pH showed strong positive correlations and significantly influenced the increase in ammonifying bacteria quantity, with N-total contributing 51.5%, C-organic 47.4% and pH 42.9% to the effect. The implications of this study prove that revegetation using sengon and jabon is effective in increasing the quantity of ammonifying bacteria, which represents the early improvement of soil quality and fertility in post-mining areas.   Keywords: ammonification bacteria, coal mining, pioneer plants, revegetation, soil chemical properties   ABSTRAK Penambangan batubara dengan sistem tambang terbuka (open pit mining) di Provinsi Jambi mengakibatkan degradasi kualitas fisik, kimia, dan biologi tanah secara masif. Kegiatan revegetasi menggunakan tanaman pionir merupakan strategi utama untuk memulihkan fungsi ekologis lahan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung populasi bakteri amonifikasi, menganalisis sifat kimia tanah (pH, C-organik, N-total, rasio C/N), serta menguji hubungan kausalitas antarvariabel tersebut pada lahan revegetasi berumur lima tahun. Pengambilan sampel tanah dilakukan secara sistematik pada kedalaman 0–5 cm dan 5–10 cm di bawah tiga jenis tegakan pionir (Falcataria moluccana, Anthocephalus cadamba, Swietenia macrophylla) dan lahan tanpa vegetasi (kontrol). Metode Most Probable Number (MPN) digunakan untuk menghitung populasi bakteri, sedangkan pengujian kimia meliputi metode electrometric (pH), Furnace (C-organik), dan Kjeldahl (N-total). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor kedalaman tanah dan jenis tanaman berpengaruh sangat nyata terhadap populasi bakteri amonifikasi. Populasi bakteri amonifikasi tertinggi terdapat pada jenis tanaman jabon (8,1 Log sel/g tanah) diikuti dengan sengon (7,8 Log sel/g tanah) dan mahoni (5,5 Log sel/g tanah), dengan jumlah populasi yang menurun seiring dengan semakin dalamnya lapisan tanah, sedangkan populasi terendah berada pada Lokasi kontrol. Sifat kimia tanah berupa N-total, C-organik, dan pH memiliki korelasi positif yang kuat dan berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kuantitas bakteri amonifikasi, dengan kontribusi pengaruh N-total sebesar 51,5%, C-organik 47,4%, dan pH 42,9%. Implikasi dari penelitian ini membuktikan bahwa revegetasi menggunakan jenis Falcataria moluccana dan Anthocephalus cadamba efektif meningkatkan kuantitas bakteri amonifikasi yang merepresentasikan awal perbaikan kualitas dan kesuburan tanah bekas tambang batubara.   Kata kunci: bakteri amonifikasi, revegetasi, sifat kimia tanah, tambang batubara, tanaman pionir