Claim Missing Document
Check
Articles

Digitalisasi Peran Mursyid: Kajian Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Tarekat Qadiriyah di Sulawesi Barat Muhammad Syibli Sahabuddin; Andi Alimuddin Unde; Iqbal Sultan
Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Vol 21, No 2 (2025): Volume 21, Nomor 2, November 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/fkip.v21i2.6556

Abstract

The development of digital technology has transformed models of communication and religious practice, including within the Sufi community. The purpose of this study is to analyze the transformation of the role of the murshid of the Qadiriyah Sufi Order in West Sulawesi within the educational and social spheres in the digital era. This research focuses on how the murshid uses digital media, the implications of this media use for spiritual authority, and its influence on the social cohesion of the congregation. This study utilizes a qualitative approach using communication ethnography methods, using in-depth interviews, participant observation, and digital content analysis. The results show that digitalization has reconstructed the role of the murshid from a traditional guide to a spiritual leader and virtual educator. WhatsApp, Zoom, and YouTube are used as tools for preaching, teaching, and strengthening congregational solidarity. These findings also indicate a shift in congregational preference for concise and practical content. Although concerns remain about the diminished spiritual meaning when direct contact with the murshid becomes less frequent. Therefore, digitalization opens up significant opportunities for the development of technology-based religious education, but still requires balance to ensure the spiritual depth and authority of the Sufi tradition are not lost.
PENGARUH IKLIM KOMUNIKASI ORGANISASI TERHADAP MOTIVASI KERJA PEGAWAI DINAS KOMINFO KABUPATEN SIDRAP Zalzabila zalzabila; Andi Alimuddin Unde; Muh Akbar
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 13, No 7 (2026): NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v13i7.2026.1820-1829

Abstract

Iklim komunikasi organisasi adalah bagaimana karyawan memandang pesan atau kejadian di perusahaan atau kantor. Hubungan yang kurang terbuka antara pegawai dan atasan, yang berdampak pada motivasi kerja, menjadi alasan peneliti ingin meneliti hal ini, khususnya di Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap. Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap perlu memiliki iklim komunikasi organisasi yang positif. Dengan iklim komunikasi yang baik, para pegawai di Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap dapat menjalankan tugas mereka dengan efektif. Perubahan dalam iklim komunikasi organisasi akan memengaruhi motivasi kerja, karena motivasi tersebut akan meningkatkan semangat kerja bawahan, produktivitas karyawan, dan disiplin kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap motivasi kerja pegawai Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap dan untuk mengetahui faktor yang mendominasi motivasi kerja pegawai Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap. Penelitian ini menggunakan teori hubungan manusiawi oleh Elton Mayo dan teori motivasi oleh Maslow sebagai dasar dalam pengujian penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan pengambilan data menggunakan kuesioner. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 55 pegawai. teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampling jenuh atau total sampling yaitu seluruh pegawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil analisis regresi linear sederhana di dapat tingkat signifikan 0,000 0,05, angka tersebut menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima. Kemudian, koefisien determinasi (R2) sebesar 0,416 artinya, pengaruh iklim komunikasi organisasi terhadap motivasi kerja pegawai Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap berpengaruh signifikan dan besaran pengaruhnya sebesar 41,6%. Selanjutnya faktor yang paling dominan dalam memotivasi kerja pegawai di Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap adalah faktor kebutuhan perwujudan diri (self-actualization needs). Dilihat dari hasil analisis statistik deskriptif yang berada pada kategori baik sebanyak 50,90 persen yang berarti tingkat kebutuhan perwujudan diri di Dinas Kominfo Kabupaten Sidrap cukup tinggi.
The rise of reformist strongman: statutory executive aggrandizement and performative legitimacy in decentralized Indonesia Aditya Putra; Muh. Farid; Muh. Akbar; Andi Alimuddin Unde
Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan Vol. 16 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : Department of Government Studies, Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/ojip.v16i1.20316

Abstract

This study examines a key paradox in decentralization in Southeast Asia: the emergence of strong local figures who drive policy innovation while simultaneously consolidating executive power. Focusing on the city of Parepare, Indonesia, during the 2018–2023 period, this study addresses the urgent need to explain how decentralized governance can simultaneously enable reform while undermining democratic accountability. Based on qualitative case studies, this article introduces the concept of the mayor’s entrepreneurial mechanism, understood as a form of sequential entrepreneurship in which a mayor moves from narrative framing toward policy institutionalization. Findings show that this mechanism operates through the expansion of executive power based on legislation, where the autonomy mandate is used to centralize administrative authority, as well as through political co-optation that neutralizes legislative oversight. This study contributes to the governance and decentralization literature by demonstrating that reformist executive dominance may accelerate local development, yet also erodes the system of checks and balances. This tension raises critical concerns regarding the democratic sustainability of decentralized governance in Indonesia and the broader region.
Co-Authors Abd Rasyid J Abdul Gafar Achmad Amiruddin Adi Nugraha Aditya Putra Andi Maulana Armas Andi Nilawati Usman Andi Nuddin Andi Nur Fitri Andi Rahadi Andi Rosdiana NK Andriansyah Andriansyah Ardiansyah Ardiansyah Asmurti Asmurti Baiq Dika Fatmasari Dadang Ahmad Suriamihardja Darmawan Salman Dwia Aries Tina Pulubuhu Fathonah Annisa Febri Herawati Hafied Cangara Hafied Cangara Hafied Cangara Hafied Cangara Hafied Cangara Hasrullah, Harullah Hendrek Semuel Mesmor Hermansyah Hermansyah Imam Mujahidin Fahmid Iqbal Sultan Irvan Roberto Irwan Irwan Jeanny Maria Fatimah Jeanny Maria Fatimah Jeanny Maria Fatimah Kartika Kartika Lilis Sukmawati Lisna Sari Lolita Lewankiky Lukman Lukman Manggazali Manggazali Mau, Muliadi Muh Akbar Muh Akbar Akbar Muh. Akbar Muh. Akbar Muh. Farid Muh. Ibrahim Halim Muhammad Arsyad Muhammad Eka Fahri Muhammad Faisal Muhammad Farid Muhammad Farid Muhammad Farid Muhammad Massyat Muhammad Syibli Sahabuddin Muhammad Zulkifli Tahir Murniati Muhtar Nahria Nahria Ni Luh Putu Herli Mastuti Nosakros Arya Nur Qalby Nur Salwiyani Gani Nurfadilah Syafiuddin Randhi Amiruddin Ratmila Riandani Rezhita Adityana Akhmad Risqi Utami Riza Darma Putra Rosniar Rosniar Saldy Irawan Samrichar R Saraswati Haylian Chiani Sirajuddin Siti Nadila Tenri Ajeng Fitrya S Sitti Murni Kaddi Sitti Murniati Muhtar Sonni, Alem Febri Sri Riski Wulandari St. Hajar Magfirah Mukhtar Sundari Sundari Supardi Supardi Syamsuddin Azis Tahir Kasnawi Tahir Kasnawi Tawany Rahamma Telly Muriany Tuti Bahfiarti Veni Hadju Yulianti Anwar Zalzabila zalzabila