Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PEMBUATAN BIODESEL DARI BERMACAM MINYAK GORENG BEKAS DENGAN PROSES TRANSESTERIFIKASI Alik Kandhita Febriani; Arie Nurmala Dewi
JURNAL TEKNOLOGI KIMIA DAN INDUSTRI Volume 1, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro,

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (187.289 KB)

Abstract

Today, Biodiesel attracts the Scientists to do further research, because Biodiesel can be used as a substitute for fossil fuel. Biodiesel can be made from various type of plant oils. In this research the authors choses palm oil that has been used for the purpose of utilizing the waste. Waste palm oil is classified into two types: one-time used of cooking oil and several times used. Stages of the manufacture of Biodiesel from waste palm oil is FFA (Free Fatty Acid) decreasing by esterification and the second process is the transesterification. After passing through two stages of the process, followed by calculating the weight percent of FAME (Fatty Acid Methyl Ester) by GC (Gas Chromatography) analysis. The result is 80,58% for one time use palm oil with component that are suspected as methyl ester is 47,40%, while several times-used palm oil has 89,67% weigh percent of FAME with component that are suspected as methyl ester is 53,46%, so the several times-used palm oil produces methyl ester yield more than one time-used palm oil. From the result of  the preliminary analysis, it continues to the next analysis, those are physical analysis (density, viscosity) and chemical analysis (acid number, saponification number). This analysis is done in 16 times runs with the variables, methanol : palm oil weight ratios are 0,75:1; 1,56:1; 2,34:1 dan 3,13:1, and time of transesterification are 60, 70, 80, and 90 minutes. From the analysis results, the best result is 12th run with 1 : 2,34 methanol : oil ratio and 90 minutes transesterification. It has 0,87 gr/ml of density, 2,24 cst of viscosity, 0,26 mg KOH/gr of acid number, and 336 mg KOH/gr of saponification number.
Uji Kompresibilitas Granul Pati Singkong Dengan Metode Granulasi Basah Aris Khairul Akbar; Alik Kandhita Febriani
Jurnal Ilmiah JOPHUS : Journal Of Pharmacy UMUS Vol. 1 No. 01 (2019): Agustus
Publisher : Program Studi Farmasi, Universitas Muhadi Setiabudi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46772/jophus.v1i01.46

Abstract

Indonesia merupakan penghasil singkong terbesar ke empat di Dunia setelah Nigeria, Thailand, dan Vietnam. Singkong merupakan tanaman pangan dan perdagangan yang mengandung pati sekitar 85%. Pati pada umumnya terdiri dari amilosa dan amilopektin. Amilopektin memiliki sifat yang lekat dan cenderung membentuk gel apabila disuspensikan dengan air sehingga baik digunakan sebagai bahan pengikat dalam pembuatan tablet. Amilosa bersifat mudah menyerap air dan memiliki daya kembang yang baik sehingga umumnya digunakan sebagai bahan penghancur dalam pembuatan tablet.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kompresibilitas granul pati singkong dengan metode granulasi basah. Metode uji kompresibilitas dilakukan dengan cara menimbang granul sebanyak 100 gram, kemudian dimasukkan granul ke dalam gelas ukur volume awal granul 210 ml, setelah dilakukan pemampatan volume akhirnya 175 ml. Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental dengan cara memberikan ketukan sebanyak 500 kali terhadap granul yang telah diukur volumenya. Hasil uji kompresibilitas dari granul pati singkong diperoleh hasil yang baik (< 20%) yaitu 17,5 %.Dengan hasil ini granul pati singkong dapat digunakan sebagai bahan pengikat dalam pembuatan tablet.
Total Phenolic and Coumarin Content, Antioxidant Activity of Leaves, Fruits, and Stem Barks of Grey Mangrove (Avicennia marina) Alik Kandhita Febriani; Ismiyarto Ismiyarto; Khairul Anam
Jurnal Kimia Sains dan Aplikasi Vol 23, No 2 (2020): Volume 23 Issue 2 Year 2020
Publisher : Chemistry Department, Faculty of Sciences and Mathematics, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2204.839 KB) | DOI: 10.14710/jksa.23.2.34-38

Abstract

Avicennia marina is one of the mangrove species used for traditional medicines. The leaves, fruits, and stem barks of A. marina are used for treating skin diseases. The stem barks are used for rheumatism, smallpox, and ulcers. The extract of A. marina was also reported to have antioxidant activity and indicates the presence of alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, sterol/triterpenoid, and coumarin. However, the comparison of the antioxidant activity of leaves, fruits, and stem barks is not evaluated yet. The purpose of this study is to compare the antioxidant activity, total phenolic and coumarin content of leaves, fruits, and stem barks of A. marina. The antioxidant activity was determined using DPPH radical scavenging assay and was evaluated by spectrophotometric method at 515 nm. Quercetin was used for comparison. The fruits had the highest antioxidant activity with an IC50 value of 85.246 ppm, followed by stem barks and leaves with IC50 of 205.281 ppm and 307.037 ppm, respectively. Although the antioxidant activity of A. marina fruits was far from quercetin (IC50 of 3.789 ppm), it still categorized as a strong antioxidant. The strong antioxidant activity of fruits was followed by higher total phenolic and coumarin content than the stem barks and leaves part. Total phenolic and coumarin content of fruits were 49.119 mg GAE/ g and 8.894 x 10-3 mg CE/g, respectively. The leaves part had total coumarin content of 8.418 x 10-3 mg CE/g, but it had low IC50. It may be caused by the other secondary metabolite compounds that could reduce the antioxidant activity of coumarin.
IDENTIFIKASI KUMARIN DAN PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP TOTAL KUMARIN PADA EKSTRAK BUAH API-API PUTIH (A. marina): COUMARIN IDENTIFICATION AND EFFECT OF SOLVENTS ON TOTAL COUMARIN CONTENT OF API-API PUTIH FRUIT (A. marina) EXTRACT Alik Kandhita Febriani; Khairul Anam
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.452

Abstract

Api-api putih (Avicennia marina) adalah salah satu jenis mangrove yang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tannin, steroid, saponin, terpen, glikosida, dan kumarin. Pada tanaman api-api putih, kadar kumarin total tertinggi ada pada buahnya dibandingkan dengan daun dan kulit batangnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar kumarin total ekstrak buah api-api putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda serta profil senyawa kumarin pada tiap pelarut menggunakan metode KLT. Ekstraksi dilakukan dengan metode sokletasi secara sekuensial dengan pelarut berturut-turut n-heksana, kloroform, metanol, dan air. Penentuan kadar kumarin total diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm. Total kumarin dinyatakan dalam mg CE (Coumarin Equivalent)/100 g ekstrak. Kumarin (1,2 benzopyrone) digunakan sebagai senyawa standar. Skrining fitokimia menunjukkan simplisia buah api-api putih mengandung alkaloid, tannin, saponin, flavonoid, dan steroid/triterpenoid. Ekstrak metanol merupakan ekstrak dengan rendemen terbanyak yaitu 22,22% diikuti dengan ekstrak air (12,77%), kloroform (0,48%), dan n-heksana (0,36%). Kadar kumarin total tertinggi yaitu 80,9 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak metanol diikuti dengan ekstrak air sejumlah 17,5 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak, ekstrak kloroform 10,9 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak, dan ekstrak n-heksan sejumlah 6,08 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak. Hasil penentuan kumarin total dapat dilihat bahwa kadar kumarin total tertinggi ada pada ekstrak metanol didukung dengan hasil identifikasi menggunakan metode KLT yang memperlihatkan noda kumarin yang terlihat jelas dibandingkan dengan ekstrak lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa metanol adalah pelarut terbaik untuk mengekstrak kumarin pada buah api-api putih.
Formulasi dan Uji Standar Mutu Sabun Wajah Anti Jerawat Ekstrak Daun Suruhan Widia Sheli Fidianti; Rifqi Ferry Balfas; Alik Kandhita Febriani
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 4 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i4.3888

Abstract

Sabun wajah dibuat dengan tekstur lebih  lembut  berfungsi untuk membersihkan sel kulit mati, debu, minyak, sisa mekap, dan bakteri yang menempel di wajah. Ekstrak daun suruhan mengandung senyawa saponin, tanin, flavonoid, steroid sebagai antibakteri dan anti inflamasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi sediaan sabun wajah anti jerawat dari ekstrak daun suruhan (Peperomia Pellucida L). Penelitian dilaksanakan dengan metode eksperimental. Formulasi ekstrak daun suruhan dengan F0 (0 g), F1(3 g) ,F2 (4g) dan (5g). Setiap formula dilakukan uji mutu meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, pemeriksaan pH, uji viskositas dan uji stabilitas busa. Hasil penelitian diperoleh, F0 memiliki warna kuning, bau khas mawar dan bentuk sediaan kental. F1, F2 dan F3 memiliki warna hijau kehitaman, bau khas ekstrak daun suruhan dan bentuk sediaan kental. Pada uji homogenitas formula homogen. Pada uji pH diperoleh pH 10, 8, 8, 8. Pada uji viskositas diperoleh hasil sebesar 6420 cPs, 9663 cPs, 13.430 cPs, 20.240 cPS. Pada uji stabilitas busa diperoleh stabilitas busa 73%,71%, 71%, 71%. Dapat disimpulkan bahwa formulasi sediaan sabun wajah anti jerawat dari ekstrak daun suruhan belum memenuhi persyaratan untuk uji pH.
Formulasi dan Uji Mutu Sediaan Sabun Cuci Tangan Cair dari Ekstrak Buah Tomat (Solanum lycopersicum L.) Regita Fikriana; Rifqi Ferry Balfas; Alik Kandhita Febriani
JLEB: Journal of Law, Education and Business Vol 1, No 2 (2023): Oktober 2023
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/jleb.v1i2.1179

Abstract

Sabun cuci tangan cair adalah bentuk sediaan yang digunakan oleh masyarakat yang berfungsi sebagai pembersih kotoran, debu dan mikroorganisme yang menempel pada tangan secara mekanis dari kulit kedua belah tangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana formulasi sediaan sabun cuci tangan dan uji mutu sediaan dari buah tomat (Solanum lycopersicum l.). Metode peneliitian eskperimental dilakukan dengan cara meserasi. Formulasi ekstrak tomat dengan 1g, 2g, dan 3g. Setiap formula dilakukan uji mutu meliputi uji organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji viskositas dan uji stabilitas busa. Hasil penelitia ini, sediaan pada F1, F2, dan F3 memili warna kuning, kuning kecoklatan, dan kuning coklat tua. Berbentuk cair, aroma khas tomat. Pada uji homogenitas F1, F2 dan F3 homogenitas. Pada uji pH F1 9, F2 8, dan F3 8 ketiganya memenuhi syarat SNI yaitu 8-11. Pada uji viskositas F1 1339 cPs F2 1590 cPs dan F3 840 cPs ketiganya memenuhi syarat yaitu 400 – 4000 cPs. Pada Uji stabilitas busa F1 76,47%, F2 73,33%, F3 66,66% pada formulasi F1 dan F2 tidak memenuhi standar dikarenakan hal ini melebihi syarat yaitu 60-70%. Dapat disimpulkan bahwa formulasi sediaan sabun cuci tangan cair dari ekstrak buah tomat pada F1 dan F2 belum memenuhi persyartan untuk uji satbilitas busa.
Pengaruh Variasi Minyak Sawit dan Zaitun terhadap Kualitas Sabun Padat Non-SLS Ekstrak Daun Jambu Biji Merah (Psidium Guajava) Alik Kandhita Febriani; Rifqi Ferry Balfas; Chumayroh Chumayroh
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 12, No 1 (2023): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v12i1.4711

Abstract

Produk kosmetik berupa sabun tanpa SLS merupakan produk yang diformulasi untuk orang yang mengalami iritasi karena adanya kandungan SLS. Ekstrak daun jambu biji merah dikenal memiliki aktivitas antibakteri melawan bakteri penyebab jerawat Propionibacterium acne. Penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan suatu sediaan sabun muka padat tanpa SLS dengan variasi minyak sawit dan zaitun dari ekstrak etanol 96% daun jambu biji merah. Penelitian diawali dengan pembuatan ekstrak dari simplisia daun jambu biji merah (Psidium guajava) dengan metode maserasi. Kemudian ekstrak diformulasikan menjadi tiga formula sabun padat. Tiga formula ini dibedakan dari perbandingan minyak yang digunakan yaitu minyak sawit dan minyak zaitun. Formulasi dilakukan dengan memanaskan campuran minyak sawit dan zaitun sampai suhu 70oC. Campurkan larutan NaOH 45% (b/v) yang dibuat dengan melarutkan 9 gr NaOH dalam 20 mL akuades sambil diaduk secara terus menerus. Suhu dijaga antara 70-80oC sampai tercapai trace. Setelah itu campuran sabun dicetak dan dibiarkan untuk proses curing sampai 1 minggu.  Setelah itu sediaan sabun padat dilakukan uji fisik sediaan sabun padat sesuai SNI. Hasilnya ketiga formulasi memenuhi standar SNI untuk kadar air, tinggi busa, dan pH. Pada uji organoleptik, formula I, II, dan III menghasilkan sabun yang keras, agak lunak, dan agak keras. Formula III adalah formula terbaik dengan hasil sabun yang agak keras, kadar air memenuhi standar SNI, dan uji tinggi busa tertinggi yang telahn memenuhi standar SNI. Jenis minyak dan perbandingan antara minyak sawit dan zaitun berpengaruh terhadap tekstur dan busa sabun yang dihasilkan.
IDENTIFIKASI KUMARIN DAN PENGARUH JENIS PELARUT TERHADAP TOTAL KUMARIN PADA EKSTRAK BUAH API-API PUTIH (A. marina): COUMARIN IDENTIFICATION AND EFFECT OF SOLVENTS ON TOTAL COUMARIN CONTENT OF API-API PUTIH FRUIT (A. marina) EXTRACT Alik Kandhita Febriani; Khairul Anam
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 4 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v7i4.452

Abstract

Api-api putih (Avicennia marina) adalah salah satu jenis mangrove yang memiliki kandungan senyawa flavonoid, alkaloid, tannin, steroid, saponin, terpen, glikosida, dan kumarin. Pada tanaman api-api putih, kadar kumarin total tertinggi ada pada buahnya dibandingkan dengan daun dan kulit batangnya. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kadar kumarin total ekstrak buah api-api putih yang diekstraksi dengan pelarut yang berbeda serta profil senyawa kumarin pada tiap pelarut menggunakan metode KLT. Ekstraksi dilakukan dengan metode sokletasi secara sekuensial dengan pelarut berturut-turut n-heksana, kloroform, metanol, dan air. Penentuan kadar kumarin total diukur menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 274 nm. Total kumarin dinyatakan dalam mg CE (Coumarin Equivalent)/100 g ekstrak. Kumarin (1,2 benzopyrone) digunakan sebagai senyawa standar. Skrining fitokimia menunjukkan simplisia buah api-api putih mengandung alkaloid, tannin, saponin, flavonoid, dan steroid/triterpenoid. Ekstrak metanol merupakan ekstrak dengan rendemen terbanyak yaitu 22,22% diikuti dengan ekstrak air (12,77%), kloroform (0,48%), dan n-heksana (0,36%). Kadar kumarin total tertinggi yaitu 80,9 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak metanol diikuti dengan ekstrak air sejumlah 17,5 ± 1,4 mg CE/100 g ekstrak, ekstrak kloroform 10,9 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak, dan ekstrak n-heksan sejumlah 6,08 ± 0,4 mg CE/100 g ekstrak. Hasil penentuan kumarin total dapat dilihat bahwa kadar kumarin total tertinggi ada pada ekstrak metanol didukung dengan hasil identifikasi menggunakan metode KLT yang memperlihatkan noda kumarin yang terlihat jelas dibandingkan dengan ekstrak lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa metanol adalah pelarut terbaik untuk mengekstrak kumarin pada buah api-api putih.
UJI KUALITATIF KANDUNGAN HIDROKUINON PADA TIGA MEREK KRIM PEMUTIH WAJAH DENGAN METODE KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) Meilyda, Nadira Ayu; Febriani, Alik Kandhita; Balfas, Rifqi Ferry
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 7, No 2 (2024)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v7i2.15818

Abstract

Hidrokuinon merupakan golongan fenol yang memiliki sifat larut dalam air. Bahaya penggunaan hidrokuinon dalam kosmetik antara lain menyebabkan okronosis (kulit berbintil seperti pasir, berwarna coklat kebiruan, terasa gatal dan terbakar). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidaknya kandungan hidrokuinon pada tiga merek krim pemutih wajah yang dijual di media online. Sampel yang diteliti sebanyak 3 krim pemutih wajah yang dijual di media online dengan metode kromatografi lapis tipis. Hasil uji kualitatif hidrokuinon dengan reagen FeCl₃ 1%, memperoleh hasil sampel A, B dan C positif hidrokuinon. FeCl₃ merupakan reagen yang umum digunakan untuk uji kualitatif senyawa siklik, sehingga kurang spesifik karena akan menghasilkan uji positif terhadap senyawa yang mengandung siklik. Hasil uji reaksi warna dengan reagen benedict, O-fenantrolin dan hasil uji Kromatografi lapis tipis dengan menggunakan fase gerak metanol P:kloroform P (50:50), menunjukan sampel krim pemutih yang positif mengandung hidrokuinon yaitu sampel A dan C dengan nilai Rf yang mendekati Rf baku Hidrokuinon. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat 2 sampel positif mengandung hidrokuinon.
FORMULASI SEDIAAN NUTRASETIKAL POWDER DRINK KULIT BAWANG MERAH BREBES (Allium cepa L. var. aggregatum) Febriani, Alik Kandhita; Balfas, Rifqi Ferry; Purwanti, Yunika; Maesarah, Ifani
Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi Vol 13, No 3 (2024): Parapemikir : Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/pjif.v13i3.7861

Abstract

Indonesia, known for its rich biodiversity, boasts many medicinal plants with significant development potential. One such plant is shallots (Allium cepa L.), a valuable vegetable commodity that plays an important role in society due to its economic and nutritional value. Shallots are rich in various secondary metabolites, including flavonoids, tannins, saponins, essential oils, kaempferol, flavonglycosides, phloroglucin, dihydroaliin, cycloaliin, metiallin, quercetin, and polyphenols, with sulfur also present in the tubers. This research aims to formulate shallot skin into a nutraceutical powder drink. Using experimental laboratory methods, we formulated the shallot skin powder drink and conducted physical tests on the preparation. The results indicated that while the formulations met the criteria for ash content, pH, dissolution time, flow time, and compressibility, not all formulas satisfied the requirements. Specifically, the shallot skin powder drink did not meet the standards for water content and angle of repose.