Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Ra’yu Sebagai Sumber Hukum Islam Febriani, Nur Arfiyah
al-'adalah Vol 9 No 2 (2012): Al-'Adalah
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/adalah.v10i2.291

Abstract

Ra’yu  adalah salah satu cara umat  Islam untuk menetapkan suatu hukum dari permasalahan-permasalahan kontemporer yang belum didapati dalam Alquran dan Hadis. Manusia memiliki akal yang mampu berfikir secara komprehensif dengan tetap berpegang teguh pada Alquran dan Hadis sebagai bukti keabsahan hasil ra’yu. Namun perlu digarisbawahi bahwa akal dan ra’yu memiliki perbedaan dalam pengertiannya. Akal adalah subjek (alat/pelaku yang melakukan pemikiran), sedangkan ra’yu adalah, suatu hasil/obyek dari proses pemikiran yang bertujuan untuk mencari kebenaran/solusi dari suatu hukum yang tidak ada di dalam Alquran dan hadis.
PENERAPAN PENDIDIKAN SOSIAL BERWAWASAN GENDER DALAM PERAN PUBLIK DAN DOMESTIK Ediansyah, Suherman; Arief, Armai; Febriani, Nur Arfiyah
Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman Vol. 9 No. 1 (2025): Mumtaz: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Keislaman
Publisher : Pascasarjana Universitas PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan sosial berwawasan gender dalam peran publik dan domestik yakni pendidikan yang mengedepankan pemahaman yang seimbang tentang peran laki-laki dan perempuan dalam masyarakat serta mengajarkan bahwa keduanya memiliki hak dan tanggung jawab yang setara sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan gender dalam al-Quran. Pendidikan sosial berwawasan gender dalam Al-Qur’an ditemukan dalam enam isyarat, yaitu: 1) keseimbangan peran publik dan domestik, 2) Pendidikan nilai-nilai agama dalam karakter sosial, 3) Pendidikan gerakan sosial, 4) Pendidikan gerakan masyarakat sehat, 5) pendidikan sosial dalam bidang politik, dan 6) Pendidikan sosial dalam bidang lingkungan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi. Sumber Data dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer dalam disertasi ini adalah ayat-ayat al-Qur’an yang memiliki kesamaan tema tentang pendidikan sosial. Data sekunder dalam penelitian ini yakni studi literatur. Metode pengumpulan data dan pendekatan dalam penelitian ini diperoleh melalui riset kepustakaan (library research).
De-Islamophobia Melalui Pilar Moderasi Beragama Perspektif Al-Qur’an: De-Islamophobia Through the Pillars of Religious Moderation In the Qur’an Perspective Febriani, Nur Arfiyah; Badruzaman, Abad
Jurnal Bimas Islam Vol. 16 No. 2 (2023): Jurnal Bimas Islam
Publisher : Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37302/jbi.v16i2.954

Abstract

This paper will examine the pillars of religious moderation in the Koran in relation to tackling the problem of Islamophobia both from within and outside of Islam. Searching for the cornerstones of moderation in the Koran uses the thematic method. Namely: First, determining the theme. In this case, is religious moderation. Second: tracing the verses that talk about religious moderation, then drawing several points from it which in the author's observation contain the central teachings (pillars) about religious moderation. Third: each pillar is discussed and developed by referring to relevant references, especially works of interpretation, then contextualized in such a way as to be in line with Indonesian and contemporary dynamics related to efforts to overcome Islamophobia. From the search and discussion of verses related to religious moderation, at least three pillars for religious moderation were found, namely: wasathiyah, samahah, and hiwar.
The Qur'anic Strategy In Overcoming Islamophobia Using Rahmatan lil 'Alamîn Approach Yusron, M Agus; Febriani, Nur Arfiyah
ZAD Al-Mufassirin Vol. 7 No. 1 (2025): ZAD Al-Mufassirin June 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) ZAD

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55759/zam.v7i1.279

Abstract

Islamophobia is a worldwide issue that impacts Muslims, particularly in countries where they are a minority. Therefore, it is crucial to prevent or reduce various forms of Islamophobia. This research aims to re-establish the loving essence of Islam to foster a genuine affection for the faith. This, in turn, will promote peace amidst diversity, rather than the proliferation of Islamophobia or other types of religious intolerance. This research employs a descriptive qualitative method with conceptual thematic technique. It involves examining Qur’anic verses that specifically mention the contestation of Islamophobia, furthermore, analyzing them to determine how to prevent it. By portraying the face of Islam, using the frame of rahmatan lil 'alamîn, which is in accordance with the Islamic identity, the research findings indicate that the fear of non-Muslims can be eradicated. Islamic precepts of tolerance for religious diversity, treating everyone with kindness and justice, and presenting Islam as a religion of rahmatan lil 'alamin are all things that must be demonstrated. This research underscores that the Qur'an does not promote religious phobia; rather, its teachings are rich in universal values that resonate across different contexts and eras.
Blue Economy from Perspective of Al-Qur'an Sultoni, Ahmad Hery; Anwar, Hamdani; Febriani, Nur Arfiyah
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 5 No. 04 (2024): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v5i04.1096

Abstract

This research concludes that from the Al-Qur'an perspective, the maritime concept with a blue economy perspective is an integral approach, where the utilization of marine resources, which are referred to as al-Bahr and al-yam in the Al-Qur'an, needs to integrate several aspects interrelated maritime affairs. Reduction of one maritime aspect can result in ineffectiveness in dealing with the complexity of maritime problems as a whole.The framework used in this research includes the following aspects:First, Aqidah: Humans are seen as caliphs who are responsible for the universe that Allah rules. Second, Sharia: Maritime natural resource utilization activities must be in accordance with the principles of Islamic law. Third, Morals: Improvement with adaptive innovation for the efficiency of natural resources, fair distribution, and consumption that does not damage or waste natural resources.This research supports the views of several figures such as Robert Maltus, Langdon Gilkey, Seyyed Hossein Nasr, Donella H. Meadow, Arne Naess, Edith Brown Weiss, and Gunter Pauli, who emphasize the need for wise management of natural resources for sustainability. The research method used is a qualitative method with the Tafsir Maudū'i (thematic) interpretation method.This research differs from the views of several figures, such as Hugo Grotius, Adam Smith, David Ricardo, Immanuel Kant, and Garret Hardin, who have different views regarding natural resource management. Thus, this research proposes a holistic approach based on Islamic values in viewing and managing marine resources to achieve economic and environmental sustainability.
Manajemen Energi Terbarukan sebagai Penanggulangan Emisi Karbon Perspektif Al-Qur’an Khaidir, Teuku; Febriani, Nur Arfiyah; Hariyadi, Muhammad
Journal of Authentic Research Vol. 4 No. 2 (2025): December
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/gazx9c67

Abstract

Penelitian ini bertujuan merumuskan model manajemen energi terbarukan dalam perspektif Al-Qur’an sebagai solusi penanggulangan emisi karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model manajemen mencakup perencanaan (at-takhth??), pengorganisasian (at-tanzh?m), pelaksanaan (at-tans?q), pengendalian (ar-riq?bah), kompetensi (al-kaf?’ah), dan akhlak (al-akhlaq). Energi matahari dipandang sebagai alternatif strategis karena selaras dengan fitrah Islam, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Dalam isyarat Al-Qur'an, penulis mengungkap temuan yang menarik dari penelitian ini bahwa matahari tidak hanya disebut secara eksplisit, melainkan tersebar dalam berbagai bentuk kosakata yang sarat makna seperti misbah, dhiy?', dan sir?j, secara umum diartikan sama yakni cahaya atau pelita. Berdasarkan sains dan Al-Qur’an setiap kosakata memiliki makna yang khas yang menggambarkan peran matahari sebagai pemberi cahaya yaitu misbah adalah pelita besar yang berada dalam reaksi fusi matahari atau reaksi fusi matahari itu sendiri, dhiy?' adalah sinar-sinar yang ada dalam gelombang elektromagnetik matahari, dan sir?j adalah foton yang membawa gelombang elektromagnetik matahari. Pemilihan energi yang bersumber dari energi matahari, dilakukan dengan menggunakan metode SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats), ini merupakan pendekatan yang efektif untuk mengevaluasi potensi dan tantangan terkait penggunaannya. Dengan analisis SWOT menunjukkan bahwa energi matahari memiliki banyak kelebihan yang dapat dimanfaatkan, terutama sumbernya yang melimpah dan dalam jangka panjang dengan biaya operasional terjangkau serta dampak lingkungan yang minimal terhadap perubahan iklim dan pemanasan global (global warming).
Ekoteologi berwawasan Gender dalam al-Quran Febriani, Nur Arfiyah
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2017): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v10i1.2463

Abstract

Ekoteologi adalah bentuk teologi konstruktif yang membahas interrelasi antara agama dan alam, terutama dalam menatap masalah-masalah lingkungan. Secara umum, ekoteologi berangkat dari suatu premis bahwa ia ada karena adanya hubungan antara pandangan dunia keagamaan manusia dan degradasi lingkungan.Ekoteologi sangat penting dalam merekonstruksi paradigma antroposentris. Interkoneksi antara manusia dengan dirinya sendiri, manusia dengan sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan yang harmonis dalam konsep ekoteologi, diharapkan dapat membangun kesadaran spiritual manusia yang menurut Nasr semakin memudar dalam masyarakat modern dan menjadi sumber segala permasalahan yang terjadi. Di sisi lain, peran laki-laki dan perempuan yang komplementer dan kooperatif dalam relasi gender termasuk dalam upaya konservasi lingkungan, adalah suatu yang niscaya dalam al-Quran. Al-Quran menyanggah stereotipe karakter bagi keduanya berdasarkan jenis kelamin. Artinya, stereotipe yang ada adalah doktrin dari pandangan masyarakat yang telah melekat dan teraktualisasi serta membentuk pola relasi gender yang inharmonis