Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

STOK KARBON PADA JENIS MANGROVE YANG BERBEDA (Rhizophora stylosa, Avicennia marina dan Bruguierra gymnorrhiza) DI PERAIRAN TUBAN Choridina Kareninsekar; I Insafitri
Juvenil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i2.7576

Abstract

ABSTRACTMangrove is one of special plant in tropical forest which has ability to flourish in the river area or usually call estuari area. Mangrove has benefit as absorbing carbon dioxide, which is the process of photosynthesis change inorganic carbon (CO2)into organic carbon in the form of vegetation material. Tuban regency is one of regency which located in East Java which has coastline length around 65 km, and has distribution of mangrove forest 120,40 Ha. The aim of this research to know about amount of uptake absorption carbon dioxide (CO2) on type of mangrove which different in Tuban.The study was conducted on the coast of Tuban covering mangrove center in Mangrove Center Tuban, Jenu Kabupaten Tuban with use three research points and every point does three times repetitions. This research was conducted on November 2018. Technique of collecting data used decstructive method and calculation of data include water content value, ash content, carbon and uptake of carbon dioxide in basic laboratory, faculty of agriculture. Based on the results was obtained mangrove which have amount uptake highest carbon dioxide is mangrove with type Rhizophora stylosa with uptake value CO2 as much as 738,5 gram CO2/1000 gr tree, and highest uptake available in part of stem as much as 163,62 gram CO2/1000 gr tree.The value of uptake carbondioxide the highest number two there are the types of Bruguierra gymnorrhiza as much as 713,65 gram CO2/ 1000 gr tree with the highest absorption which found on the leaf as much as 160,18 gram CO2/1000gr tree and the lowest absorption that is Avicennia marina as much as 700,93 with the highest absorption also found on leaf as much as 147,33 gr CO2/1000 gr tree.Keywords: Stock, carbon, Mangrove and Tuban Coast.ABSTRAKMangrove merupakan suatu tumbuhan khas pada hutan tropis yang memiliki kemampuan tumbuh subur di daerah muara sungai atau disebut dengan daerah estuari. Mangrove memiliki manfaat sebagai penyerap karbondioksida, dimana proses fotosintesis mengubah karbon anorganik (CO2) menjadi karbon organik dalam bentuk bahan vegetasi. Kabupaten Tuban salah satu kabupaten yang berada di propinsi Jawa Timur dengan memiliki panjang garis pantai sekitar65 km, dan memiliki sebaran hutan mangrove 120,40 Ha. Penelitian bertujuan mengetahui jumlah serapan karbondioksida (CO2) pada jenis mangrove yang berbeda  diperairan Tuban.Penelitian dilakukan di pesisir Tuban mencakup kawasan pusat mangrove di Mangrove Center Tuban, Jenu Kabupaten Tuban dengan menggunakan tiga titik penelitian dan masing masing titik dilakukan tiga kali pengulangan. Penelitian dilakukan pada bulan November 2018. Metode pengambilan data menggunakan metode dekstruktif dan perhitungan data meliputi nilai kadar air, kadar abu ,karbon dan serapan karbondioksida di Laboratorium Dasar Fakultas Pertanian. Berdasarkan hasil yang diperoleh mangrove yang memiliki total serapan karbondioksida tertinggi adalah mangrove jenis Rhizophora stylosa dengan nilai serapan CO2  sebesar 738,5 gram CO2 /1000 gr pohon, yang penyerapan tertinggi terdapat pada bagian batang sebesar 163,62 gr CO2/1000 gr pohon. Nilai serapan karbondioksida tertinggi kedua terdapat pada jenis Bruguierra gymnorrhiza sebesar 713,65 gr CO2 /1000 gr pohon dengan penyerapan tertinggi terdapat pada bagian daun sebesar 160,18 gram CO2 /1000 gr pohon dan yang memiliki penyerapan CO2 terendah yaitu Avicennia marina sebesar 700,93 gr CO2/ 1000 gr pohon, dengan peneyerapan tertinggi juga terdapat pada daun sebsar 147,33 gr CO2 /1000 gr pohon.Kata Kunci :Stok, Karbon, Mangrove dan Perairan Tuban
STRUKTUR KOMUNITAS TERIPANG (HOLUTHUROIDEA) PADA DAERAH PADANG LAMUN DENGAN KELAS PERSEN PENUTUPAN YANG BERBEDA DI PULAU SAPUDI KABUPATEN SUMENEP Adi Wira Akrama; I Insafitri
Juvenil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i2.7572

Abstract

ABSTRACTSapudi Island is the second widest island after Kangean Island which is located between the islands east of Madura. This study aims to: (1) Know the quality of the waters; (2) Knowing the percent closure of seagrasses; and (3) Knowing the structure of sea cucumber communities at different seagrass cover percentages at the research station. The method used for the study is the quadratic transect of 5x5 m2 for sea cucumber observation and 1 x 1 m2 for seagrass observation. The results of this study are: (1) The quality of the waters at the research station is in accordance with the quality standards throughout the life of sea cucumbers; (2) Percent of seagrass closure at station 1 found the 3rd and 4th seagrass closure class, while at station 2 found the 2nd and 3rd seagrass closure classes; and (3) the structure of sea cucumber community: the higher the seagrass closure class, the higher the density result, (H ') at station 1 is categorized as medium and at station 2 is classified as low category, (E) at station 1 and station 2 shows category height, (D) at station 1 and 2 indicate a low category.Keywords: Community Structure of Sea Cucumber, Percent Closure of Different Seagrasses, Sapudi IslandABSTRAKPulau Sapudi merupakan kepulauan yang terluas kedua setelah Pulau Kangean yang terletak di antara pulau-pulau sebelah timur Madura. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui kualitas perairan; (2) Mengetahui persen penutupan lamun; dan (3) Mengetahui struktur komunitas teripang pada persen penutupan lamun yang berbeda pada stasiun penelitian. Metode yang di gunakan untuk penelitian yaitu transek kuadrat 5x5 m2untuk pengamatan teripang dan 1x1 m2 untuk pengamatan Lamun. Hasil dari penelitian ini yaitu: (1) Kualitas perairan pada stasiun penelitian sesuai dengan standar baku mutu suntuk kehidupan teripang; (2) Persen penutupan lamun pada stasiun 1 di temukan kelas penutupan lamun ke-3 dan 4, sedangkan pada stasiun 2 di temukan kelas penutupan lamun ke-2 dan 3; dan (3) struktur komunitas teripang: semakin tingggi kelas penutupan lamun, maka semakin tinggi juga hasil kepadatannya, (H’) pada stasiun 1 tergolong kategorinya sedang dan pada stasiun 2 tergolong kategori rendah, (E) pada stasiun 1 dan stasiun 2 menunjukkan kategori tinggi, (D) Pada stasiun 1 dan2 menunjukkan kategori rendah.Kata Kunci: Struktur Komunitas Teripang, Persen Penutupan Lamun Berbeda, Pulau Sapudi
ANALISA KADAR PROKSIMAT PADA Thalassia Hemprichi DAN Galaxaura Rugosa DI KABUPATEN BANGKALAN Hilmy Naufal Hidayat; I Insafitri
Juvenil Vol 2, No 4 (2021)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v2i4.12565

Abstract

ABSTRAKKabupaten Bangkalan merupakan suatu daerah yang terletak di provinsi Jawa Timur, yang tepatnya berada pada pulau Madura. Daerah Bangkalan memiliki berbagai macam aneka tumbuhan laut di antaranya rumput laut, lamun, dan juga tanaman yg hidup di daratan pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan proksimat Thalassia hemprichii dan Galaxaura rugosa meliputi air, abu, lemak, protein, serat dan karbohidrat pada lokasi yang sama. Pengambilan sampel dilakukan pada lokasi yang sama dan satu stasiun dengan tiga kali pengulangan, dilakukan pengukuran data parameter kualitas perairan yang meliputi kecerahan, suhu, salinitas, potentional hydrogen (pH), arus dan oxygen terlarut (DO). Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kandungan proksimat kadar air, abu, lemak, protein, serat dan karbohidrat. Hasil rata-rata proksimat kadar air Thalassia hemprichii yaitu 16,67% ; kadar abu 69,33% ; kadar lemak 1,25% ; kadar protein 3,21% ; kadar serat 4,96% ; kadar karbohidrat 9,54% . Sedangkan untuk Galaxaura rugosa memperoleh rata-rata proksimat kadar air 16,00% ; kadar abu 43,11% ; kadar lemak 1,24% ; kadar protein 2,33% ; kadar serat 2,18% ; kadar karbohidrat 37,31%..Kata Kunci: Kabupaten Bangkalan, Analisa Proksimat, Lamun, dan Makroalga.ABSTRACTBangkalan Regency is an area located in the province of East Java, which is precisely on the island of Madura. Bangkalan Regency has a wide variety of marine plants including seaweed, seagrass, and also plants that live on the coastal land. This study aims to determine the proximate differences between Thalassia hemprichii and Galaxaura rugosa including water, ash, fat, protein, fiber and carbohydrates at the same location. Sampling was carried out at the same location and at one station with three repetitions, the water quality parameter data measured included brightness, temperature, salinity, potential hydrogen (pH), current and dissolved oxygen (DO). The results showed that there were differences in the results of the analysis of the concentration of proximate content in water, ash, fat, protein, fiber and carbohydrate content. The results obtained proximate average water content of 16.67%; ash content 69.33% ; fat content 1.25% ; protein content 3.21%; fiber content 4.96%; carbohydrate content of 9.54% for Thalassia hemprichii samples. Meanwhile, Galaxaura rugosa obtained an average proximate water content of 16.00%; ash content 43.11% ; fat content 1.24% ; protein content 2,33%; fiber content 2.18%; carbohydrate content of 37.31%.Keywords: Bangkalan Regency, Proximate Analysis, Seagrass, and Macroalgae
STRUKTUR KOMUNITAS ZOOPLANKTON PADA EKOSISTEM MANGROVE YANG BERBEDA KERAPATANNYA DI KABUPATEN GRESIK, JAWA TIMUR Indira Widya Pangestika; I Insafitri
Juvenil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i2.7573

Abstract

ABSTRACTMangrove forests are ecosystems dominated by trees that grow in salty waters and there are zooplankton. The density of mangroves consisted of 3 element, namely density ≥1500 trees/ha, medium ≥1000-˂1500 trees/ha and rarely 1000 trees/ha. The purpose of this study was to determine the community structure of zooplankton in mangrove ecosystems which was differed in density in Gresik Regency, East Java. The study was conducted in two locations. They are Kebomas and Manyar in January 2019. The sampling of mangroves using the method of line transects and sample plots. The zooplankton samples were taken by each mangrove with different densities. The study used the method of t-test and one way ANOVA test. The Zooplankton abundance is categorized from moderate (mesotrophic) fertility to low fertility (oligotrophic). The zooplankton diversity index is categorized as medium. The zooplankton uniformity index is categorized as high. The zooplankton dominance index is categorized as low. There is a significant difference in the t-test because the sig (2-tailed) value is 0,05. Then, one way ANOVA test does not have a significant difference because the value of sig 0,05. Keywords: Zooplankton Community Structure, Mangrove Different from Density, Gresik RegencyABSTRAKHutan mangrove merupakan ekosistem yang di dominasi pohon yang tumbuh di perairan asin dan didalam nya terdapat zooplankton. Kerapatan mangrove terdiri dari 3 yaitu rapat ≥1500 pohon/ha, sedang ≥1000-˂1500 pohon/ha dan jarang ˂1000 pohon/ha. Tujuan penelitian ini mengetahui struktur komunitas zooplankton pada ekosistem mangrove yang berbeda kerapatannya di Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Penelitian dilakukan di dua lokasi yaitu Kebomas dan Manyar pada bulan Januari 2019. Pengambilan sampel mangrove dengan metode transek garis dan petak contoh serta sampel zooplankton diambil setiap mangrove yang kerapatan berbeda. Penelitian menggunakan metode uji t-test dan uji one way anova. Kelimpahan zooplankton dikategorikan dari tingkat kesuburan sedang (mesotrofik) sampai tingkat kesuburan rendah (oligotrofik). Indeks keanekaragaman zooplankton dikategorikan sedang. Indeks keseragaman zooplankton dikategorikan tinggi. Indeks dominansi zooplankton dikategorikan rendah.Uji t-test terdapat perbedaan yang signifikan karena nilai sig(2-tailed) 0,05. Uji one way anova tidak terdapat perbedaan yang signifikan karena nilai sig 0,05.Kata Kunci : Struktur Komunitas Zooplankton, Mangrove Berbeda Kerapatan, Kabupaten Gresik
ANALISIS PROKSIMAT DAUN DAN PROPAGUL MANGROVE (Avicennia marina dan Avicennia lanata) DI EKOWISATA MANGROVE WONOREJO SURABAYA Neris Norma Tris Vionita; I Insafitri
Juvenil Vol 1, No 1 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i1.6800

Abstract

PENGARUH JENIS SUBSTRAT TERHADAP KERAPATAN VEGETASI Avicennia marina DI KABUPATEN GRESIK Luluk Masruroh; I Insafitri
Juvenil Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v1i2.7569

Abstract

ABSTRACTAs a coastal area, gresik regency has potential of biological resources likes mangrove forest which is quite extensive, that is mangrove area which located in Kalimerang river, Manyar sub-district Karang Kering coast, Kebomas sub-district. The aim of this research is to know the relationship between substrate type with vegetation density Avicennia marina in Gresik regency. This research is done at 2 stations with multi-storey plot method , every station made 15 plot with size 10 m x 10 m (tree level), 5 m x 5 m (stake level), and 1 m x 1 m (seedling level) which is conducted on December 2018. The result of this research show that density of Avicennia marina on tree level as much as 0.17 Ind/m2 which include in very dense criteria, while in station 2 reach 0.11 Ind/m2 enter medium criteria. The analyzes of sediment show that the type of substrate which found under the stand Avicennia marina in location research that is sand substrate, muddy sand and sandy mud. Overall there are significant relationship between mangrove substrate with vegetation density Avicennia marina. The corelation between mud substrate with vegetation density on third level of growth show positive corelation. While on sand substrate is negative corelationKeywords: Corelation, The Type of Substrate, The Density of Avicennia marina, Gresik RegencyABSTRAKSebagai wilayah pesisir, Kabupaten Gresik mempunyai potensi sumber daya hayati seperti hutan mangrove yang cukup luas, diantaranya adalah kawasan mangrove yang terletak di Sungai Kalimering Kecamatan Manyar dan pesisir pantai Karang Kering Kecamatan Kebomas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara jenis substrat dengan kerapatan vegetasi Avicennia marina di Kabupaten Gresik. Penelitian dilakukan pada 2 stasiun dengan metode plot bertingkat, masing-masing stasiun dibuat 15 plot yang berukuran 10 m x 10 m (tingkat pohon), 5 m x 5 m (tingkat pancang), dan 1 m x 1 (tingkat semai) yang dilakukan pada bulan Desember 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan Avicennia marina pada tingkat pohon sebesar 0.17 Ind/m2 yang termasuk dalam kriteria sangat padat, sedangkan pada stasiun II mencapai 0.11 Ind/m2 yang masuk kriteria sedang. Analisis sedimen menunjukkan bahwa jenis substrat yang ditemukan dibawah tegakan Avicennia marina di lokasi penelitian yaitu substrat pasir, pasir berlumpur dan lumpur berpasir. Secara keseluruhan terdapat hubungan yang signifikan antara substrat mangrove dengan kerapatan vegetasi Avicennia marina. Korelasi antara substrat lumpur dengan kerapatan vegetasi pada ketiga tingkat pertumbuhan menunjukkan korelasi positif. Sedangkan pada substrat pasir berkorelasi negatif.Kata Kunci: Korelasi, Jenis substrat, Kerapatan Avicennia marina, Kabupaten Gresik
Penutupan, Rugositas Terumbu Karang dan Kelimpahan Ikan Karang di Perairan Utara Bangkalan Lisana Ainun Shafa Ariyanti; Henik Novitasari; Insafitri Insafitri; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Tropis Vol 25, No 2 (2022): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v25i2.13769

Abstract

Coral reefs are marine organisms in the form of limestone (CaCO3). Reef fish are fish associated with coral reefs. The abundance of reef fish is influenced by the fertility of coral reefs in the waters. This research was conducted in September 2021 in the waters of Lembung Paseser and Labuhan with 2 stations in the waters of Lembung Paseser and 2 stations in the waters of Labuhan. This study aims to determine the condition of coral reefs, percentage of live coral cover, abundance of reef fish, diversity index (H'), uniformity (E), dominance (C) and to determine the relationship between coral reefs and reef fish. The coral cover data collection method is LIT (Line Intercept Transect) and the coral reef rugosity data collection method uses the CIT (Chain Intercept Transect) method, while the coral fish data collection methods are the belt transect method and the Underwater Visual Census (UVS). Percentage of coral cover ranging from 11% to 37% classified as damaged to moderate damage. The abundance of reef fish at station 1 was 0.18 ind/m2, station 2 was 0.106 ind/m2, station 3 was 0.908 and station 4 was 0.216 ind/m2. The average rugosity value at station 1 is 1.17, station 2 is 1.23, station 3 is 1.33 and station 4 is 1.16. The indicator fish species in Lembung Paseser waters were Chelmon rostratus and Heniochus diphreutes as many as 7 individuals while the indicator fish species in Labuhan waters were Chaetodon vagabundus and Heniochus diphreutes as many as 15 individuals. The correlation between coral reef cover and reef fish was 54.06% which showed a strong correlation, while the correlation between coral reef rugosity was 73.52% which showed a strong correlation.  Terumbu karang merupakan organisme laut berupa batuan kapur (CaCO3). Ikan karang merupakan ikan yang berasosiasi dengan terumbu karang. Kelimpahan ikan karang dipengaruhi oleh suburnya terumbu karang di perairan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan September 2021 di perairan Lembung Paseser dan Labuhan dengan 2 stasiun perairan Lembung Paseser dan 2 stasiun di perairan Labuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi terumbu karang, persentase tutupan karang hidup, kelimpahan ikan karang, indeks keanekaragaman (H'), keseragaman (E), dominasi (C) dan untuk mengetahui hubungan terumbu karang dan ikan karang.  Metode pengambilan data tutupan karang yaitu LIT (Line Intercept Transect) dan metode pengambilan data rugositas terumbu karang menggunakan metode CIT (Chain Intercept Transect), sedangkan metode pengambilan data ikan karang adalah metode belt transek dan Underwater Visual Sensus (UVS).  Persentase tutupan karang berkisar 11% sampai 37% tergolong rusak hingga kerusakan sedang.  Kelimpahan ikan karang pada stasiun 1 sebesar 0,18 ind/m2, stasiun 2 sebesar 0,106 ind/m2, stasiun 3 sebesar 0,908 dan stasiun 4 sebesar 0,216 ind/m2. Nilai rugositas rata rata pada stasiun 1 yaitu 1,17, stasiun 2 yaitu 1,23, stasiun 3 yaitu 1,33 dan stasiun 4 yaitu 1,16. Jenis Ikan indikator di Perairan Lembung Paseser yaitu Chelmon rostratus dan Heniochus diphreutes sebanyak 7 individu sedangkan jenis ikan indikator di Perairan Labuhan yaitu Chaetodon vagabundus dan Heniochus diphreutes sebanyak 15 individu. Korelasi hubungan tutupan terumbu karang dan ikan karang sebesar 54,06% yang menunjukkan hubungan kuat sedangkan kolerasi hubungan rugositas terumbu karang sebesar 73,52% yang menunjukkan hubungan kuat.
Seagrass Ecological Quality Index Pada Lokasi Yang Berbeda di Madura Nisa Riska Alif; Insafitri Insafitri; Wahyu Andy Nugraha
Juvenil Vol 3, No 4 (2022)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v3i4.18172

Abstract

ABSTRAKPenelitian dilakukan dilakukan di perairan Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep dan di perairan Desa Prancak, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan. Tujuan penelitian untuk mengetahui nilai SEQI dan tutupan lamun di perairan Pulau Pagerungan Besar, Kecamatan Sapeken, Sumenep dan di perairan Desa Prancak, Kecamatan Sepuluh, Bangkalan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah transek garis pada 3 titik dan menggunakan transek kuadrat nerukuran 50 x 50 cm pada 2 lokasi yang berbeda. Parameter ketahanan yang digunakan kekayaan spesies lamun, tutupan lamun, tutupan makroalga, tutupan epifit, dan transparansi air. Pada penelitian ini ditemukan 4 jenis lamun yaitu Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, dan Cymodocea rotundata dan rata-rata persentase tutupan lamun memperoleh 50% pada perairan Kecamatan Sapeken dan 22% pada kecamatan Sepuluh. Sedangkan hasil dari Seagrass Ecological Quality Indeks (SEQI) memperoleh 0.74 pada perairan Kecamatan Sapeken dan masuk dalam kategori baik dan pada perairan Kecamatan Sepuluh memperoleh hasil 0.62 masuk dalam kategori sedang.Kata kunci: SEQI, penutupan lamun, Sapeken, SepuluhABSTRACTThe research was conducted in the waters of Pagerungan Besar Island, Sapeken District, Sumenep and in the waters of Prancak Village, Sepuluh District, Bangkalan. The purpose of the study was to determine the value of SEQI and seagrass cover in the waters of Pagerungan Besar Island, Sapeken District, Sumenep and in the waters of Prancak Village, Sepuluh District, Bangkalan. The method used in this study is a line transect at 3 points and uses a ner squared transect measuring 50x50 cm at 2 different locations. The resistance parameters used are rich in seagrass species, seagrass cover, macroalgae cover, epiphytic cover, and water transparency. In this study, 4 types of seagrasses were found, namely Thalassia hemprichii, Enhalus acoroides, Cymodocea serrulata, and Cymodocea rotundata and the average percentage of seagrass cover obtained 50% in the waters of Sapeken District and 22% in Subdistrict Sepuluh. Meanwhile, the results of the Seagrass Ecological Quality Index (SEQI) obtained 0.74 in the waters of Sapeken District and were included in the good category and in the waters of District Ten obtained a result of 0.62 in the medium category.Keywords: SEQI, seagrass closure, Sapeken, Sepuluh
Pengaruh Salinitas yang Berbeda Terhadap Pertumbuhan Karang Lunak Cladiella Sp. Matius Gerry Nugroho; Muhammad Zainuri; Insafitri Insafitri; Wahyu Andy Nugraha
Jurnal Kelautan Nasional Vol 18, No 1 (2023): APRIL
Publisher : Pusat Riset Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkn.v18i1.9903

Abstract

Karang lunak mempunyai tekstur kerangka yang lunak berupa duri-duri kecil dari kalsium karbonat yang ada dalam jaringan tubuhnya. Pada umumnya karang lunak melekat pada substrat yang keras di dasar perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan relatif dan mutlak, dan perbandingan laju pertumbuhan karang lunak pada salinitas yang berbeda. Salinitas merupakan kadar garam terlarut pada air laut. Salinitas berperan penting untuk mendukung kehidupan biota laut termasuk karang lunak. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu Kelautan dari tgl 27 Januari 2019 sampai 09 Mei 2019 dengan cara mengukur panjang dan lebar fragmen karang hasil transplantasi yang di tempelkan di setiap akuarium dengan salinitas yang berbeda. Tingkat kelangsungan hidup yang didapatkan pada akuarium dengan salinitas 28, 31, dan 34 yaitu 100 % sedangkan untuk akuarium dengn salinitas 36 yaitu 40% karang lunak dapat hidup sampai akhir penelitian. Laju pertumbuhan karang lunak relatif bervariasi karena pengaruh lingkungan dan kualitas air. Sedangkan laju pertumbuhan mutlak panjang selama 3 bulan mendapatkan nilai yaitu Akuarium Salinitas 28 sebesar 3,221 cm/minggu dan 1,382 cm/minggu; Akuarium salinitas 31 sebesar 3,285 cm/minggu dan 1,433 cm/minggu; Akuarium salinitas 34 sebesar 1,753 cm/minggu dan 0,713 cm/minggu; dan Akuarium salinitas 36 sebesar 0,359 cm/minggu dan 0,224 cm/minggu. Ada perbedaan yang nyata pada laju pertumbuhan karang lunak Cladiella sp. pada salinitas yang berbeda..  Kata Kunci: Karang Lunak, Cladiella sp., Salinitas, Laju Pertumbuhan, Pertumbuhan
Struktur Komunitas Dan Tutupan Terumbu Karang di Pulau Gili Labak dan Gili Genting, Sumenep, Indonesia Alamsyah, Febri; Nugraha, Wahyu Andy; Insafitri, Insafitri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.62113

Abstract

Pulau yang memiliki terumbu karang di kabupaten Sumenep adalah Pulau Gili Labak dan Pulau Gili Genting. Belum ada yang penelitian yang menganalisis struktur komunitas dan persentase tutupan terumbu karang dengan menggunakan metode UPT di Gili Labak dan Gili Genting. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2023 menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT). Hasil penelitian menunjukkan Gili Labak mendapatkan persentase penutupan 73,25% dan Gili Genting 55,37% dikategorikan baik. Karang Acropora yang mendominasi di Gili Labak adalah jenis Acropora Digitate sebesar 23,87% dan non-Acropora yang mendominasi adalah Coral Foliose sebesar 6,8%. Karang Acropora yang mendominasi di Gili Genting adalah Acropora Branching sebesar 34,69% dan non-Acropora yang mendominasi adalah Coral Massive sebesar 7%. Gili Labak memiliki 10 genus yaitu Pavona sp., Pachyceris sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Favia sp., Oxypora sp. dan Fungia sp. Gili Genting memiliki 8 genus yaitu Seriatopora sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Pavia sp. dan Fungia sp. Indeks keanekaragaman di Gili Labak 1,51 dan Gili Genting 1,42 dikategorikan sedang. Indeks keseragaman di pulau Gili Labak 0,65 dan Gili Genting 0,68 dikategorikan tinggi. Indeks dominansi di Gili labak 0,34 dan Gili Genting 0,35 dikategorikan rendah.  The islands that have coral reefs in the Sumenep district are Gili Labak Island and Gili Genting Island. No research has yet analysed the community structure and percentage of coral reef cover using the UPT method in Gili Labak and Gili Genting. This research was conducted in August 2023 using the Underwater Photo Transect (UPT) method. The results showed that Gili Labak and Gili Genting have good condition of coral reef which high life coral coverage 73.25% 55.37% respectively. Acropora digitate are dominate coral life form in Gili Labak (23.87%) while foliose corals, non-acroporids, are abundant which has coverage 23.87%. The dominating Acropora coral in Gili Genting is Acropora Branching by 34.69% and the dominating non-Acropora is Coral Massive by 7%. Gili Labak has 10 genera namely Pavona sp., Pachyceris sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Favia sp., Oxypora sp. and Fungia sp. Gili Genting has 8 genera namely Seriatopora sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Pavia sp. and Fungia sp. The diversity index in Gili Labak 1.51 and Gili Genting 1.42 is categorised as medium. The uniformity index on the islands of Gili Labak 0.65 and Gili Genting 0.68 is categorised as high. The dominance index in Gili Labak 0.34 and Gili Genting 0.35 is categorised as low.