Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Struktur Komunitas Dan Tutupan Terumbu Karang di Pulau Gili Labak dan Gili Genting, Sumenep, Indonesia Alamsyah, Febri; Nugraha, Wahyu Andy; Insafitri, Insafitri
Buletin Oseanografi Marina Vol 13, No 3 (2024): Buletin Oseanografi Marina
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/buloma.v13i3.62113

Abstract

Pulau yang memiliki terumbu karang di kabupaten Sumenep adalah Pulau Gili Labak dan Pulau Gili Genting. Belum ada yang penelitian yang menganalisis struktur komunitas dan persentase tutupan terumbu karang dengan menggunakan metode UPT di Gili Labak dan Gili Genting. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2023 menggunakan metode Underwater Photo Transect (UPT). Hasil penelitian menunjukkan Gili Labak mendapatkan persentase penutupan 73,25% dan Gili Genting 55,37% dikategorikan baik. Karang Acropora yang mendominasi di Gili Labak adalah jenis Acropora Digitate sebesar 23,87% dan non-Acropora yang mendominasi adalah Coral Foliose sebesar 6,8%. Karang Acropora yang mendominasi di Gili Genting adalah Acropora Branching sebesar 34,69% dan non-Acropora yang mendominasi adalah Coral Massive sebesar 7%. Gili Labak memiliki 10 genus yaitu Pavona sp., Pachyceris sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Favia sp., Oxypora sp. dan Fungia sp. Gili Genting memiliki 8 genus yaitu Seriatopora sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Pavia sp. dan Fungia sp. Indeks keanekaragaman di Gili Labak 1,51 dan Gili Genting 1,42 dikategorikan sedang. Indeks keseragaman di pulau Gili Labak 0,65 dan Gili Genting 0,68 dikategorikan tinggi. Indeks dominansi di Gili labak 0,34 dan Gili Genting 0,35 dikategorikan rendah.  The islands that have coral reefs in the Sumenep district are Gili Labak Island and Gili Genting Island. No research has yet analysed the community structure and percentage of coral reef cover using the UPT method in Gili Labak and Gili Genting. This research was conducted in August 2023 using the Underwater Photo Transect (UPT) method. The results showed that Gili Labak and Gili Genting have good condition of coral reef which high life coral coverage 73.25% 55.37% respectively. Acropora digitate are dominate coral life form in Gili Labak (23.87%) while foliose corals, non-acroporids, are abundant which has coverage 23.87%. The dominating Acropora coral in Gili Genting is Acropora Branching by 34.69% and the dominating non-Acropora is Coral Massive by 7%. Gili Labak has 10 genera namely Pavona sp., Pachyceris sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Favia sp., Oxypora sp. and Fungia sp. Gili Genting has 8 genera namely Seriatopora sp., Pacillopora sp., Acropora sp., Montipora sp., Porites sp., Stylophora sp., Pavia sp. and Fungia sp. The diversity index in Gili Labak 1.51 and Gili Genting 1.42 is categorised as medium. The uniformity index on the islands of Gili Labak 0.65 and Gili Genting 0.68 is categorised as high. The dominance index in Gili Labak 0.34 and Gili Genting 0.35 is categorised as low.
DNA Barcoding dan Filogeni Molekukuler Belangkas Tachypleus (Horseshoe crab) dari Pulau Madura, Jawa Timur, Indonesia Rafsanjani, Deni; Nugraha, Wahyu Andy; Insafitri, Insafitri
Jurnal Sumberdaya Akuatik Indopasifik Vol 8 No 3 (2024): Agustus
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46252/jsai-fpik-unipa.2024.Vol.8.No.3.395

Abstract

Horseshoe crab is a marine animal that is often found in Madura waters. Horseshoe crab is Indonesia's marine biodiversity that has not been widely exploited. This aquatic animal is also called a living fossil, which means it has been alive since ancient times. Information regarding the genetic and phylogenetic structure of Horseshoe crab in the Madura area is still rarely known. Therefore, it is necessary to study to reveal the type of Horseshoe crab using the DNA barcoding method and molecular phylogeny. This research uses COI as a molecular marker, using the PCR method. With DNA barcoding, it only requires very few/small specimens but is able to document the diversity of taxonomic groups that are not yet known or come from areas that have never been identified, and is able to reveal new variations/new diversity in species that were previously classified as only one species. The results showed that the Tachypleus samples were 100% close to Tachypleus gigas. The phylogenetic results of samples from the island of Madura are in the same group as Tachypleus gigas from other locations.
Karakteristik Edible Film Berbasis Agar (Geledium sp.) Dan Tepung Tapioka Dengan Persentase Agar Yang Berbeda Dewi, Kartika; Widyaningsih, Dhea; Asih, Eka Nurrahema Ning; Insafitri, Insafitri; Prastari, Cindytia
Juvenil Vol 6, No 4: November (2025)
Publisher : Department of Marine and Fisheries, Trunojoyo University of Madura, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/juvenil.v6i4.31920

Abstract

ABSTRAKTepung tapioka merupakan salah satu bahan hidrokoloid dalam pembuatan edible film namun memiliki sifat gel yang lemah dan mudah robek sehingga perlu penambahan agar (Gelidium sp.). Penambahan agar dalam pembuatan edible film berbasis tepung tapioka bertujuan agar edible film yang dihasilkan memiliki karakteristik yang sesuai. Penelitian ini bertujuan mengetahui konsentrasi agar terbaik sebagai polisakarida tambahan untuk memperbaiki nilai kuat tarik pada edible film berbahan tepung tapioka.  Perlakuan yang diberikan berupa perbedaan konsentrasi agar, yaitu P1= 0,12%, P2= 0,14%, dan P3= 0,16%. Karakteristik yang di uji berupa ketebalan, water vapor transmission rate (WVTR), kuat tarik, kadar air, dan kelarutan. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam satu arah (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan perbedaan konsentrasi agar pada edible film berbeda nyata terhadap ketebalan sebesar 0,042-0,52 mm, kuat tarik sebesar 15,39-21,43 MPa, tetapi tidak berbeda nyata terhadap water vapor transmission rate (WVTR), kadar air, dan kelarutan. Formulasi P3 menghasilkan karakteristik edible film terbaik. Perlakuan ini menunjukkan kuat tarik tertinggi (21,43 MPa), WVTR terendah (3,84 g/m²/hari), serta nilai ketebalan, kadar air, dan kelarutan yang masih dalam batas ideal karakteristik edible film. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi tepung tapioka dan agar memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bahan kemasan ramah lingkungan yang aplikatif pada industri pangan.Kata kunci: kelarutan, ketebalan, kuat tarik, water vapor transmission rate (WVTR)ABSTRACTTapioca flour, a hydrocolloid substance utilized in the production of edible films, possesses limited gelling capabilities and is prone to tearing; hence, the addition of agar (Gelidium sp.) is required. The addition of agar in the process of making tapioca flour-based edible films aims to ensure that the edible film possesses the desirable qualities. This research aims to determine the optimal concentration of agar as an additive polysaccharide to improve the tensile strength of edible films made from tapioca flour. The given treatments consisted of varying agar concentrations: P1 = 0.12%, P2 = 0.14%, and P3 = 0.16%. The evaluated characteristics included thickness, water vapor transmission rate (WVTR), tensile strength, moisture content, and solubility. The data obtained were analysed using one-way ANOVA (analysis of variance). The research results showed that different agar concentrations in edible films significantly affected thickness (0.042-0.52 mm) and tensile strength (15.39-21.43 MPa), but did not significantly affect water vapour transmission rate (WVTR), moisture content, and solubility. Formulation P3 produced the best edible film characteristics. This treatment showed the highest tensile strength (21.43 MPa), the lowest WVTR (3.84 g/m²/day). Thickness, moisture content, and solubility values were all within the optimal ranges for edible film properties.Keywords: solubility, tensile strength, thickness, water vapor transmission rate (WVTR)
Profil Kandungan Fitokimia Ekstrak Lamun Enhalus acoroides Sebagai Antibakteri Escherichia coli dan Vibrio harveyi dari Perairan Sapeken-Madura Eka Nurrahema Ning Asih; Siti Nihayatun Ni'amah; Insafitri Insafitri; Ary Giri Dwi Kartika; Wiwit Sri Werdi Pratiwi; Nike I. Nuzula
Journal of Marine Research Vol 14, No 1 (2025): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v14i1.39354

Abstract

Meningkatnya penggunaan antimikroba sintetik beresiko menghasilkan mutasi strain bakteri patogen resisten dan jumlah toksisitas perairan menyebabkan gagalnya budidaya perikanan. Perlu alternatif lain untuk mengatasi resiko ini dengan mengoptimalkan vegetasi laut kaya senyawa bioaktif sebagai antibakteri seperti lamun Enhalus acoroides dari perairan Sapeken. Tujuan penelitian adalah mengetahui kandungan fitokimia ekstrak E.acoroides dan menganalisis perbedaan signifikan zona hambat bakteri V. harveyi dan E. coli terhadap beberapa konsentrasi ekstrak E. acoroides. Metode ekstraksi menggunakan metode maserasi, uji fitokimia merujuk Harbone (1987) dan uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram. Terdapat 4 konsentrasi ekstrak yang diuji antibakteri yaitu 10000 ppm, 20000 ppm, 40000 ppm dan 80000 ppm, kontrol positif (kloramfenikol), dan kontrol negatif (aquades) dengan 3 kali ulangan selama 3x24 jam pengamatan. Uji ANOVA dan uji Tukey digunakan untuk mengetahui perbedaan signifikan pengaruh konsentrasi ekstrak E. acoroides terhadap masing-masing bakteri uji. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak E. acoroides dari perairan Sapeken mengandung alkaloid, saponin, dan triterpenoid. Diameter zona hambat bakteri E. coli berbeda nyata signifikan (p<0,05) terhadap konsentrasi ekstrak, sebaliknya diameter zona hambat V. harveyi tidak berbeda nyata signifikan (p>0,05) terhadap konsentrasi ekstrak. Konsentrasi 80.000 ppm merupakan konsentrasi terbaik sebagai antibakteri E. coli dan V. harveyi. Penelitian ini menjadi informasi awal pengembangan produk antimikroba berbahan E. acoroides.
Laju Pertumbuhan Favites pentagona dan Mycedium elephantotus pada Substrat Berbeda Dalam Kondisi Terkontrol Azyuardzi Azranasyiar Akbar; Insafitri Insafitri
Jurnal Kelautan Tropis Vol 29, No 1 (2026): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jkt.v29i1.29831

Abstract

Terumbu karang merupakan ekosistem penting yang berperan sebagai habitat, tempat pemijahan, dan perlindungan bagi berbagai biota laut, namun keberadaannya semakin terancam akibat kerusakan lingkungan dan eksploitasi berlebih. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui laju pertumbuhan mutlak dua jenis karang, yaitu Favites pentagona dan Mycedium elephantotus, pada dua jenis substrat berbeda, yakni substrat pengisi nat (grout) dan semen biasa (portland cement). Penelitian ini penting dilakukan karena pertumbuhan dan kemampuan adaptasi karang terhadap media transplantasi berperan penting dalam keberhasilan rehabilitasi ekosistem terumbu karang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dengan pendekatan observasi secara exsitu terhadap pertumbuhan fragmen karang hasil transplantasi selama empat bulan. Pengamatan dilakukan setiap bulan untuk mengukur perubahan luas koloni menggunakan perangkat lunak ImageJ. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan mutlak dan laju pertumbuhan per-bulan pada masing-masing perlakuan substrat. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kedua jenis karang mengalami peningkatan luas koloni yang bervariasi setiap bulan. Laju pertumbuhan mutlak Favites pentagona mencapai nilai tertinggi sebesar 3,894 cm² pada substrat grout (kode A), sedangkan Mycedium elephantotus menunjukkan pertumbuhan mutlak tertinggi sebesar 5,199 cm² pada substrat portland cement (kode B). Secara statistik, Favites pentagona tidak menunjukkan perbedaan signifikan antar substrat (Sig. 0,110 > 0,05), sedangkan Mycedium elephantotus menunjukkan perbedaan signifikan (Sig. 0,033 < 0,05), yang berarti jenis substrat berpengaruh nyata terhadap pertumbuhannya. Dengan demikian, substrat grout lebih optimal untuk karang tipe massive seperti Favites pentagona, sementara portland cement lebih sesuai untuk tipe laminar seperti Mycedium elephantotus.