Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Dialektika Tradisi dan Modernitas: Kajian Arsitektur Regionalisme pada Pusat Seni dan Budaya Bone A. Yayan Ulia Sari; Tisnawati, Endah
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 2 No. 2 (2025): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Februari 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/cendekia.v2i2.875

Abstract

Kabupaten Bone merupakan salah satu Kabupaten terluas di Sulawesi Selatan yang memiliki keanekaraman seni dan budaya yang didukung dengan adanya komunitas yang mengadakan kegiatan hingga saat ini. Komunitas tersebut merupakan salah satu wadah untuk menampung kreativitas generasi muda serta bentuk upaya pelestarian seni dan budaya Bone. Meskipun begitu, pengadaan komunitas saja belum mampu mendukung secara maksimal kegiatan seni dan budaya, sehingga perlu adanya sebuah tempat terpusat yang bersifat publik dengan fasilitas yang memadai untuk mendukung aktivitas dan kreatifitas generasi muda. Oleh karena itu, Perancangan Pusat Seni dan Budaya hadir sebagai wadah untuk aktivitas tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi gubahan arsitektur regionalisme sebagai pendekatan desain untuk menciptakan bangunan yang representatif dan kontekstual sehingga wujud budaya tidak hanya terlihat sebagai tindakan tetapi juga sebagai sebuah karya yang bisa dilihat, diraba, dan juga didokumentasikan. Pada perancangan ini menggunakan metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan analisis preseden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan elemen-elemen arsitektur tradisional Bone dengan prinsip-prinsip desain modern menghasilkan gubahan arsitektur yang harmonis, fungsional, dan mampu membangkitkan kembali identitas lokal yang dapat dilihat dari tata olah massa, zonasi ruang, pemilihan struktur, dan ornamen bangunan.
MASTERPLAN KAWASAN EMBUNG SENDANGTIRTO BERBASIS INOVATIF DAN PARTISIPATIF Tisnawati, Endah; Setyowati, Endang
Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v6i1.20628

Abstract

Penerapan partisipasi masyarakat menjadi salah satu indikator penting, apakah sebuah kebijakan benar-benar bersumber dari keinginan dan harapan masyarakat. Perancangan partisipatif adalah pendekatan yang mendorong semua pemangku kepentingan, seperti pemerintah, profesional, mitra, dan pengguna, untuk secara aktif berkolaborasi dalam proses desain untuk memastikan bahwa hasilnya memenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan. Gagasan mendasar dari perancangan partisipatif adalah adanya dialog sebagai media penting untuk menyelesaikan permasalahan perancangan. Pengembangan aktivitas wisata di sekitar Embung Sendangtirto dinilai memiliki potensi besar. Oleh karena itu, Pemerintah Kalurahan Sendangtirto merasa perlu segera merumuskan perencanaan kawasan yang berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Perencanaan kawasan berupa masterplan Kawasan Embung Sendangtirto ini dapat menjadi arahan pengembangan potensi wisata dan ekonomi kawasan yang terintegrasi, mengakomodasi ruang terbuka publik yang ramah anak dan lansia, serta mempertimbangkan potensi alam serta menjaga kelestarian sumber daya air.
PENGUATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK PENGELOLA OBYEK WISATA BANTARAN SUNGAI BEDOG DUSUN SANTAN KABUPATEN BANTUL TISNAWATI, ENDAH; SETYOWATI, ENDANG
BESIRU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 5 (2024): BESIRU : Jurnal Pengabdian Masyarakat, Mei 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/g57mcr92

Abstract

Desa Wisata Kampung Santan (Dewi Kamsa) di Kalurahan Guwosari memiliki beragam potensi untuk mengolah kawasan Bantaran Sungai Bedog sebagai destinasi wisata. Perlu adanya pengelolaan yang strategis dari semua kelompok masyarakat di Dusun Santan, khususnya bagi pengelola Kampung Wisata. Kelembagaan yang kuat, perlu diwujudkan untuk dapat mencapai pertumbuhan wisata yang berkelanjutan (Hastuti et al, 2023; Sitepu et al, 2021). Penguatan kapasitas kelembagaan juga dapat memastikan adanya keberlanjutan dalam mengimplementasikan rencana pengembangan pariwisata, sehingga tujuan-tujuan jangka panjang serta target sinergi dan kolaborasi antar lembaga dapat tercapai dengan baik. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu (1)  program pemberdayaan masyarakat, (2) mendorong pelaksanaan sarasehan wisata, (3) penyusunan buku profil kawasan wisata serta (4) perumusan konsep & peta jalan penerapan strategi wisata yang disepakati.
Strategi Perancangan Kawasan Ekowisata Embung Sendangtirto Kabupaten Sleman SETYOWATI, ENDANG; TISNAWATI, ENDAH
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 1 No. 5 (2024): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Mei 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/31sgj329

Abstract

Kawasan Embung Sendangtirto yang terletak di Kalurahan Sendangtirto, Kabupaten Sleman saat ini telah berkembang menjadi tempat rekreasi warga setempat. Komposisi lansekap yang terdiri dari hamparan dataran dan badan air, kondisi udara yang masih segar serta kegiatan pertanian pada lahan sekitar merupakan beberapa potensi yang dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah merumuskan Strategi Perancangan Kawasan Embung Sendangtirto berdasarkan konsep ekowisata. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif, dengan analisis kualitatif. Strategi penerapan konsep ekowisata berdasar pada 3 (tiga) prinsip dasar, yaitu (1) upaya pelestarian lingkunga; (2) upaya pelestarian seni budaya lokal; dan (3) upaya pelibatan masyarakat lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Designing Integrated Urban Agriculture Systems for Spatial Efficiency and Environmental Sustainability in Dense Urban Neighborhoods Tisnawati, Endah; Aufelisa, Nabila
International Journal of Science, Technology & Management Vol. 7 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Publisher Cv. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46729/ijstm.v7i1.1408

Abstract

Rapid urban densification in cities of the Global South has intensified land scarcity and constrained the provision of green open spaces, particularly in compact residential neighborhoods. In such contexts, community-based urban agriculture has emerged as an adaptive response to environmental, social, and spatial challenges. While existing studies widely acknowledge the multifunctional benefits of urban agriculture, empirical investigations that systematically examine its spatial logic and integration within dense built environments remain limited, especially in Southeast Asian cities. This study aims to reframe community-based urban agriculture as an integrated socio-spatial and environmental infrastructure embedded within compact urban fabrics. Using a case study approach, the research investigates urban agriculture practices in Kemantren Gondokusuman, Yogyakarta, Indonesia. Data were collected through field mapping, spatial documentation, and descriptive–quantitative analysis focusing on spatial typologies, distribution patterns, green open space ratios, and system integration. The results identify 22 spatially distributed urban agriculture sites operating across private yards, residual spaces, and communal facilities, with a density of approximately 0.055 sites/ha in an area characterized by a green open space provision of only 14.5%. Findings reveal that urban agriculture functions as a micro-scale environmental infrastructure through the integration of spatial efficiency, production systems, environmental functions, and community-based operational mechanisms. Rather than compensating for green space deficits through land expansion, environmental performance is achieved through functional intensification of fragmented spaces. The study proposes an integrated urban agriculture model that synthesizes these interdependent systems, contributing a design-oriented framework for sustainable built environments in dense urban neighborhoods. This research advances-built environment sustainability discourse by demonstrating how urban agriculture can operate as a scalable, spatially integrated strategy for enhancing environmental and socio-spatial performance in compact cities.
Capacity Building Model of Urban Farmer Groups through Participatory Mapping and Visual Dissemination Tisnawati, Endah; Yuamita, Ferida; Saptoto, Anang; Sagio, Sagio; Kyswantoro, Yunita Firdha; Ratriningsih, Desrina
SPEKTA (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat : Teknologi dan Aplikasi) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/spekta.v6i2.13797

Abstract

Background: Urban agriculture is a strategy to overcome the limitations of agricultural land in urban areas, while contributing to food security and community involvement. This community service program aims to strengthen the institutional capacity of urban farmer groups in Kemantren Gondokusuman, Yogyakarta. The main objective of this activity is to improve the institutional capacity of farmer groups and strengthen the economic resilience of the group. Contribution: This program promotes more inclusive decision-making for farmer groups and improves access to institutional resources, contributing to the sustainability of urban agriculture. Method: The approach used includes participatory mapping to identify the potential of farmer groups, exhibitions as a medium for interactive dissemination, and focus group discussions (FGD) to formulate institutional strategies and economic strengthening. Data was collected through field observations, structured interviews, and community workshops. Results: The results show that participatory mapping increases collective awareness among farmer group members regarding available resources, expands interactions among stakeholders (farmer group members, the community, and academics), and facilitates knowledge exchange. Structured FGDs support the formulation of institutional strategies, leading to increased group cohesion, managerial transparency, and broader access to external support. This combination of methods demonstrates that integrated strategies can enhance the institutional effectiveness of urban farming groups. Conclusion: The integration of participatory methods and public interaction plays a crucial role in strengthening the capacity of urban farming groups. This program provides a replicable implementation model for other communities and demonstrates that the sustainability of urban farming depends on institutional strengthening and community engagement.
Desain Mural Kolaboratif untuk Memperkuat Identitas Lokal dan Ruang Publik di Green Kayen, Sleman Tisnawati, Endah; Sastra, Suparno; Septiyanti, Dilla Eka; Nandini, Mas Nadila Surya; Hidayat, Mohamad Wahyu Nur; Arifin, Reyno Ikhwan Nur; Alfathoni, David Qori'; Apriani, Juwita; Jamaludin, Sartika
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 4 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i4.1733

Abstract

Penguatan identitas lokal dan peningkatan kualitas estetika ruang publik merupakan aspek penting dalam pengembangan desa wisata berbasis masyarakat. Desa Wisata Green Kayen, Kabupaten Sleman, memiliki potensi alam dan budaya yang kuat, namun masih menghadapi permasalahan rendahnya kualitas visual ruang publik dan belum optimalnya representasi identitas lokal. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas estetika ruang publik sekaligus memperkuat identitas lokal melalui program muralisasi partisipatif. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan desain partisipatif dengan tahapan perencanaan, implementasi, dan evaluasi. Kegiatan melibatkan dosen dan mahasiswa arsitektur Universitas Teknologi Yogyakarta, pengelola desa wisata, Karang Taruna, kelompok masyarakat, serta mitra industri sebagai pendukung teknis. Evaluasi dampak dilakukan secara kualitatif melalui observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur dengan pemangku kepentingan lokal. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa muralisasi mampu mentransformasi ruang publik yang sebelumnya kurang tertata menjadi elemen visual yang lebih estetis, komunikatif, dan merepresentasikan narasi budaya lokal. Selain meningkatkan kualitas visual kawasan, proses partisipatif juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat, memperkuat rasa memiliki terhadap ruang publik, serta meningkatkan kohesi sosial komunitas. Kegiatan ini menunjukkan bahwa muralisasi partisipatif dapat menjadi strategi intervensi ruang publik yang efektif, ekonomis, dan berkelanjutan dalam mendukung pengembangan desa wisata berbasis identitas lokal. Model pengabdian ini berpotensi direplikasi pada desa wisata lain dengan karakteristik serupa.
Student Involvement in Construction Supervision and Its Implications for Professional Competence Formation in Architectural Education: A Comparative Case Study Pamungkas, Luhur Sapto; Tisnawati, Endah; Fadillah, Rizky Gilang; Saputra, Rio Fian; Ciptaning Puspitasari, Endah
International Journal of Science, Technology & Management Vol. 7 No. 2 (2026): March 2026
Publisher : Publisher Cv. Inara Colaboration with www.stie-sampit.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46729/ijstm.v7i2.1416

Abstract

Internship programs in undergraduate architectural education are often positioned as assistive activities without a clear conceptual framework regarding their contribution to professional competence formation. This study aims to formulate a conceptual model of student involvement in construction supervision and to explain the mechanism through which field experience is transformed into professional competence. A qualitative comparative case study approach was employed in two different project contexts: a medium-scale private project and a public government facility project. Data were collected through analysis of internship reports, daily logbooks, time-stamped visual documentation, and students’ reflective notes. The analysis was conducted using intra-case analysis, pattern matching, and cross-case explanation building. The findings reveal a consistent causal pattern in which student involvement in supervision stages enhances technical exposure and structured reflective documentation, which subsequently stimulates professional reflection and the internalization of both technical and professional competencies. The study produces a refined conceptual model that clarifies the mediating mechanism between field experience and professional identity formation in architectural education. Curricularly, the findings recommend integrating structured supervision modules and reflective documentation instruments into internship courses to ensure measurable and systematic learning outcomes.
Kolaborasi Komunitas dan Desain Partisipatif dalam Membangun Fasilitas Wisata yang Berdaya Guna di Desa Wisata Green Kayen Akbar Preambudi; Endah Tisnawati; David Qori' Alfathoni; Reyno Ikhwan Nur Arifin
Jurnal ABDI RAKYAT Vol. 2 No. 1 (2025): JURNAL ABDI RAKYAT
Publisher : Universitas Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46923/jar.v2i1.498

Abstract

Pengembangan fasilitas wisata di Desa Wisata Green Kayen bertujuan untuk meningkatkan kualitas ekowisata yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Pemilihan topik ini didasarkan pada potensi besar desa dalam pengembangan pariwisata ramah lingkungan yang dapat memberdayakan ekonomi lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatoris melalui Participatory Rural Appraisal (PRA), dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan fasilitas. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan keberhasilan pembangunan fasilitas seperti food court, gapura desa wisata, dan area camping ground yang didesain berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pembangunan ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas pariwisata, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan fasilitas. Kesimpulannya, pendekatan partisipatoris yang diterapkan terbukti efektif dalam menciptakan fasilitas yang berkelanjutan dan berdaya guna bagi masyarakat setempat.
PENERAPAN ARSITEKTUR REGIONALISME RUMAH ADAT SAMOSIR PADA DESAIN PUSAT INFORMASI WISATA Reformanda Fransiskus Simbolon; Endah Tisnawati
Tesa Arsitektur Vol 24, No 1: Juni 2026
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v24i1.13452

Abstract

This study examines the transformation of regionalism architecture of Samosir traditional houses in the design of Tourist Information Centers (TIC) in the Lake Toba area. The research is motivated by the need for sustainable tourism development and the preservation of local cultural identity in Indonesia’s national priority destinations. The objective is to formulate design principles for TIC that integrate traditional architectural elements, such as roof form, local materials, spatial layout, and ornamentation, with modern demands for functionality, innovation, and sustainability. The study employs a qualitative-descriptive approach through literature review, visual analysis, and design exploration based on local context. Findings reveal that applying regionalism principles, via adaptation of roof forms, spatial zoning based on the Tri Tunggal Banua philosophy, and the use of Batak Toba ornaments and color schemes, strengthens local identity, enhances tourism appeal, and creates educational and inclusive public spaces. This research highlights the significance of regionalism architecture as a strategic approach for developing sustainable and culturally-based public tourism facilities.