Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Perancangan Pusat Seni Budaya dan UMKM Di Kalurahan Madurejo dengan Pendekatan Arsitektur Neo Vernakular Danu Adamma'arief; Tisnawati, Endah
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 2 No. 2 (2025): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Februari 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/cendekia.v2i2.874

Abstract

Perancangan ini dilatarbelakangi oleh Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengakreditasi sepuluh kalurahan rintisan desa budaya yang salah satunya adalah Kalurahan Madurejo. Perdais Nomor 3 Tahun 2017 yang menyebutkan bahwa pembinaan kebudayaan dengan ciri inklusifitas. Dimana masyarakat menjadi subyek dalam pengembangan kebudayaan. Untuk mewadahi kelompok seni, budaya, dan UMKM sehingga bisa meningkatkan eksistensi terhadap masyarakat umum serta meningkatkan ekonomi lokal terutama yang berlokasi di Kalurahan Madurejo, maka dibutuhkan pusat seni dan UMKM untuk mempromosikan produk mereka. Perancangan dilakukan dengan memperhatikan aspek metode perancangan yang sesuai dengan standar yang telah diatur oleh Peraturan Kemenparekraf, No.17 tahun 2020. Dengan menyediakan fasilitas kepada kelompok seni dan UMKM dengan tujuan meningkatkan ekonomi serta eksposur terhadap wisatawan di Kalurahan Prambanan.
Dialektika Tradisi dan Modernitas: Kajian Arsitektur Regionalisme pada Pusat Seni dan Budaya Bone A. Yayan Ulia Sari; Tisnawati, Endah
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 2 No. 2 (2025): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Februari 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/cendekia.v2i2.875

Abstract

Kabupaten Bone merupakan salah satu Kabupaten terluas di Sulawesi Selatan yang memiliki keanekaraman seni dan budaya yang didukung dengan adanya komunitas yang mengadakan kegiatan hingga saat ini. Komunitas tersebut merupakan salah satu wadah untuk menampung kreativitas generasi muda serta bentuk upaya pelestarian seni dan budaya Bone. Meskipun begitu, pengadaan komunitas saja belum mampu mendukung secara maksimal kegiatan seni dan budaya, sehingga perlu adanya sebuah tempat terpusat yang bersifat publik dengan fasilitas yang memadai untuk mendukung aktivitas dan kreatifitas generasi muda. Oleh karena itu, Perancangan Pusat Seni dan Budaya hadir sebagai wadah untuk aktivitas tersebut. Penelitian ini mengeksplorasi gubahan arsitektur regionalisme sebagai pendekatan desain untuk menciptakan bangunan yang representatif dan kontekstual sehingga wujud budaya tidak hanya terlihat sebagai tindakan tetapi juga sebagai sebuah karya yang bisa dilihat, diraba, dan juga didokumentasikan. Pada perancangan ini menggunakan metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, dan analisis preseden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan elemen-elemen arsitektur tradisional Bone dengan prinsip-prinsip desain modern menghasilkan gubahan arsitektur yang harmonis, fungsional, dan mampu membangkitkan kembali identitas lokal yang dapat dilihat dari tata olah massa, zonasi ruang, pemilihan struktur, dan ornamen bangunan.
MASTERPLAN KAWASAN EMBUNG SENDANGTIRTO BERBASIS INOVATIF DAN PARTISIPATIF Tisnawati, Endah; Setyowati, Endang
Jurnal AKAL: Abdimas dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2025): Jurnal AKAL : Abdimas dan Kearifan Lokal
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/akal.v6i1.20628

Abstract

Penerapan partisipasi masyarakat menjadi salah satu indikator penting, apakah sebuah kebijakan benar-benar bersumber dari keinginan dan harapan masyarakat. Perancangan partisipatif adalah pendekatan yang mendorong semua pemangku kepentingan, seperti pemerintah, profesional, mitra, dan pengguna, untuk secara aktif berkolaborasi dalam proses desain untuk memastikan bahwa hasilnya memenuhi kebutuhan semua pemangku kepentingan. Gagasan mendasar dari perancangan partisipatif adalah adanya dialog sebagai media penting untuk menyelesaikan permasalahan perancangan. Pengembangan aktivitas wisata di sekitar Embung Sendangtirto dinilai memiliki potensi besar. Oleh karena itu, Pemerintah Kalurahan Sendangtirto merasa perlu segera merumuskan perencanaan kawasan yang berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development). Perencanaan kawasan berupa masterplan Kawasan Embung Sendangtirto ini dapat menjadi arahan pengembangan potensi wisata dan ekonomi kawasan yang terintegrasi, mengakomodasi ruang terbuka publik yang ramah anak dan lansia, serta mempertimbangkan potensi alam serta menjaga kelestarian sumber daya air.
PENGUATAN KAPASITAS KELEMBAGAAN KELOMPOK PENGELOLA OBYEK WISATA BANTARAN SUNGAI BEDOG DUSUN SANTAN KABUPATEN BANTUL TISNAWATI, ENDAH; SETYOWATI, ENDANG
BESIRU : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 5 (2024): BESIRU : Jurnal Pengabdian Masyarakat, Mei 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/g57mcr92

Abstract

Desa Wisata Kampung Santan (Dewi Kamsa) di Kalurahan Guwosari memiliki beragam potensi untuk mengolah kawasan Bantaran Sungai Bedog sebagai destinasi wisata. Perlu adanya pengelolaan yang strategis dari semua kelompok masyarakat di Dusun Santan, khususnya bagi pengelola Kampung Wisata. Kelembagaan yang kuat, perlu diwujudkan untuk dapat mencapai pertumbuhan wisata yang berkelanjutan (Hastuti et al, 2023; Sitepu et al, 2021). Penguatan kapasitas kelembagaan juga dapat memastikan adanya keberlanjutan dalam mengimplementasikan rencana pengembangan pariwisata, sehingga tujuan-tujuan jangka panjang serta target sinergi dan kolaborasi antar lembaga dapat tercapai dengan baik. Metode pelaksanaan kegiatan yaitu (1)  program pemberdayaan masyarakat, (2) mendorong pelaksanaan sarasehan wisata, (3) penyusunan buku profil kawasan wisata serta (4) perumusan konsep & peta jalan penerapan strategi wisata yang disepakati.
Strategi Perancangan Kawasan Ekowisata Embung Sendangtirto Kabupaten Sleman SETYOWATI, ENDANG; TISNAWATI, ENDAH
CENDEKIA : Jurnal Penelitian dan Pengkajian Ilmiah Vol. 1 No. 5 (2024): CENDEKIA : Jurnal Penelitian Dan Pengkajian Ilmiah, Mei 2024
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/31sgj329

Abstract

Kawasan Embung Sendangtirto yang terletak di Kalurahan Sendangtirto, Kabupaten Sleman saat ini telah berkembang menjadi tempat rekreasi warga setempat. Komposisi lansekap yang terdiri dari hamparan dataran dan badan air, kondisi udara yang masih segar serta kegiatan pertanian pada lahan sekitar merupakan beberapa potensi yang dapat dikembangkan sebagai kawasan ekowisata. Oleh karena itu tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah merumuskan Strategi Perancangan Kawasan Embung Sendangtirto berdasarkan konsep ekowisata. Penelitian ini menerapkan metode deskriptif, dengan analisis kualitatif. Strategi penerapan konsep ekowisata berdasar pada 3 (tiga) prinsip dasar, yaitu (1) upaya pelestarian lingkunga; (2) upaya pelestarian seni budaya lokal; dan (3) upaya pelibatan masyarakat lokal dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kolaborasi Komunitas dan Desain Partisipatif dalam Membangun Fasilitas Wisata yang Berdaya Guna di Desa Wisata Green Kayen Preambudi, Akbar; Tisnawati, Endah; Alfathoni, David Qori'; Arifin, Reyno Ikhwan Nur
Jurnal ABDI RAKYAT Vol. 2 No. 1 (2025): JURNAL ABDI RAKYAT
Publisher : Universitas Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46923/jar.v2i1.498

Abstract

Pengembangan fasilitas wisata di Desa Wisata Green Kayen bertujuan untuk meningkatkan kualitas ekowisata yang melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat. Pemilihan topik ini didasarkan pada potensi besar desa dalam pengembangan pariwisata ramah lingkungan yang dapat memberdayakan ekonomi lokal. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatoris melalui Participatory Rural Appraisal (PRA), dengan melibatkan masyarakat dalam proses perencanaan dan pembangunan fasilitas. Hasil dari pengabdian ini menunjukkan keberhasilan pembangunan fasilitas seperti food court, gapura desa wisata, dan area camping ground yang didesain berdasarkan kebutuhan masyarakat. Pembangunan ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas pariwisata, tetapi juga memperkuat keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan fasilitas. Kesimpulannya, pendekatan partisipatoris yang diterapkan terbukti efektif dalam menciptakan fasilitas yang berkelanjutan dan berdaya guna bagi masyarakat setempat.
Designing Integrated Urban Agriculture Systems for Spatial Efficiency and Environmental Sustainability in Dense Urban Neighborhoods Tisnawati, Endah; Aufelisa, Nabila
International Journal of Science, Technology & Management Vol. 7 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : Publisher Cv. Inara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46729/ijstm.v7i1.1408

Abstract

Rapid urban densification in cities of the Global South has intensified land scarcity and constrained the provision of green open spaces, particularly in compact residential neighborhoods. In such contexts, community-based urban agriculture has emerged as an adaptive response to environmental, social, and spatial challenges. While existing studies widely acknowledge the multifunctional benefits of urban agriculture, empirical investigations that systematically examine its spatial logic and integration within dense built environments remain limited, especially in Southeast Asian cities. This study aims to reframe community-based urban agriculture as an integrated socio-spatial and environmental infrastructure embedded within compact urban fabrics. Using a case study approach, the research investigates urban agriculture practices in Kemantren Gondokusuman, Yogyakarta, Indonesia. Data were collected through field mapping, spatial documentation, and descriptive–quantitative analysis focusing on spatial typologies, distribution patterns, green open space ratios, and system integration. The results identify 22 spatially distributed urban agriculture sites operating across private yards, residual spaces, and communal facilities, with a density of approximately 0.055 sites/ha in an area characterized by a green open space provision of only 14.5%. Findings reveal that urban agriculture functions as a micro-scale environmental infrastructure through the integration of spatial efficiency, production systems, environmental functions, and community-based operational mechanisms. Rather than compensating for green space deficits through land expansion, environmental performance is achieved through functional intensification of fragmented spaces. The study proposes an integrated urban agriculture model that synthesizes these interdependent systems, contributing a design-oriented framework for sustainable built environments in dense urban neighborhoods. This research advances-built environment sustainability discourse by demonstrating how urban agriculture can operate as a scalable, spatially integrated strategy for enhancing environmental and socio-spatial performance in compact cities.
Capacity Building Model of Urban Farmer Groups through Participatory Mapping and Visual Dissemination Tisnawati, Endah; Yuamita, Ferida; Saptoto, Anang; Sagio, Sagio; Kyswantoro, Yunita Firdha; Ratriningsih, Desrina
SPEKTA (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat : Teknologi dan Aplikasi) Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/spekta.v6i2.13797

Abstract

Background: Urban agriculture is a strategy to overcome the limitations of agricultural land in urban areas, while contributing to food security and community involvement. This community service program aims to strengthen the institutional capacity of urban farmer groups in Kemantren Gondokusuman, Yogyakarta. The main objective of this activity is to improve the institutional capacity of farmer groups and strengthen the economic resilience of the group. Contribution: This program promotes more inclusive decision-making for farmer groups and improves access to institutional resources, contributing to the sustainability of urban agriculture. Method: The approach used includes participatory mapping to identify the potential of farmer groups, exhibitions as a medium for interactive dissemination, and focus group discussions (FGD) to formulate institutional strategies and economic strengthening. Data was collected through field observations, structured interviews, and community workshops. Results: The results show that participatory mapping increases collective awareness among farmer group members regarding available resources, expands interactions among stakeholders (farmer group members, the community, and academics), and facilitates knowledge exchange. Structured FGDs support the formulation of institutional strategies, leading to increased group cohesion, managerial transparency, and broader access to external support. This combination of methods demonstrates that integrated strategies can enhance the institutional effectiveness of urban farming groups. Conclusion: The integration of participatory methods and public interaction plays a crucial role in strengthening the capacity of urban farming groups. This program provides a replicable implementation model for other communities and demonstrates that the sustainability of urban farming depends on institutional strengthening and community engagement.
Studi Potensi Vernakular Kampung Nitiprayan Bantul Sebagai Dasar Perancangan Pusat Seni dan Budaya Agus Wijayadi; Endah Tisnawati
Jurnal Arsitektur GRID: Journal of Architecture and Built Environment Volume 2, Nomor 1 (2020): Juni
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52429/grid.v2i1.15

Abstract

Kampung Nitiprayan merupakan salah satu area di Daerah Istimewa Yogyakarta yang secara geografis memiliki posisi strategis, karena terletak tidak jauh dari beberapa kawasan yang berbasis budaya, misalnya Kasongan,Kraton Yogyakarta, tidak jauh dari tempat tinggal seniman kondang, sertadekat dengan kawasan pendidikan(Brontowiyono dan Lupiyanto, 2011). Walaupun memiliki potensi seni budaya yang sangat baik, tetapi saat ini Kampung Nitiprayan belum memiliki sebuah tempat berkesenian yang terpusat atau terpadu. Berbagai kegiatan kesenian masih diselenggarakan secara spontan dan sporadis,tersebar di wilayah kampung. Diperlukan sebuah tempat yang dapat menampung berbagai kegiatan seni budaya dalam sebuah fasilitas yang juga dapat digunakan sebagai tempat usaha produktif serta etalase informasi warga masyarakat. Banyaknya kegiatan seni dan budaya di Kampung Nitiprayan yang mendasari perancangan Pusat Seni dan Budaya di kawasan tersebut, dengan tujuan memberi wadah pusat kreatifitas, tempat berkarya, dan pertunjukan dari seniman lokal. Pemilihan penerapan konsep vernakular didasari dari konteks lingkungan sosial, budaya dan sumber daya alam setempat yang memiliki ciri khas dan karakter berbeda dengan kampung lain di Yogyakarta. Naskah ilmiah ini akan membahas berbagai potensi vernakular yang menjadi ciri khas Kampung Nitiprayan. Penggalian data dilakukan menggunakan metode pengamatan lapangan dan wawancara. Data yang terkumpul kemudian disusun berdasar tema-tema berbasis arsitektur vernakular. Pada akhirnya, hasil analisis ini digunakan menjadi dasar perencanaan Gedung Pusat Seni dan Budaya di Kampung Nitiprayan. Hasil rancangan tetap mempertahankan ciri khas Kampung Nitiprayan sebagai kampung seni yang bernuansa tradisional dan menyatu dengan alam. Desain yang dihasilkan tetap menerapkan bentuk-bentuk dengan unsur-unsur budaya, lingkungan termasuk iklim setempat, diungkapkan dalam bentuk fisik arsitektural, seperti pada tata letak ruang dalam denah, pemilihan sistem struktur, detail-detail bagian bangunan, dan ornamen (baik ornament pada bangunan maupun ornamen yang terdapat pada elemen lansekap).
Penerapan Nilai-Nilai Regionalisme Arsitektur Pada Bangunan Pusat Informasi Wisata Kabupaten Cilacap Meiga Permata Novia Putri; Endah Tisnawati; Setiawan Ardyanto
Jurnal Arsitektur GRID: Journal of Architecture and Built Environment Volume 2, Nomor 1 (2020): Juni
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52429/grid.v2i1.17

Abstract

Pusat Informasi Wisata merupakan perancangan bangunan yang diharapkan mampu memberikan informasi dan promosi bagi wisatawan domestik dan mancanegara sekaligus dapat memberikan peningkatan dalam sektor perekonomian masyarakat (Permen Pariwisata RINo.3 Tahun 2018). Pusat Informasi Wisata dibutuhkan untuk penyaluran informasi wisata dan menjadikan kota yang aktraktif yang dapat mefasilitasi masyarakat serta wisatawan. Pertumbuhan wisatawan dan obyek wisata di Kabupaten Cilacap dalam 3 (tiga) tahun terakhir membawa dampak signifikan bagi pertumbuhan pendapatan daerah.Sementara saat ini belum terdapat fasilitas sarana pusat informasi wisata di Kabupaten Cilacap.Perancangan Pusat Informasi Wisata di Kabupaten Cilacap dengan penerapan nilai-nilai Regionalisme Arsitektur bertujuan untuk menyatukan konsep masa depan dan konsep tradisional, dapat menjadikan peluang pengembangan citra atau ciri khas baru. Regionalisme aristektur menekankan pada perancangan yang merepon iklim, pola budaya atau perilaku dan ikenografis atau simbol. Tampilan bangunan menampilkan kekhasan mengeluarkan identitas formal dan simbolik ke dalam bentuk kreatif dalam menentukan bentuk, pola tata massa tampilan bangunan dan material bangunan.