Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Arsitektur Vernakular Perkotaan sebagai Dasar Perancangan Pusat Rehabilitasi Penyandang Disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta Bagus Prasetyo Adi; Endah Tisnawati
Jurnal Teknologi dan Desain Vol. 2 No. 1 (2020): Jurnal Teknologi dan Desain
Publisher : Pradita University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51170/jtd.v2i1.17

Abstract

Arsitektur vernakular dibangun untuk memenuhi kebutuhan spesifik, mengakomodasi nilai-nilai budaya, ekonomi, dan cara hidup masyarakat setempat. Tatanan lingkungan kota dan permukiman di Yogyakarta berangkat dari akar sejarah yang mengacu pada perkembangan Kerajaam Mataram Islam dan hingga saat ini telah berkembang menjadi perkotaan modern berbasis pendidikan dan wisata. Kampung perkotaan di Kota Yogyakarta mencitrakan ciri vernakular perkotaan yang kuat (Setiawan, dkk 2010 dalam Hutama, 2016). Saat ini tercatat di Daerah Istimewa Yogyakarta dari data kependudukan provinsi Yogyakarta, dalam 5 (lima) tahun terakhir total tercatat 43.880 penyandang disabilitas. Para penyandang disabilitas tubuh yang merupakan bagian dari kehidupan masyarakat pun tetap harus diperhatikan dan diberi bimbingan. Saat ini di Daerah Istimewa Yogyakarta hanya memiliki 2 (dua) fasilitas yang memberi layanan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas. Namun dari segi layanan dan kapasitas masih kurang memenuhi kebutuhan. Tujuan dari penulisan naskah ilmiah ini adalah untuk merancang pusat rehabilitasi sebagai fasilitas terpadu yang mampu mencakup segala aspek rehabilitasi medis, pendidikan, sosial dan vokasional bagi penyandang disabilitas yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan menerapkan konsep arsitektur vernakular perkotaan. Penulisan naskah ilmiah ini diawali dengan pembahasan pustaka mengenai, pustaka mengenai konsep arsitektur vernakular di perkotaan, kemudian dilanjutkan dengan pembahasan kebutuhan dalam fungsi pusat rehabilitasi penyandang disabilitas (data sekunder dan primer). Tahapan selanjutnya adalah analisis yang dilakukan untuk merumuskan aspek arsitektur vernakular perkotaan di wilayah Yogyakarta kemudian diterapkan pada perancangan pusat rehabilitasi penyandang disabilitas. Pendekatan arsitektur vernakular perkotaan diimplementasikan dalam perancangan bentuk bangunan, penggunaan struktur dan material, perancangan fasad bangunan dan pola pola zonasi dalam bangunan serta desain ruang (interior).
Strategi Perancangan Pusat Pengolahan Teh Terpadu di Kabupaten Kepahiang Bengkulu dengan Pendekatan Arsitektur Organik Aditya Ariantama Putra; Endah Tisnawati
Jurnal Teknologi dan Desain Vol. 1 No. 2 (2020): Jurnal Teknologi dan Desain
Publisher : Pradita University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51170/jtd.v1i2.25

Abstract

Tersedianya sumber daya alam pertanian yang melimpah membuat pemerintah harus memikirkan cara mengelolah dan pemanfaatan sumber daya alam tersebut agar mampu menolong ekonomi, sosial dan alam daerah Kabupaten Kepahiang. Potensi yang paling menonjol yang ada di Provinsi Bengkulu selain pertambangan adalah perkebunan dan pertanian khususnya pertanian teh, pertanian teh yang tersedia sangat melimpah dan saat ini juga sangat di minati oleh masyarakat seiring dengan kesadaran masyarakat akan teh yang bisa di bermanfaat menjadi minuman yang menyehatkan dan juga permintaan pasar internasional pada teh dari indonesia yang semakin tinggi.Meskipun begitu, potensi ini tidak diimbangi dengan penyediaan sarana dan fasilitas yang mendukung potensi pengolahan teh di daerah Kabupaten Kepahiang. Permasalahan tersebut menjadi dasar dalam membuat konsep, dari masalah yang ada maka konsep pusat pengolahan teh terpadu menggunakan pendekatan arsitektur organik. Pendekatan tersebut menjawab masalah yang ada. Arsitektur organik memiliki karakter yang harmonis dengan alam sehingga dalam mendesain pusat pengolahan teh, alam menjadi fokus utama. Oleh karena itu perencanaan Pusat Pengolahan Teh Terpadu di Kabupaten Kepahiang diharapkankan dapat menjadi penyedia fasilitas yang mampu mengembangkan potensi yang ada serta menjadi ikon baru dari daerah Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu.
Implementasi Sejarah Perjuangan dalam Perencanaan Museum Muhammad Rizal; Endah Tisnawati
Jurnal Teknologi dan Desain Vol. 2 No. 2 (2021): Jurnal Teknologi dan Desain
Publisher : Pradita University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51170/jtd.v2i2.87

Abstract

Museum telah jamak diartikan sebagai suatu lembaga, atau juga bisa sebagai suatu tempat, yang menyajikan suatu informasi terbuka kepada publik, mudah diakses, bergerak dalam bidang konservasi, penelitian dan publikasi warisan bersejarah, serta berkotribusi untuk pendidikan, penelitian serta rekreasi (ICOM (2007) dalam Brown & Mairesse (2018)). Saat ini museum di beberapa negara digunakan sebagai etalase, yang menyajikan informasi tertentu yang diinginkan oleh rezim yang sedang berkuasa (Denton, 2014). Irian Barat atau saat ini lebih dikenal dengan nama Papua merupakan wilayah NKRI yang dulunya berada dalam kekuasaan Belanda. Irian Jaya Barat masuk bergabung menjadi bagian NKRI sejak tahun 1963. Perjuangan yang dilakukan pemerintah Indonesia demi membebaskan Irian Jaya Barat dilakukan dengan berbagai upaya, yakni dalam bentuk diplomasi, politik, ekonomi bahkan dengan menggunakan senjata. Naskah illmiah ini akan menguraikan bagaimana bahasan mengenai proses sejarah sebuah kawasan dapat menjadi dasar perencanaan museum yang berada di Kota Sorong, Papua. Tahapan yang dilakukan dalam penulisan naskah ilmiah ini meliputi (1) studi pustaka mengenai museum dan memorabilia; (2) studi pustaka mengenai proses perjuangan pembebasan Irian Jaya Barat; (3) melakukan analisis mengenai elemen konsep dasar perancangan museum perjuangan pembebasan Irian Jaya Barat berdasar memorabilia dan visualisasi desain; (4) rumusan kesimpulan. Pembahasan penerapan konsep melalui pemaknaan lokasi sebagai lansekap sejarah, ruang museum sebagai media penceritaan sejarah dan gubahan massa bangunan museum sebagai media penceritaan sejarah. Kata Kunci : museum, memorabilia, perjuangan pembebasan Irian Jaya Barat, dasar perancangan
Community capacity building based on local wisdom through the management of the Brontokusuman tourism village, Yogyakarta Ratika Tulus Wahyuhana; Endah Tisnawati; Jeki Trimarstuti
Community Empowerment Vol 6 No 12 (2021)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.421 KB) | DOI: 10.31603/ce.5559

Abstract

Cultural values must be strengthened as part of local wisdom by increasing community capacity in the management and innovation of tourist attractions. Cultural activities in Dewa Bronto Tourism Village have been running for some time, but their management is still subpar. The community does strongly support tourism activities, but community participation in managing the potential of tourist villages remains low. This service activity aims to increase community involvement in managing the cultural event of Dewa Bronto Tourism Village in Brontokusuman Village through an empowerment approach. Mentoring activities are carried out at various stages of socialization, tourism village management training, tourism product management, and marketing the potential of tourist villages. Implementing community service activities has the potential to increase knowledge, community skills, and form awareness and independence in the management of tourist villages, particularly cultural events. Implementing the program has the potential to increase knowledge, community skills, and form awareness and independence in the management of tourist villages, particularly cultural events. This is demonstrated by the community's active participation in organizing cultural events on its own. Furthermore, the community participated in cultural-themed tourism competitions at the Yogyakarta City level.
Kajian Arsitektur Kontekstual sebagai Dasar Perancangan Pusat Informasi Wisata Kabupaten Pacitan Yoni Prasetyo; Endah Tisnawati
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol 2 No 2 (2023): Archvisual
Publisher : Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (958.205 KB) | DOI: 10.55300/archvisual.v2i2.1105

Abstract

Kabupaten Pacitan memiliki keragaman potensi wisata baik alam maupun budaya. Saat ini pemasaran potensi wisata baru dilaksanakan melalui fasilitas yang seadanya di Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Pacitan. Pembangunan Pusat Informasi Wisata merupakan salah satu rencana pencapaian target bidang kepariwisataan di Kabupaten Pacitan. Naskah ilmiah ini membahas mengenai perancangan pusat informasi wisata di Kabupaten Pacitan dengan menggunakan pendekatan arsitektur kontekstual. Arsitektur Kontekstual digunakan sebagai dasar pendekatan dengan tujuan agar mampu memberikan nilai tambah secara visual pada desain Pusat Informasi Wisata. Kontekstualisme, sebagaimana diketahui, muncul dari keinginan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan keselarasan desain bangunan baru dengan lingkungan kota dan struktur alam serta budaya sekitarnya (Çizgen, 2012). Implementasi konsep yang diterapkan pada desain, disesuaikan dengan teori arsitektur kontekstual yang berkesinambungan terhadap kondisi lingkungan kota dan budaya sekitar. Pertimbangan desain berpedoman pada prinsip desain arsitektur kontekstual, yaitu penyesuaian terhadap modul, tipologi, dan lansekap bangunan sekitar, serta aspek klimatologi, budaya, dan permasalahan pengguna bangunan. Karya tulis ilmiah ini merumuskan arahan desain pusat informasi wisata dengan menerapkan konsep arsitektur kontekstual, pada desain zoning dan denah, fasade atau pelingkup bangunan serta elemen pola lansekap.
Virtual Reality Application of Interactive Interior: The Development Study for Computer and Android Smartphones Hendro Trieddiantoro Putro; Luhur Sapto Pamungkas; Suparno Sastra; Murwantoro Panghargyo; Endang Setyawati; Endah Tisnawati
Journal of Artificial Intelligence in Architecture Vol. 1 No. 2 (2022): Artificial Intelligence for Enhancing Architectural Design
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jarina.v1i2.6106

Abstract

This research describes the process, obstacles, and results in making a Virtual Reality Application of interactive interior using Unity 3D. In this research, we propose a VR application that supports interaction and VR views between users and the digital environment using computers and android smartphones. The study has three stages, namely input, process, and output. C# script was developed for user interaction with the digital environment. The user can interact in a small interior room with digital objects such as moving around, changing furniture color, and switching the light on or off. The research successfully created a virtual reality application using Unity3D for computers and android smartphones. This study clearly describes the step of making virtual reality applications and the problems encountered during the process—also, a more stabilized method for developing the interactive user feature. Moreover, the research brings another opportunity for VR application development that focuses on other VR development factors such as immersion, imagination, and insight.
Kajian Evaluasi Purna Huni di Perumnas Condongcatur Yogyakarta Dita Ayu Rani Natalia; Endah Tisnawati
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 1 (2018): Hilirisasi & Komersialisasi Hasil Penelitian dan Pengabdian Masyarakat untuk Indonesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perumahan merupakan hunian massal yang bersifat komoditi dengan bentuk bangunan yang tipikal dan dibangun untuk memenuhi kebutuhan hunian bagi masyarakat. Bangunan akan mengalami perubahan ketikatidak dapat memenuhi kebutuhan penghuni atau mengalami kerusakan. Hal ini dipengaruhi oleh faktor penghuni dan usia bangunan, sehingga bangunan tidak efisien atau tidak sesuai dengan perkembangan dan perawatan bangunan. Proses atau cara yang digunakan oleh penghuni atau pengguna untuk melakukan perubahan pada bangunan merupakan tahapan dalam proses evaluasi utuk mencapai kenyamanan dan kebutuhan pengguna. Proses evaluasi untuk penggunaan bangunan dalam mencapai hal tersebut disebut dengan Evaluasi Pasca Huni(EPH) yang menekankan pada aspek arsitektur bangunan dan perilaku penghuninya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi aspek-aspek Evaluasi Purna Huni yang terjadi di Perumahan Condongcatur dari aspekEvaluasi Purna Huni yang terkait dengan penggunaan dan perubahan ruang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualititaif dengan analisis Post Occupancy Evaluation (POE) atau Evaluasi Purna Huni (EPH). Hasil penelitian yang telah dilakukan menujukkan bahwa adanya penggunaan dan perubahan ruang pada bangunan perumahan untuk memenuhi kebutuhan penghuni. Faktor perubahan dan penggunaan ruang dipengaruhi oleh faktor intenal pengguna dan faktor eksternal akibat adanya perubahan kawasan. Kata kunci: evaluasi purna huni, perumnas, Condongcatur
Sustainable Vertical Housing Based on Social and Cultural Activities Tisnawati, Endah; Suparno, Suparno; Ulya Nur Rahmah Ellyanando, Adinda
Jurnal Internasional Teknik, Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 6 No 1 (2024): International Journal of Engineering, Technology and Natural Sciences
Publisher : Universitas Teknologi Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46923/ijets.v6i1.348

Abstract

The development of vertical housing is currently a response to the problem of population increase. People with low incomes (MBR) who have a range of restrictions, from knowledge gaps to financial difficulties, are typically the ones who live in vertical housing in developing nations like Indonesia. Due to misunderstandings about residents' social and cultural behavior and activities addressing the culture of living in multi-story residences, there are many issues with vertical housing these days, particularly those pertaining to disorganization and improper use of space. The careless use of hallways, which leaves them cluttered with trash, clotheslines, and the possessions of residents, is one issue that frequently arises. This study will outline the issues with vertical housing in Bandung City and provide examples of well-designed housing in the past. The study aims to offer best practices for bridging the gap between the existing conditions and the vertical housing usage pattern. Furthermore, it is anticipated that the findings will lead to both intelligent spatial utilization and sustainable architectural design solutions.
Pengembangan Kawasan Ekowisata Berbasis Partisipatoris di Dusun Santan Kabupaten Bantul Endah Tisnawati; Rizky Ari Saputra; Mohammad Ulin Mujahidin; Hestin Mulyandri; Syahnaz Nur'aziah; Dary Luthfi Primandani; Asya Sofi'ani Destianingrum; Elina Rahma; Aura Artha Faatihah Widyatmoko; Tsalits Nur Mar'ah Solikhah; Laila Muna Khansa; Afifa Khonza; Dandy Setyawan; Mohamad Zuhdan Ardiansyah; M. Rizki Saputra; Hendy Julianto; Vira Habsari; Zamrudin Zamrudin
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 3 (2024): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v6i3.771

Abstract

Dusun Santan terkenal akan kawasan wisata yang memiliki potensi antara lain, sarana wisata edukasi, paket edukasi sekolah, paket atraksi wisata, industri kerajinan bathok kelapa, ditambah dengan kerajinan batik, dan wisata kuliner. Namun terdapat beberapa masalah yang membuat desa wisata ini akhirnya vakum, diantaranya kurangnya kegiatan atraktif, kurangnya branding objek wisata, pemasaran nilai ekonomi masyarakat, dan pengelolaan/kelembagaan wisata kurang terstruktur. Berdasar analisis potensi dan permasalahan yang dijumpai, maka solusi yang ditawarkan melalui penerapan konsep Ekowisata. Penguatan visi dan misi desa wisata berbasis ekowisata dengan tujuan untuk membangkitkan kembali desa wisata, dilakukan melalui beberapa strategi, yaitu (1) memaksimalkan branding wisata, (2) merancang dan membangun tempat yang representatif untuk menampung produk-produk kerajinan maupun kuliner yang dihasilkan oleh Dusun Santan, dan (3) menyelenggarakan kegiatan even seni budaya tematis yang menarik. Solusi yang ditawarkan ini bertujuan untuk mendorong kesejahteraan dan kemandirian masyarakat Dusun Santan, sebagai wadah untuk kelestarian budaya daerah, kelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan oleh Tim Himpunan Mahasiswa Arsitektur (HIMARS) Astabrata Universitas Teknologi Yogyakarta, atas pendanaan dari Program Peningkatan Kapasitas Organisasi Mahasiswa (PPK Ormawa), Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, dengan jangka waktu pelaksanaan dari bulan Juli hingga November 2023. Luaran kegiatan ini yaitu adanya ikon wisata, susunan kepengurusan obyek wisata yang terstruktur di masyarakat, terwujudnya pasar kuliner kontemporer, area berbelanja dan pusat souvenir, pembelajaran mengenai ekologi sungai, ruang pembelajaran kreatif berupa ruang workshop dan ruang komunal. Kegiatan yang berjudul Pengembangan Ekowisata Bantaran Sungai Bedog Dusun Santan Guwosari Bantul, menghasilkan inovasi yaitu (1) penerapan konsep ekowisata pada kawasan dampingan, menghasilkan peta jalan dan Masterplan Ekowisata Bantaran Sungai Bedog Dusun Santan Bantul; (2) EKOWISBE, sebuah kelembagaan pengelola Ekowisata Bantaran Sungai Bedog Dusun Santan; (3) ASTABRATA Podcast, sebuah platform media publikasi kegiatan mahasiswa yang dikelola secara kreatif dan invoatif oleh himpunan mahasiswa Arsitektur ASTABRATA UTY dan (4) FESTIVAL EKOWISBE, sebuah event seni budaya yang direncanakan dapat dapat diselenggarakan secara rutin oleh pengelola wisata Dusun Santan.
Variety of Changes in Spatial Patterns of Residential Space in Soropadan Village as an Impact of the Development of Economic Activities Suparno; Endah Tisnawati; Aisha Astriecia
Jurnal Internasional Teknik, Teknologi dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol 4 No 2 (2022): International Journal of Engineering, Technology and Natural Sciences
Publisher : Universitas Teknologi Yogyakarta, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (776.698 KB) | DOI: 10.46923/ijets.v4i2.183

Abstract

Reduced open land, traffic jams on the village's main road, disruption of the safety and comfort of the living environment are only a few effects that can result from the conversion of homes into student dormitories in the form of boarding houses. This also takes place in open residential neighborhoods outside of Yogyakarta, specifically in Soropadan Village, Condongcatur Village, Depok District, and Sleman. Descriptive qualitative research methodology is employed in this study. The decision is taken taking into account the occurrences that are seen in the field. Direct field observations were used to gather the primary data selection technique, which was subsequently used to collect data utilizing qualitative data techniques. In order to understand the numerous changes in the spatial pattern of residential housings discovered in the boarding house type student dormitory in Soropadan Village as a result of the development of economic activities, this study attempts to determine the tendency of the spatial pattern of settlements. The study's findings include the similarity of changes to the spatial layout of residences into boarding-type student dormitories with a linear layout, the spatial arrangement of boarding rooms and shared rooms forming a centralized layout with the shared room serving as the center of activity in student boarding houses, and the propensity to add boarding rooms. The location of the service area, including restrooms, laundry facilities, and kitchens, is always at the rear of the building, immediately before the road. Economic development, environmental changes, population increase, and the creation of local infrastructure are all reasons that can cause a home's usage to change from a residential to a dorm-style boarding house for students.