Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

ANALISA KINERJA PLTS 25 KWP DI GEDUNG LABORATORIUM RISET TERPADU LAHAN KERING KEPULAUAN UNDANA TERHADAP VARIASI BEBAN Sampeallo, Agusthinus S.; Galla, Wellem F.; Mbakurawang, Fredyrick
Jurnal Media Elektro Vol 7, No 1 (2018): APRIL 2018
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem pembangkit energi surya laboratorium riset terpadu lahan kering kepulauan Universitas Nusa Cendana (UNDANA) merupakan pembangkit energi surya dengan apasitas 25 kWp yang dimanfaatkan ole laboratorium lahan kering untuk mensuplay energi listrik guna kegiatan praktikum mahasiswa dan perkuliaan lapangan. Sistem pembangkit ini dilengkapi dengan sistem baterai yang akan bekerja apabila sel surya tidak mampu memenui kebutuan beban. Sistem ini dilengkapi juga dengan tiga buah inverter. Namun, pada saat sistem beroperasi, hanya bekerja satu inverter saja, dikarenakan dua inverter yang lainnya mengalami kerusaan. Untuk itu, maka perlu dilakukan analisis terhadap kinerja sistem untuk mengetahui tingkat efesiensi dari pembangkit ini.Dalam penelitian ini akan dilakukan analisis terhadap kinerja sistem dengan melakukan pengukuran-pengukuran terhadap daya output photovoltaic (PV), arus, tegangan inverter, daya inverter, serta efisiensi inverter. Berdasarkan hasil pengukuran diperoleh daya beban maksimal adala 3.401 watt, dengan rata-rata daya yang disuplay dari sistim PV adalah 4.1 kW dan daya output inverter yang diberikan kebeban adalah rat-rata 2.0 kW. Sedangan efisiensi rata-rata inverter dalam mensuplay dari dari PV untuk beban adalah 58.59 %. Hal ini disebabkan karena daya yang disuplay dari sistem PV tidak hanya pada beban lahan kering , tetapi juga mensuplay sistem baterai, sehingga daya dari sistem PV terbagi dua.
ANALISIS KINERJA PLTS 25 KWP DI GEDUNG LABORATORIUM RISET TERPADU LAHAN KERING KEPULAUAN UNDANA TERHADAP VARIASI BEBAN Agusthinus S. Sampeallo; Wellem F. Galla; Fredyrick Mbakurawang
Jurnal Media Elektro Vol 7 No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (519.251 KB) | DOI: 10.35508/jme.v0i0.600

Abstract

Sistem Pembangkit Energi Surya Laboratorium Riset Terpadu Lahan Kering Kepulauan UNDANA merupakan pembangkit Energi Surya dengan kapasitas 25 kWp yang dimanfaatkan oleh Laboratorium Lahan Kering untuk menyuplai energi listrik guna kegiatan praktikum mahasiswa dan kegiatan perkuliahan lapangan . Sistem pembangkit ini dilengkapi dengan sistem baterai yang akan bekerja apabila sel surya tidak mampu memenuhi kebutuhan beban. Sistem ini dilengkapi juga dengan tiga buah inverter. Namun, pada saat sistem beroperasi, hanya bekerja satu inveter saja, dikarenakan dua inverter lainnya mengalami kerusakan. Sejak sistem beroperasi sampai saat ini, belum pernah dilakukan analisis terhadap kinerja sistem sehingga belum diketahui apakah sistem pembangkit ini bekerja dengan baik dan efisien. Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap kinerja sistim dengan melakukan pengukuran- pengukuran terhadap daya output PV ( yang merupakan Input inverter ), output arus , tegangan inverter, output daya inverter, serta efisiensi inverter. Pengukuran dilakukan untuk tiga kondisi selama tiga hari, dengan diberikan variasi beban. Berdasarkan hasil pengukuran selama tiga hari, diperoleh hasil untuk kemampuan PLTS dalam mengoperasikan beban maksimal adalah 3.401 Watt pada hari ketiga ( D3 ), dengan rata- rata daya yang disuplai dari sistim PV adalah 4,1 kW dan daya output inverter yang diberikan ke beban rata- rata adalah 2,0 kW, efisiensi rata- rata inverter dalam mensuplai daya dari PV untuk beban adalah 58,59 %.Hal ini dikarenakan daya yang disuplai dari sistim PV disuplai tidak hanya pada beban lahan kering I dan II,tetapi juga akan disuplai pada sistem baterai.Sehingga daya dari sistim PV terbagi dua.
ANALISIS RUGI DAYA INSTALASI JARINGAN TEGANGAN RENDAH LABORATORIUM RISET TERPADU LAHAN KERING KEPULAUAN UNDANA Agusthinus S. Sampeallo; Wellem F. Galla; Romulus Mamung Sare
Jurnal Media Elektro Vol 7 No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.366 KB) | DOI: 10.35508/jme.v0i0.677

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan besarnya rugi-rugi daya dan jatuh tegangan pada instalasi JTR saluran penghubung Lahan I dan Lahan II Laboratorium Lahan Kering Terpadu UNDANA. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi yaitu dengan melakukan pengukuran besar arus dan tegangan pada saluran penghubung JTR Laboratorium Riset Terpadu Lahan Kering Kepulauan UNDANA. Sumber data yang digunakan adalah berupa data primer dan data sekunder. Data akan diolah dengan perhitungan dan analisis. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisa data diperoleh bahwa besar rugi daya yang terjadi pada JTR Lahan I adalah 92.766053 Watt atau 0.882994 %. Drop tegangan terbesar pada JTR Lahan I terjadi di Saluran E1 pada fasa R = 3.823206 Volt atau 1.859536 % sedangkan drop tegangan terkecil pada JTR Lahan I terjadi pada Saluran H, pada fasa R =0.000429 Volt atau 0.000264 %, fasa S = 0.0000795 volt atau 0.0000428 %, dan fasa T = 0.0000795 Volt atau 0.0000442 %. Besar rugi daya yang terjadi pada JTR Lahan II adalah 3.433982 Watt atau 0.163271 %. Drop tegangan terbesar pada JTR Lahan II terjadi pada Saluran B2, fasa R = 0.364115 Volt atau 0.174552 %, fasa S = 0.40394 Volt atau 0.169154 %, dan fasa T = 0.121372 Volt atau 0.054525 %. Drop tegangan terkecil terjadi pada Saluran D, fasa R = 0.000254 Volt atau 0.000122 %, fasa S = 0.0000716 Volt atau 0.0000299%, dan Fasa T = 0.0000848 Volt atau 0.0000381%. Rugi daya dan drop tegangan yang terjadi pada JTR Laboratorium Riset Terpadu Lahan Kering Kepulauan UNDANA di pengaruhi oleh besarnya arus, panjang saluran, dan jenis serta luas penampang penghantar yang digunakan.
ANALISIS KEANDALAN PADA JARINGAN DISTRIBUSI PENYULANG OESAO, CAMPLONG DAN BURAEN Tomi D. Dairo Bobo; Wellem F. Galla; Evtaleny R Mauboy
Jurnal Media Elektro Vol 8 N0.1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.124 KB) | DOI: 10.35508/jme.v8i1.964

Abstract

Indeks keandalan sistem distribusi adalah tolak ukur dari sistem untuk terus menyalurkan energi listrik ke beban dalam periode waktu tertentu dan dalam kondisi tertentu secara berkelanjutan. PT. PLN (Persero) Rayon Oesao sebagai penyedia layanan listrik di Kabupaten Kupang memiliki standar pelayanan sesuai dengan SPLN 68-2:1986 sebesar 37,8 kali gangguan/tahun dan 247,8 jam gangguan/tahun. Penelitian ini menganalisis tingkat keandalan jaringan distribusi PT. PLN (Persero) Rayon Oesao pada tiga (3) penyulang yaitu penyulang Oesao, penyulang Camplong dan penyulang Buraen. Perhitungan indeks keandalan didasarkan pada perkiraan laju kegagalan (λ) dan perkiraan durasi gangguan(U) tiap komponen terpasang. Dari hasil perhitungan dapat disimpulkan bahwa saluran distribusi PT. PLN (Persero) Rayon Oesao dikategorikan andal sesuai dengan SPLN 68-2:1986 dengan indeks keandalan tertinggi adalah pada penyulang Oesao tahun 2012 yaitu SAIFI=0,68532 kali/gangguan; SAIDI=2,06852 jam/tahun; CAIFI=0,331309 kali/gangguan; CAIDI=3,018327 jam/tahun; ASAI=0,999764 dan ASUI=0,000236. Sedangkan yang terendah pada penyulang Buraen tahun 2017 sebesar SAIFI=15,95456 kali/gangguan; SAIDI=47,92384 jam/tahun; CAIFI=0,332915 kali/gangguan; CAIDI=3,003771 jam/tahun; ASAI=0,994529 dan ASUI=0,005471.
REKONFIGURASI JARINGAN PADA SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH 20 KV PENYULANG NAIONI PT. PLN (PERSERO) ULP KUPANG MENGGUNAKAN PERANGKAT LUNAK ELECTRICAL TRANSIENT ANALYSIS PROGRAM (ETAP) 12.6 Nikolaus M. Tana; Frans Likadja; Wellem F. Galla
Jurnal Media Elektro Vol 8 N0.1 (2019): April 2019
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1390.19 KB) | DOI: 10.35508/jme.v8i1.1441

Abstract

The 20 kV medium Voltage overhead lines of Naioni feeder on PT. PLN (Persero) ULP Kupang system has a feed length of ± 79.825 kms and is the longest of all feeders installed in the ULP Kupang. To minimize the voltage drop and power losses on the Naioni Feeder 20 kV medium Voltage overhead lines (SUTM), network reconfiguration needs to be done including changing the diameter of the conductor, installing a transformer insert and installing a capacitor bank using the help of ETAP software. From the results of the study, before reconfiguration, the voltage drop at the end of the Bus_Trafo KB 082 channel was 0.967 kV and the voltage drop percentage was 4.68% while the total power losses at Naioni Feeder were 20 kV, which were active power losses of 48.062 kW and loss reactive power loss of 25,689 kVAR. Furthermore, after reconfiguring the carrying diameter on the channel that still uses a small diameter of 35 mm2, it will be converted to 70 mm2 on cable 17 that connects the KB 119 Transformer Bus channel to the KB 074 Transformer Bus which is a fairly long distance from all other channels. So that after carrying out the reconfiguration of the conductor diameter, the voltage drop at the end of the Bus Trafo KB 082 channel is 0.844 kV and the voltage drop percentage is 4.24%, while the total power losses in the Naioni Feeder are 20 kV which are active power losses of 41.142 kW and conductor reactive power loss of 25.53 kVAR. Furthermore, after installation of the transformer insert and changing the conductor diameter on cable 17 of 35 mm2 will be changed to 70 mm2 connecting the Transformer Bus Channel KB 119 to the KB 074 Transformer Bus, then the voltage drop at the end of the Bus Trafo KB 082 channel is 0.826 kV and the voltage drop percentage amounting to 4.15% while the total power losses at Naioni Feeder are 20 kV, namely active power losses of39.292 kW and reactive power losses of 24.467 kVAR. And then, if the capacitor bank is installed on the Bus Transformer KB 119 channel bus point to the Bus Trafo KB 074 channel, then the voltage drop at the Bus Trafo KB 082 channel end is 0.891 kV and the voltage drop percentage is 4.47%, while the total power losses are The 20 kV Naioni Feeder is an active power loss of 43.714 kW and a reactive power loss of 22.888 kVAR.
PENJADWALAN OPTIMUM PEMBANGKIT THERMAL MENGGUNAKAN METODE ITERASI LAMBDA STUDI KASUS PADA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP BOLOK Wellem F. Galla; Nursalim Nursalim; Evtaleny Mauboy; fransiskus H Wete
Jurnal Media Elektro Vol 8 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (541.657 KB) | DOI: 10.35508/jme.v0i0.1857

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melakukan penjadwalan optimum pembangkit thermal dengan menggunakan metode iterasi lambda pada PLTU Bolok. Dari hasil penelitian, konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 10 sampai 25 MW dilakukan optimasi dengan pengoperasian 2 unit. Konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 10 sampai 20 MW dilakukan optimasi dengan pengoperasian unit 2 dan unit 3. Konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 25 MW konsumsi bahan bakar minimum dilakukan optimasi pengoperasian unit 3 dan unit 4. Konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 30 MW sampai 40 MW dilakukan optimasi dengan pengoperasian 3 unit. Konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 30 MW dan 35 MW dilakukan optimasi pengoperasian unit 2, 3 dan 4. Konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 40 MW dilakukan optimasi pengoperasian unit 1,3 dan 4. Konsumsi bahan bakar minimum pada simulasi beban 45 sampai 55 MW dilakukan optimasi pengoperasian 4 unit dimana unit 1 paling dominan dalam memikul beban diantara unit lainnya, sedangkan unit 4 paling dominan memikul beban diantara unit lainnya saat beban 55 MW.
ANALISIS PENGATURAN POSISI TAP ON LOAD TAP CHANGER PADA TRANSFORMATOR DAYA 30 MVA 70/20 KV DI GI MAULAFA Agusthinus S. Sampeallo; Wellem F. Galla; Darius M. K. Jala
Jurnal Media Elektro Vol 8 No 2 (2019): Oktober 2019
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.02 KB) | DOI: 10.35508/jme.v0i0.1886

Abstract

ABSTRACT The Maulafa substation is a sub-system in the electrical power distribution system in the city of Kupang, has two transformers of 30 MVA 70/20 kV each equipped with OLTC. OLTC installation aims to obtain a stable secondary voltage value despite the voltage drop on the primary side, this is because the tap changer works by changing the coil ratio in a transformer. The results of calculations and analyzes performed on transformer 1 OLTC, tap position is in position 9, with a voltage range of 20.94 kV at peak load, with a primary voltage of 69.12 kV. For the lowest load, it is in position 9 with a voltage range of 20.85 kV with a primary voltage of 68.81 kV. Whereas for transformer 2 the primary voltage is 69.08 kV for peak load and 68.91 kV for lowest load, being in position 2 for peak load and position 1 for lowest load, with a range of voltage of 21.19 kV and 20 respectively. 88 kV. The OLTC tap position of transformer 1 can still be reduced to position 6 with a voltage range of 20.21 kV for peak loads and 20.11 kV for the lowest loads. Both transformers have the same loading, both peak load and lowest load of 26 MW for peak load and 15 MW for lowest load. ABSTRAK Gardu Induk Maulafa merupakan sub sitstem dalam sistem penyaluran daya listrik yang ada di Kota Kupang, memiliki dua buah transformator masing-masing 30 MVA 70/20 kV yang dilengkapi dengan OLTC. Pemasangan OLTC yang bertujuan untuk mendapatkan nilai tegangan sekunder yang stabil meskipun terjadi drop tegangan pada sisi primer, hal ini dikarenakan tap changer bekerja dengan cara merubah perbandingan lilitan dalam sebuah transformator. Hasil perhitungan dan analisis yang dilakukan pada OLTC transformator 1, posisi tap berada pada posisi 9, dengan jangkauan tegangan 20,94 kV pada saat beban puncak, dengan tegangan primer sebesar 69,12 kV. Untuk beban terendah, berada pada posisi 9 dengan jangkauan tegangan sebesar 20,85 kV dengan tegangan primer sebesar 68,81 kV. Sedangkan untuk transformator 2 tegangan primernya sebesar 69,08 kV untuk beban puncak dan 68,91 kV untuk beban terendah, berada pada posisi 2 untuk beban puncak dan posisi 1 untuk beban terendah, dengan Jangkauan tegangan masing-masing 21,19 kV dan 20,88 kV. Posisi tap OLTC transformator 1 masih bisa diturukan ke posisi 6 dengan jangkauan tegangan sebesar 20,21 kV untuk beban puncak dan 20,11 kV untuk beban terendah. Kedua transformator memiliki pembebanan yang sama, baik beban puncak maupun beban terendah yakni 26 MW untuk beban puncak dan 15 MW untuk beban terendah.
ANALISIS TEGANGAN SALURAN TRANSMISI 70 KV PADA SISTEM TIMOR DENGAN PARAMETER ABCD Wellem F. Galla; Agusthinus S. Sampeallo; Adrianus Lenjo
Jurnal Media Elektro Vol 9 No I (2020): April 2020
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jme.v0i0.2673

Abstract

ABSTRAK Umumnya pada sistem tenaga listrik letak antara pusat pembangkit dengan pusat beban berjauhan. Tenaga listrik biasanya di butuhkan saluran transmisi yang cukup panjang untuk menyalurkan daya listrik ke pusat-pusat beban tersebut. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan Parameter ABCD saluran transmisi untuk menentukan tegangan, arus, faktor daya serta daya yang di kirim dari GI Bolok sampai ke GI Maulafa, GI Naibonat dan GI Nonohonis. Parameter ABCD adalah suatu rangkaian kutub empat yang dapat menggambarkan saluran transmisi karena memiliki dua terminal input dan dua terminal output. Jarak saluran transmisi dari GI Bolok ke GI Maulafa 14.5 kms menggunakan penghantar jenis ACSR HAWK 240 mm2, jarak dari GI Maulafa ke GI Naibonat 35.97 kms menggunakan penghantar ACSR OSTRICH 152 mm2, jarak dari GI Naibonat ke GI Nonohonis 62.29 kms menggunakan penghantar ACSR OSTRICH 152 mm2. Hasil dari penelitian ini, untuk Saluran Bolok –Maulafa VS 69.76 kV dengan VR 68.69 kV, IS dan IR 259 A, PfS dan PfR 0.9, PS 31.27 MW dengan PR 30.07 MW. Saluran Maulafa – Naibonat VS 68.98 kV dengan VR 67.52 kV, IS dan IR 121 A, PfS dan PfR 0.9, PS 14.44 MW dengan PR 14.10 MW. Saluran Naibonat – Nonohonis VS 67.27 kV dengan VR 65.10 kV, IS dan IR 104 A PfS dan PfR 0.9, PS 12.09 MW dengan PR 11.70 MW. Saluran Bolok – Maulafa rugi-rugi daya tiap saluran sebesar 1.11 MW, regulasi tegangan 1.27 % dengan effisiensi saluran 98.14 %. Saluran Maulafa – Naibonat rugi-rugi daya sebesar 0.59 MW, regulasi tegangan 2.16 % dan effisiensi saluran 97.45 %. Saluran Naibonat – Nonohonis rugi-rugi daya sebesar 0.69 MW, regulasi tegangan 3.34 %, dan effisiensi saluran 96.38 %. Dari hasil perhitungan diatas menunjukan bahwa jatuh tegangan berada pada kondisi yang stabil berdasarkan aturan SPLN 1 1978. ABSTRACT Generally in the electric power system, the location between the power plant and the load center is far apart. Electric power usually need transmission line that has long enough line to deliver electrical power to the load centers. This research was using the ABCD Parameters to determine the voltage, current, power factor and power sent from the Bolok Substation to the Maulafa Substation, Naibonat Substation and Nonohonis Substation. The ABCD Parameter is a series of four poles that can describe the transmission line since it has two input ports and two output ports. The distance of the transmission line from Bolok Substation to Maulafa Substation is 14.5 kms using ACSR HAWK type 240 mm2, distance from Maulafa Substation to Naibonat Substation 35.97 kms using ACSR OSTRICH 152 mm2, distance from Naibonat Substation to Nonohonis Substation 62.29 kms using ACSR OSTRICH 152 mm2 152 mm2. The results of this study are Bolok – Maulafa line VS 69.76 kV with VR 68.69 kV, IS and IR 259 A, PfS and PfR 0.9, PS 31.27 MW with PR 30.07 MW. Maulafa – Naibonat line VS 68.98 kV with VR 67.52 kV, IS and IR 121 A, PfS and PfR 0.9, PS 14.44 MW with PR 14.10 MW. Naibonat – Nonohonis line VS 67.27 kV with VR 65.10 kV, IS and IR 104 A, PfS and PfR 0.9, PS 12.09 MW with PR 11.70 MW. Bolok – Maulafa line the power losses in each line are 1.11 MW, voltage regulation is 1.27%, with line efficiency is 98.14%. Maulafa - Naibonat line, the power losses of 0.59 MW, voltage regulation is 2.16%, with line efficiency of 97.45%. Naibonat - Nonohonis line, the power losses of 0.69 MW, voltage regulation is 3.34%, with line efficiency is 96.38%. The above calculation results show that the drop voltage is in a stable state based on the rule SPLN 1 1978.
ANALISIS GANGGUAN HUBUNG SINGKAT PADA SALURAN UDARA 20 KV DI PENYULANG NAIONI PT. PLN (PERSERO) ULP KUPANG UNTUK MENENTUKAN KAPASITAS PEMUTUSAN FUSE CUT OUT MENGGUNAKAN ETAP 12.6 Wellem F Galla; Agusthinus S. Sampeallo; Julian I. Daris
Jurnal Media Elektro Vol 9 No 2 (2020): Oktober 2020
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jme.v0i0.3208

Abstract

Jaringan distribusi di penyulang Naioni sering mengalami gangguan seperti gangguan hubung singkat, maka untuk meminimalisir dampak gangguan tersebut perlu adanya koordinasi antara peralatan proteksi yang terpasang. Salah satu peralatan proteksi yang di gunakan pada jaringan distribusi yaitu Fuse Cut Out (FCO). Fuse Cut Out sendiri adalah pengaman distribusi untuk memproteksi dari gangguan arus lebih akibat terjadinya gangguan hubung singkat. Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan arus gangguan hubung singkat dan rating Fuse Cut Out pada penyulang Naioni Kupang, untuk keperluan koordinasi Fuse Cut Out dengan Fuse Cut Out, apabila terjadi gangguan hubung singkat di jaringan distribusi. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa Arus gangguan hubung singkat terkecil adalah gangguan hubung singkat 1 phasa ke tanah, dengan arus gangguan sebesar 0,524 kA. Arus gangguan hubung singkat terbesar yaitu gangguan hubung singkat 2 phasa ke tanah, dengan arus gangguan sebesar 12,099 kA. Penentuan Fuse Cut Out pada penyulang dihitung berdasarkan SPLN (64 : 1985). Rating Fuse Cut Out yang terpasang pada transformator adalah 2 A , 4 A dan 6A ,sedangkan Fuse Cut Out yang terpasang pada jaringan distribusi dengan kapasitas terkecil yaitu 4 A, dengan arus beban maximum 1,44 A, sedangkan Fuse Cut Out dengan kapasitas terbesar yaitu 200 A dengan arus beban maximum 111,66 A. Koordinasi antara Fuse Cut Out dengan Fuse Cut Out pada jaringan distribusi Penyulang Naioni, apabila terjadi gangguan hubung singkat maka zona pemutusan Fuse Cut Out terdiri dari zona tingkat satu, zona tingkat dua, zona tingkat tiga. Dengan waktu pemutusan dari 0,0001 s sampai 0,114 s dan gangguan hubung singkat yang terjadi sebesar 0,480 kA sampai 5,753 kA.
ANALISIS RUGI DAYA DI PENYULANG OEBUFU PT. PLN (PERSERO) ULP KUPANG MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA Agusthinus S. Sampeallo; Wellem F. Galla; Dhanang H. L. Rohi
Jurnal Media Elektro Vol 10 No 1 (2021): April 2021
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jme.v0i0.3762

Abstract

The distribution system has a very important role in distributing electrical energy to costumers. Power quality in distribution system can affect the flow of electric distribution. Increase of electrical power demand can affect to power distributing quality like power losses, voltage drop and lower power factor. Load increasing make a reactive current can be up when flow in high resistance conductor as an effect. Installation of capacitor in distribution system is a one of the most efficient method to power losses pressure. This study discusses the optimization of capacitors location and capacity. Genetic algorithm is using as an optimization method. Backward-Forward Sweep Method to be the method of power flow analysis before and after instalation of capacitors to see their effect. Result of genetic algorithm will compare with manual calculation of choosing capacitors to know how effectively of genetic algorithm. This scheme is tested in Feeder Oebufu on 20 kV distribution system under PT. PLN (Persero) ULP Kupang operation. The test divided into 4 case included: before installation, placement of 1 capacitor, 2 capacitors, and 3 capacitors. Best result got in 3 capacitors simulation. Before installastion of capacitor, the power losses is 771,9928 kW, voltage minimum is 0,9842 pu, and power factor is 0,91257. Placement of 3 capacitors on bus 131 127, and 64 decrease a total power losses to be 31,164 kW, in other hand increase voltage profile around bus locations and power factor to be 0,99257.