Setiap mahasiswa pada saat memahami atau menyelesaikan masalah matematikamemerlukan waktu atau strategi penyelesaikan yang berbeda. Menurut Polya, tahap dalam menyelesaikan masalah terdiri dari 4 tahap yaitu: memahami masalah, merencanakan masalah, menyelesaikan masalah dan mengecek kembali jawabannya. Pemecahan masalah sangat erat kaitannya dengan intuisi. Kognisi intuitif atau intuisi dijelaskan oleh Fischbein (1987) sebagai kognisi yang secara subjektif kebenarannya terkandung di dalamnya, dapat diterima dengan sendirinya dan secara langsung, holistik, penggiringan dan pemerkiraan. Kognisi intuitif berbeda dengan kognisi secara analitik. Penjelasan kebenaran suatu pernyataan karena harus membuktikan merupakan kognisi yang bersifat analitik, tetapi kebenaran yang munculnya secara subjektif dan diterima secara langsung (tanpa pembuktian secara formal) merupakan kognisi secara intuitif. Bila diperhatikan, bahwa banyak siswa pandai dalam memecahkan soal matematika sering menggunakan cara-cara yang cerdas di luar dugaan dan kebiasaan, sehingga memberikan jawaban yang singkat dan akurat. Sebaliknya pada siswa-siswa yang mempunyai kemampuan matematika sedang atau rendah, cara yang digunakan untuk memecahkan soal, cenderung memberikan jawaban yang panjang lebar dan terkadang kurang akurat, bahkan banyak siswa yang kemampuan matematikanya rendah mengalami kesulitan untuk menemukan cara dalam memecahkan masalah matematika. Hal tersebut menunjukkan ada kaitan antara kemampuan matematika yang dimiliki siswa dengan intuisi yang digunakan siswa dalam memecahkan masalah matematika.Beberapa karakteristik berpikir intuitif yangcenderung digunakan mahasiswa dalam menyelesaikan masalah matematika antara lain: (1) direct, self-evident, (2) intrinsic certainty, (3) perseverance dan coerciveness, (4)Â extrapolativeness, (5)global (globality)dan implisit (implicitness). Pada setiap menyelesaikan masalah matematika dari memahami masalah sampai memeriksa kembali jawaban, ada sebagian mahasiswa yang memilki intuisi dan ada juga mahasiswa yang tidak memilki intuisi.