Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Pengaruh Ketidakamanan Kerja terhadap Stres Kerja yang Dimoderasi oleh Resiliensi Psikologis pada Karyawan SPBU di Makassar Aisya Ramadhani; Andi Risfan Rizaldi; M. Yusuf K.
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11128

Abstract

Karyawan SPBU menghadapi tekanan kerja yang kompleks, mulai dari tuntutan pelayanan pelanggan yang tinggi, risiko keselamatan kerja, sistem shift yang panjang, hingga status kerja kontrak yang menimbulkan ketidakamanan kerja (job insecurity). Kondisi ini berpotensi memicu stres kerja, meskipun tidak semua karyawan meresponnya dengan cara yang sama, sehingga diduga terdapat peran resiliensi psikologis sebagai faktor pelindung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ketidakamanan kerja terhadap stres kerja yang dimoderasi oleh resiliensi psikologis pada karyawan SPBU di Kota Makassar. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode explanatory research. Sampel penelitian berjumlah 96 responden yang diambil menggunakan teknik accidental sampling dari 34 SPBU yang beroperasi di Kota Makassar di bawah naungan PT. Anugerah Fitrah Hidayat. Data dikumpulkan melalui kuesioner dengan skala Likert 1-5, kemudian dianalisis menggunakan Moderated Regression Analysis (MRA) dengan bantuan SPSS versi 26, setelah sebelumnya dilakukan uji validitas, uji reliabilitas, dan uji asumsi klasik (normalitas, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketidakamanan kerja berpengaruh negatif dan signifikan terhadap stres kerja, dengan nilai koefisien regresi sebesar -1,112 dan signifikansi 0,001 < 0,05. Resiliensi psikologis terbukti secara signifikan memoderasi hubungan tersebut, dengan nilai koefisien interaksi sebesar -0,090 dan signifikansi 0,001 < 0,05. Nilai R Square Model 3 sebesar 0,559 menunjukkan bahwa 55,9% variasi stres kerja dapat dijelaskan oleh variabel dalam model penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa resiliensi psikologis berperan penting sebagai psychological buffer yang memperlemah dampak ketidakamanan kerja terhadap stres kerja karyawan SPBU di Makassar, sehingga penguatan resiliensi dapat menjadi strategi intervensi yang efektif bagi manajemen SPBU.
Eksplorasi Strategi Coping pada Perawat Perempuan dengan Beban Kerja Tinggi: Studi pada Perawat UGD Puskesmas Tinggimoncong Malino Nurfadillah Nurfadillah; Andi Risfan Rizaldi; A. Tenri Syahriani
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi strategi coping yang digunakan oleh perawat perempuan dalam menghadapi beban kerja tinggi di Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Tinggimoncong Malino, dengan fokus pada emotional disclosure sebagai mekanisme coping. Perawat UGD menghadapi berbagai tuntutan pekerjaan yang kompleks, meliputi tekanan fisik, mental, dan emosional akibat kondisi pasien yang tidak dapat diprediksi, tuntutan pelayanan yang cepat, keterbatasan tenaga kesehatan, serta tekanan dari keluarga pasien. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan stres kerja dan memengaruhi kesejahteraan psikologis perawat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk memahami pengalaman hidup (lived experiences) perawat perempuan dalam menghadapi tekanan kerja tersebut. Informan penelitian terdiri atas tiga perawat perempuan yang bertugas di UGD Puskesmas Tinggimoncong Malino dan dipilih secara purposive sesuai dengan kriteria penelitian. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan tahapan analisis fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beban kerja yang tinggi menimbulkan berbagai respons emosional seperti stres, kelelahan, kecemasan, dan tekanan psikologis. Untuk mengatasi kondisi tersebut, perawat perempuan memanfaatkan emotional disclosure dengan cara berbagi cerita, mengungkapkan perasaan, dan menceritakan pengalaman kerja kepada rekan kerja, suami, keluarga, maupun orang terdekat yang dipercaya. Praktik ini membantu perawat memperoleh dukungan sosial, mengurangi beban emosional, serta meningkatkan kemampuan adaptasi terhadap tekanan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa emotional disclosure merupakan mekanisme coping yang efektif dalam membantu perawat perempuan menjaga keseimbangan emosional dan kesejahteraan psikologis di tengah tingginya tuntutan kerja di lingkungan UGD.