Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Kajian Teknis dan Ekonomis Pengolahan Briket Bungkil Biji Jarak Pagar Sebagai Bahan Bakar Tungku Djajeng Sumangat; Wisnu Broto
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bungkil biji jarak pagar merupakan limbah hasil pengempaan biji jarak pagar yang dapat dimanfaatkan menjadi briket sebagai bahan bakar tungku. Tujuan dari penelitian ini adalah mendapatkan jenis dan konsentrasi perekat yang sesuai untuk briket bungkil dan menentukan keragaan briket bungkil biji jarak pagar sebagai bahan bakar serta mengkaji kelayakan ekonomisnya sebagai bahan bakar pengganti minyak tanah. Pembuatan briket melalui tahapan penggilingan bungkil dan pengayakan 40 mesh, pencampuran dengan perekat, pencetakan dan pengeringan dengan oven (60oC, 24 jam). Perlakuan yang diuji adalah (A) jenis perekat (A1= tapioka dan A2= tepung gaplek) dan (B) konsentrasi perekat (B1=1%, B2=2%, B3=3%, B4= 4% dan B5= 5%). Rancangan percobaan faktorial acak lengkap dengan tiga ulangan. Pengamatan pada briket meliputi kadar air, minyak, abu, zat menguap, nilai kalor, ketahanan tekan dan kerapatan (densitas). Pengujian keragaan briket meliputi uji pembakaran dengan parameter laju pembakaran dan warna nyala api. Analisis ekonomi terhadap briket mencakup perhitungan harga jual briket dan kelayakannya sebagai bahan bakar untuk mensubstitusi minyak tanah. Hasil penelitian menunjukkan, penggunaan tapioka dan gaplek sebagai perekat briket bungkil biji jarak tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter uji kecuali pada kadar air. Sedangkan konsentrasi perekat tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap semua parameter uji. Perekat tapioka pada konsentrasi 4% memberikan hasil yang terbaik pada kadar air, keteguhan tekan dan rata-rata laju pembakaran. Lama menyala rata-rata briket sampai menjadi abu adalah 131 menit dengan warna nyala api kekuningan.
PERAN TEKNOLOGI PENANGANAN PASCAPANEN DI SENTRA PRODUKSI MANGGA Wisnu Broto
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 2 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangga (Mangifera indica L.) merupakan komoditas unggulan hortikultura yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai industri hortikultura yang dapat diandalkan dan berperan aktif dalam meningkatkan dinamika perekonomian perdesaan. Potensi tersebut tergambar dari ragam varietas unggul mangga telah dilepas oleh Menteri Pertanian dan produksi serta produktivitasnya yang mampu memenuhi permintaan konsumen baik domestik maupun luar negeri. Kendala yang harus ditangani dalam agribisnis mangga disamping kontinuitas pasokan juga konsistensi mutu buah mangga. Kontinuitas pasokan dapat dicapai manakala pembangunan dan pembenahan kawasan mangga dikelola secara profesional dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Konsistensi mutu dapat dijamin melalui penerapan Good Agriculture Practices (GAP) dan dilanjutkan dengan penerapan Good Handling Practices (GHP) serta tatacara penerapan praktek penanganan yang baik hingga buah mangga tersebut sampai di tangan konsumen. Standar mutu untuk masing-masing varietas unggul buah perlu ditetapkan yang mengarah kepada indikasi geografis dari buah mangga unggulan. Peran teknologi penanganan pascapanen menjadi strategis dan sarana penting yang diperlukan di kawasan mangga untuk pelaksanaan GHP guna menjamin konsistensi mutu buah mangga sehingga agribisnis buah mangga memiliki daya saing yang tangguh baik secara nasional maupun internasional.
Studi Kandungan Residu Pestisida pada Kubis, Tomat dan Wortel Di Malang dan Cianjur S Joni Munarso; nFN Miskiyah; Wisnu Broto
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 5, No 1 (2009): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pestisida dipercaya dapat menurunkan populasi hama dengan cepat sehingga meluasnya hama dapat dicegah. Pestisida pada tanaman dapat terserap tanaman dan terbawa oleh hasil panen berupa residu yang dapat terkonsumsi oleh konsumen lewat makanan. Residu pestisida menimbulkan efek yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan gangguan kesehatan berupa gangguan pada sistem syaraf serta metabolisme enzim. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui insiden residu pestisida pada sayuran kubis, tomat, dan wortel di Malang, Jawa Timur dan Cianjur, Jawa Barat. Metode penelitian yang dilakukan bersifat survai. Contoh diambil secara acak, dari petani, pedagang, dan pasar swalayan, di Malang dan Cianjur masing-masing 3 contoh. Contoh kemudian diambil secara komposit sebanyak 2 kg, kemudian dimasukkan kedalam ice box, dan dibawa segera ke laboratorium untuk dianalisis kadar residu pestisida menggunakan Gas Chromatography (GC). Untuk ucuan uji digunakan 17 jenis bahan aktif pestisida dari 3 golongan organoklorin, organofosfat, dan karbamat. Data hasil analisis kemudian diinterpretasikan, dan angka yang diperoleh dibandingkan dengan standar Batas Maksimum Residu pestisida yang tercantum dalam SNI 7313:2008, dan disajikan secara deskriptif. Hasil analisis residu pestisida pada kubis menunjukkan bahwa bahan aktif endosulfan dominan ditemukan pada contoh kubis baik yang berasal dari Malang maupun Cianjur, dengan kandungan residu pestisida tertinggi 7,4 ppb yang dianalisis dari contoh yang diambil dari petani di Cianjur. Residu lain yang terdeteksi antara lain pestisida yang mengandung bahan aktif klorpirifos, metidation, malation, dan karbaril. Contoh wortel yang dianalisis menunjukkan bahwa bahan aktif endosulfan juga dominan pada contoh wortel baik yang diambil dari Malang maupun Cianjur dengan kadar tertinggi 10,6 ppb. Sedangkan bahan aktif lain yang terdeteksi antara lain klorpirfos, metidation, dan karbofuran.
PENGARUH KEMASAN TERHADAP KUALITAS DADIH SUSU SAPI Miskiyah (Miskiyah); Wisnu Broto
Buletin Peternakan Vol 35, No 2 (2011): Buletin Peternakan Vol. 35 (2) Juni 2011
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v35i2.596

Abstract

Dadih is a traditional dairy product obtained from a fermentation of buffalo milk and usually packed using bamboo. The usage of bamboo for dadih packaging has limitation in transportation and storage life. This study aimed to examine the effect of packaging material to dadih quality produced from cow milk during storage. Experimental design used at this study was Completely Randomized Design with Factorial pattern (7 x 7). The first factor is packaging material that are bamboo; cup plastic pp; flexypack packaging; clay; flexypack packaging (with evacuation from bamboo); clay (with evacuation from bamboo); cup plastic pp (with evacuation from bamboo). The second factor is storage time (0, 4, 8, 12, 16, 20, and 24 days). Result showed that best packaging to cow milk dadih is flexypack and cup plastic pp. Cow milk dadih that was packed in flexypack and cup plastic pp had storage life up to 24 days at cold temperature (refrigerator). From the perspective of economic, cup plastic pp packaging showed most efficientpackaging. Characteristic of cow milk dadih packaged in cup plastic pp were total of titratable acid 1,60%; pH 3,88; viscocity 351,43 cPs; total solid 14,75%; water content 85,25%; ash content 0,90%; protein content 2,43%; fat content3,68%; total of lactic acid bacteria (LAB) at 8 x 1011 CFUs/g. Total LAB at dadih packaged in other kinds of packaging were >108 CFUs/ml. Organoleptic test showed that cup plastic pp packaging had excellence in tidiness attribute andconsumption amenity. Meanwhile, curd of dadih packaged in bamboo and flexypack had excellent at color and aroma. Clay packaging had excellence in mouthfell and texture. In general, the first priority of dadih choosen by panelist was cow milk dadih packed in clay packaging, bamboo treatment to flexypack packaging, and bamboo treatment to cup plastic pp.(Keyword: Dadih, Packaging, Quality)
PENGARUH PENCELUPAN DALAM LARUTAN BENOMYL TERHADAP KESEGARAN CABAI (Capsicum annum L. var. Kencana) PADA PENYIMPANAN SUHU RENDAH DAN RUANG Dondy A Setyabudi; Wisnu Broto; Irpan Badrul Jamal
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 13, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v13n2.2016.53-62

Abstract

Potensi kerusakan dan kehilangan hasil cabai sangat tinggi mencapai 20-30% sebelum sampai konsumen. Tujuan penelitian ini mempertahankan kesegaran cabai Kencana melalui pencelupan GA3 dan benomyl pada penyimpanan suhu rendah dan suhu ruang. Cabai Kencana pada tingkat ketuaan 95-98 hari setelah tanam dipanen sore hari di wilayah Kawali, Ciamis, Jawa Barat pada Oktober- November 2013. Cabai yang diperoleh diangkut ke Laboratorium Pengembangan BB-Pascapanen menggunakan mobil berpendingin. Cabai disortasi terhadap warna seragam, bentuk, ukuran, selanjutnya dilakukan pencelupan ke dalam larutan GA3 dan benomyl. Ditiriskan, hingga kering-angin, dikemas dalam plastik berporforasi dan disimpan pada suhu ruang 27-30 oC dan suhu rendah 10 ± 1 oC. Setiap dua hari diamati terhadap kriteria kesegarannya; kadar air, susut bobot, capsaicin, kadar vitamin C, ada-tidaknya mycellium, dan ciri fisik segarnya. Penelitian menggunakan rancangan acak tersarang dengan tiga kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cabai Kencana yang dilakukan pencelupan dalam GA3 10 ppm dan benomyl 5 ppm pada penyimpanan suhu rendah 10 ± 1 oC hingga hari ke-14 masih segar sebagaimana saat pemanenan. Penyimpanan cabai Kencana menggunakan GA3 10 ppm dengan benomyl 5 ppm dan pengemasan dalam plastik polietilen berlubang 8 merupakan teknologi terbaik untuk mempertahankan kesegarannya. Karakteristik kesegaran cabai Kencana pada hari ke-14; kadar air 80,33%, susut bobot 1,17%, capsaicin 268,8 ppm, kadar vitamin C 81,70 mg/100 g, tangkai buah berwarna hijau, buah cabai masih keras-tidak layu, dan tidak bermycellium.
The pH and Hedonic of Chicken Steak Cooked with Seasoning Contains Cashew Apple Extract Wisnu Broto; V Priyo Bintoro; Ghassani Ardan Setiawan; Sri Risdhiyanti Nuswantari; Siti Susanti
Journal of Applied Food Technology Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Dept. Food Technology, Faculty of Animal and Agricultural Sciences, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17728/jaft.10121

Abstract

Cashew apple utilization is less than the cashew itself, due to the cheaper price and therefore often ends up as waste. Extract cashew apple can be applied in chicken steak for marinating as an innovation in food seasoning sauce. This study aims to determine the panelist’s preference for chicken steak marinating with commercial seasoning sauce and marinating with a seasoning sauce that contains cashew apple extract (CAE) on different concentrations of seasoning solution. There were 5 levels of treatment, control treatment (T0) using 40% (v/v) concentration of commercial seasoning, T1, T2, T3, and T4 consecutively using seasoning concentrations 20%, 40%, 60%, and 80% (v/v). The pH of the samples was evaluated with a pH meter, meanwhile, the hedonic test was used to evaluate the preference of the samples. The result showed that the levels of seasoning concentration affected the pH and panelist preference with hedonic assessment over 5 parameters (tenderness, juiciness, taste, aroma, and overall). The increasing seasoning concentration gives more acidic properties indicated by 4,58 pH of. The hedonic assessment showed 60% concentration of seasoning is preferred.
IDENTIFIKASI MUTU FISIK JAGUNG DENGAN MENGGUNAKAN PENGOLAHAN CITRA DIGITAL DAN JARINGAN SYARAF TIRUAN Agus Supriatna Somantri; miskiyah miskiyah; Wisnu Broto
JURNAL STANDARDISASI Vol 10, No 3 (2008): Vol. 10(3) 2008
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v10i3.630

Abstract

Physical quality factors are the main problems in the dried seed corn production. Determination of physical qualityis usually carried out visually by the persons who have expertise related to their experiences. This method isexhaustive and imprecise since it is influenced by human fatigue. The objective of this research is to identify thephysical quality of seed corn by using the digital image processing and artificial neural network (ANN). The imageof seed corn was taken by using digital camera and processed by image processing program. ANN model wasdeveloped with 10 input parameters, 20 hidden layers and 4 targets. The fourth targets were whole seed,damaged seed, broken seed and mouldy seed. The accuracy of the model was 95%.
Pendugaan tingkat keamanan jagung dengan menggunakan pengolahan citra digital dan jaringan syaraf tiruan Agus Supriatna Somantri; Miskiyah Miskyah; Wisnu Broto
JURNAL STANDARDISASI Vol 11, No 1 (2009): Vol. 11(1) 2009
Publisher : Badan Standardisasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31153/js.v11i1.5

Abstract

Food security is the main problem in food production in Indonesia. One of the reason that the food from corn is not safe to be consumed caused by contaminated by aflatoxins which produced by fungi. Determination of food contaminants is usually carried out by laboratory analysis. This method is very expensive and need a lot of time. The objective of the research was to predict the security of corn due to aflatoxin contaminant by using image processing and artificial neural network (ANN). The image of seed corn was taken by using digital camera and processed by image processing program. ANN model was developed with 10 input parameters, 20 hidden layers and 4 targets. The targets of safety levels was four such as very safe, safe, less safe and not safe. The accuracy of the model was 74%.
Rancang Bangun Pengoptimalan Pada Pertumbuhan Tanaman Bawang Putih Memanfaatkan Sinar Matahari Dan Sinar Ultraviolet Berbasis Arduino Uno Wisnu Broto; Hasbi Nur Rahman , Muhammad
Prosiding Seminar Nasional Universitas Ma Chung (Informatika & Sistem Informasi Bahasa dan Seni
Publisher : Ma Chung Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman bawang Putih merupakan tanaman yang memerlukan panas cahaya matahari 14-16 jam, sedangkan Indonesia lama sinar matahari tidak lebih dari 12 jam. Sehingga dapat mempengaruhi pertumbuhan dari bawang putih. Oleh karena itu untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan penyinaran agar dapat meningkatkan dimensinya. Lampu LED UV dapat digunakan untuk menambah lama penyinaran pada tanaman bawang putih. Percobaan penyinaran tanaman bawang putih dilakukan pada greenhouse dengan media tanam tanah yang dicampur sekam. Perlakuan lama penyinaran dengan sinar matahari dan sinar ultraviolet yang digunakan yakni 16 jam, dengan intensitas cahaya yang berbeda yakni, redup (400 – 450 lux), sedang (700 – 750 lux) dan terang (800 – 850 lux). Parameter pertumbuhan tanaman bawang putih yang diukur selama 12 minggu adalah tinggi tanaman dan jumlah daun. Pengontrolan pencahayaan dalam greenhouse menggunakan LED UV dengan panjang gelombang merah (660 nm) dan biru (450 nm). Dimana menghasilkan tanaman bawang putih dengan tinggi daun dan jumlah daun intensitas redup (35,90 ~ 36,80 cm dan 9 helai), intensitas sedang (43,40 ~ 44,30 cm dan 9 helai), intensitas terang (38,00 ~38,90 cm dan 8 helai), dan tanpa lampu (37,80 ~ 38,70 cm dan 8 helai).Dimana hasil bawang putih setelah panen menghasilkan dimensi dengan intensitas cahaya redup (28 mm, berat 4 gr, dan jumlah suing 10 buah), intensitas cahaya sedang (37 mm, berat 6 gr, dan jumlah siung 10 buah), intensitas cahaya terang (34 mm, berat 5 gr, dan jumlah siung 10 buah) dan tanpa lampu (24 mm, berat 3 gr, dan jumlah siung 8 buah).