Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Forms and Types of Literacy on Social Media Tiktok in Increasing Civic Literacy for FPIPS UPI Students Dewi Angel Simanjuntak; Karim Suryadi; Syaifullah Syaifullah
Jurnal Civicus Vol 23, No 1 (2023): JURNAL CIVICUS, JUNE 2023
Publisher : Department of Civic Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/civicus.v23i1.50023

Abstract

Media sosial TikTok merupakan media sosial populer yang popularitasnya semakin meningkat mulai tahun 2019-2022. Selain itu, media sosial TikTok juga mendukung pencapaian gerakan literasi nasional. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji bentuk-bentuk literasi dan jenis-jenis literasi di media sosial TikTok yang dapat mengasah kemampuan literasi audiens terhadap isu-isu sosial. Sehingga penelitian ini akan dikaji berdasarkan perspektif pendidikan kewarganegaraan dan ilmu komunikasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode deskriptif, yaitu metode penelitian yang memudahkan peneliti menemukan fakta-fakta baru di lapangan secara faktual untuk dianalisis dan disajikan guna memberikan informasi yang akurat, menyeluruh, dan berimbang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk literasi pada media sosial TikTok yang menarik minat audiens dan dapat meningkatkan intensitas penggunaannya adalah literasi audio visual. Sedangkan jenis literasi yang dapat menunjang literasi mahasiswa FPIPS terhadap permasalahan sosial antara lain: 1) Literasi membaca dan menulis; 2) literasi numerasi; 3) literasi media; 4) literasi informasi; 5) literasi digital; 6) literasi budaya dan kewarganegaraan; 7) literasi sains; dan 8) literasi keuangan. Penelitian ini bersifat temporal karena berkaitan dengan penggunaan media sosial yang dibatasi oleh waktu.
Peranan Pemuda dalam Mewujudkan Partisipasi Politik yang Inklusif Apriya Maharani Rustandi; Karim Suryadi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.154 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v7i6.7922

Abstract

Suatu demokrasi yang inklusif dapat dijalankan jika adanya keterwakilan dari setiap kelompok, salah satunya pemuda. Peneliti melakukan analisis untuk menelaah penguatan peranan pemuda dalam memproses sebuah peningkatan partisipasi politik yang inklusif. Peneliti melakukan penelitian dengan maksud menggali permasalahan dalam menganalisis stigma adanya pemuda oligarki dan pemuda anarkis sehingga mengurangi peranan dari pemuda melalui pendekatan kualitatif yakni wawancara, observasi dan studi pustaka dengan mendalami artikel nasional atau artikel internasional dengan tujuan menggali peranan pemuda dalam mewujudkan partisipasi politik yang inklusif. Hasil tinjauan ini menunjukkan bahwa pemuda kritis dan partisipatif sangat diperlukan penguatan partisipasi politik yang inklusif oleh kemitraan strategis antara seluruh komponen masyarakat, badan pemerintah, otoritas hukum, para wakil dan anggota organisasi lainnya untuk pemberdayaan pemuda. Penelitian ini memberikan titik acuan yang tepat untuk diteliti lebih lanjut dengan mengidentifikasi eksistensi pemuda kritis dan partisipatif sebagai upaya menguatkan partisipasi politik yang inklusif.
Unveiling Utopian Civic Engagement: Empowering Digital Natives through Digital Literacy for a Better Future Deni Zein Tarsidi; Karim Suryadi; Dasim Budimansyah; Rahmat Rahmat
IJRAEL: International Journal of Religion Education and Law Vol 2, No 2 (2023): August 2023
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/ijrael.v2i2.681

Abstract

This study aims to uncover the potential of empowering digital natives through digital literacy to strengthen utopian civic engagement for a better future. The research methodology employed in this study is grounded theory, with data collected through in-depth interviews with 15 digital natives respondents in Bandung, Indonesia. The collected data was then analyzed using NVivo version 12 Plus for Macbook software. The study's findings indicate that digital literacy promotes positive social media use and enhances digital natives' civic engagement. Digital natives with high digital literacy tend to have greater social and political awareness, enabling them to identify and address complex social issues through active participation in online discussions and actions. Furthermore, digital literacy helps shape their civic identity and a sense of belonging to online communities. The conclusion of this research provides a deeper understanding of the potential for empowering digital natives through digital literacy for utopian civic engagement.
Konstruksi Pembelajaran Pendidikan Pancasila Berbasis Pendekatan Brain-Based Learning dalam Mewujudkan Iklim Belajar yang Menyenangkan Siska Damayanti; Karim Suryadi
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 1 Februari (2024): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.367

Abstract

Pendidikan Pancasila memegang peran cukup sentral dalam pembentukan generasi muda Indonesia, namun seringkali dihadapkan pada tantangan dalam peminatan dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada pemahaman bahwa metode pengajaran konvensional cenderung kurang menarik dan tidak memadai untuk mencapai tujuan pendidikan yang holistik. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi dan menerapkan konstruksi pembelajaran Pendidikan Pancasila berbasis pendekatan Brain-Based Learning guna menciptakan iklim belajar yang tidak hanya mendidik, tetapi juga menyenangkan. Riset ini adalah kualitatif dengan metode deksriptif, analisis data dilakukan dengan pengumpulan, reduksi, display data, serta penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendekatan Brain-Based Learning secara efektif meningkatkan minat, keterlibatan, dan pemahaman siswa terhadap materi Pendidikan Pancasila. Pembelajaran yang tidak hanya informatif, tetapi juga menyenangkan, menciptakan suasana kelas yang dinamis dan merangsang perkembangan kognitif, afektif, serta psikomotorik siswa. Implikasi dari temuan ini dapat mendukung perbaikan kurikulum dan pedagogi pembelajaran Pendidikan Pancasila, serta menyumbang pada pengembangan strategi pembelajaran inovatif untuk memenuhi tuntutan pendidikan abad ke-21. Penelitian ini memberikan kontribusi positif terhadap pemahaman lebih mendalam mengenai integrasi pendekatan pembelajaran berbasis otak dalam konteks nilai-nilai kebangsaan.
Konstruksi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Berbasis Inclusive Citizenship Untuk Memenuhi Hak Politik dan Memberdayakan Difabel Agil Nanggala; Karim Suryadi
Didaktika: Jurnal Kependidikan Vol. 13 No. 1 Februari (2024): Didaktika Jurnal Kependidikan
Publisher : South Sulawesi Education Development (SSED)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58230/27454312.402

Abstract

Konstruksi pembelajaran PKn pada perguruan tinggi berbasiskan inclusive citizenship untuk memenuhi hak politik dan memberdayakan difabel, adalah paradigma baru, inovasi, dan aksi integratif, dalam mengatasi diskriminasi difabel yang kompleks, karena kajian PKn begitu holistik serta relevan untuk civic equality difabel, melalui pemenuhan hak politik dan pemberdayaannya, terlebih prinsip inclusive citizenship adalah spirit inklusivitas dan kesetaraan pada praktik kewarganegaraan, dan untuk penguatan civic competence milik mahasiswa. Riset ini berbasis pendekatan kualitatif, dengan metode studi literatur, analisis data, yaitu, reduksi, display, dan verifikasi. Hasil riset yaitu: 1) PKn selaku civic education, adalah wahana strategis untuk memberikan pemahaman holistik, elaboratif, valid, dan konstruktif, mengenai keunggulan dan jaminan hukum difabel, termasuk memberi pemahaman utuh, atas visi, konsep, model, juga praktik PKn pada perguruan tinggi, yang relevan dan kapabel mengatasi stereotip ableisme yang diskriminatif dan menjadi upaya akademik pemenuhan hak politik dan pemberdayaan difabel. 2) PKn selaku citizenship education, adalah wahana strategis pemenuhan hak politik dan pemberdayaan difabel, selaku praktik PKn langsung dimasyarakat, dengan melibatkan mahasiswa dan menjadikan difabel selaku subjek pembelajaran, sehingga mencerminkan civic philantrophy, civic virtue, civic movement, civic empowerment, civic engagement, serta service learning, maka menjadi aksi nyata, integratif, dan kolaboratif mewujudkan civic equality difabel dan civic competence mahasiswa. Kesimpulan, yaitu, realisasi konstruksi pembelajaran PKn di perguruan tinggi inclusive citizenship untuk memenuhi hak politik dan memberdayakan difabel, selaku novelty riset, yaitu, 1) literature review dan identifikasi masalah difabel, 2) pembagian deskripsi kerja, 3 validasi dosen pengampu, 4) penjajakan kolaborasi, 5) realisasi citizenship education, 6) evaluasi juga tindak lanjut, serta 7) civic campaign.
Pendidikan Kewarganegaraan dalam Program Sekolah Ramah Anak: Kajian Literatur Terhadap Hubungan dengan Pencegahan Bullying Siska Damayanti; Karim Suryadi; Sri Wahyuni Tanszhil
Widya Wacana: Jurnal Ilmiah Vol. 19 No. 1 (2024): Jurnal Widya Wacana
Publisher : UNIVERSITAS SLAMET RIYADI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/jww.v19i1.10186

Abstract

Civic Education plays a crucial role in shaping students' character and has a positive impact on the school environment. This research aims to reflect on the relationship between the implementation of Civic Education in child-friendly school programs and efforts to prevent bullying. The study aims to analyze the extent to which the integration of Civic Education in child-friendly schools can contribute to reducing bullying behavior among learners. This research is based on a qualitative approach, using the literature review method. The literature review was conducted through the analysis of scholarly papers, books, and relevant documents highlighting the role of Civic Education in character development, the promotion of citizenship values, and its connection to bullying prevention in the school environment. The results of the study indicate that the correlation between civic education and efforts to prevent bullying can be observed in various aspects, including goals, curriculum content, and the approaches and strategies of Civic Education teaching methods. Civic Education in the context of Child-Friendly Schools can help shape positive character and prevent bullying behavior. Keywords: Civic Education, Child-Friendly School, Bullying.
Exploring School-Based Civic Engagement for Enhancing Life Satisfaction in the Baduy Indigenous Community Rizal Fahmi; Karim Suryadi; Siti Nurbayani K; Asep Mahpudz
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 17, No 4 (2025): DECEMBER 2025
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v17i4.7905

Abstract

Life satisfaction is a critical indicator of democratic governance, reflecting citizens’ well-being and their active participation in societal development. However, prior studies often emphasize government responsibility, neglecting the role of citizen-driven initiatives—particularly in Indigenous contexts such as the Baduy community in Indonesia. This study adopts a narrative literature review method to examine the potential of school-based civic engagement in enhancing life satisfaction among the Baduy people. Relevant peer-reviewed articles published between 2015 and 2024 were sourced from Scopus, ScienceDirect, DOAJ, and Google Scholar. The selection process involved screening, eligibility assessment, and thematic synthesis of 27 studies focused on civic engagement, life satisfaction, and Indigenous well-being. The findings suggest that civic engagement, facilitated through educational institutions, fosters community participation, social cohesion, and cultural preservation. In Indigenous contexts, such as the Baduy community—renowned for their local wisdom, ecological values, and self-reliance—civic practices aligned with traditional norms can enhance subjective well-being. Engagement models involving collaborative education, service learning, and institutional partnerships emerged as promising strategies. School-based civic engagement offers a culturally responsive and sustainable alternative to state-centric development approaches. For the Baduy, integrating civic values into education may strengthen communal identity while promoting life satisfaction. These insights underscore the need for inclusive civic education models tailored to Indigenous contexts, with implications for policymakers, educators, and future research.
The sociocultural basis of Indonesian philanthropy: Keeping citizens willing to share amid a pandemic Iqbal Arpannudin; Karim Suryadi; Elly Malihah; Leni Anggraeni
Jurnal Civics: Media Kajian Kewarganegaraan Vol 18, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jc.v18i2.44155

Abstract

This article aims to dig deeper into the concept of Indonesian philanthropy in dealing with the pandemic seen from the social base of the Indonesian people. This study uses a qualitative approach with the grounded theory method. This research results show a collective awareness of Durkheim's understanding that characterizes mechanical solidarity; in the case of philanthropy in Indonesia, it is at the intersection of mechanical and organic solidarity. The strengthening of generosity can be explained from the theory of social facts that there are non-material social facts that shape the spirit of the Indonesian people's philanthropic movement, namely generosity and collective awareness that characterize mechanical solidarity in rural areas that occurs in modern society with organic solidarity.
MODEL PEMBELAJARAN DEMOKRASI SUBSTANTIF DINAMIS DALAM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN UNTUK MENINGKATKAN KESADARAN POLITIK PEMUDA Apriya Maharani Rustandi; Cecep Darmawan; Karim Suryadi; Syaifullah
Jurnal Moralita : Jurnal Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Vol. 7 No. 1 (2026): April
Publisher : Program Studi Pendidikan dan Kewarganegaraan FKIP, Universitas Simalungun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/hx7vea31

Abstract

Pemuda merupakan salah satu elemen penting dalam pembangunan bangsa, khususnya dalam ranah politik. Namun, partisipasi politik pemuda sering kali dipengaruhi oleh faktor eksternal, seperti pengaruh keluarga atau dorongan finansial, sehingga menimbulkan keraguan terhadap tingkat kesadaran politik substantif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan inovasi model pembelajaran pada Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) yang dirancang untuk meningkatkan kesadaran politik substantif generasi muda. Model pembelajaran ini dikembangkan dengan pendekatan sintaks AKTIF, yang mengintegrasikan isu-isu kontemporer, seperti pentingnya nasionalisme, patriotisme, dan urgensi partisipasi politik yang bermakna. Proses pembelajaran dirancang untuk melibatkan siswa secara aktif dalam memahami nilai-nilai demokrasi, keadilan, dan tanggung jawab sosial melalui metode yang interaktif dan reflektif. Melalui penelitian ini, diharapkan muncul pemahaman yang lebih mendalam mengenai peran Pendidikan Kewarganegaraan dalam membentuk kesadaran politik yang berorientasi pada kepentingan bersama. Selain itu, hasilnya diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan strategi pendidikan yang relevan dalam membangun generasi muda yang kritis, nasionalis, dan berintegritas.
Civic Character in The Post-Truth Era: Reassessing Thomas Lickona’s Character Education Theory in Digital Space Ryan Taufika; Karim Suryadi; Cecep Darmawan; Asep Mahfudz
Journal of Educational Studies Vol. 4 No. 2 (2026): July
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/jes.v4i2.3073

Abstract

This article critically reassesses the relevance of Thomas Lickona's character education theory in explaining civic character within the post-truth digital environment. As digital platforms increasingly shape how citizens access information, form opinions, and engage in public life, civic character is no longer formed solely through traditional institutions but through algorithmically mediated, affective, and epistemically unstable environments. A significant research gap exists in that prior applications of Lickona's framework have not adequately examined its explanatory adequacy in post-truth digital contexts, nor proposed systematic reconstructions grounded in digital civic theory. Using qualitative library research and critical-conceptual analysis, this study examined scholarly literature across civic education, media studies, and digital political communication. Data were collected through purposive literature selection and analyzed through four interrelated stages: conceptual identification, thematic comparison, critical interpretation, and conceptual reconstruction. Conceptual triangulation was employed to enhance analytical rigor. The analysis finds that Lickona's triadic model moral knowing, moral feeling, and moral action remains normatively valuable as an ethical foundation for civic character, particularly in fostering civic discernment, empathy, and responsibility. However, the theory is analytically insufficient for addressing the socio-technical realities of post-truth citizenship, including algorithmic mediation, affective virality, and epistemic instability. This article proposes a reconstructed framework of digital civic character that extends Lickona's theory through (1) critical digital discernment, (2) digital civic empathy, (3) responsible digital civic engagement, and (4) algorithmic awareness. The study contributes to the theoretical renewal of character education for democratic life in digital society.