Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Upaya edukasi dan skrining penyakit gout dengan peningkatan pemberdayaan ASMARA (Ayo Sehat Bersama Para Lansia) di Poskesdes Dasan Cermen Kota Mataram Dwi Cahyaningtyas; Evi Diliana Rospia; Rizkia Amilia; Silvi Anggraini Pertiwi; Alya Syarah Syaswari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 4 (2024): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i4.27868

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan deteksi dini penyakit gout pada lansia di Desa Dasan Cermen. Penyakit gout, yang sering dialami lansia, merupakan kondisi radang sendi akibat tingginya kadar asam urat dalam darah yang mengendap di persendian. Kurangnya pemahaman lansia terkait gout menjadi tantangan, sehingga diadakan program "Pemberdayaan ASMARA (Ayo Sehat Bersama Para Lansia)" melalui edukasi dan skrining kadar asam urat di Poskesdes Dasan Cermen. Kegiatan ini melibatkan 15 lansia dan mencakup edukasi tentang penyebab, gejala, dan pencegahan gout, serta pemeriksaan tekanan darah dan kadar asam urat. Hasilnya menunjukkan bahwa 54% peserta memiliki kadar asam urat tinggi, dan terjadi peningkatan pemahaman peserta setelah edukasi, terlihat dari hasil post-test yang lebih tinggi dibandingkan pre-test. Program ini berhasil meningkatkan kesadaran lansia akan pentingnya pola hidup sehat dan deteksi dini untuk mengelola gout. Namun, terdapat kendala seperti keterbatasan alat skrining dan kondisi fisik lansia yang memerlukan perhatian khusus. Kesimpulannya, kegiatan ini efektif dalam meningkatkan kesadaran kesehatan lansia dan dapat dikembangkan lebih lanjut untuk keberlanjutan pengelolaan kesehatan lansia di komunitas lain. Kata kunci: pengabdian; lansia;, asam urat;deteksi dini; skrining; edukasi AbstractThis research aims to increase understanding and early detection of gout in the elderly in Dasan Cermen Village. Gout, which is often experienced by the elderly, is an inflammatory condition of the joints caused by high levels of uric acid in the blood which settles in the joints. The elderly's lack of understanding regarding gout is a challenge, so the "ASMARA Empowerment (Let's be Healthy with the Elderly)" program was held through education and screening for uric acid levels at the Dasan Cermen Village Health Post. This activity involved 15 elderly people and included education about the causes, symptoms and prevention of gout, as well as checking blood pressure and uric acid levels. The results showed that 54% of participants had high uric acid levels, and there was an increase in participants' understanding after education, as seen from the post-test results which were higher than the pre-test. This program has succeeded in increasing elderly awareness of the importance of a healthy lifestyle and early detection to manage gout. However, there are obstacles such as limited screening tools and the physical condition of the elderly that require special attention. In conclusion, this activity is effective in increasing awareness of elderly health and can be developed further for the sustainability of elderly health management in other communities. Keywords: community service; elderly; gout; early detection; screening; education
Implementasi gerakan dapur sehat atasi stunting melalui pengolahan bahan pangan lokal dan gizi seimbang Amilia, Rizkia; Pamungkas, Catur Esty; Makmun, Indriyani; Lestari, Cahaya Indah; Andira, Ayu; Gustiana, Yuyun; Listi, Iqro Suryati
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 3 (2024): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i3.25876

Abstract

Abstrak Stunting merupakan kondisi dimana anak-anak mengalami gagal tumbuh karena pola makan yang buruk atau infeksi yang berulang sehingga beresiko mengalami penyakit atau kematian. Provinsi Nusa Tenggara Barat berada pada urutan tertinggi ke empat dengan prevalensi stunting sebesar 32,7%. Prevalensi data stunting di Kabupaten Lombok Barat sebesar 34%. Tingginya angka stunting ini disebabkan karena kurangnya pengetahuan masyarakat khususnya ibu balita tentang cara memenuhi kebutuhan gizi seimbang, praktik pemberian makan yang tidak tepat, serta pengenalan dan pemanfaatan bahan pangan lokal yang ada di sekitar desa. Kegiatan ini bertujuan untuk mengimplementasikan gerakan Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) dengan cara memberikan edukasi dan melakukan pendampingan secara langsung kepada masyarakat sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan gizi seimbang dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. Metode pelaksanaan pengabdian ini melalui 4 tahap yaitu: (1) Perencanaan, yang terdiri dari identifikasi, pemetaan, perumusan masalah dan peningkatan kapasitas; (2) Pelaksanaan, terdiri dari pretest, penyuluhan, implementasi DASHAT, KIE; (3) Observasi dan Evaluasi, melalui pendampingan langsung selama kegiatan dan posttest; (4) Keberlanjutan; melakukan pendampingan dan pembinaan untuk keberlanjutan program. Berdasarkan hasil pretest didapatkan hasil pengetahuan dalam kategori kurang sebesar 50% (10 orang), sedangkan hasil pengukuran sikap didapatkan 65% (13) orang ibu memiliki sikap yang negatif. Pada hasil posttest didapatkan responden memiliki pengetahuan dalam kategori baik sebesar 80% (16 orang), sedangkan hasil pengukuran sikap didapatkan 75% (15) orang ibu memiliki sikap yang positif dalam meyediakan kebutuhan gizi anak. Kesimpulan kegiatan pengabdian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap yang positif kepada ibu yang diberikan edukasi dan pendampingan praktik gerakan DASHAT. Kata kunci: stunting; balita; DASHAT; pangan lokal; gizi seimbang Abstract Stunting is a condition where children experience growth failure due to poor nutrition or recurrent infections, putting them at risk of illness or death. West Nusa Tenggara Province ranks fourth highest with a stunting prevalence of 32.7%. The stunting prevalence in West Lombok Regency is 34%. The high stunting rates are attributed to a lack of knowledge among the community, particularly among mothers of toddlers, regarding how to meet balanced nutritional needs, improper feeding practices, and the introduction and utilization of local food sources available in the village. This activity aims to implement the Healthy Kitchen to Overcome Stunting by providing education and direct assistance to the community as an effort to meet balanced nutritional needs by utilizing local food ingredients. The implementation method of this service consists of 4 stages: (1) Planning, which includes identification, mapping, problem formulation, and capacity building; (2) Execution, consisting of pre-tests, outreach, DASHAT implementation, and communication, information, and education; (3) Observation and Evaluation, through direct assistance during activities and post-tests; (4) Sustainability; providing support and guidance for program sustainability. Based on the results of the pretest, it was found that knowledge was in the poor category at 50% (10 people), while the measurement of attitudes showed that 65% (13 people) of mothers had a negative attitude. In the posttest results, it was found that respondents had knowledge in the good category at 80% (16 people), while the measurement of attitudes showed that 75% (15 people) of mothers had a positive attitude in providing children's nutritional needs. The conclusion of this community service activity is that there has been an increase in knowledge and a positive change in attitude among mothers who received education and guidance on the the Healthy Kitchen to Overcome Stunting movement practices. Keywords: stunting; toddler; DASHAT; local food; balanced nutrition
Efektivitas Nugget Kombinasi Daun Kelor Dan Tempe Terhadap Tinggi Badan Menurut Umur (Tb/U) Balita Stunting di Wilayah Kerja Puskesmas Gangga Sabrina Tria Yunita; Marlin Astari Ina; Nur Izatul Islamiyati; Rizkia Amilia
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.55138

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai denga gangguan pertumbuhan linear pada anak, yang diukur melalui indikator Tinggi Badan menurut Umur (TB/U). Salah satu upaya pencegahan stunting adalah pemberian makanan tambahan berbasis pangan lokal yang bergizi dan mudah diterima anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas nugget kombinasi daun kelor dan tempe terhadap peningkatan TB/U pada balita stunting diwilayah kerja Puskesmas Gangga. Penelitian ini menggunakan desain ekperimen dengan melibatkan balita stunting usia 12-59 bulan yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi diberikan nugget kelor tempesebanyak 6 butir per hari selama 30 hari. Pengukuran tinggi badan dilakukan sebelum dan sesudah intervensi, kemudian dianalisis menggunakan uji independent t-test. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan tinggi badan yang bermakna pada kelompok intervensi (p=0,028), serta perbaikan kategori TB/U dari sangat pendek menjadi pendek dan normal. Sementara itu, perubahan berat badan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan. Dapat disimpulkan bahwa nugget kombinasi daun kelor dan tempe efektif dalam meningkatkan pertumbuhan linear balita stunting dan berpotensi menjadi alternatif makanan tambahan berbasis pangan lokal.
SENYAMAN BUMIL (Skrining dan Edukasi Ketidaknyamanan Ibu Hamil) di Desa Peresak Kecamatan Narmada. Catur Esty Pamungkas; Cahaya Indah Lestari; Aulia Amini; Ni wayan Ari Adiputri; Rizkia Amilia; Indriyani Makmun; Dwi Kartika Cahyaningtyas; Evi Diliana Rospia; Ana Pujianti Harahap; Syatila Syatila; Nur Hikmah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.40099

Abstract

Abstrak Ketidaknyamanan fisik pada kehamilan trimester III kategori sedang bisa mencapai 77,8% dan ketidaknyamanan psikologis dengan kategori sedang sebanyak 46% ibu hamil trimester III (Wulandari & Wantini, 2021). Ketidaknyamanan ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari ibu dan berpotensi menurukan kualitas hidup jika tidak dikelola dengan baik. Skrining dini terhadap kondisi ketidaknyamanan dan masalah Kesehatan lain yang sering dialami selama kehamilan merupakan Upaya penting dalam pelayanan antenatal care (ANC). Skrining dini tidak hanya berfungsi dalam deteksi dini resiko Kesehatan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memulai edukasi Kesehatan kepada ibu hamil agar dapat memahami, mencegah, dan mengatasi ketidaknyamanan yang dialami. Kegiatan pengabdian ini memiliki tujuan untuk melakukan pemantauan kesehatan ibu hamil dengan skrining ketidaknyamanan selama hamil dan peningkatan pengetahuan ibu hamil tentang ketidaknyamanan yang bisa dialami selama hamil. Pelaksanaan kegiatan pengabdian akan dibagi menjadi 6 tahapan yaitu sosialisasi, penyampaian materi, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi, keberlanjutan program.  Sasaran pada kegiatan ini yaitu ibu hamil sehat yang ada di Desa Peresak sebanyak 10 orang. Kegiatan pengabdian ini melibatkan 15 ibu hamil di Desa Peresak dengan karakteristik responden terbanyak tidak beresiko yaitu berusia 21 sd 34 tahun sebanyak 10 (66,6%). Kemudian usia kehamilan terbanyak pada trimester 2 sebanyak 8 (53,3%). Hasil skrining Kesehatan ibu hamil unutk indeks masa tubuh (IMT) terbanyak kategori berat badan normal (18,5-24,9 kg/m2) yaitu 9 (60%). Hasil kadar hemoglobin (HB) ibu hamil terbanyak pada kategori normal (≥ 11 gr%) sebanyak 8 (53,3% dan hasil tekanan darah ibu hamil terbanyak pada kategori normal (120/80 mmHg) yaitu 14 orang (93,4%). Hasil pengetahuan pre test terbanyak tentang ketidaknyamanan pada kategori cukup yaitu 6 ibu hamil (40%) dan terendah pada kategori baik sebanyak 4 ibu hamil (26,7%). Pengetahuan post test tentang ketidaknyaman terbanyak pada kategori baik yaitu 11 ibu hamil (73,3%) dan terendah pada pengetahuan dengan kategori 4 ibu hamil (26,7%). Pada kegiatan pengabdian ini didapatkan nilai rata-rata pengetahuan ibu hamil sebelum edukasi atau sosialisasi ketidaknyamanan didapatkan 67,2 dan rata-rata nilai pengetahuan ibu hamil setelah edukasi ketidaknyamanan meningkat menjadi 80,2. Sehingga dapat disimpulkan rata-rata peningkatan nilai pengetahuan ibu hamil sebanyak 13. Mitra sasaran sangat mengapresiasi positif kegiatan pengabdian ini, karena dengan adanya kegiatan pengabdian ini ibu hamil mendapatkan gambaran kesehatan dari skrining kesehatan yang telah dilaksanakan. Kemudian pengetahuan ibu hamil meningkat tentang ketidaknyamanan yang mungkin terjadi selama kehamilan setelah mendapatkan edukasi tentang ketidaknyamanan ibu hamil trimester I, II, dan III. Kata kunci: skrining; ketidaknyamanan; kehamilan. Abstract Moderate physical discomfort during the third trimester of pregnancy can affect up to 77.8% of pregnant women, while moderate psychological discomfort affects 46% of pregnant women in the third trimester (Wulandari & Wantini, 2021). This discomfort can interfere with a mother’s daily activities and potentially reduce her quality of life if not properly managed. Early screening for discomfort and other health issues commonly experienced during pregnancy is a critical component of antenatal care (ANC). Early screening not only aids in the early detection of health risks but also serves as a gateway to initiate health education for pregnant women, enabling them to understand, prevent, and manage the discomfort they experience. Objective: This community service activity aims to monitor the health of pregnant women through screening for discomforts during pregnancy and to enhance their knowledge regarding discomforts that may be experienced during pregnancy. The implementation of this community service activity will be divided into 6 stages, namely socialization, presentation of materials, application of technology, mentoring and evaluation, and program sustainability. The target of this activity is 10 healthy pregnant women in Peresak Village. This community service project involved 15 pregnant women in Peresak Village, with the majority of respondents (10, or 66.6%) falling into the low-risk category—specifically, those aged 21 to 34 years. The most common gestational age was in the second trimester, with 8 (53.3%). The results of the health screening for pregnant women regarding body mass index (BMI) showed that the majority fell into the normal weight category (18.5–24.9 kg/m²), totaling 9 (60%). The most common hemoglobin (Hb) level among pregnant women was in the normal category (≥ 11 g/dL), with 8 (53.3%), and the most common blood pressure was in the normal category (120/80 mmHg), with 14 women (93.4%). The highest number of pre-test knowledge scores regarding discomfort was in the “adequate” category, with 6 pregnant women (40%), and the lowest was in the “good” category, with 4 pregnant women (26.7%). The highest number of post-test knowledge scores regarding discomfort was in the “good” category, with 11 pregnant women (73.3%), and the lowest was in the “good” category, with 4 pregnant women (26.7%). In this community service activity, the average knowledge score of pregnant women before education or awareness-raising on discomfort was 67.2, and the average knowledge score of pregnant women after education on discomfort increased to 80.2. Thus, it can be concluded that the average increase in the knowledge score of pregnant women was 13. The target partners highly appreciated this community service activity, as it provided expectant mothers with an overview of their health based on the health screenings that were conducted. Furthermore, the expectant mothers’ knowledge of potential discomforts during pregnancy increased after receiving education on discomforts experienced during the first, second, and third trimesters. Keywords: creening; discomfort; pregnancy.
Pendampingan sasaran risiko tinggi ibu hamil melalui OSOC (One Student One Client) Indriyani Makmun; Firda Liantanty; Ana Pujianti Harahap; Rizkia Amilia; Nurul Amelia; Dwi Kartika Cahyaningtyas; Evi Diliana Rospia; Pegi Hamistia
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.35922

Abstract

Abstrak Kehamilan berisiko tinggi adalah kehamilan di mana ibu dan bayi yang dikandungnya berada pada risiko yang lebih tinggi dari biasanya, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit atau kematian baik sebelum maupun setelah kelahiran. Tujuan dilakukannya pengabdian masyarakat ini untuk membantu ibu hamil dengan risiko tinggi sejak konsepsi hingga persalinan, nifas, BBL, dan KB. Agar kehamilan, persalinan, pendampingan ini dilakukan mulai dari identifikasi, anamnesis, pemantauan, dan deteksi dini masalah. Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat Pendampingan Sasaran Risiko Tinggi Ibu Hamil Melalui OSOC (One Student One Client) dilaksanakan pada tanggal 19-21 September 2025 yang berlokasi di kelurahan Monjok Kota Mataram dengan jumlah peserta adalah 15 peserta ibu hamil dengan kehamilan risiko tinggi. Semua peserta diberikan lembar posttest untuk mengukur pengetahuan mereka setelah diberikan intervensi berupa materi. Hasil kegiatan tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar ibu memahami dari materi yang disampaikan oleh tim mengenai kehamilan risiko tinggi dan menunjukan bahwa nilai tertinggi dari tingkat pengetahuan kehamilan risiko tinggi sebanyak 7 orang (70%) memilik pengetahuan yg baik, pengetahuan cukup 3 orang (30%) dan pengetahuan kurang tidak ada. Simpulan dalam kegiatan ini adalah peserta sangat merasakan manfaat dari kegiatan ini, disamping itu kegiatan ini juga untuk menjembatani informasi terbaru berkaitan dengan permasalahan yang dihadapi oleh ibu hamil tentang skrining kehamilan risiko tinggi. Kata kunci: pengabdian; kehamilan; OSOC; pendampingan; risiko tinggi. Abstract High-risk pregnancy is a pregnancy in which the mother and her unborn baby are at a higher than usual risk, thereby increasing the likelihood of disease or death both before and after birth (Darwati et al., 2022). The purpose of this community service is to assist pregnant women with high risks from conception through delivery, postpartum, newborn care, and family planning. This pregnancy, delivery, and accompaniment are carried out starting from identification, anamnesis, monitoring, and early detection of problems. The Community Service Program activity for Assisting High-Risk Pregnant Women through OSOC (One Student One Client) was conducted on September 19-21, 2025, located in Monjok Sub-District, Mataram City, with a total of 15 participants who were high-risk pregnant women. All participants were given a post-test sheet to measure their knowledge after being provided interventions in the form of materials. The results of the activity showed that most mothers understood the material delivered by the team regarding high-risk pregnancy, indicating that the highest score for high-risk pregnancy knowledge was achieved by 7 people (70%) who had good knowledge, 3 people (30%) had sufficient knowledge, and none had poor knowledge.  The conclusion of this activity is that the participants greatly felt the benefits of this activity; moreover, this activity also serves to bridge the latest information related to the problems faced by pregnant women regarding high-risk pregnancy screening. Keywords: service; assistance; high risk; pregnancy; OSOC.
GEMES STUNTING (GERAKAN EDUKASI MENYUSUI ASI EKSKLUSIF UNTUK MENCEGAH STUNTING SECARA DINI) DI POSKESDES REMBIGA KECAMATAN SELAPARANG KOTA MATARAM Cahaya Indah Lestari; Catur Esty Pamungkas; Rizkia Amilia
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.32298

Abstract

ABSTRAK                                                                            ASI  atau  yang  disebut  Air  Susu  Ibu  adalah  air  susu  yang  dihasilkan  oleh  ibu  dan mengandung zat gizi yang telah diperlukan si bayi untuk kebutuhan maupun perkembangan si bayi. Usia 6 bulan pertama pada bayi hanya diberikan ASI saja tanpa tambahan campuran susu lainnya  seperti  susu  formula  dan  tanpa  tambahan  makanan  padat  lainnya,  misalnya  biscuit, bubur nasi, pisang, dan lain-lain (Nuradhiani, 2020) Tujuan dari kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan ibu terkait ASI Ekslusif. Lokasi pengabdian di Poskesdes Rembiga  Kecamatan Selaparang Kota Mataram. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah metode ceramah, pemberian leaflet dan metode pre-post test dalam bentuk kuesioner. Subyek pengabdian kepada masyarakat ini adalah seluruh ibu hamil dan ibu yang mempunyai bayi 0-6 bulan sejumlah 15 orang. Instrumen yang digunakan adalah power point, leaflet dan kuesioner. Berdasarkan hasil pretest dan posttest dari kegiatan yang dilakukan dapat dilihat terjadi peningkatan pengetahuan remaja putri dari nilai pretest dalam kategori kurang sebesar 46 % (7 orang) meningkat menjadi sebagian besar kategori pengetahuan cukup dan baik sebesar 60 % (9 orang) pada saat posttest.Kata kunci: Pendidikan Kesehatan; Stunting; ASI Eksklusif. ABSTRACTBreast milk or what is known as Mother's Milk is the milk produced by the mother and contains the nutrients needed by the baby for their needs and development. For the first 6 months, babies should only be given breast milk without any additional mixed milk such as formula and without any solid food additions, such as biscuits, rice porridge, bananas, etc (Oktarina & Sudiarti, 2014). The purpose of this community service activity is to increase mothers' knowledge about Exclusive Breastfeeding. The location of the service is at the Rembiga Poskesdes in Selaparang District, Mataram City. The methods used in this activity include lectures, distribution of leaflets, and a pre-post test in the form of a questionnaire. The subjects of this community service are all pregnant mothers and mothers who have babies aged 0-6 months totaling 15 people. The instruments used are PowerPoint, leaflets, and questionnaires. Based on the results of the pretest and posttest from the conducted activities, there was an increase in knowledge among female adolescents from a pretest score in the 'poor' category of 46% (7 people) to mostly being in the 'sufficient' and 'good' knowledge categories at 60% (9 people) during the posttest.Keywords: Health Education; Stunting; MP-ASI.
Pendampingan Pasangan “Merarik Kodeq” Dalam Perencanaan Kehamilan Sebagai Upaya Mencegah Stunting di Desa Perampuan Barat Ni Wayan Ari Adiputri; Catur Esty Pamungkas; Rizkia Amilia
Jurnal Pengabdian Kesehatan Vol 8, No 2 (2025): Jurnal Pengabdian Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/jpk.v8i2.437

Abstract

Pasangan merarik kodeq atau pasangan yang menikah usia muda ini cenderung disebabkan karena permasalahan faktor ekonomi yang rendah sehingga para orangtua berupaya menjodohkan anak-anak mereka untuk dinikahkan dengan dasar bahwa sudah tidak sanggup membiayai kebutuhan hidup anak-anak mereka, dan juga hal ini didukung oleh  pengetahuan para orangtua yang kurang tentang pentingnya persiapan kesehatan reproduksi saat akan menikah dan bahaya yang dapat ditimbulkan dari pernikahan usia dini tersebut (Pamungkas et al., 2021). Tujuan : Kegiatan pendampingan pasangan “merarik kodeq” ini sebagai upaya untuk dapat merencanakan kehamilan yang lebih baik sebagai upaya mencegah stunting. Hasil : kegiatan yang dilakukan pada tanggal 15 Juni 2024 di balai dusun kerepet Desa Perampuan Barat dihadiri oleh 4 pasangan “merarik kodeq”. Pelaksanaan kegiatan dimulai dengan mengadakan pre test dengan sebagian besar rata-rata 60 % katagori pengetahuan kurang, kemudian diberikan penyuluhan dan pendampingan tentang pentingnya perencanaan kehamilan sebagai upaya pencegahan stunting pada pasangan “merarik kodeq”, dan terakhir mengadakan post test dengan hasil hampir seluruhnya rata-rata 80% katagori pengetahuan baik. Simpulannya kegiatan pengabdian masyarakat ini mampu meningkatkan pengetahuan pasangan “merarik kodeq”tentang pentingnya perencanaan kehamilan sebagai upaya pencegahan stunting