Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

TRADISI BAKAR TONGKANG: DARI BUDAYA KOMUNITAS MENJADI TONTONAN PUBLIK 2006-2019 Dewi Nur Hasanah; Erniwati Erniwati
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 9, No 1 (2024): PUTERi Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v9i1.53949

Abstract

This research discusses the Barge Burning tradition of the Chinese community in Bagansiapiapi, which was originally only a community culture carried out by the Chinese community, until it finally changed to become a public spectacle celebrated by the entire community in 2006-2019. The aim of this research is to see why the ethnic Chinese barge burning tradition has changed from a community culture to a public spectacle and what forms of change in the barge burning tradition, which was originally a community culture, has become a public spectacle in 2006-2019. This research uses historical research methods. The results of the research show that the Bagansiapiapi Chinese ethnic barge burning tradition has undergone changes since 2006, because the Regional Government made it a regional cultural tourism event in Rokan Hilir Regency. There are values that have changed due to commercialization, namely the time of barge burning, previously ships were burned at night, since it became a tourist event the barge burning was carried out earlier, namely in the afternoon or evening. Then the shape and material of the ships changed, in the 18th century ships were made of bamboo and paper, since 2006 the materials used have been wood, bamboo and colorful paper. As a result of turning Bakar Tongkang into a tourist event, tourists are interested in seeing the celebration and coming to Bagansiapiapi and increasing the Regional Revenue Budget, as evidenced by the number of tourists which continues to increase every year.
E-Tour Guide Berbasis QR Code Pada Museum Perang Sintuk untuk Menunjang Informasi Wisata Sejarah Hendra Naldi; Nora Susilawati; Erniwati Erniwati; Ray Silva; Mutiara Rejani Veronika
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 1 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i1.1216

Abstract

Museum Perang Sintuk hadir atas semangat pemuda Nagari Sintuk bernama Rio Tampati Putra pada tahun 2021. Museum ini adalah rumah yang berfungsi sebagai pos pengamatan pejuang pada 1948, dibangun sejak 1945, dan dihibahkan untuk pelestarian sejarah. Terdapat lebih kurang 300 benda bersejarah yang berada di museum ini. Namun sayangnya, karena keterbatasan dana, benda-benda bersejarah ini tidak memiliki deskripsi yang jelas sehingga mempersulit pengunjung untuk memperoleh informasi benda bersejarah tersebut secara detail. Penjaga museum atau Tour Guide museum ini juga minim sehingga pengunjung kesulitan dalam mendapatkan informasi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendata koleksi museum terkhususnya benda cagar budaya dan membuat Qr Code yang dapat diakses oleh pengunjung Museum Perang Sintuk sebagai penunjang informasi sejarah. Kegiatan ini dilaksanakan pada Juni hingga Oktober 2024 di Museum Perang Sintuk. Metode kegiatan dilakukan dengan lima langkah yaitu survei, Pendekatan dengan pengelola Museum Perang Sintuk, Pengumpulan data, pembuatan produk Qr Code, Uji Coba dan Sosialisasi penggunaan produk yang telah memiliki Qr Code. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan Qr Code sebagai penunjang informasi sejarah di Museum Perang Sintuk memiliki dampak positif yang signifikan. Pengunjung merasa terbantu dengan adanya QR Code yang memudahkan mereka mengakses informasi detail tentang benda-benda bersejarah secara langsung melalui perangkat seluler mereka. Setiap QR Code terhubung ke halaman yang berisi deskripsi lengkap, asal usul, serta peran benda tersebut dalam sejarah perjuangan di Nagari Sintuk dan sekitarnya. Melalui uji coba dan sosialisasi, terlihat bahwa penggunaan QR Code meningkatkan pengalaman pengunjung, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi canggih museum.