Moch. Dhofir
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 46 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Keandalan dan Nilai Ekonomis Sistem Penyulang Talun PT. PLN (PERSERO) Rayon Wlingi I Kadek Adi Satya Putra; Hadi Suyono; Moch. Dhofir
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 5 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak — PT. PLN (Persero) Rayon Wlingi memiliki 3 Penyulang yaitu Penyulang Talun, Kesamben, dan Beru. Penyulang Talun terhubung oleh trafo II yang memiliki rating tegangan 70/20kV dan berkapasitas 10 MVA dari Gardu Induk Wlingi. Dari data selama 2016, diketahui bahwa Penyulang Talun memiliki panjang penyulang yang terpanjang di Rayon Wlingi yaitu sepanjang 112,936 kms serta jumlah pelanggan 18.591 dari 108 trafo distribusi yang masih aktif. Dengan pertimbangan tersebut dipilih penyulang Talun sebagai objek analisis keandalan dan nilai ekonomis sistem pada Rayon Wlingi. Metode Section Technique adalah pengembangan dari metode FMEA (Failure Mode and Effect Analysis) yang digunakan untuk melakukan analisis keandalan pada Penyulang Talun. Analisis nilai Penyulang Talun berdasarkan energi tidak tersalurkan dari PLN digunakan untuk menghitung kerugian PLN saat terjadi pemadaman. Dengan menggunakan metode Section Technique didapatkan indeks keandalan      SAIFI, SAIDI, dan CAIDI penyulang Talun berturut-turut sebesar 3,524 pemadaman/tahun, 10,670 jam/tahun, dan 3,028 jam/gangguan. Dimana dapat diperbaiki dengan penggunaan tie switch pada jaringan sehingga diperoleh nilai SAIFI, SAIDI, dan CAIDI berturut-turut sebesar 3,524 pemadaman/tahun, 4,032 jam/tahun, dan 1,144 jam/gangguan. Perbaikan pada indeks keandalan Penyulang Talun sesudah penggunaan tie switch juga berbanding lurus dengan berkurangnya kerugian PLN akibat terjadinya pemadaman dari Rp 261.267.471,52 menjadi Rp130.309.588,48. Kata Kunci — Penyulang Talun, indeks keandalan, section technique, analisis nilai, laju kegagalan, tie switch
ANALISIS PENJADWALAN PEMELIHARAAN MINYAK TRAFO di GI KEBON AGUNG DENGAN MENGGUNAKAN METODE MARKOV Hendro Sulaksono; Moch. Dhofir; Mahfudz Shidiq
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Transformator daya merupakan peralatan yang vital dalam penyaluran energi listrik. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pengurangan umur transformator antara lain pengaruh dari suhu sekitar, suhu minyak transformator, pola pembebanan, kualitas bahan transformator, kualitas minyak, cuaca, kadar oksigen, kelembapan udara dan pengelolaaan terhadap transformator tersebut. Fungsi minyak transformator sangatlah penting untuk operasi dari transformator. Karena banyak gangguan yang akan dapat diselesaikan dengan menggunakan minyak trafo ini. Maka dari itu perawatan minyak transformator sangat penting untuk mengoptimalkan kinerja trafo. Pada penelitian ini metode yang akan digunakan adalah Metode Markov. Dalam metode ini didapatkan nilai keandalan dan nilai ketersediaan. Dibutuhkan laju kegagalan dan laju keandalan untuk memnetukan nilai MTTF dan MTTR. Didapatkan nilai waktu yang disarankan melalui penelitian agar kondisi temperatur dapat selalu bekerja dengan optimal. Kata kunci: Minyak Transformator, Markov, Laju keandalan, Laju kegagalan
STUDI PEMANFAATAN ARANG KULIT BUAH KAKAO UNTUK MENURUNKAN RESISTANSI PENTANAHAN JENIS ELEKTRODA PLAT BERBENTUK LINGKARAN Muhammad Nadir; Moch. Dhofir; Hery Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal ini memaparkan hasil penelitian tentang perlakuan terhadap tanah dengan memanfaatkan arang kulit buah kakao untuk menurunkan resistansi pentanahan jenis elektroda plat berbentuk lingkaran. Variabel yang diamati yaitu pengaruh dari ketebalan penambahan arang kulit buah kakao 20 cm hingga 100 cm dengan kedalaman penanaman elektroda 100 cm, kedalaman penanaman elektroda 20 cm hingga 100 cm, dan variasi ukuran diameter elektroda terhadap nilai resistansi pentanahan. Semakin besar ketebalan penambahan arang dengan kedalaman penanaman elektroda 100 cm, maka nilai resistansi pentanahannya semakin kecil. Sedangkan semakin besar kedalaman penanaman elektroda dengan media arang kulit buah kakao, maka nilai resistansi pentanahannya semakin kecil. Elektroda plat berbentuk lingkaran yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 4 variasi dengan ukuran diameter yang berbeda yang terbuat bahan aluminium yang memiliki tebal 1,5 mm. Pengaruh ukuran diameter dari 4 variasi elektroda adalah semakin besar diameter elektroda yang digunakan, maka nilai resistansi pentanahannya semakin kecil. Kata kunci : arang kulit buah kakao, elektroda plat berbentuk lingkaran, resistansi pentanahan
Desain dan Pembuatan Resistor Shunt Ohmik Rendah dan Aplikasinya Sebagai Elemen Pengukuran Arus Tinggi Impulse, 8/20????s Jacob Jonas Rikumahu; Didik Rahadi Santoso; Rini Nur Hasanah; Moch. Dhofir
Jurnal EECCIS Vol 7, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.259 KB)

Abstract

Dalam penelitian ini dikaji perancangan dan pembuatan resistor shunt ohmik rendah tipe koaksial sangkar bajing. Penelitian dititikberatkan pada pemilihan material dan pembuatannya dengan tujuan mengurangi efek kapasitansi dan induktansi dari resistor shunt pada frekuensi arus tinggi impulse 8/20 s. Hasil pengujian atas respon frekuensi menunjukkan bahwa pada frekuensi rendah tegangan jepit resistor shunt adalah rendah, dan tegangan ini akan menjadi relatif stabil pada frekuensi tinggi (sekitar 8 MHz). Sementara itu, hasil uji respon transien dari resistor shunt menunjukkan kesesuaian antara hasil pengukuran dengan teori dan perhitungan. Pada uji dengan generator impulse arus tinggi didapatkan hasil karakteristik arus impulse yang cukup baik. Kurva arus 8/20????s dapat diukur dengan baik pada nilai 8,25/20,06????s, dan puncak arus terukur sekitar 2,57kA, yang berdasarkan perhitungan nilainya adalah 3,08kA.Kata Kunci— Desain, Pengukuran, Arus Tinggi Impulse
Pengaruh Sudut Keruncingan Dan Diameter Finial Franklin Terhadap Distribusi Medan Listrik dan Tingkat Tegangan Tembus Harry Soekotjo Dachlan; Moch. Dhofir; Vico Fernanda
Jurnal EECCIS Vol 2, No 1 (2008)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.267 KB)

Abstract

Penangkap petir merupakan bagian utama dari sistem penangkal petir eksternal. Finial atau penangkap petir berupa konduktor batang tegak merupakan finial yang memiliki konstruksi berupa sisi ujung finialnya secara umum berbentuk metal yang runcing sebagai pengumpul muatan listrik statis. Parameter utama yang menentukan baik buruknya kinerja finial Franklin tersebut dilihat dari level tegangan tembus (setelah korona) yang terjadi. Level tegangan tembus dipengaruhi oleh distribusi medan listrik, sedangkan distribusi medan listrik sendiri dipengaruhi oleh bentuk geometris elektroda. Pada finial Franklin, faktor keruncingan sangat menentukan distribusi medan listrik yang terjadi. Faktor keruncingan yang dimaksud adalah sudut keruncingan dan diameter finial. Pada penelitian penelitian ini dilakukan pengujian finial Franklin dengan variasi sudut keruncingan untuk setiap diameter finial Franklin terhadap tegangan korona dan tembus. Pengujian tegangan korona dan tembus tersebut menggunakan tegangan tinggi searah polaritas negatif dengan mengatur jarak sela elektroda. Selanjutnya dilakukan penggambaran distribusi medan listrik dan perhitungan efisiensi medan listrik setiap objek uji secara eksperimen menggunakan metode kertas konduktif dengan sumber DC tegangan tendah.Kata Kunci: finial Franklin, sudut keruncingan dan diameter finial, tegangan korona, tegangan tembus, distribusi medan listrik.
Pengaruh Penyisipan Induktor dan Kapasitor pada Sambungan Saluran Udara dan Kabel Distribusi 20 kV terhadap Perambatan Gelombang Tegangan Surja Moch. Dhofir
Jurnal EECCIS Vol 3, No 1 (2009)
Publisher : Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.616 KB)

Abstract

Dalam tulisan ini dipaparkan pengaruh sisipan L seri atau C paralel diantara dua saluran berbeda terhadap prilaku perambatan gelombang surja dari berbagai bentuk gelombang datang. Bentuk gelombang datang yang diujikan adalah bentuk langkah ideal, langkah tidak ideal, eksponensial, eksponensial ganda dan sinusoida. Saluran pertama berupa kabel dengan impedansi surja 50 dan saluran kedua adalah saluran udara dengan impedansi surja 500 . Arah rambat gelombang datang dapat dipilih bebas, tetapi dalam tulisan ini arahnya ditentukan dari kabel menuju saluran udara atau dari saluran dengan impedansi surja rendah menuju saluran impedansi surja tinggi. Untuk penyelesaian gelombang terusan dan gelombang pantul, dilakukan penyelesaian terhadap model sisipan L seri atau C paralel yang biasanya melibatkan penyelesaian persamaan deferensial atau integral. Dari analisis didapat hasil bahwa sisipan L seri atau C paralel secara signifikan mempengaruhi pelandaian muka gelombang terusan dan tingkat pelandaian ini semakin besar ketika nilai L dan C semakin besar. Respon pelandaian gelombang terusan oleh L seri atau C paralel semakin besar (pelandaian semakin cepat) apabila muka gelombang datang semakin curam seperi yang dimiliki gelombang langkah ideal dan eksponensial. Sisipan L seri dan C paralel juga memberikan pengaruh pada amplitudo gelombang terusan..Untuk gelombang datang sinusoida, pelandaian muka gelombang dan peredaman amplidtudo dipengaruhi oleh nilai L atau C dan frekuensi gelombang datang. Semakin besar nilai frekuensi dan nilai komponen yang disisipkan, maka tingkat peredaman dan pelandaian gelombang terusan juga semakin besar.Kata kunci : Sisipan,induktor, kapasitor, kabel, saluran udara, perambatan, gelombang surja
ANALISIS DISTRIBUSI TEGANGAN PADA PERMUKAAN ISOLATOR KARET SILIKON TIPE POS Khoirul Herman Pambudi; Moch. Dhofir; Rini Nur Hasanah
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu jenis isolator tegangan tinggi terbaru adalah isolator karet silikon. Pemasangan isolator karet silikon bersama menara penyangga dan konduktor membentuk rangkaian kapasitif (kapasitansi bocor). Kapasistansi ini terdiri dari kapasitansi ke tanah (Ce), kapasitansi ke kawat penghantar (Ch), dan kapasitansi susunan isolator itu sendiri (C). Untuk pembebanan tegangan tinggi arus bolak-balik, kehadiran kapasitansi bocor menghasilkan distribusi tegangan yang tidak merata pada setiap isolatornya. Dalam penelitian ini di bahas analisis distribusi tegangan, arus bocor dan medan listrik pada isolator karet silikon saat kondisi kering. Data yang didapat dari pengujian berupa nilai tegangan tembus listrik pada masing-masing titik pengamatan. Data tersebut  akan di olah menjadi persentase distribusi tegangan pada isolator. Dari hasil pengujian menunjukan bahwa persentase distribusi tegangan terbesar terletak pada titik pengamatan pertama sebesar 82.15 %. Pada pengujian arus bocor di dapatkan data berupa nilai arus bocor pada tiap titik pengamatan dengan variasi tegangan 5 kV, 10 kV, 15 kV dan 20 kV. Semakin besar tegangan yang diberikan maka nilai arus bocornya akan semakin besar pula. Data hasil pengujian ini akan diolah menghasilkan nilai impedansi permukaan pada tiap titik pengamatan isolator. Impedansi total yang diperoleh dari tiap titik pengamatan adalah 1427.57 . Pada pengujian distribusi medan listrik akan digunakan software Finite Element Method Magnetic (FEMM) untuk mensimulasikan distribusi medan listrik pada tiap titik pengamatan sehingga akan dapat diamati karakterisasi dari isolator karet silikon. Kata kunci : distribusi tegangan, arus bocor, distribusi medan, karet silikon. ABSTRACT One of the newest high voltage isolator types is silicone rubber insulator. assembly of silicone rubber insulator with buffer tower and conductor wire forming capacitive circuit (leakage capacitance). This capacitance consists of capacitance to the ground (Ce), capacitance to the conductor wire (Ch), and insulation capacitance itself (C). For the loading of high-voltage alternating current, the presence of leakage capacitance produce an uneven distribution of voltages on each shed isolator. In this research is discussed the analysis of voltage distribution, leakage current and electric field in silicone rubber isolator when dry conditions. The data obtained from the test be in form of value of electric breakdown voltage at each observation point. The data will be show the percentage of stress distribution on the insulator. From the test results showed that the largest percentage distribution lie in the first observation point of 82.15%. In testing leakage current, data obtained be form of value of leakage current at each observation point with votage variation of 5 kV, 10 kV, 15 kV and 20 kV. Greater voltage  has given the value of leakage current will be even greater. The result data of this test will be processed to produce surface impedance value at each observation point of isolator. The total impedance obtained from each observation point is 1427.57 MΩ. In the electric field distribution testing, Finite Element Method Magnetic (FEMM) software will be used to simulate the electric field distribution at each observation point so that the characterization of the silicone rubber isolator can be observed. Keywords: voltage distribution, leakage current, terrain distribution, silicone rubber.
KOMPUTASI PEMBUMIAN PERALATAN PADA GARDU INDUK Amanda Octavianus Rizky; Moch. Dhofir; Teguh Utomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 4 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Dalam praktek perencanaan suatu sistem pembumian, lebih menarik untuk mendapatkan dimensi elektroda daripada sekedar mengukur nilai tahanan pembumiannya. Mendapatkan berapa panjang konduktor elektroda agar nilai tahanan pembumiannya sesuai keinginan atau sesuai dengan standar yang dipersyaratkan akan lebih berguna. Namun persoalan mencari akar persamaan dari suatu fungsi implisit tersebut diperlukan pendekatan komputasi secara numerik (iterasi) menggunakan metode yang sesuai. Sistem komputasi dirancang dengan menggunakan Visual Studio 10. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa program komputasi layak untuk digunakan. Metode yang digunakan pada algoritma untuk menentukan dimensi elektroda pada gardu induk adalah metode biseksi, karena diperlukan dalam pembentukan tata letak kisi dan proses iterasinya juga cukup cepat. Dari tegangan sentuh yang diinginkan sebesar 737 volt dan tegangan langkah yang diinginkan sebesar 2546 volt serta panjang lahan sebesar 80 meter, lebar lahan sebesar 50 meter, tahanan jenis tanah sebesar 750 Ohm, kedalaman penanaman sebesar 0,8 meter, arus gangguan sebesar 1200 Ampere, diameter rod sebesar 15 milimeter, panjang rod sebesar 3,5 meter dan kenaikan suhu tanah yang diizinkan 50oC, didapatkan diameter konduktor kisi sebesar 2,147 milimeter, luas daerah yang dilingkupi sebesar 4000m2, jumlah kisi utama sebanyak 21 dan jumlah kisi melintang sebanyak 13 dengan jarak antar konduktor paralel sisi panjang 3,63 meter dan jarak antar konduktor paralel sisi lebar 3,57 meter, panjang konduktor kisi-kisi utama sebesar 1150 meter dan panjang konduktor kisi-kisi melintang sebesar 1200 meter sehingga panjang total konduktor kisi-kisi adalah sebesar 2350 meter. Selain itu juga didapatkan jumlah batang pengetanahan/rod yang diperlukan sebanyak 25 batang sehingga panjang total konduktor rod adalah 87,5 meter dan tegangan sentuh sebenarnya sebesar 706,72 volt, tegangan langkah sebenarnya sebesar 563,45 volt serta tahanan pembumiannya sebesar 5,469 Ohm. Maka panjang total keseluruhan elektroda pembumian gardu induknya sebesar 2437,95 meter. Kata Kunci: komputasi, elektroda, gardu induk, pembumian kombinasi, grid, rod   Abstract In the practice of planning an earthing system, it is more interesting to obtain the dimensions of the electrode than simply measuring the value of its earthing resistance. Getting the length of the electrode conductor to get earthing resistance values or suitable with the required standards will be more useful. But the problem of finding the root of the equation of an implicit function is required numerical computation (iteration) using the suitable method. Computing systems are designed using Visual Studio 10. From the results of research that has been done to get the conclusion that the computing program is proper to use. The method used in the algorithm to determine the electrode dimension of the substation is a bisection method, because it is necessary in the formation of the lattice layout and the iteration process is also quite fast. From the desired tension of 737 volts and the desired step voltage of 2546 volts and the length of the land is 80 meters, the width of the field is 50 meters, the type of soil is 750 Ohm, the depth of planting is 0.8 meters, the interruption current is 1200 Ampere, Rod diameter of 15 millimeters, rod length of 3.5 meters and an increase of 50oC permitted ground temperature, obtained the diameter of the grid conductor of 2.147 millimeters, the area covered by 4000 m2, the number of the main lattice of 21 and the number of lattice transverse as 13 with the distance between the parallel conductors the long side 3.63 meters and the distance between the parallel conductors side width 3.57 meters, the length of the main grille conductor of 1150 meters and the length of the transverse lattice conductor is 1200 meters so that the total length of the grid conductor is 2350 meters. In addition, the total number of rods required is 25 rods so the total length of the rod conductor is 87.5 meters and the actual touch voltage is 706.72 volts, the actual step voltage is 563.45 volts and the earth resistance is 5,469 Ohm. Then the total total length of the grounding electrode of the substation is 2437.95 meters. Keywords: computing, electrode, substation, combination grounding, grid, rod
Karakteristik Fisik dan Elektris Minyak Zaitun Sebagai Alternatif Minyak Isolasi Pada Transformator Bagus Mitra S.; Moch. Dhofir; n/a Soemarwanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

.
ANALISIS PENGARUH PROFIL DAN KONFIGURASI BUSBAR TERHADAP KEMAMPUAN HANTAR ARUS (KHA) Anastasia Indah. L S.; Moch. Dhofir; n/a Soemarwanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 5 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Busbar itu sendiri merupakan salah satu komponen inti kedua setelah circuit breaker, yang juga merupakan penghantar listrik yang memadai arus dan tegangan listrik kapasitas besar, yang juga berfungsi sebagai tempat atau mediator untuk menghubungkan beberapa rangkaian atau peralatan listrik lainnya. Pada penelitian ini dilakukan simulasi pada Finite Elemen Method Magnetics (FEMM) 4.2. dengan tujuan untuk mendapatkan nilai intensitas medan magnet, nilai fluksi, dan juga nilai rapat arus. Dimana hasil FEMM 4.2. tersebut akan dipakai untuk perhitungan efisiensi, impedansi, dan juga kemampuan hantar arus (KHA) dari masing-masing profil dan konfigurasi busbar. Hasil simulasi aplikasi Finite Elemen Method Magnetics (FEMM) 4.2 didapat untuk semua profil dan konfigurasi, intensitas medan magnet akan berubah  nilainya sesuai dengan jarak titik uji, intensitas medan magent akan mencapai nilai maksimum pada jarak tertentu dan kemudian nilainya akan turun secara linier pada jarak tertentu juga. Dari penelitian ini didapat bahwa distribusi paling merata terdapat pada profil batang dengan nilai efisiensi sebesar 2,86 dan yang paling tidak merata yaitu pada profil bulat dengan nilai efisiensi sebesar 1,83. Perbedaan profil dan konfigurasi juga akan mempengaruhi besarnya impedansi dari tiap profil dan konfigurasi busbar. Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa impedansi yang paling baik terdapat pada profil batang L yakni sebesar 8,5x10-6 Ohm dan yang paling buruk terdapat pada profil bulat dengan nilai 1,71 x 10-4 Ohm. Perbedaan nilai intensitas medan magnet juga akan membuat rapat arus yang mengalir di busbar akan berbeda. Perbedaan rapat arus dari busbar akan mempengaruhi besarnya kemampuan hantar arus (KHA) dari tiap profil busbar dimana berdasarkan kemampuan hantar arus dari profil yang paling baik sampai yang kurang baik dapat diurutkan yakni profil batang L dengan nilai KHA 5555 Ampere, profil bulat dengan nilai KHA 124,618 Ampere, profil batang dengan nilai KHA 123,750 Ampere, dan profil bulat berongga dengan nilai KHA 123,112 Ampere. Kunci kunci: busbar, profil, konfigurasi, FEMM 4.2, medan magnet, impedansi, KHA ABSTRACT The busbar is one of the second core components after the circuit breaker, which is also an adequate electrical conductor of large voltage current and voltage, which also serves as a place or mediator for connecting several circuits or other electrical appliances. In this study a simulation was performed on Finite Element Method Magnetics (FEMM) 4.2. With the aim of obtaining magnetic field intensity values, flux values, as well as current density values. Where FEMM results 4.2. Will be used for efficiency calculations, impedances, as well as current-carrying capacity (CRC).The result of Finite Element Method Magnetics (FEMM) 4.2, for all profiles and configurations, the intensity of the magnetic field will change in value according to the distance of the test point, the magnet field intensity will reach the maximum value at a certain distance and then its value will fall linearly at a certain distance as well. From this research, it is found that the most equally distributed is in the bar profile with an efficiency value of 2.86 and the most unequally is the round profile with an efficiency value of 1.83. Differences in busbar’s profile and configuration will also affect the magnitude of the impedance of each busbar profile and configuration. From the result of this research, it is found that the best impedance is found in the L bar profile which is 8,5x10-6 Ohm and the bad is in round profile with value 1,71 x 10-4 Ohm. The difference in magnetic field intensity value will also make the current density flowing in the busbar to be different. The current density difference of the busbar affects the current carrying capacity (CRC) of each busbar profile which is based on current carrying ability from the best profiles can be sequenced in the L bar profile with 5555 Ampere, round profile with 124,618 Ampere, bar profile with 123,750 Ampere, and hollow profile with 123,112 Ampere. Keywords: busbar, profil, configuration, FEMM 4.2, magnet field, impedance, CRC