Moch. Dhofir
Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 46 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS PERILAKU KONTAMINAN AIR DALAM MINYAK TRANSFORMATOR SHELL DIALA B PADA MEDAN LISTRIK HOMOGEN DAN NON HOMOGEN Hesti Vini Widiastuti; Moch. Dhofir; Hery Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketidakmurnian pada minyak transformator diakibatkan oleh adanya partikel lain didalam minyak transformator seperti partikel padat, partikel cair dan partikel gas. Kontaminan didalam minyak yang sering timbul adalah partikel air. Partikel air sendiri akan ada dalam  minyak kondisi baru atau sedang beroperasi. Pada penelitian ini diuji pengaruh kontaminan air terhadap tegangan tembus dengan menggunakan cawan standar VDE 370 jarak sela 2.5 mm dan arus bocor dengan menggunakan susunan elektroda piring-piring dan susunan elektroda jarum-piring dengan  menggunakan pembangkit tegangan tinggi AC. Sedangkan untuk pengujian arus konduksi dengan menggunakan elektroda cincin pengaman jarak sela 5mm dengan menggunakan pembangkit tegangan tinggi DC. Distribusi medan listrik homogen dan medan listrik non-homogen di simulasikan dengan menggunakan simulasi FEMM 4.2. Pada kontaminan air sebesar 0.03%, 0.06%, 0.1% dan 0.13% tegangan tembus pada minyak menurun yaitu dari 23,98 kV menjadi 11.82 kV, 8.85 kV, 5.38kV dan 2.79 kV. Setelah minyak terkontaminasi air, minyak akan dipanaskan yang bertujuan untuk mengurangi kadar air di dalam minyak. Tegangan tembus pada minyak setelah dipanaskan menjadi naik yaitu 22.19 kV, 17.76 kV, 14.15 kV, 11.37 kV. Semakin besar kontaminan air di dalam minyak transformator maka arus bocor pada minyak transformator akan semakin besar. Arus bocor pada minyak transformator murni dan kontaminan air 0.1% pada susunan elektroda piring-piring dengan jarak sela 15 mm pada tegangan 30 kV arus bocor minyak transformator berturut-turut sebesar 50,9 μA dan 68,17 μA. Sedangkan pada jarak sela 20 mm arus bocor murni dan kontaminan air 0.1% pada susunan  elektroda jarum-piring dengan jarak sela 15 mm berturut-turut sebesar 27.33 μA dan 56.43μA. Kata kunci: Isolator cair,  tegangan tembus, arus bocor, pergerakan partikel, FEMM.
ANALISIS PENGARUH KELEMBABAN UDARA, SUHU, DAN POLUTAN GARAM TERHADAP ARUS BOCOR ISOLATOR PIN BERBAHAN PORSELEN Sukma Rangga N.; Moch. Dhofir; Hery Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 6 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Untuk menyalurkan energi dari pusat pembangkit kepada konsumen dibutuhkan saluran atau transmisi tegangan tinggi dan peralatan tegangan tinggi yang mendukung pengadaan sistem tersebut. Isolator adalah material isolasi yang memisahkan konduktor bertegangan dari konduktor atau obyek lainnya. Dalam aplikasinya, isolator yang terletak pada pasangan luar banyak sekali terpengaruh oleh keadaan lingkungan disekitarnya. Karakteristik lingkungan di Indonesia yang memiliki kelembaban, suhu, dan curah hujan, disertai kehadiran polutan yang bervariasi tentunya merupakan penyebab yang sangat penting dalam mempengaruhi unjuk kerja isolator pasangan luar. Kondisi udara yang lembab akan menyebabkan timbulnya lapisan air pada permukaan isolator, dan dengan adanya polutan, akan timbul arus bocor dan flashover yang dapat menyebabkan kegagalan isolasi. Dari data hasil pengujian menunjukkan semakin tinggi tingkat kelembaban udara, suhu, dan polutan garam, semakin tinggi pula arus bocor yang mengalir pada permukaan isolator. Pada tingkat kelembaban udara rendah memiliki nilai arus bocor yang lebih kecil dibanding kelembaban tinggi. Karena pada saat kelembaban tinggi terdapat pembasahan pada permukaan isolator sehingga isolator menjadi semakin konduktif. Kelembaban udara dan suhu memberikan perubahan yang signifikan terhadap nilai resistansi permukaan isolator. Semakin meningkat kelembaban udara dan suhu, maka semakin rendah nilai resistansi permukaan isolator. Berdasarkan data hasil pengujian menunjukkan rata-rata nilai resistansi isolator pengujian kelembaban sebesar 197.99 MΩ pada kondisi bersih, dan 157.65 MΩ pada kondisi berpolutan garam. Sedangkan pada pengujian suhu sebesar 343.44 MΩ untuk kondisi bersih dan 202.07 MΩ pada kondisi berpolutan garam. Hal ini menunjukkan bahwa kelembaban udara dan polutan garam memberikan kontribusi terbesar terhadap penurunan nilai resistansi permukaan isolator. Kata kunci: arus bocor, isolator, kelembaban udara, suhu, polutan garam
STUDI PERILAKU PENGOTOR SERBUK JERAMI DALAM MINYAK ZAITUN PADA MEDAN LISTRIK HOMOGEN DAN NON-HOMOGEN Keiko Azizah; Moch. Dhofir; Hery Purnomo
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paper ini melaporkan hasil penelitian tentang perilaku pengotor serbuk jerami dalam minyak zaitun pada medan listrik homogen dan non-homogen. Tujuan dari paper ini mengamati perilaku pengotor pada medan homogen dan non homogen beserta pengaruh kekuatan dielektrik yang ditimbulkan. Pada penelitian ini menggunakan minyak zaitun sebagai minyak alternatif dari isolasi cair, dan kontaminan serbuk jerami. Metode yang digunakan pengujian arus konduksi yaitu menggunakan chamber dengan elektroda cincin pengaman dengan jarak sela 5 mm yang diberi tegangan DC. Dengan mengetahui arus konduksi, maka dapat diketahui nilai resistivitas dari minyak zaitun. Pengujian untuk mengetahui nilai permitivitas minyak zaitun juga dilakukan menggunakan chamber elektroda cincin pengaman menggunakan tegangan AC dengan jarak sela 5 mm. Penelitian ini juga untuk mengamati  pengaruh kontaminan serbuk jerami terhadap arus bocor minyak zaitun dengan elektroda yang digunakan piring-piring (homogen) dan jarum-piring (non homogen) serta tegangan tembus dengan elektroda standart yang diberi tegangan AC. Pengamatan pergerakan partikel jerami juga dilakukan menggunakan tegangan tinggi DC serta simulasi distribusi medan listrik menggunakan FEMM 4.2. Dari hasil penelitian ini diperoleh nilai resistivitas 1287 MΩm dan permitivitas minyak zaitun 4,37. Pengujian arus bocor bertambah besar seiring dengan penambahan kontaminan serbuk jerami. Pada elektroda piring-piring, arus bocor murni dan terkontaminasi sebanyak 1% dengan jarak sela 15 mm berturut-turut adalah 37,73 μA dan 41,8 μA pada tegangan 20 kV. Sedangkan pada elektroda jarum-piring dengan jarak sela yang sama, arus bocor murni dan kontaminan 1% sebesar 18,1μA dan 20,67 μA. Faktor efisiensi dari piring-piring sebesar 0,999, sedangkan jarum-piring 0,136. Kata kunci: Pengotor, serat selulosa, tegangan tembus, arus bocor, pergerakan partikel, FEMM.
STUDI PENGGUNAAN ELEKTRODA MODEL JARING – JARING SETENGAH BOLA PADA SISTEM PENTANAHAN. Erwan Aryanto; Moch. Dhofir; Rini Nur Hasanah
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.093 KB)

Abstract

Penggunaan elektroda model jaring –jaring setengah bola pada sistem pentanahanbertujuan untuk mendapatkan nilai resistansipentanahan yang baik. Nilai resistansi pentanahanditentukan oleh elektroda yang digunakan sertakondisi tanahnya. Penelitian dilakukan denganbeberapa variasi panjang diameter luasan setengahbola, kedalaman penanaman elektroda sertadibandingkan dengan elektroda batang. Ukuranvariasi diameter bola dan kedalaman penanamanadalah 50 cm, 75 cm, dan 100 cm.Pengukurandilakukan dengan metode 3 titik. Hasil yang diperolehresistansi pentanahan yang dihasilkan dari elektrodajaring – jaring setengah bola lebih rendah 8 sampai 11kali dibandingkan dengan elektroda batang padakedalaman 100 cm. Nilai resistansi pentanahan yangterendah dihasilkan dari elektroda model jaring –jaring setengah bola berdiameter 100 cm padakedalaman 100 cm dengan posisi arahnya terbuka kebawah yakni sebesar 18,13 ohm.Kata Kunci—elektroda setengah bola, diameter,resistansi pentanahan .
PENGARUH LOKASI PITA KONDUKSI PADA PERMUKAAN ISOLATOR KACA TERHADAP TINGKAT ARUS BOCOR Danang Dwi Andaru; Moch. Dhofir; Rini Nur Hasanah
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 3 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal ini memaparkan  penelitian  tentang pengaruh lokasi pita konduksi pada permukaan isolator kaca terhadap tingkat arus bocor. Zat pengotor pada penelitian berupa larutan natrium klorida pada berbagai konsentrasi dengan varisi masa garam sebesar 10-50 gr dan dilarutkan kedalam 250 ml air. Pada masa 10 gr mengahsilkan 0.17 moll sedangkan pada masa garam 50 gr mengasilkan 0.85 moll natrium klorida. Semakin besar tegangan uji maka semakin meningkat nilai arus bocor, tahanan permukaan isolator kaca, rugi daya nyata dan rugi energi satu tahun. Pada tegangan kerja 23 kV, 0.34 moll larutan natrium klorida pada lebar lapisan pita konduksi 40 mm arus bocor, tahanan permukaan dan rugi energi satu tahun diposisi ground masing-masing sebesar 110.2 µA, 208.71 MΩ dan 22.203 kWh, sedangkan diposisi HV sebesar 144.6 µA, 159.06 MΩ dan 29.134 kWh, sedangkan diposisi middle sebesar 182.7 µA, 125.89 MΩ dan 36.81 kWh.  Kemudian pada tegangan kerja 29 kV arus bocor, tahanan permukaan dan rugi energi satu tahun diposisi ground masing-masing sebesar 132.8 µA, 218.37 MΩ dan 33.737 kWh, sedangkan diposisi HV sebesar 161.3 µA, 179.79 MΩ dan 40.977 kWh, sedangkan diposisi middle sebesar 212.6 µA, 136.41 MΩ dan 54.009 kWh. Pada tegangan uji 23 kV dan 29 kV terjadi perbedaan arus bocor sebesar 22.6 µA dan porsentase selisihnya sebesar 17.018 % diposisi ground, sedangkan diposisi HV perbedaan arus bocornya sebesar 16.7 µA dengan prosentase perbedaan sebesar 10.35 %, sedangkan diposisi middle perbedaan arus bocornya sebesar 29.9 µA dengan prosentase perbedaan sebesar 14.06 %. Kata kunci - pita konduksi, konsentrasi larutan natrium klorida, isolator kaca, arus bocor, tegangan uji, resistansi permukaan, rugi daya nyata, rugi energi dalam satu tahun.
RESISTANSI PENTANAHAN SISTEM GRID DENGAN PENAMBAHAN PASIR HITAM Indra Nugraha; Moch. Dhofir; n/a Soemarwanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 1 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil Jurnal ini menguraikan hasil penelitian enelitian tentang tentang tentang penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada penambahan pasir hitam pada sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan sistem pentanahan grid pada lingkungan dengan resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa resistansi tinggi dilakukan dengan beberapa variasi luasan variasi luasan variasi luasan variasi luasan variasi luasan variasi luasan variasi luasan variasi luasan variasi luasan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan elektroda, ketebalan penambahan pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman pasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalamanpasir hitam dan variasi kedalaman penanaman penanaman penanaman penanaman penanaman penanaman elektroda elektroda elektrodaelektrodaelektroda. Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan Variasi luasan elektroda dengan ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 ukuran mesh 1 (50 cm x cm) dan 2 100 cm x 100 cm). V cm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Vcm x 100 cm). Variasi ariasi ariasi ariasi ariasi ketebalan penambahanketebalan penambahan ketebalan penambahanketebalan penambahan ketebalan penambahan ketebalan penambahanketebalan penambahan ketebalan penambahanketebalan penambahanketebalan penambahanketebalan penambahan ketebalan penambahan pasirpasirpasirpasir hitam hitamhitam adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan 100 cm.dan 100 cm.dan 100 cm. dan 100 cm.dan 100 cm.dan 100 cm.dan 100 cm.dan 100 cm.dan 100 cm.dan 100 cm. Variasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanaman ariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanaman ariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanaman ariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanaman ariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanaman ariasi kedalaman penanaman ariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanamanariasi kedalaman penanaman elektrod elektrod elektrodelektroda adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan adalah 20 cm, 40 60 80 cm dan 100 cm. 100 cm. 100 cm. 100 cm. 100 cm. 100 cm. 100 cm. 100 cm. Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran Pengukuran resistansi pentanahanresistansi pentanahan resistansi pentanahanresistansi pentanahan resistansi pentanahan resistansi pentanahan resistansi pentanahanresistansi pentanahan resistansi pentanahan resistansi pentanahan resistansi pentanahan dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik. dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik. dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik. dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik. dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik. dengan metode 3 titik.dengan metode 3 titik. Dari hasil Dari hasil Dari hasil Dari hasil Dari hasil Dari hasil penelitian inipenelitian ini penelitian ini penelitian ini penelitian ini penelitian ini diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi diperoleh nilai resistansi pentanahanpentanahan pentanahan pentanahan pentanahan palinpalinpalin g rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah rendah dengan penambahan pasir hitam basah pada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkungan pada tanah lingkungan pada tanah lingkungan pada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkungan pada tanah lingkunganpada tanah lingkunganpada tanah lingkungan dengan dengan dengan dengan ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x ukuran 100 cm x 100 cm padapadapadapada kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm kedalaman penanaman 100 cm sebesar sebesar sebesar sebesar sebesar 65 ,5 ohm.ohm.ohm.ohm.Kata kunciKata kunciKata kunciKata kunciKata kunciKata kunciKata kunci Kata kunci --- pasir pasir pasir pasir hitam hitam, gridgridgrid , luasan luasan luasan luasan luasan elektroda elektrodaelektrodaelektrodaelektroda .
ANALISIS KINERJA TRANSFORMATOR DAYA DENGAN METODE MARKOV Gita Andrika Sari; Moch. Dhofir; Unggul Wibawa
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 4, No 3 (2016)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu peralatan yang sangat penting dalam proses penyaluran tenaga listrik adalah transformator. Transformator merupakan alat yang berfungsi untuk memindahkan energi listrik dari sisi primer ke sisi sekunder melalui induksi magnet. Kinerja transformator dipengaruhi oleh pembebanan, semakin besar beban yang harus disuplai maka arus yang dihasilkan juga semakin besar. Dengan semakin besar arus yang dihasilkan maka daya yang dihasilkan juga semakin besar dan hal tersebut berdampak pada panas yang dihasilkan. Penelitian ini akan membahas tentang kinerja transformator daya. Kinerja transformator daya dinilai dari nilai keandalan dan nilai ketersediaan. Nilai keandalan dan nilai ketersediaan dalam analisis ini diambil dari data DGA transformator daya. Metode yang digunakan dalam analisis ini adalah metode Markov. Dimana untuk menentukan nilai keandalan dan nilai ketersediaan menggunakan pemodelan dengan metode Markov, dengan menentukan laju kegagalan (λ) dan laju perbaikan (µ). Dimana laju kegagalan (λ) dan laju perbaikan (µ) didapatkan dari perhitungan MTTF (Mean Time To Failure) dan MTTR (Mean Time To Repair). Nilai keandalan transformator mempengaruhi dilakukannya perawatan. Sehingga semakin cepat dilakukan perawatan dalam kurun waktu tertentu maka dapat memperbaiki kualitas minyak transformator sebagai isolasi transformator. Sehingga, transformator dapat beroperasi secara maksimal. Kata kunci: nilai keandalan, nilai ketersediaan, DGA, metode markov
STUDI ISOLASI MINYAK RANDU DENGAN PENAMBAHAN FENOL DALAM MEDAN LISTRIK HOMOGEN DAN NON-HOMOGEN Frengky Adi Lestari; Moch. Dhofir; Mahfudz Shidiq
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 3, No 6 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Isolasi adalah pemisah antar peralatan bertegangan dengan tidak bertegangan. Salah satu isolasi yang dibahas pada penelitian ini yaitu isolasi cair, karena isolasi cair memiliki fungsi sebagai proteksi, pendingin dan self charging(dapat memperbaiki diri) ketika terjadi pelepasan muatan. Isolasi dari minyak randu di uji secara fisis. Sifat fisis yang akan di uji meliputi arus konduksi, arus bocor, tegangan tembus, dan efisiensi medan listrik. Pengujian arus konduksi dilakukan dengan menggunakan pengukuran tegangan tinggi bolak-balik (DC) sedangkan arus bocor dan tegangan tembus dilakukan dengan menggunakan pengukuran tegangan tinggi (AC). Arus konduksi difungsikan untuk mengetahui tahanan isolasi yang meliputi resistivitas. Sedangkan nilai permitivitas minyak randu diuji langsung dengan menggunakan multimeter, hal ini difungsikan untuk mengetahui nilai kapasitansi pada minyak randu sehingga nilai permitivitas minyak randu dapat diketahui. Serta arus bocor digunakan untuk megetahui besarnya arus yang mengalir pada minyak randu pada berbagai elektroda dan tegangan tembus digunakan untuk mengetahui kekuatan dielektrik dari minyak randu. Untuk nilai standart tegangan tembus yaitu ≥ 30 kV sesuai SPLN 1982 49-1 pada jarak sela 2,5 mm. Untuk susunan elektroda yang digunakan di dalam pengujian medan homogen (elektroda standart, bola-bola) dan non-homogen (jarum-piring). Dan Distribusi medan listrik homogen dan non-homogen dilakukan dengan menggunakan FEMM 4.2. Untuk dianalisis efisiensi dari medan listrik homogen yang ≤ 1, Dan medan non-homogen < 1.Kata Kunci – Isolasi cair, arus konduksi, arus bocor, tegangan tembus, FEMM
RANCANG BANGUN BUSBAR TERISOLASI GAS SF6 PADA GARDU INDUK SENGKALING 150 kV Indri Rahmawati; Moch. Dhofir; n/a Soemarwanto
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.093 KB)

Abstract

Peningkatan kebutuhan listrik di Indonesia secara tidak langsung berdampak pada peningkatan penyuplai energi listrik yang mampu untuk mencukupi konsumsi energi tersebut. Proses penambahan penyuplai energi listrik akan membutuhkan pembangkit listrik atau gardu induk yang baru. Pembangunan gardu induk baru membutuhkan area yang luas, sedangkan penyediaan lahan yang luas sulit untuk didapatkan pada daerah yang padat penduduknya. Oleh karena itu pada penelitian ini dilakuakan studi analisis pengaruh gas SF6 terhadap perancangan busbar. Pada makalah ini dilakukan analisis pengaruhkekuatan medan dielektrik gas SF6 sebesar ???????? ????????/???????? terhadap perancangan dimensi busbar ???????????? ???????? yang terisolasi oleh gas SF6. Perancangan busbar yang diutamakan adalah ketahanan busbar yang diisolasi oleh gas SF6 dalam menahan arus hubung singkat sebesar ???????? ???????? dan kekuatan busbar tersebut dalam menahan tegangan ketahanan frekuensi jala – jala ???????? ???????? sebesar ???????????? ????????. Ketahanan busbar tersebut selain mempengaruhi dimensi busbar juga mempengaruhi tekanan gas yang berada didalam tabung penutup busbar yang dapat ditentukan berdasarkan kuat medan dielektrik gas SF6. Keberadaan gas SF6 mampu merubah dimensi busbar menjadi kecil dan memiliki kekuatan untuk menahan tegangan tembus yang besar.Kata Kunci— Busbar, Gas SF6, Medan Listrik
PENGARUH LETAK SISIPAN KERTAS KRAFT TERHADAP TINGKAT ARUS BOCOR PADA SUSUNAN ELEKTRODA KOAKSIAL Rifka Agustina Kusuma Pratiwi; Moch. Dhofir; Rini Nur Hasanah
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada buku skripsi ini menguraikan hasil penelitian tentang pengaruh letak sisipan kertas kraft terhadap tingkat arus bocor pada susunan elektroda koaksial. Pada penelitian ini dilakukan dengan metode pengujian meliputi pengujian pengaruh letak sisipan kertas kraft diantara susunan elektroda koaksial dengan dielektrik udara terhadap arus bocor, pengujian pengaruh ketebalan kertas kraft terhadap arus bocor pada elektroda koaksial, dan pengujian pengaruh luas penampang susunan elektroda koaksial terhadap arus bocor yang terjadi pada alumunium. Masing-masing pengujian dilakukan dengan memberikan variasi tegangan sebesar 3 kV, 6kV, 10 kV, 15 kV, 20 kV, dan 25 kV. Hasil dari penelitian yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa pada pengaruh letak sisipan kertas kraft diantara susunan elektroda koaksial dengan dielektrik udara terhadap arus bocor adalah arus bocor yang paling kecil terletak pada letak sisipan kertas kraft yang memiliki diameter sebesar 4 cm.Selain itu, untuk hasil penelitian pada pengaruh ketebalan kertas kraft terhadap arus bocor pada elektroda koaksial adalah arus bocor pada kertas kraft dengan tebal 0,015 mm untuk luas penampang elektroda koaksial yang sama dan diameter kertas kraft yang sama lebih besar daripada arus bocor pada kertas kraft dengan ketebalan 0,02 mm. Kemudian untuk hasil pengujian arus bocor pada luas penampang susunan elektroda koaksial terhadap arus bocor yang terjadi pada alumunium adalah arus bocor pada luas penampang elektroda koaksial 1,5 mm2 lebih besar dibanding dengan luas penampang elektroda koaksial 6 mm2 untuk tebal kertas kraft yang sama dan diameter kertas kraft yang sama. Kata kunci: Arus bocor, kertas kraft, elektroda koaksial. ABSTRACT                     In this thesis book describes the results of research on the influence of kraft paper insertion location against the level of leakage current on the arrangement of coaxial electrode. In this research, the test method involves testing the influence of kraft paper insertion location between the coaxial electrode arrangement with the air dielectric to leakage current, testing the effect of kraft paper thickness to leakage current on the coaxial electrode, and testing the effect of cross-sectional area of ​​the coaxial electrode to the leakage current on aluminum. Each test was performed by varying the voltage of 3 kV, 6kV, 10 kV, 15 kV, 20 kV, and 25 kV. The result of the research has been done that the effect of the kraft paper insertion location between the coaxial electrode arrangement with the air dielectric to the leakage current is the smallest leakage current is located on the kraft paper insertion that has a diameter of 4 cm.In addition, for the results of research in effect of kraft paper thickness to leakage current on coaxial electrode is leakage current on kraft paper with thickness 0,015 mm for same coaxial section cross section and same kraft paper diameter larger than leakage current on kraft paper with thickness 0,02 mm. Then for the leakage current test result on the cross-sectional area of ​​the coaxial electrode array to the leakage current occurring in aluminum is the leakage current on the 1.5 mm2 coaxial cross-sectional area larger than the 6 mm2 coaxial cross-sectional area for the same kraft paper thickness and the paper diameter the same kraft. Keywords: Leakage current, kraft paper, coaxial electrode.