Surahman Hakim
Faculty of Medicine University of Indonesia/ Dr. Cipto Mangunkusomo Hospital Jakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

MEAN URGE INCONTINENCE EPISODES COMPARISON AFTER SOLIFENACIN AND MIRABEGRON TREATMENT IN OVERACTIVE BLADDER PATIENTS: A CASE REPORT Fuady, Dzicky Rifqi; Hakim, Surahman
Mandala Of Health Vol 17 No 2 (2024): Mandala of Health: a Scientific Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.mandala.2024.17.2.12741

Abstract

Latar Belakang: Overactive bladder (OAB) merupakan sindrom yang mengganggu kualitas hidup, khususnya kualitas hidup wanita. Pilihan terapi farmakologis untuk OAB adalah agen antimuskarinik (80%), seperti solifenacin. Agen agonis beta-3 juga merupakan pilihan terapi farmakologis baru untuk OAB, seperti mirabegron. Inkontinensia urin urgensi merupakan gejala OAB yang paling mengganggu, sehingga perlu dilakukan penilaian apakah solifenacin dan mirabegron memberikan perbaikan gejala yang berbeda. Kasus: Seorang wanita berusia 50 tahun dengan diagnosis overactive bladder (OAB) dengan gejala urgensi, frekuensi berkemih 20 kali/hari, nokturia 3 – 4 kali/malam, dan inkontinensia urgensi tanpa tanda-tanda peradangan saluran kemih. Pembahasan: Pencarian literatur dilakukan melalui Google Scholar, Pubmed, Embase, clinicaltrials.gov dan Cochrane library. Ditemukan total 532 artikel dengan hanya dua artikel meta analisis yang dicocokkan dan dinilai. Validitas, kepentingan dan penerapan meta-analisis dianalisis menggunakan tinjauan sistematik alat Oxford CEBM. Meta analisis menunjukkan bahwa solifenacin dan mirabegron tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam hal jumlah rata-rata episode inkontinensia urgensi. Kesimpulan: Solifenacin dan Mirabegron mempunyai pengaruh yang sama terhadap jumlah episode inkontinensia urgensi pada pasien OAB.
PENDEKATAN DIAGNOSIS SINDROM OHVIRA PADA FASILITAS KESEHATAN TERBATAS: SEBUAH TINJAUAN SISTEMATIS Hakim, Surahman; Kadarusman, Adib Kamil Putra; Fadhly, RM Ali; Suryoadji, Kemal Akbar; Hadinata, Valencia; Zahra, Reihana; Abdullah, Muhammad Raoul Taufiq; Kusuma, Fitriyadi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol 23 No 03 (2024): Jurnal Ilmiah Kesehatan terbitan Desember Volume 23 Nomor 03 Tahun 2024
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikes.v23i03.3631

Abstract

Sindrom OHVIRA merupakan kelainan kongenital yang langka terjadi pada saluran reproduksi wanita. OHVIRA merupakan salah satu kelompok kelainan duktus mullerian yang terdiri dari trias uterus didelfis, obstruksi hemivagina, dan agenesis renal. Diagnosis menjadi sebuah tantangan, terutama pada fasilitas kesehatan yang memiliki keterbatasan sarana prasarana dikarnakan tingkat prevalensi yang rendah dan menifestasi klinis yang beragam. Tinjauan sistematis dilakukan dengan pencarian menggunakan kata kunci yang terstruktur pada beberapa database seperti PubMed, Cochrane, ScienceDirect, dan Google Scholar , scopus, dan cochrane. Seleksi artikel dilakukan menggunakan kriteria kelayakan yang ditetapkan. Berdasarkan pencarian artikel didapatkan 6 studi yang menunjukkan manifestasi klinis dari sindrom OHVIRA. Beberapa manifestasi klinis yang ada berupa nyeri punggung belakang kronis, nyeri perut, dyspareunia, dan adanya keputihan yang berbau. Pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya abnormalitas seperti massa kistik, benjolan pada abdomen, anomali uterus, dan kelainan dinding vagina. Beragam keluhan dan temuan tersebut dapat menjadi landasan untuk menjadikan sindrom OHVIRA sebagai diagnosis banding untuk proses rujukan segera dan tatalaksana awal. Sindrom OHVIRA memiliki manifestasi klinis yang beragam, sehingga menjadikan keadaan ini sebuah tantangan untuk didiagnosis. Dokter pada layanan terbatas berperan penting dalam mengenali keluhan khususnya keluhan ginekologi kronis, dan menjadikan sindrom ini sebagai diagnosis banding untuk melakukan perujukan kasus ke fasilitas layanan kesehatan tingkat lanjut, dan memberikan tatalaksana untuk meringankan gejala.
Profil Sosiodemografi Wanita Hamil dengan Infeksi Saluran Kemih: Sebuah Tinjauan Sistematis dari Penelitian Saat Ini: Analisis Kusuma, Fitriyadi; Suryoadji, Kemal Akbar; Kadarusman, Adib Kamil Putra; Binathara, Geraldus Sigap Gung; As’syifa, Salsa Billa; Hakim, Surahman
Cermin Dunia Kedokteran Vol 52 No 1 (2025): Obstetri & Ginekologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v52i1.1250

Abstract

Introduction: Untreated UTIs during pregnancy can lead to complications for both the mother and the fetus, highlighting the importance of appropriate management. Understanding the sociodemographic profiles of pregnant women with UTIs can aid in tailored interventions and care. Methods: This systematic review followed a protocol registered in the International Prospective Register of Systematic Reviews (PROSPERO ID: CRD42024507145). Cohort cross-sectional studies focusing on the sociodemographic profiles of pregnant women with UTI were systematically searched and selected from databases such as ScienceDirect, Cochrane, Scopus, and PubMed. Eligibility criteria included relevance to sociodemographic profiles, clear extraction and statistical analysis methods, and publication in English. Data extraction and study selection were conducted independently by six researchers, with any discrepancies resolved through discussion. Results: Three studies met the inclusion criteria and were included in the systematic review. The studies conducted in the United States, Cameroon, and Bangladesh, which included 46,398 pregnant women, revealed diverse sociodemographic factors associated with UTI risk among pregnant women. Factors such as low educational attainment, low household income, and racial/ethnic disparities were identified as significant contributors to UTI prevalence in the United States. In Cameroon, although a high UTI prevalence was observed, no significant risk factors were identified. In Bangladesh, maternal undernutrition, primiparity, and low paternal education were significant risk factors for UTIs among pregnant women. Antibiotic sensitivity was varied, indicating the complexity of UTI management. Conclusion: The systematic review emphasizes the importance of considering sociodemographic factors in understanding and addressing UTI risk among pregnant women. Socioeconomic status, cultural disparities, and health-related factors play significant roles in UTI prevalence and management. An intervention to target specific sociodemographic characteristics may be necessary to effectively prevent and manage UTIs in pregnant women across different geographical and socioeconomic contexts.
Kegel exercises with a guidebook for stress urinary incontinence treatment Hakim, Surahman; Santoso, Budi Iman; Rahardjo, Harrina Erlianti; Setiati, Siti; Kusumaningsih, Widjajalaksmi; Prihartono, Joedo; Ibrahim, Nurhadi; Indriatmi, Wresti; Erwinanto
Medical Journal of Indonesia Vol. 33 No. 2 (2024): June
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13181/mji.oa.247142

Abstract

BACKGROUND Stress urinary incontinence (SUI) is uncontrollable urine leakage when intra-abdominal pressure increases. Behavioral therapy with Kegel exercise is currently the best conservative management recommendation for treating SUI patients. This study aimed to investigate the success of supervised Kegel exercises using the Kegel exercises guidebook in women with SUI. METHODS This quasi-experimental study involved both groups being taught the same regiment of Kegel exercises, but the intervention group was given the Kegel exercises guidebook. After 12 weeks, the compliance, subjective, and objective success rates were evaluated through the patient’s notes, Urinary Distress Inventory-6, Incontinence Impact Questionnaire-7, perineometer, and pad test. RESULTS Patients with a higher level of education had lower compliance to Kegel exercises (p = 0.01; odds ratio [OR] 0.38; 0.18–0.79). No significant difference was observed in the subjective symptom improvement between the two groups. The intervention group had a significantly higher success rate based on objective success by analyzing the 1-hour pad test results. The intervention group was also more adherent (p<0.001; OR 4.78; 2.51–9.0). CONCLUSIONS Patients who received the Kegel exercises guidebook were more compliant and more objectively successful than those who did not receive the manuals.