Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Memaknai Bunga di Atas Batu: Patung Karya Anusapati Sumarwahyudi, Sumarwahyudi
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sculpture is an iconic sign to convey a message or something that can be used to represent a state (context), events of the past, or those in the future. Sculpture consists of iconic signs that work together systemically to achieve certain goals. This study aims to (1) describe the meaning of denotation, and (2) interpret the connotative meaning of Anusapati’s work entitled “Bunga di Atas Batu” (Flower on a Stone), a bronze statue created in 2004, by employing the connotative semiotics approach of Roland Barthes. The sculpture portrays a monument, which invites everyone to see that ‘flower’ as the connotation of the forest has been elevated, not to be given a respectable position, but just to be remembered. Forests as valuable assets owned by the Indonesians and even the world are seen metaphorically as ‘the flower’ which is gradually disappearing, (almost) becoming a memory. In some areas in Indonesia, forests have even completely disappeared and only left memories behind.
Program Pengembangan Kewirausahaan Jaranan Laksamana Manggala Tumpang (Kini Menjadi Laksana Manggala) E. Wara Suprihatin; Sumarwahyudi Sumarwahyudi; Robby Hidajat; Yunanto Adi Prasetyo
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/vp8khm85

Abstract

The Jaranan Laksamana Manggala group, now renamed Laksana Manggala (LM), is a traditional arts group that has grown in the Tumpang area, Malang Regency. Comprised of young members who are passionate about preserving karawitan and jaranan, LM faces increasing challenges as the number of similar groups in the region continues to rise. To remain relevant and competitive, LM is required to be more innovative and creative in both artistic expression and organizational development. This community service program aims to strengthen entrepreneurship through capacity development. The focus includes improving members’ technical skills as dancers and musicians, while also providing training in producing jaranan-themed souvenirs such as Tumpang key chains that offer alternative income opportunities. The program applied a participatory approach through entrepreneurship workshops, group management mentoring, and the use of digital technology for promotion and performance documentation.
Manajemen Produksi Batik pada Rumah Industri Inayah Bugul Kota Pasuruan: Batik Production Management at Inayah Home Industry Bugul Pasuruan City Saputri, Febria; Sumarwahyudi, Sumarwahyudi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 43 No. 1 (2026): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah industri batik di Kota Pasuruan merupakan salah satu sektor industri yang memiliki keunggulan kompetitif. Hal ini, menjadi tantangan tersendiri bagi Rumah Industri Inayah untuk menerapkan manajemen produksi secara optimal. Manajemen produksi tersebut berdasarkan pemenuhan permintaan konsumen secara tepat waktu dengan adanya penggunaan bahan baku yang berkualitas, serta jangkauan harga yang relatif murah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manajemen produksi batik pada Rumah Industri Inayah Bugul, Kota Pasuruan dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan proses observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen produksi dapat berjalan secara efektif melalui tahapan: 1) perencanaan, pemilihan canting dengan penggunaan teknik batik kasar yang menjadikan harga relatif lebih murah. Namun, penginventarisasian persedian bahan baku dan biaya tidak dilakukan, sehingga persediaan dan pengeluaran anggaran produksi tidak terkontrol dengan baik; 2) pengorganisasian, penerapan sistem tenaga kerja fungsional yang dapat memberikan hasil kinerja yang baik; 3) pengarahan, dilakukan dengan memberikan perintah pada setiap tahapan produksi, sehingga kualitas batik sesuai dengan permintaan konsumen; 4) pengawasan, dilakukan dengan mencatat batas waktu untuk meminimalisir keterlambatan proses produksi. Pada pengawasan ini, penginventarisasian jumlah unit batik dan biaya produksi tidak dilakukan secara maksimal, hal ini menyebabkan lost cost terhadap biaya produksi dan persediaan batik melebihi kapasitas permintaan konsumen.