Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Jurnal Agripet

Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kualitas Sosis Salami (Sosis Fermentasi) Ayam Afkir Salami, Hidayatus; Febryanti, Ria; Hanum, Zuraida
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.23382

Abstract

ABSTRAK. Penelitian Pengaruh Lama Fermentasi terhadap Kualitas Sosis Salami (Sosis Fermentasi) Ayam Afkir ini bertujuan untuk melihat kualitas sosis Salami (sosis fermentasi) dengan lama fermentasi 0 jam, 24 jam, 48 jam, 72 jam. Materi yang digunakan pada penelitian ini adalah daging ayam afkir (ayam ras petelur yang sudah tidak produktif), bakteri Lactobacillus plantarum , tepung tapioka, tepung maizena, tepung Isolat Protein Kedelai (ISP), garam, lemak daging, minyak makan, telur, bawang putih. Persentase bakteri Lactobacillus plantarum yang digunakan untuk setiap perlakuannya sama. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan, 4 perlakuan tersebut yaitu (P0= kontrol atau tanpa fermentasi, P1= fermentasi 1 hari, P2= fermentasi 2 hari, P3= fermentasi 3 hari. Peubah yang diamati adalah pengukuran pH, pengujian Total Plate Count (TPC), pengujian total asam, dan pengujian kadar protein. Hasil penelitian berdasarkan analisis uji sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan pengaruh lama fermentasi sosis salami menunjukkan hasil yang berpengaruh sangat nyata P0,01 terhadap nilai pH, total bakteri (TPC), dan total asam sosis Salami, serta berpengaruh nyata P0,05 terhadap nilai protein sosis Salami. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan perlakuan P2 (lama fermentasi 48 jam) merupakan hasil terbaik secara keseluruhan dilihat dari nilai pH (5,08), total plate count (8,33), total asam(8,77) dan kandungan protein (15,29).(The effect of fermentation long on the quality of afkir chicken salami sauces (fermentation sausage))ABSTRACT. The study of the Effect of Fermentation Time on the Quality of Chicken Salami Sausage (Fermented Sausage) aims to see the quality of Salami sausage (fermented sausage) with a fermentation time of 0 hours, 24 hours, 48 hours, 72 hours. The research was conducted at the Meat Processing Science and Technology Laboratory, Milk Processing Science and Technology Laboratory, and Nutrition and Feed Processing Science, Department of Animal Husbandry, Faculty of Agriculture, Universitas Syiah Kuala. The materials used in this study were rejected chicken meat (layers that are no longer productive), Lactobacillus Plantarum bacteria, tapioca flour, cornstarch, ISP flour (soy flour), salt, meat fat, edible oil, eggs, garlic. The percentage of Lactobacillus Plantarum bacteria used for each treatment was the same. This study used a completely randomized design (CRD) with unidirectional pattern with 4 treatments and 4 replications, the 4 treatments were (P0= control or no fermentation, P1= 1 day fermentation, P2= 2 days fermentation, P3= 3 days fermentation). The observed variables were pH measurement, TPC testing, total acid testing, and protein content testing. The results of the study based on analysis of variance test showed that the treatment of the effect of the duration of fermentation of salami sausage showed a very significant effect P 0.01 on the pH value, total bacteria (TPC), and total acid of Salami sausage, and had a significant effect of P 0.05 on the protein value of Salami sausage.
Measurement of Stress Levels in Pre- and Post-Slaughter Cattle at Tanah Merah Slaughterhouse Samarinda, East Kalimantan Province, Indonesia Wibowo, Ari; Suhardi, Suhardi; Fanani, Anhar Faisal; Wanniatie, Veronica; Hanum, Zuraida
Jurnal Agripet Vol 23, No 2 (2023): Volume 23, No. 2, Oktober 2023
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v23i2.31183

Abstract

ABSTRACT. The heightened demand for domestic beef has emerged in response to an expanding populace and heightened public interest in meat consumption. The principal objective of this investigation was to assess cardiac activity, as inferred from heart rate data, through the application of rigorous statistical methodologies and meticulous sampling techniques. The study comprised 70 Bali cattle sourced from the Samarinda Slaughterhouse (RPH), with statistical analysis facilitated by the utilization of the Z Test. Examination of the heart rate data indicated a notable degree of variability. Upon conducting the Z Test, a statistically significant finding was ascertained with p0.05, signifying the acceptance of H1. This, in turn, signified that the heart rate data exhibited an elevation in stress levels. Conversely, H0 was categorically refuted, implying an absence of heightened heart rate between the enclosure environment and the site of slaughter. Further observations centered on urination and defecation within the sample, yielding an average incidence of 11.425% amongst the 70 Bali cattle, serving as an indicator of stress or discomfort. The evaluation of stress levels in cattle within the Tanah Merah Samarinda Animal Slaughterhouse, situated in East Kalimantan, corroborated a significant surge in stress during the transition of cattle from the enclosure zone to the slaughter and dispersal area. This phenomenon is attributed to the deficiency in knowledge among stockpersons concerning optimal livestock handling and the principles of animal welfare.(Pengukuran tingkat stres pada sapi pra dan pasca penyembelihan di rumah potong hewan Tanah Merah Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia)ABSTRAK. Permintaan yang meningkat untuk daging sapi dalam negeri muncul sebagai respons terhadap pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan minat publik yang tinggi dalam konsumsi daging. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menilai aktivitas jantung, seperti yang disimpulkan dari data denyut jantung, melalui penerapan metodologi statistik yang ketat dan teknik pengambilan sampel yang cermat. Penelitian ini melibatkan 70 ekor sapi Bali yang diperoleh dari Rumah Potong Hewan (RPH) Samarinda, dengan analisis statistik dilakukan dengan menggunakan Uji Z. Pemeriksaan data denyut jantung mengindikasikan tingkat variasi yang signifikan. Setelah melakukan Uji Z, temuan yang signifikan secara statistik ditemukan dengan p0,05, menunjukkan penerimaan H1. Ini, pada gilirannya, menunjukkan bahwa data denyut jantung menunjukkan peningkatan tingkat stres. Sebaliknya, H0 secara tegas ditolak, mengimplikasikan ketiadaan peningkatan denyut jantung antara lingkungan kandang dan lokasi pemotongan. Pengamatan lebih lanjut terkait dengan buang air kecil dan buang air besar dalam sampel menghasilkan insiden rata-rata sebesar 11,425% dari 70 ekor sapi Bali, yang berfungsi sebagai indikator stres atau ketidaknyamanan. Evaluasi tingkat stres pada sapi di Rumah Potong Hewan Tanah Merah Samarinda, yang terletak di Kalimantan Timur, mengkonfirmasi peningkatan signifikan dalam stres selama proses pemindahan sapi dari zona kandang ke area pemotongan dan penyebaran. Fenomena ini dikaitkan dengan kurangnya pengetahuan di antara peternak tentang penanganan ternak yang optimal dan prinsip kesejahteraan hewan.