Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

SINTESIS ELEMEN ARSITEKTUR LOKAL DENGAN NON LOKAL Kasus Studi : Gedung Rektorat Universitas Padjadjaran, di Jatinangor, Sumedang Purnama Salura; Bachtiar Fauzy
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2013)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3253.063 KB)

Abstract

Penelitian yang dilakukan pada Gedung Rektorat UNPAD di Jatinangor ini bersifat deskriptif evaluatif dan berfokus pada penelusuran proses sintesis arsitektural. Rancangan gedung ini merupakan juara pertama hasil sayembara di mana perancang menyatakan bahwa konsepnya berangkat dari sintesis antara unsur Sunda dengan unsur Modern.Alat baca yang digunakan berlandas gabungan pendekatan Evensen dan Salura yang menekankan pada relasi yang terjalin antara aspek arsitektur yaitu fungsi-bentuk-makna dan elemen arsitektur yaitu lantai, dinding, atap.Hasil penelitian menunjukkan bahwa interpretasi tampilan rancangan tidak sepenuhnya sejalan dengan konteks lokal alamnya. Demikian pula dengan konteks lokal tradisi budaya setempat. Berdasar analisis dan pendapat responden dapat diinterpretasikan bahwa rancangan yang ada justru lebih menekankan pada dominasi gaya modern ketimbang sintesis antara unsur Sunda dengan Modern.Penelitian ini penting dilakukan agar seluruh relasi yang terjalin antara Fungsi-Bentuk-Makna Gedung Rektorat Unpad dapat diposisikan pada ranah teoritik yang tentunya dapat memberi kontribusi pada proses pembelajaran serta praktik perancangan arsitektur
IDENTIFIKASI FISIK ARSITEKTUR KAWASAN PERMUKIMAN ETNIS TEPI SUNGAI MUSI KOTA PALEMBANG BERDASARKAN ASPEK PERATURAN Purnama Salura; Rumiati Rosaline Tobing; Alfred Alfred
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1994.642 KB)

Abstract

Wujud arsitektur permukiman di tepi sungai merupakan representasi nila-nilai perilaku masyarakat yang tinggal di tepi sungai dengan berbagai aspek kehidupan yangmelatarbelakangi seperti politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sejarah menyebutkan bahwa kebijakan mengenai kawasan permukiman di Indonesia sudah dimulai sejakmasa Pra-Kolonial, kemudian berlanjut pada masa Pemerintahan Kolonial Belanda, hingga pada masa Pemerintahan Republik Indonesia.Kebijakan pada masa Pra-Kolonial dan masa Kolonial Belanda lebih menekankan fungsi sungai sebagai kekuatan politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Sedangkan pada masa Pemerintahan Republik Indonesia, kebijakan lebih didasarkan pada fungsi ekologis sungai yang dirumuskan dalam peraturan mengenai garis sempadan sungai.Kebijakan ini menyatakan bahwa seluruh bangunan yang berada di dalam garis sempadan sungai harus ditertibkan agar aktifitas manusia dan fungsi sungai tidak salingterganggu. Dalam kesehariannya, aktifitas masyarakat tepi sungai tidak dapat dilepaskan dari keberadaan sungai. Secara tidak langsung, kebijakan ini akan menghilangkan tradisi bermukim masyarakat tepi sungai. Padahal tradisi bermukim di tepi sungai ini merupakan salah satukekhasan yang menjadi identitas lokal masyarakat Indonesia sebagai negara maritim.Dapat dilihat bahwa aspek politik berperan penting dalam proses penataan lingkungan fisik dan bangunan permukiman di tepi sungai. Manifestasi kekuasaan di dalam arsitektur dapat ditelaah melalui aspek power, program, text, dan place seperti yang diungkapkan oleh Kim Dovey. Arsitektur permukiman di tepi sungai juga dapat ditelaah melalui indikator desain riverfront yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan dalam merumuskan kebijakan kawasan permukiman di tepi sungai.Kata Kunci : Kebijakan, Arsitektur Tepi sungai, Tata ruang dan bangunan, Permukimandan perumahan  
Sintesis Akulturasi Arsitektur Gereja Kristen Pniel Blimbingsari di Bali Bachtiar Fauzy; Purnama Salura; Stephanie Arvina Yusuf
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2014)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1700.164 KB)

Abstract

Penelitianini dipandang memiliki tingkat urgensi untuk dilakukan telaah karena kajian tentang arsitektur yang berlatar-belakang bangunan heritage belum banyak yang mengupas bangunan secara lebih detail berdasarkan elemen-elemen pelingkupnya. Uraian elemen bangunan menjadi penting agar mendapatkan esensi dasar dari karakter bangunan tersebut. Gereja Kristen Pniel merupakan salah satu bangunan yang telah mendapatkan pengaruh (akulturasi) oleh budaya Bali. Akulturasi merupakan proses sosial yang timbul apabila sekelompok manusia dengan suatu kebudayaan tertentu dihadapkan pada unsur-unsur dari suatu kebudayaan asing sehingga unsur asing lambat-laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaan itu sendiri tanpa menyebabkan hilangnya kepribadian kebudayaan itu. Gereja Kristen Pniel Blimbingsari ini merupakan salah satu objek yang patut untuk diteliti keunikannya, apakah pengaruh-pengaruh yang terjadi pada proses akulturasi budaya dan arsitektur dan apa saja filosofi dan konsep yang mendasari pada Arsitektur Gereja Kristen Pniel Blimbingsari Bali tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap sejauh mana terjadinya akulturasi arsitektur antara fungsi gereja dengan ragam budaya dan arsitekturtradisional Bali dengan cara melakukan sintesis, menelusuri sejauh mana arsitektur gereja kristen pniel blimbingsari, Bali ini dipengaruhi oleh unsur budaya dan arsitektur tradisional Bali. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif, analitik dan interpretatif, dengan menggunakan teori archetypes, ordering principle dan teori budaya –arsitektur tradisional Bali, dengan demikian teori dan metodologi yang digunakan dapat mengungkap fenomena arsitektur melalui penelusuran wujud akulturasi dari aspek fungsi, bentuk dan maknanya melalui filosofi tata ruang, kesakralan, dan pengaruh budaya yang terjadi pada Gereja Kristen Pniel Blimbingsari - Bali ini. Dari penelusuran yang dilakukanakan dapat membuktikan bahwa Gereja Kristen Pniel Blimbingsari – Bali ini merupakan ekspresi akulturasi antara budaya barat (fungsi gereja) dan budaya lokal (budaya Bali) melalui konsep konsepnya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai rujukan bagi kasus studi yang serupa di beberapa kawasan lainnya serta dapat menyumbangkan pengetahuan teori akulturasi arsitektur pada aspek fungsi, bentuk danmaknanya secara berkesinambungan.Kata Kunci : sintesis, akulturasi, arsitektur, gereja kristen          
RELASI LITURGI DENGAN EKSPRESI BENTUK SAKRAL ARSITEKTUR GEREJA KATOLIK Purnama Salura; Bachtiar Fauzy; Rudy Trisno
Research Report - Engineering Science Vol. 2 (2015)
Publisher : Universitas Katolik Parahyangan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1157.131 KB)

Abstract

This study aims to explore the relationship between the sacred function from the liturgy process and the expression form in the Catholic Church before anda after the 2nd Vatican Council, in Jakarta. which is is the pioneer for the growth and it has the largest number of Catholic Church.The method used in this study were: Firstly, recording the Cases study Church’s building and then re-draw all the cases styudy in detail so that the architectural building and the ornament can be analyzed.Secondly, the relationship between the sacred function concept, liturgy process and form expression concept were used.Thirdly, the analysis between these three items will be triangulated with the user.
PENGARUH FUNGSI RITUAL PADA BENTUK ARSITEKTUR Kasus Studi : Gereja Katedral, Gereja Theresia,Gereja Salib Suci, Gereja Santo Matias Rasul dan Gereja Stella Maris Rudy Trisno; Antariksa Antariksa; Purnama Salura
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.25-34

Abstract

ABSTRAK: Fenomena pudarnya sakralitas bentuk gereja Katolik di seluruh dunia cukup merisaukan Paus Benedictus. Ternyata pudarnya sakralitas bentuk terjadi juga pada gereja Katolik di Indonesia khususnya Jakarta. Secara keseluruhan, permasalahan yang muncul dari fenomena ini adalah tidak terjalinnya relasi yang baik antara fungsi kegiatan dengan bentuk tersebut serta makna yang tampil dari relasi tersebut. Tarik-menarik antara kedua fungsi dan bentuk inilah yang kemudian dimaknai oleh manusia melalui pengamatan langsung bagi pengguna maupun pengamat arsitektur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pertama, merekam fungsi liturgi dan bentuk pada gereja-gereja sebagai obyek studi  kemudian menggambarkan kembali secara rinci agar dapat dianalisis seluruh bentukan arsitektur yang ada. Kedua, menggunakan gabungan pendekatan sakralitas dari Eliade, Hoffman, Jones, dan Martasudjita untuk menelusuri seluruh fungsi kegiatan sedangkan untuk identifikasi ornamen dengan pendekatan Peirce. Sedangkan untuk menelusuri ekspresi bentuk digunakan elaborasi dari pendekatan arsitektur Salura dan Evensen. Analisis ini berlandas pada pendekatan strukturalisme yang menelusuri struktur-dalamnya. Ketiga, setelah dianalisa semua kasus studi kemudian diperbandingkan pada setiap obyek studi mana struktur-dalam. Keempat, interpretasi relasi kegiatan dan konsepsi sakral pada obyek studi. Kelima, menyimpulkan  bahwa pemaknaan relasional fungsi dengan sakralitas bentuk arsitektur gereja. Dengan demikian jika elemen sakralitas bangunan ini ada maka keseluruhan arsitektur gereja pada obyek studi dapat dikatakan memancarkan ekspresi bentuk sakral yang sarat dengan nilai ke-Katolik-an. Kata kunci:  Relasi, Fungsi  dan bentuk, Ekspresi, Sakralitas, Gereja Katolik ABSTRACT: The phenomenon of fading off form “sakralitas” of Catholic Church in the world has worried Paus Benedictus. Evidently, this phenomenon had been happened to Catholic Church in Indonesia, particularly Jakarta. Generally, problem has been occurred from this phenomenon is because there is no well relation between activities function with the form as well as the appearance meaning from that relation. The attraction between these both function and form, will be interpreted by people through direct observation for user as well as architectural researcher. This research will use some methods, firstly, will record liturgy function and form on the conducted churches as case studies then will describe in detail, thus could be analyzed all the existing architecture form. Secondly, will use combination “sakralitas” approach from Eliade, Hoffman, Jones and Martasudjita to explore all activities function, although to identify ornament will use Peirce approach. On the otherhand, to explore form expression will use elaboration from architectural approach of Salura and Evensen. This analysis will be based on to structuralism approach, which will explore the inner structure. Thirdly, after analysis process, all case studies will be compared each other on each study object which known as inner-structure. Fourthly, interpretation of activities relation and sacred conception on study objects. Fifthly,  to conclude the signification of function relational with form sakralitas of church architecture. Therefore, if this building element’s sakralitas exist, then all the church architecture on study objects could be said, they are throwing off the expression of sacred form which full of Catholic’s values.         Keywords:  relation, function and form, expression, sakralitas, Catholic Church
MAKNA RUANG PUBLIK PADA RUMAH TRADISIONAL MASYARAKAT JAWA KASUS STUDI: DESA JAGALAN KOTAGEDE YOGYAKARTA Sumardiyanto Sumardiyanto; Antariksa Antariksa; Purnama Salura
NALARs Vol 15, No 1 (2016): NALARs Volume 15 Nomor 1 Januari 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/nalars.15.1.1-12

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemahaman tentang ruang publik pada rumah tinggal masyarakat Jawa. Untuk itu dipilih rumah-rumah tradisional masyarakat Jawa tipe joglo di desa Jagalan Kotagede Yogyakarta sebagai representasi aspek bentuk. Untuk representasi aspek fungsi dipilih tiga adat dan upacara daur hidup yaitu kelahiran, perkawinan dan kematian. Pendekatan dasar yang digunakan adalah strukturalisme yang dikembangkan oleh Levi Strauss dikombinasikan dengan pengkategorisasian aspek dalam arsitektur oleh Capon dan perputaran aspek fungsi – bentuk – makna oleh Salura dan Fauzy. Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah mengungkap struktur permukaan aspek fungsi dengan menelusuri elemen-elemen dan relasi sintagmatik dari kegiatan pada adat dan upacara kelahiran, perkawinan dan kematian. Pada saat yang sama juga dilakukan pengungkapan struktur permukaan aspek bentuk melalui penelusuran elemen-elemen dan relasi sintagmatik dari rumah-rumah kasus studi. Langkah berikutnya adalah melakukan analisis oposisi biner untuk mendapatkan relasi paradigmatik antara struktur permukaan aspek fungsi dan struktur permukaan aspek bentuk. Hasilnya kemudian diinterpretasi lebih lanjut dengan mengkaitkannya dengan konsep-konsep yang hidup dalam masyarakat. Hasil analisis menunjukkan bahwa ruang publik pada rumah tinggal masyarakat Jawa merupakan bagian integral masyarakat Jawa dalam rangka menemukan keselamatan dalam hidup. Kata Kunci : ruang publik, makna, rumah tradisional, Kotagede. ABSTRACT. This research is aimed to explore the understanding of public space within Javanese traditional house. For this reason, it has been chosen some Javanese traditional houses known as Joglo House as case studies. Those houses are located in Jagalan Village, Kotagede Yogyakarta which will represent as form aspect. To represent function aspect, it has been conducted three ritual life cycle ceremony consist birth, marriage and death. The basic approach that has been used is structuralism which has been developed by Levi Strauss and has been combined with aspect categorization in architecture by Capon as well as rotation aspect of function-form-meaning by Salura and Fauzy. Steps taken in this research is describing the surface structure of function aspect by exploring elements and sintagmatic relation from the activities of ritual ceremony of birth, marriage and death. In the same time, it will describe the surface structure of form aspect through exploring elements and sintagmatic relation of case studies conducted. Next step is by doing binary opposition analysis to get paradigmatic relation between surface structure of function aspect and form aspect. The result will be interpretated more by relating with the concept of living within community. Analysis result has shown that public space on Javanese traditional house is an integral part of Javanese community in a term to find a safety life.         Key Words : public space, meaning, traditional house, Kotagede
KOSMOLOGI MEDIA INTERPRETASI MAKNA PADA ARSITEKTUR TIONGHOA TRADISIONAL Sugiri Kustedja; Antariksa Sudikno; Purnama Salura
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uraian untuk memaknai unsur-unsur arsitektur bangunan tradisional Tionghoa, seringkali dilakukan secara sebagian-sebagian saja dari seluruh komponen bangunan. Penelitian ini memaparkan pendekatan lain, bahwa konsep arsitektur bangunan vernacular Tionghoa secara integral dapat dimaknai dengan cepat dan tepat, baik global maupun detail komponennya dengan menggunakan medium analisis pemahaman kosmologi tradisional Tionghoa. Dipaparkan uraian singkat dari pokok utama falsafah dasar tradisional Tionghoa hasil pemikiran para cendekiawan kuno dalam jangkauan pengetahuan pada masanya. Menarik untuk diperhatikan bahwa hasil perenungan yang bila dibandingkan dalam konteks ilmu pengetahuan sekarang, pemikiran yang merupakan tahap konsep proto-science dapat persistent bertahan sampai kini dalam ilmu terapan seperti terlihat pada contoh yang diberikan. Penelitian ini dilakukan secara eksplorasi, eksplikasi, dan penafsiran hermeunatik. Kata kunci : kosmologi, vernacular, falsafah terapan, correlative thinking. The effort to understand the meaning of traditional Chinese vernacular architecture, most of the time was done by exploring partial components of the building. This paper shows a different approach that the whole integral Chinese vernacular building can be interpreted conveniently through understanding traditional Chinese cosmology. Short descriptions are given for each major traditional phylosophycal subjecs. It is very interesting to note that those proto-science ideas are persistently being applied to present situation as shown by some of the samples. This research is done through exploration, explanation, and interpretative hermeunatics. Keywords : cosmology, vernacular, applied philosophy, correlative thinking.
MAKNA IKON NAGA, LONG 龙, 龍 ELEMEN UTAMA ARSITEKTUR TRADISIONAL TIONGHOA. Sugiri Kustedja; Antariksa Sudikno; Purnama Salura
Jurnal Sosioteknologi Vol. 12 No. 30 (2013)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.12.30.5

Abstract

Ikon naga selalu muncul dalam segala segi kehidupan masyarakat Tionghoa dan telah bertahan berabad-abad: busana, peralatan rumah tangga, bangunan, teori fengshui, pemerintahan, festival, kepercayaan, ritual. Naga sebagai ikon budaya etnis Tionghoa populer sampai sekarang, Makhluk apakah sesungguhnya ini? Tulisan ini mengambil sample naga yang muncul sebagai elemen arsitektur dominan pada bangunan klenteng tradisional atau bangunan resmi kekaisaran dahulu. Uraian pemaknaan didekati secara historis, antropologis, etnografis, etimologi, semiotik dan hermeneutik. Analisa menunjukkan naga merupakan symbol harapan masyarakat mengenai segala hal berhubungan dengan kebaikan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Suatu bayangan dari bawah sadar manusiawi. Disertakan juga beragam contoh pemakaian oleh masyarakat umum. Kata kunci : naga, budaya Tionghoa, tradisional, vernakular. Dragon icon is well-known in every aspect of the Chinese culture and has survived for centuries on cloths, furniture, building architecture, feng-shui theory, governments, festivals, beliefs, and rituals. As an icon of the Chinese culture, it has always been very popular until today. What kind of being is it actually? This paper chose the dragon as expressed as a dominant element in the architecture of traditional temples and the past kingdom official buildings. The interpretation of its meaning is performed using the approaches of history, anthropology, enthography, etymology, semiotics and hermeneutics. The analysis indicates that the inherent meanings of dragon symbolizes the society’s expectation for every single thing related to good wishes, prosperity, and happiness: subconscious human sillhoutes. Also provided here various examples of its applications by people in general. Keywords: dragon, Chinese culture, traditional, vernacular.
Ekspresi-dasar arsitektural pada bangunan pusat kebudayaan, objek studi: Volkstheater Sobokartti di Semarang, Indonesia Nabila Sukada; Purnama Salura
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 5 No 1 (2020): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Januari 2020 ~ April 2020
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.464 KB) | DOI: 10.30822/arteks.v5i1.76

Abstract

Basic architectural expression of a cultural center, study object: Volkstheater Sobokartti in Semarang, Indonesia The absence of specific guidelines is the main reason that cultural centers in Indonesia were often using an existing building that is not designated as cultural center and/or are designed with modern styles that are completely different from the existing architectural styles. This research is specifically focused on the issue of basic architectural expression in the Volkstheater Sobokartti Cultural Center. The main purpose of this research is to reveal architectural meaning based on the basic-expression of the Volkstheater Sobokartti Cultural Center. This research utilized theories such as: cultural center, architectural expression, and interpretation of architectural meaning. These theories together with the study object are then analyzed and elaborated in-depth using architectural anatomy and ordering principles theories. This research succeeded in compiling a reference of basic architectural expression as a basis for designing and/or interpreting the meaning of a cultural center. The result of this research can be used as: a design input/consideration for architects and stakeholders in designing and/or interpreting the meaning of a cultural center for students, academicians, architects, and concerned community; a starting point for other similar research.
Ekspresi puitik sakral pada bentuk arsitektur Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Paulus di Jakarta Tine Abrianti; Purnama Salura
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 4 No 1 (2019): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Juli 2019 ~ Desember 2019
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.44 KB) | DOI: 10.30822/arteks.v4i1.84

Abstract

Sacred poetic expression on the architectural form of Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Paulus in Jakarta Church architecture shows the expression of its functions in layers. The first layer can be captured in a perception through its expression indicating sacred functions. The next layer was captured associatively on its influenced expression of church tradition and ideology. In the highest layer the sacred expression is displayed poetically. The poetic expression appearing in church architecture strongly supports its sacred functions. The nature of poetic that evokes the feeling and evoked imagination fits perfectly with the sacred functions of the Church as a threshold that marks the differences of the profane and sacred worlds, to deliver the congregation to God that is worshipped. The study aims to trace the entire relationship between the architectural form and space of the GPIB Paulus church with the sacred poetic expression shown. The results of the study are expected to add to the concept of church architecture as well as for related research. The method used in this study was first, redrawing the building of GPIB Paulus Church, to gain an understanding of the right architectural form. Second, analyze the appearance of church architecture shapes. The analysis based on the reference to read the sacred poetic expression, which is formulated through the elaboration of the concept of layers of sacred poetic in the architectural properties and compositions in each scope of architecture, covering the scope of environment, scope of site, scope of building, and scope of shape. Based on analysis results can be traced the concept of sacred poetic meanings to the architecture of Paul’s Church. The results concluded that the architecture of Paul's Church within the scope of site, building and shape featured a sacred expression at the level of perception and associative. In the scope of environment, the Church of Paul displays sacred expressions at the level of the poetic, expressed from the shape of the building. The proportion of the cross-shaped roof with the tower contrasts in a landscape setting in front of it, awakening the imagination of the dwelling of God in the highest places. © 2019 Tine Abrianti, Purnama Salura