Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Preferensi lokasi penyu bertelur di Pantai Taman Kili-Kili, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Indonesia Arief Darmawan; Dhira Khurniawan Saputra; Ari Gunawan; Sabul Masani
Depik Vol 9, No 3 (2020): December 2020
Publisher : Faculty of Marine and Fisheries, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/depik.9.3.14329

Abstract

Taman Kili-Kili Beach, Trenggalek Regency, East Java Province is one of location where sea turtles landing and laying their eggs. This location is a community-based conservation area. Based on information from Wonocoyo Village Pokmaswas who worked at the location, the landing and nesting area of sea turtles tends to be on the west side of the coast. This study aimed to provide a scientific explanation of these conditions by using remote sensing data of time series Sentinel Image 2a, beach sand texture data, beach profiles, sea turtle landing location, supratidal area prediction using GIS analysis and eggs data. Result showed that the preference of the landing and nesting area of sea turtles on the west side of Taman Kili-Kili Beach was related to the dynamics of the coastal conditions especially the coastline and supratidal area. Environmental factors greatly influence the dynamics of this supratidal area.Keywords:TurtlesSupratidalRemote SensingGISABSTRAKPantai Taman Kili-Kili, Kabupaten Trenggalek, Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu lokasi penyu laut mendarat dan bertelur. Lokasi ini merupakan kawasan konservasi berbasis masyarakat. Berdasarkan informasi Pokmaswas Desa Wonocoyo yang bekerja di lokasi tersebut, area pendaratan dan bertelurnya penyu laut cenderung pada sisi barat pantai. Penelitian ini bertujuan memberikan penjelasan ilmiah mengenai kondisi tersebut dengan menggunakan data penginderaan jauh berupa Citra Sentinel 2a multi waktu, data tekstur pasir pantai, profil pantai, data lokasi pendaratan penyu laut, prediksi area supratidal menggunakan analisis SIG serta data telur. Hasil menunjukkan bahwa kecenderungan area pendaratan dan bertelurnya penyu laut di sisi barat Pantai Taman Kili-Kili ini terkait dengan dinamika kondisi pantai khususnya garis pantai dan area supratidal. Faktor-faktor lingkungan sangat berpengaruh terhadap dinamika area supratidal ini.Kata kunci:PenyuSupratidalPenginderan jauhSIG
Studi Kegiatan Budidaya Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) dengan Penerapan Sistem Pemeliharaan Berbeda [Study of Vaname Shrimp Culture (Litopenaeus vannamei) in Different Rearing System] Sulastri Arsad; Ahmad Afandy; Atika P Purwadhi; Betrina Maya V; Dhira K Saputra; Nanik Retno Buwono
Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan Vol. 9 No. 1 (2017): Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jipk.v9i1.7624

Abstract

                                                               AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk melakukan monitoring kualitas air di tambak budidaya udang vaname, membandingkan efektivitas penerapan budidaya dengan sistem pemeliharaan berbeda pada tambak dan variasi pemberian pakan. Pada kegiatan ini, empat tambak budidaya digunakan sebagai tempat pembesaran udang vaname (Litopenaeus vannamei). Parameter yang diukur meliputi parameter fisika dan kimia yaitu suhu, kecerahan, pH, oksigen terlarut, salinitas, amonia, dan alkalinitas; sedangkan performa pertumbuhan organisme budidaya dilihat dengan cara menghitung tingkat kelulushidupan (survival rate) udang pada akhir pemeliharaan, efisiensi konsumsi pakan melalui perhitungan FCR, dan laju pertumbuhan spesifik udang (SGR) dengan menghitung ABW (Average Body weight) dan ADG (Average Daily Growth) udang. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara keseluruhan kisaran kualitas air yang diperoleh masih dalam keadaan layak untuk kegiatan budidaya dan bahkan Tambak 3 dan 4 menunjukkan kisaran optimum untuk kualitas air budidaya, sedangkan untuk parameter performa pertumbuhan, pada Tambak 3 dan 4 diperoleh nilai SR lebih dari 80 %, dan Tambak 1 dan 2 mempunyai SR di bawah 70 %. Selain itu, nilai FCR berada di bawah 1.7 pada tambak 3 dan 4, sedangkan pada Tambak 1 dan 2 nilainya lebih dari 1.7. Terakhir untuk nilai SGR, Tambak 3 dan 4 juga menunjukkan presentasi yang bagus jika dibandingkan Tambak 1 dan 2. Secara komprehensif, dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem pemeliharaan dengan menggunakan sistem flok pada Tambak 3 dan 4 meningkatkan performa kualitas air dan hasil produksi dibandingkan pada Tambak 1 dan 2.                                                                 AbstractThe aim of this study was to monitor water quality in vaname culture pond and compare the application of different rearing culture system and feeding variations. Four ponds culture were used as vaname (Litopenaeus vannamei) growth place. Measured parameters include physical and chemical factors such as temperature,brightness, pH, DO, salinity, ammonia, and alkalinity, while growth shrimp performance showed by SGR, SR and FCR. The research result of the water quality parameters show an adequate range values for all of the ponds and good enough for shrimp growth, and especially an optimum range value presented in pond three and four. Survival rate (SR) both pond 3 and 4 exhibit a good presentation that is more than 80%, whereas pond 1 and 2 were just less than 70% of SR value. The specific growth rate (SGR) presents also a good presentation in Pond 3 and 4 rather than pond 1 and 2. Based on the feed consumption, pond 1 and 2 show high FCR that is more than 1.7 while pond 3 and 4 present smaller FCR value which is less than 1.7. Finally, it could be concluded that application of floc in culture rearing system of pond 3 and 4 increase water quality and production value than pond 1 and 2.
THE INTRODUCTION TO DANGEROUS MARINE BIOTA COMMUNITIES IN KONDANG MERAK, MALANG Dewi, Citra Satrya Utama; Saputra, Dhira Khurniawan; Semedi, Bambang; As'adi, Muhammad Arif; Kasitowati, Rarasrum Dyah; Rudianto; Sartimbul, Aida; Iranawati, Feni
Wisesa: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 1 (2023): WISESA - Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : UPT. PKM UB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.wisesa.2023.02.1.2

Abstract

Nelayan, merupakan profesi dengan resiko keselamatan yang tinggi, baik resiko yang bersifat human error maupun alami, seperti cuaca ekstrim dan biota laut berbahaya. Tujuan dari aktivitas pengabdian kepada masyarakat ini ialah untuk mentransformasikan ilmu pengetahuan terkait biota laut berbahaya kepada nelayan di Kondang Merak. Keberhasilan dari kegiatan pengabdian masyarakat ini kemudian disampaikan dalam bentuk analisis persepsi nelayan kondang merak terhadap biota laut berbahaya. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini ialah penyuluhan langsung. Selanjutnya pengumpulan data untuk analisis persepsi dilakukan dg menggunakan kuisioner, selanjutnya data dikuantitafkan menggunakan metode skala likert, kemudian dideskripsikan. Penyuluhan ini dihadiri oleh 15 orang nelayan, atau 50% dari populasi nelayan di kondang merak. Jenis niota berbahaya yang sering dijumpai nelayan Kondang Merak ialah: hiu kecil, barakuda, lepu batu, bulu babi, mooray, ular laut, dan COT. 90% nelayan yang hadir telah mengetahui beberapa jenis biota berbahaya, namun hanya 30% nelayan yang mengetahui bagaimana cara mengantisipasi dan menanggulanginya. Sehingga, selanjutnya dirasa penting untuk memberikan Pelatihan Dasar Rescue Kepada Nelayan Kondang Merak.
Analisis Perbandingan Sampah Laut Jenis Plastik dan Non-Plastik di Pulau Gili Ketapang, Probolinggo, Jawa Timur Sari, Syarifah Hikmah Julinda; Yona, Defri; Saputra, Dhira Kurniawan; Rumantya, Matthew Adi Bekti
Jurnal Laot Ilmu Kelautan Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Laot Ilmu Kelautan
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35308/jlik.v6i2.10684

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis perbandingan sampah laut jenis plastik dan jenis non-plastik yang ditemukan di sepanjang pantai Pulau Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2024 dengan dua kali pengulangan. Stasiun ditentukan berdasarkan aktivitas antropogeniknya yaitu stasiun wisata bagian barat (WB), dermaga bagian utara (DU), dermaga bagian selatan (DS), area bagian timur laut (TL), Pantai Goa Kucing (PGK), dan area bagian barat selatan (BS). Transek garis ditempatkan sepanjang 100 m garis pantai , dan setiap 20 m ditempatkan transek kuadrat berukuran 5 x 5 m, kecuali pada stasiun DS berukuran 1x 1 m. Sampah laut jenis plastik dan non-plastik yang ditemukan dicatat jumlah, ukuran (makro kecil dan makro besar) dan jenisnya. Hasil penelitian menunjukkan kepadatan sampah laut jenis plastik sebesar 14,89 item/m2 dan jenis non-plastik sebesar 5,22 item/m2. Persentase sampah plastik tertinggi ditemukan pada stasiun dermaga utara (DU) dan stasiun dermaga Selatan (DS) dengan kisaran 75-77 %. Sebesar > 86 % ditemukan jenis sampah plastik sekali pakai di semua stasiun penelitian. Dilihat pada ukurannya, kedua jenis sampah laut tersebut didominasi dengan ukuran sampah makro kecil atau 2,5 – 30 cm. Penelitian ini menunjukkan sampah plastik masih menjadi masalah utama di Pulau Gili Ketapang sehingga diperlukan adanya manajemen pengelolaan sampah. 
Visualisasi 3D Profil Pantai Jolosutro, Blitar Dengan Quantum GIS Untuk Perencanaan Wilayah Pesisir Darmawan, Arief; Saputra, Dhira Kurniawan; Sambah, Abu Bakar
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 3 No. 1 (2019): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.01.14

Abstract

Profil pantai dapat didefinisikan sebagai penampang melintang atau cross-sectionpantai.Informasi ini sangat diperlukan karena untuk menggambarkan morfologi pantai ini sering dikuantifikasi menjadi profil pantai yang merepresentasikan relief permukaanatau topografi pantai kearah daratan. Dengan melihat hasil penggambaran profil pantai secara 3 dimensi (3D), perubahan yang paling tampak pada lingkungan pantai karena pengaruh gelombang, arus pantai, pasang surut, angin dan juga aliran sungaidapat divisualisasikan.
DAMPAK CUACA EKSTRIM PERIODE TAHUN 2016 – 2018 TERHADAP KAWASAN KONSERVASI PENYU DI SEPANJANG PESISIR SELATAN JAWA TIMUR Saputra, Dhira Khurniawan; Darmawan, Arief; Arsad, Sulastri
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 3 No. 1 (2019): JFMR
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2019.003.01.17

Abstract

Kawasan pesisir Jawa Timur memiliki beberapa lokasi pendaratan dan peneluran penyu, akan tetapi pada saat ini belum terdapat data komprehensif yang menggambarkan kondisi dan sensitivitas kawasan tersebut terhadap ancaman perubahan iklim. Fenomena cuaca ekstrim di Samudera Hindia timur pada kurun waktu 2016 – 2018 diduga memberikan dampak terhadap pantai peneluran penyu di pesisir Jawa Timur. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kondisi fisik dan pengelolaan pada 6 lokasi utama peneluran penyu di pesisir Jawa Timur. Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasional Meru Betiri merupakan kawasan konservasi penyu yang dikelola oleh pemerintah, sedangkan lokasi lainnya merupakan lokasi peneluran penyu yang dikonservasi oleh kelompok masyarakat, diantaranya Pantai Taman Ria (Pacitan), Pantai Kili Kili (Trenggalek), Pantai Pathuk Gebang (Tulungagung) dan Pantai Bajulmati (Malang). Kegiatan observasi lapangan dilaksanakan pada Tahun 2017 dan 2018. Variabel pengamatan meliputi perubahan fisik pantai akibat cuaca ekstrim, sementara analisis komponen eksposur dan sensitivitas habitat didapatkan dari pengukuran variabel temperatur substrat, serta event siklon dan anomali SPL. Hasil penelitian menunjukkan cuaca ekstrim berupa gelombang tinggi dan banjir pasang yang menyebabkan adanya fitur abrasi dan pergeseran lokasi peneluran pada pantai pendaratan penyu. Curah hujan yang tinggi pada musim peneluran menyebabkan suhu substrat berada pada rentang bawah pivot (25 – 28â—¦C) dengan kelembaban bervariasi. Walaupun begitu, belum terdapat bentuk manajemen adaptif terhadap perubahan iklim pada seluruh area konservasi penyu di Jawa Timur.Â